分享

BAB 61 Fisioterapi

作者: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-06-06 22:19:40

Satu bulan berlalu sejak kecelakaan itu. Satu bulan sejak hidup Lintang Aksara Narendra berubah total. Dan selama satu bulan itu pula, tubuhnya dipaksa bertahan melewati rasa sakit yang nyaris tidak memberinya ruang untuk bernapas lega.

Kamar rawat VIP di rumah sakit swasta di pusat Jakarta itu masih terasa dingin meski matahari siang mulai masuk dari sela tirai. Suasana di dalam jauh lebih tenang dibanding minggu-minggu pertama setelah kecelakaan. Tidak ada lagi suara langkah dokter yang terb
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 64 Donatur

    Setelah acara wisuda selesai dan suasana kampus mulai perlahan sepi, Lintang memilih menjauh dari keramaian. Kevin dan yang lain sebenarnya masih ingin lanjut makan bersama untuk merayakan kelulusan mereka. Ibunya juga sempat mengajak foto lagi karena merasa hasil sebelumnya kurang bagus. Namun Lintang hanya bilang ia ingin ke satu tempat dulu sendiri. Langkahnya pelan menyusuri koridor kampus yang mulai lengang. Toga wisuda masih melekat di tubuhnya, gordon lulusan terbaik masih menggantung di lehernya. Beberapa mahasiswa yang berpapasan masih menyapa atau mengucapkan selamat. Lintang hanya membalas seperlunya. Pikirannya sudah berjalan ke tempat lain, kakinya berhenti di depan gedung administrasi akademik BAAK. Gedung yang dulu sangat jarang ia datangi langsung karena hampir semua urusan akademiknya selalu selesai tanpa masalah. Petugas administrasi yang duduk di meja depan langsung berdiri sedikit saat melihat siapa yang datang. “Selamat siang, Kak Lintang.” Lintang mengangguk

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 63 Melisa di Konfrontasi

    Melisa masih berdiri mematung di dekat gerbang samping fakultas. Air matanya jatuh pelan satu per satu. Tangan yang sejak tadi menggenggam tali tasnya mulai bergetar halus. Ia bahkan belum sempat bergerak setelah Lintang Aksara Narendra berjalan melewatinya begitu saja. Langkah laki-laki itu memang belum sesempurna dulu, masih sedikit berat dan masih terlihat hati-hati. Namun punggungnya tegak dan yang paling menusuk bagi Melisa, Lintang benar-benar pergi tanpa menoleh lagi. Suasana sekitar mereka mulai terasa aneh. Beberapa mahasiswa yang tadi sibuk foto-foto kini diam-diam memperhatikan. Bisik-bisik kecil mulai terdengar, terlebih suara Lintang tadi cukup jelas untuk orang-orang di sekitar sana. Tentang hotel, tentang empat tahun dan tentang laki-laki lain. Melisa mulai merasa dadanya sesak dan tatapan orang-orang di sekitarnya perlahan berubah membuat kulitnya terasa panas. Kevin berdiri sambil melipat tangan di dada. Tatapannya dingin ke arah Melisa, ia memang tidak bicara d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 62 Wisuda

    Malam selalu menjadi bagian paling berat bagi Lintang Aksara Narendra sejak kecelakaan itu terjadi. Siang masih bisa ia lalui dengan fisioterapi, pemeriksaan dokter, urusan perusahaan yang sesekali dibawa Levian ke rumah, atau kedatangan teman-temannya yang berisik dan memaksa suasana tetap hidup. Setidaknya semua itu cukup membantu kepalanya sibuk beberapa jam. Malam berbeda terlalu sunyi, terlalu tenang dan dalam ketenangan seperti itu, pikirannya justru berjalan ke mana-mana tanpa bisa dihentikan. Rumah besar keluarga Narendra sudah jauh lebih sepi dibanding biasanya sejak Lintang pulang dari rumah sakit. Mommy-nya berkali-kali meminta beberapa pelayan tidur lebih dekat ke kamar Lintang kalau sewaktu-waktu ia membutuhkan bantuan saat malam, terlebih kakinya masih belum stabil untuk berjalan terlalu jauh sendirian. Namun hampir setiap malam juga Lintang selalu meminta semua orang keluar dari kamarnya lebih cepat. Ia lebih memilih sendiri. Malam itu lampu kamar hanya menyala reman

