공유

BAB 62 Wisuda

작가: Adw_Canss781
last update 게시일: 2026-06-07 22:58:18

Malam selalu menjadi bagian paling berat bagi Lintang Aksara Narendra sejak kecelakaan itu terjadi. Siang masih bisa ia lalui dengan fisioterapi, pemeriksaan dokter, urusan perusahaan yang sesekali dibawa Levian ke rumah, atau kedatangan teman-temannya yang berisik dan memaksa suasana tetap hidup. Setidaknya semua itu cukup membantu kepalanya sibuk beberapa jam.

Malam berbeda terlalu sunyi, terlalu tenang dan dalam ketenangan seperti itu, pikirannya justru berjalan ke mana-mana tanpa bisa dihe
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 146 Pemeriksaan

    Setelah pemeriksaan luka luar selesai dilakukan ruangan visum itu kembali hening beberapa saat. Hazel masih duduk di atas bed pemeriksaan sambil memegangi ujung cardigan rumah sakit yang tadi dipakaikan perawat untuk menutupi tubuhnya kembali. Matanya sedikit kosong, proses tadi terasa jauh lebih berat secara mental dibanding rasa sakit fisiknya. Melihat memar-memar di tubuhnya difoto, diukur, dicatat satu per satu. Itu seperti dipaksa melihat kenyataan yang selama ini dirinya coba abaikan. Sedangkan dokter perempuan di depannya masih menulis beberapa catatan tambahan di berkas visum. Perawat lain mulai membantu membereskan alat dokumentasi medis. Setelah beberapa menit, dokter akhirnya kembali mendekat ke arah Hazel dengan nada yang tetap lembut dan profesional. “Bu Hazel, pemeriksaan luka luar sudah selesai.” Hazel mengangguk kecil pelan. Namun dokter melanjutkan lagi sambil membuka lembar pemeriksaan berikutnya. “Nanti saya juga akan mencatat keluhan nyeri ibu secara detail.”

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 145 Visum

    Suasana yang tadi sempat hangat kembali berubah pelan setelah pertanyaan Lintang terdengar. “Kamu udah siap mau visum?” Kalimat itu terasa menggantung cukup lama di udara. Di atas ranjang, Hazel terlihat menundukkan wajahnya perlahan. Jemarinya kembali saling menggenggam di atas selimut. Ragu itu masih ada, takut itu juga belum hilang. Dia tahu setelah visum dilakukan, langkah berikutnya mungkin akan semakin jauh. Sedangkan Miranti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan. Perempuan itu mendekat sedikit lalu duduk di sisi ranjang Hazel. Tangannya mengusap lengan Hazel lembut. “Ibu tau kamu takut…” Nada suaranya hangat. “Namun apa kamu mau hidupmu jadi seperti ini terus?” Hazel langsung diam. Tatapannya turun makin dalam. Karena ucapan itu tepat sekali mengenai hatinya dan di saat suasana mulai terasa berat, suara kecil polos tiba-tiba terdengar. “Visum itu apa?" Semua mata langsung beralih ke Liana Naya Parameswari. Anak perempuan itu berdiri sambil memiringkan kepalanya

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 144 Coretan

    Ruangan itu kembali ramai oleh suara anak-anak setelah obrolan absurd tentang direktur utama tadi. Hazel yang sejak tadi lebih banyak mendengar akhirnya tersenyum kecil sambil membuka kedua tangannya ke arah anak-anak. “Gimana sekolahnya tadi?” Tatapannya bergantian ke tiga anak itu. “Gak nakal kan?” Leyan langsung menjawab paling cepat sambil menggeleng heboh. “Nggak dong bunda.” Nada suaranya penuh keyakinan. Seperti sudah hafal pola saudara kembarnya, Liana langsung memutar mata kecilnya. “Ih… Kamu bikin nangis Sella tadi.” Seketika kepala Miranti langsung menoleh cepat ke arah Leyan. “Kamu bikin nangis Sella lagi?” Nada suaranya sudah seperti nenek yang capek menghadapi cucu usil. Sedangkan Leyan langsung refleks membela diri. “Dia duluan kok! Masa buku tulisku dicoret-coret sama dia. Ya aku bales lah.” Di sisi lain Lintang kecil yang sejak tadi tenang akhirnya ikut bicara pelan. “Dia balasnya di soal dari bu guru yang udah dijawab.” Detik itu Hazel langsung memejamkan ma

