LOGINMalam mulai turun saat mobil Lintang memasuki area parkir rumah sakit. Lampu-lampu gedung menyala terang di tengah langit Bandung yang mulai gelap. Udara malam terasa lebih dingin dibanding siang tadi. Sedangkan di dalam mobil suasana justru cukup ramai. Leyan sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu ibunya lagi. “Bunda pasti udah sembuh…” Sedangkan Liana sibuk merapikan bando kecil di rambutnya sendiri. “Aku tadi udah mandi loh… Biar bunda lihat aku cantik.” Dan di kursi belakang Lintang kecil duduk tenang sambil memeluk tas kecilnya. Meski anak itu masih lebih diam, wajahnya sudah tidak semurung siang tadi. Begitu mobil berhenti Lintang langsung turun lalu membukakan pintu untuk mereka. “Nah pelan-pelan.” Leyan langsung turun paling cepat. Sedangkan Liana otomatis menggenggam tangan Lintang sambil berjalan masuk ke lobby rumah sakit. Sementara Lintang kecil berjalan di sisi lain laki-laki itu. Entah sejak kapan tiga anak kecil tersebut sudah seperti terbiasa berada di dek
Setelah makan mereka selesai Leyan langsung duduk menyandar kenyang sambil mengusap perut kecilnya. “Aku full…” Sedangkan Liana masih sibuk menghabiskan potongan wortel dari sotonya pelan-pelan. Dan Lintang kecil sudah selesai lebih dulu sambil duduk tenang memperhatikan suasana restoran. Lintang akhirnya memanggil pelayan lagi. “Mbak.” Pelayan itu langsung mendekat ramah. “Iya Mas?” Lintang mulai menyebut beberapa menu tambahan dengan tenang. “Iga bakar satu, soto ayam bening dua, tongseng sapi satu, tempe goreng tepung sama bakwan juga tambah.” Pelayan langsung mencatat cepat. Sedangkan Leyan langsung menoleh bingung. “Ayah pesen lagi?” Lintang mengangguk kecil. “Buat bunda.” Tatapan anak-anak itu langsung berubah sedikit lebih cerah sekarang. Lintang kembali melanjutkan. “Nanti diantar ke rumah sakit ruangan Bunda, sekalian buat nenek Miranti.” Lalu laki-laki itu diam sebentar sebelum menambahkan lagi. “Sama dua orang yang jaga di luar.” Pelayan langsung mengangguk sopan
Restoran itu cukup ramai siang menjelang sore. Aroma iga bakar, kuah soto hangat dan asap panggangan memenuhi udara begitu Lintang membawa tiga anak kecil itu masuk ke dalam. Berbeda dari suasana rumah sakit tadi di sini suasananya jauh lebih hidup. Lampu gantung bernuansa hangat membuat ruangan terasa nyaman. Beberapa keluarga terlihat sedang makan bersama sambil mengobrol santai. Sedangkan Leyan langsung semangat begitu melihat area tempat makan favoritnya. “Ayah yang dekat kaca ya!” Anak itu langsung menunjuk salah satu meja besar dekat jendela. Lintang hanya mengangguk kecil sambil menarik kursi untuk mereka. Liana langsung duduk rapi sambil merapikan ujung bajunya. Sedangkan Lintang kecil duduk paling pinggir sambil memandang daftar menu diam-diam. Meski wajahnya masih lebih murung dibanding biasanya, setidaknya anak itu sudah tidak sesunyi tadi. Pelayan akhirnya datang menghampiri sambil membawa buku catatan kecil. “Mau pesan apa kak?” Dan seperti biasa, Leyan jadi yang
Sambungan telepon itu akhirnya terputus. Di rumah milik Hazel. Lintang masih berdiri diam di dekat tangga sambil menatap layar ponselnya beberapa detik. Sedangkan di Jakarta, Levian justru belum bergerak sama sekali dari kursi ruang kerjanya. Ponsel masih berada di tangannya. Tatapannya kosong lurus ke depan, ruangan direktur utama Narendra Group itu sunyi sekarang. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Namun isi kepala Levian justru terasa semakin ramai. Karena semakin dirinya memikirkan percakapan tadi, semakin aneh semuanya terdengar. Levian akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya pelan sambil mengusap rahang. “Anak kecil manggil ayah…” gumamnya pelan sendiri. Lalu laki-laki itu tertawa napas kecil tanpa sadar. Karena jujur saja cerita Lintang tadi masih terasa sangat mengambang baginya. Kalau cuma bantu antar perempuan pingsan ke rumah sakit, harusnya selesai sampai situ, normalnya begitu. Sedangkan ini Lintang justru sampai jemput anak-anak perempuan itu
Suasana kamar anak-anak itu perlahan kembali ramai setelah Lintang selesai memilihkan pakaian mereka. Leyan masih sibuk berdiri di depan lemari sambil memegang kaos bergambar dinosaurus pilihannya tadi. Sedangkan Liana memeluk dress pink kecil sambil tersenyum puas karena pilihannya akhirnya dipakai juga. Sementara Lintang kecil sudah duduk di tepi ranjang sambil melipat rapi seragam sekolahnya sendiri. Tatapan Lintang kembali menyapu kamar itu perlahan. Cukup lama dia memperhatikan, terasa hangat suasana di ruangan tersebut. Meski kamar itu sederhana semuanya terlihat hidup Ada jejak tawa anak-anak di sana, ada kebiasaan kecil mereka dan ada usaha Hazel membangun dunia nyaman untuk tiga anaknya. Lintang akhirnya membuka suara sambil berdiri dekat meja belajar kecil mereka. “Kalian tidur di kamar ini?” Lintang kecil langsung mengangguk kecil. “Iya.” Suaranya tenang seperti biasa. “Tapi kalau ada bunda…” Anak itu berhenti sebentar sambil melirik ke arah pintu kamar. “…ikutnya di k
Suasana ruang VVIP itu perlahan mulai lebih tenang setelah semuanya dibicarakan. Hazel Chiara Parameswari masih terlihat lelah di atas ranjang rumah sakit. Matanya sembab, tubuhnya juga tampak jauh lebih lemah dibanding biasanya. Sedangkan Miranti duduk di samping ranjang sambil sesekali mengusap kepala Hazel pelan. Sementara itu, Lintang mulai membantu membereskan tas kecil tiga anak tersebut yang tadi dibawa dari sekolah. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Hazel setiap melihat wajah perempuan itu dadanya terasa makin berat. Akhirnya laki-laki itu kembali mendekat ke sisi ranjang. “Kalau gitu… Aku bawa anak-anak dulu ya.” Hazel perlahan mengangkat wajahnya. Sedangkan Lintang kembali bicara tenang. “Sekalian aku pinjam kunci cadangan rumah kamu. Kalian belum ganti pakaian dari sekolah.” Tatapannya bergantian melihat tiga anak kecil yang masih duduk dekat ranjang Hazel. “Kasihan juga kalau mereka terlalu lama di rumah sakit.” Hazel langsung diam berdiri. Dirinya memang tidak
Pagi itu datang seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi sudut kamar dengan lembut. Suara kendaraan dari luar terdengar samar, bercampur dengan aktivitas pagi yang mulai hidup perlahan. Semuanya terasa normal, Hazel sudah bangun sejak beberapa saat
Hazel tidak ingat kapan tepatnya ia berhenti menangis. Yang ia ingat hanya lelah. Lelah yang menumpuk, menggerogoti tubuhnya sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa, bahkan sekadar untuk mengeluarkan suara. Tangisnya semalam tidak benar-benar berhenti, hanya melemah terseret pelan sampai akhirnya
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany