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 61 Fisioterapi

    Satu bulan berlalu sejak kecelakaan itu. Satu bulan sejak hidup Lintang Aksara Narendra berubah total. Dan selama satu bulan itu pula, tubuhnya dipaksa bertahan melewati rasa sakit yang nyaris tidak memberinya ruang untuk bernapas lega. Kamar rawat VIP di rumah sakit swasta di pusat Jakarta itu masih terasa dingin meski matahari siang mulai masuk dari sela tirai. Suasana di dalam jauh lebih tenang dibanding minggu-minggu pertama setelah kecelakaan. Tidak ada lagi suara langkah dokter yang terburu-buru dan tidak ada lagi kepanikan seperti malam saat operasi besar dilakukan. Kini yang tersisa hanyalah proses pemulihan panjang yang melelahkan. Lintang duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibanding sebelumnya. Rahangnya makin tegas karena berat badannya turun cukup drastis, kulitnya pucat dan rambut hitamnya mulai sedikit panjang dan berantakan karena selama sebulan terakhir ia bahkan tidak peduli soal penampilannya. Kaki kanannya masih dibalut pen

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 60 Biaya Tak Sedikit

    Satu bulan berlalu. Rumah yang dulu terasa kosong kini selalu dipenuhi suara tangis kecil, tawa lirih dan langkah tergesa Hazel setiap kali salah satu bayinya terbangun. Pagi itu, Hazel bersiap sejak lebih awal. Tiga bayi, tiga tas kecil berisi perlengkapan dan satu tas besar tambahan jaga-jaga. “Udah semua, Bu?” tanya Hazel sambil mengecek ulang isi tas. Miranti mengangguk. “Udah. Popok, baju ganti, susu cadangan, selimut… lengkap" Ia menatap Hazel sebentar. “Kamu kuat?” Hazel tersenyum tipis, capek sudah jelas tapi matanya tetap hangat. “Harus kuat, Bu.” Hari ini mereka ke rumah sakit. Kontrol pertama setelah satu bulan untuk Leyan setelah dibawa pulang, sekalian imunisasi untuk ketiga bayi yang sudah memasuki usia dua bulan. Perjalanan tidak terlalu lama, cukup membuat Hazel beberapa kali menoleh ke belakang memastikan tiga bayi itu baik-baik saja di dalam car seat. Sesampainya di rumah sakit, aroma khas antiseptik langsung menyambut. Hazel sudah familiar dengan tempat

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 59 Pasca Operasi Si Bungsu

    Lampu merah di atas ruang operasi akhirnya padam. Sudah lebih dari lima jam, waktu seperti berhenti bagi Hazel. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan tangannya berhenti gemetar atau sejak kapan air matanya kering sendiri. Saat pintu ruang operasi terbuka Hazel langsung berdiri. Langkahnya cepat hampir limbung. “Dok…” suaranya serak. Dokter utama yang keluar masih mengenakan masker di lehernya. Wajahnya lelah, tapi matanya menatap Hazel dengan serius. “Operasinya… berhasil kami lakukan.” Kalimat itu seperti menyelamatkan napas Hazel, namun belum selesai. “Tapi kondisinya masih sangat kritis. Jantungnya sempat berhenti beberapa detik di tengah operasi. Kami berhasil mengembalikannya, tapi 24 sampai 48 jam ke depan itu masa yang sangat menentukan.” Hazel menatap dokter itu tanpa berkedip. Menelan setiap kata dan setiap kemungkinan. “Dia… boleh saya lihat?” suaranya nyaris berbisik. Dokter terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Sebentar saja. Jangan terlalu lama.” Langkah Hazel terasa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status