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 143 Kembaran Ayah

    Setelah percakapan panjang itu, suasana ruangan sempat kembali hening cukup lama. Hazel masih diam sambil memikirkan semua cerita Levian Ankara Narendra tadi. Meski dirinya pernah mendengar sedikit cerita tentang kecelakaan Lintang langsung dari laki-laki itu sendiri. Hazel tidak pernah tahu situasinya ternyata separah itu. Yang dia tahu hanya garis besar kecelakaan, cedera berat dan pemulihan panjang. Namun detail tentang bagaimana Lintang hampir kehilangan nyawanya, bagaimana keluarganya hancur melihat kondisinya dan bagaimana laki-laki itu menghadapi vonis sulit memiliki keturunan, semuanya baru benar-benar terasa nyata sekarang. Sedangkan Miranti sejak tadi hanya diam. Perempuan itu sesekali melirik Hazel pelan. Semakin lama hubungan hidup Hazel dan Lintang terasa semakin rumit dan tepat saat suasana mulai terlalu tenggelam dalam pikiran masing-masing pintu ruangan kembali terbuka. Suara langkah kecil langsung terdengar masuk lebih dulu. “Bundaaaaa…” Detik berikutnya tiga an

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 142 Cerita Levian

    Setelah Lintang keluar dari ruangan suasana mendadak terasa sedikit lebih tenang dan lebih longgar juga. Karena aura dingin laki-laki itu memang cukup memenuhi ruangan walaupun dirinya tidak banyak bicara. Sedangkan Levian masih duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya beberapa saat. Namun rasa penasarannya ternyata masih belum hilang. Tatapannya perlahan bergerak ke arah Hazel yang sedang bersandar di ranjang. Lalu laki-laki itu akhirnya membuka suara santai. “Kamu kenal Lintang dimana?” Hazel sedikit menoleh. Sedangkan Levian melanjutkan sambil menyandarkan tubuhnya lebih nyaman. “Perasaan semenjak dia kecelakaan dulu, gue gak pernah lagi lihat dia jalan dekat perempuan.” Nada suaranya terdengar ringan, namun jelas dia memang penasaran. Perubahan adiknya kali ini terlalu aneh untuk diabaikan. Sedangkan Hazel terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan. “Oh… Sama mas Lintang sebenarnya baru akrab akhir-akhir ini.” Tatapannya sedikit turun. “Itupun karena a

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 141 Ayah Anak Tiga

    Suasana ruang rawat itu masih sedikit berat setelah penjelasan Lintang tadi. Levian bahkan masih berdiri sambil berkacak pinggang di dekat sofa. Rahangnya mengeras, jelas sekali dia masih menahan emosi setelah mendengar kondisi Hazel. Sedangkan Hazel sendiri terlihat sedikit tidak nyaman karena semua orang sekarang mengetahui hidupnya. Namun di sisi lain, anehnya dirinya juga merasa sedikit lega. Selama ini dia terlalu lama memendam semuanya sendirian. Sampai akhirnya, pintu ruangan diketuk lagi. Tok. Tok. Lintang langsung menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka perlahan dan masuklah seorang perempuan berpakaian formal bersama satu staf laki-laki yang membawa beberapa map dokumen dan tablet kerja. Sekretaris pribadi Lintang selama di Bandung. Awalnya dua orang itu masuk dengan ekspresi profesional biasa. Namun baru beberapa langkah masuk, keduanya langsung membeku. Karena di sofa ruangan itu ada seseorang yang sangat mereka kenal. Levian Ankara Narendra, Direktur utama Narendra Group. D

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status