/ Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 61 Fisioterapi

공유

BAB 61 Fisioterapi

작가: Adw_Canss781
last update 게시일: 2026-06-06 22:19:40

Satu bulan berlalu sejak kecelakaan itu. Satu bulan sejak hidup Lintang Aksara Narendra berubah total. Dan selama satu bulan itu pula, tubuhnya dipaksa bertahan melewati rasa sakit yang nyaris tidak memberinya ruang untuk bernapas lega.

Kamar rawat VIP di rumah sakit swasta di pusat Jakarta itu masih terasa dingin meski matahari siang mulai masuk dari sela tirai. Suasana di dalam jauh lebih tenang dibanding minggu-minggu pertama setelah kecelakaan. Tidak ada lagi suara langkah dokter yang terb
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 109 Menjemput Anak

    Jam menunjukkan pukul 10.09 pagi saat suasana di depan sekolah TK mulai ramai. Pintu-pintu kelas dibuka satu persatu. Suara anak-anak langsung memenuhi halaman kecil sekolah dengan riuh yang khas. Beberapa berlari menghampiri orang tua mereka. Ada yang sibuk menunjukkan hasil gambar dan ada juga yang langsung merengek minta jajan. Sedangkan Hazel berdiri tenang di dekat pagar sekolah sambil menunggu. Hijab krem lembut membingkai wajahnya pagi itu. Masker medis masih menutupi sebagian wajahnya dengan rapi dan meski tubuhnya masih terasa lelah matanya perlahan mulai lebih hidup saat melihat anak-anak kecil keluar dari kelas satu per satu. Sampai akhirnya, Leyan muncul paling depan sambil membawa tas kecil bergambar dinosaurus. Anak itu awalnya masih sibuk bicara dengan temannya. Namun beberapa detik kemudian, matanya menangkap sosok Hazel di dekat pagar. Seketika wajahnya langsung berubah cerah total. “BUNDAAAAAA!” Suara nyaring itu langsung membuat beberapa orang tua lain ikut menol

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 108 Kembali Ke Bandung

    Subuh itu suasana rumah masih dingin dan penuh ketegangan setelah tamparan yang diterima Hazel beberapa menit lalu. Sedangkan Rehan tetap bersiap kerja seperti tidak terjadi apa-apa. Laki-laki itu akhirnya memakai seragam yang tadi salah disetrika Hazel. Karena sebenarnya seragamnya hampir sama. Hanya beda jadwal pemakaian saja. Namun seperti biasa Rehan tetap mencari alasan untuk melampiaskan emosinya. Suara lemari dibuka kasar, langkah kaki berat dan gumaman kesal yang terus terdengar sejak tadi. “Pagi-pagi udah bikin emosi aja…” Hazel diam, perempuan itu hanya berdiri di dapur kecil sambil menyiapkan kopi panas dengan wajah menunduk. Sudut bibirnya masih terasa perih, pipinya juga mulai membiru samar dan seperti biasa dirinya tetap bergerak tenang seolah semua baik-baik saja. Padahal tangannya masih sedikit gemetar. Sekitar pukul lima pagi, Rehan akhirnya bersiap pergi. Sebelum keluar rumah laki-laki itu sempat melirik Hazel yang sedang merapikan meja dapur. “Kamu kerja hari in

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 107 Mereka

    Malam itu di dua kota berbeda, dua kehidupan berjalan dengan arah yang benar-benar bertolak belakang. Di Jakarta Hazel masih duduk diam di pinggir ranjang setelah pertengkaran tadi. Lampu kamar redup, suasana rumah tetap terasa dingin. Sedangkan di Bandung Lintang baru saja tiba di apartemennya dengan kepala yang masih penuh oleh banyak hal. Tas kerja dan beberapa map langsung ia letakkan di meja ruang tamu. Jasnya dilepas pelan, lalu tubuhnya jatuh ke sofa panjang apartemen yang biasanya terasa terlalu sunyi. Namun anehnya malam ini sunyi itu terasa berbeda. Sekarang isi kepalanya tidak lagi kosong, tatapannya perlahan jatuh ke arah ponsel di meja dan tanpa sadar sudut bibirnya naik kecil saat mengingat kejadian sepanjang hari tadi. Liana yang manyun karena dirinya telat datang ke taman, Leyan yang sibuk ngomel soal iga bakar dan Lintang kecil yang diam-diam selalu memperhatikan semuanya. Sampai suara kecil mereka yang terus memanggilnya. “Ayah.” Lintang mengembuskan napas pel

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 106 Dua Dunia Berbeda

    Perjalanan pulang menuju rumah Hazel terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Mungkin karena tiga anak kecil itu mulai lelah setelah terlalu banyak aktivitas hari ini. Di kursi belakang mobil Liana sudah setengah rebahan sambil memeluk tas kecilnya. Sedangkan Leyan masih sempat ngoceh soal kantor Lintang meski suaranya mulai melambat karena mengantuk. “Ayah…” “Hm?” “Kursi Ayah enak banget.” Lintang tertawa kecil sambil tetap fokus menyetir. “Kamu mau tukeran kerja sama Ayah?” “Mau.” “Kerjanya apa?” “Duduk.” Liana yang tadi hampir tidur langsung tertawa kecil. “Terus makan.” “Iya.” Leyan mengangguk santai tanpa malu. Sedangkan Lintang kecil duduk paling tenang seperti biasa. Anak itu memperhatikan lampu jalan dari jendela sambil sesekali melirik ke arah Lintang di depan. Tatapannya berbeda malam ini lebih dalam dan lebih banyak berpikir. Karena hari ini dirinya melihat banyak sisi baru dari Lintang. Bukan cuma “Ayah baik” yang menemani mereka bermain di tam

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 105 Kantor

    Lift terus bergerak naik menuju lantai atas gedung Narendra Group cabang Bandung. Suara mesin lift terdengar halus. Lampu angka digital terus berubah dari bawah ke atas. Sedangkan tiga anak kecil di dalam lift jelas masih belum berhenti kagum. Liana bahkan beberapa kali melihat pantulan dirinya sendiri di dinding lift mengilap sambil tertawa kecil. “Ayah…” “Hm?” “Kalau ngomong disini suaranya bagus.” Lalu anak itu sengaja mencoba lagi. “Halo…” Suaranya memantul kecil di dalam lift. Leyan langsung ikut-ikutan. “HAAAALOOOO.” “Pelan-pelan aja.” Lintang kecil langsung menegur. “Nanti dikira kita norak. "Kita emang belum pernah.” Leyan menjawab santai tanpa rasa malu sedikit pun. Lintang sampai menunduk kecil sambil menahan tawa. Sudah lama dirinya tidak pernah merasa suasana sesantai ini di gedung kantor. Biasanya lift ini hanya dipenuhi obrolan bisnis, lapora, target kerja dan suara orang-orang yang sibuk mengejar waktu. Sedangkan sekarang yang terdengar justru suara anak

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 104 Izin ke Kantor

    Saat mobil Lintang berhenti di depan toko bunga milik Miranti, langit sore Bandung sudah mulai berubah lebih redup. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 16.35. Lampu-lampu toko di sekitar jalan mulai menyala satu persatu. Sedangkan suasana toko bunga masih cukup ramai oleh beberapa pembeli. Sebelum mobil benar-benar mati, Liana sudah lebih dulu semangat membuka seatbelt. “Ayo ayo… Kita bilang ke Nenek.” Sedangkan Leyan sibuk membawa plastik makanan bungkus yang tadi dibeli. “Hati-hati.” Lintang langsung mengingatkan. “Jangan sampai tumpah.” “Aman Ayah.” Leyan membawanya dengan penuh semangat. Padahal plastik itu sudah miring hampir jatuh. Lintang kecil langsung refleks membantu memegang bawah plastik sambil menghela napas kecil. “Kamu tuh…” Sedangkan Lintang hanya bisa tertawa kecil melihat mereka. Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya masuk ke dalam toko bunga. Aroma bunga segar langsung terasa begitu pintu dibuka. Miranti yang sedang merapikan bunga di meja depan langs

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 20 Confess

    Hari-hari berlalu, satu minggu, lalu dua minggu. Hazel mulai terbiasa dengan hidupnya yang sekarang. Bukan berarti semuanya membaik, karena rasa takut itu masih ada, masih tinggal di dalam dirinya seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kadang saat mendengar langkah kaki terlalu keras

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 19 Trigger dan Perubahan

    Sore hari datang lebih cepat dari yang Hazel sadari. Kelas demi kelas terlewati begitu saja, tanpa benar-benar ia ingat apa yang diajarkan. Semuanya terasa seperti potongan waktu yang kabur, ia hadir, duduk, mencatat, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar ada di sana. Saat akhirnya jam pulang

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 18 Kekosongan dan Konsekuensi

    Pagi itu datang seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi sudut kamar dengan lembut. Suara kendaraan dari luar terdengar samar, bercampur dengan aktivitas pagi yang mulai hidup perlahan. Semuanya terasa normal, Hazel sudah bangun sejak beberapa saat

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 17 Kenyataan yang Menyakitkan

    Hazel tidak ingat kapan tepatnya ia berhenti menangis. Yang ia ingat hanya lelah. Lelah yang menumpuk, menggerogoti tubuhnya sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa, bahkan sekadar untuk mengeluarkan suara. Tangisnya semalam tidak benar-benar berhenti, hanya melemah terseret pelan sampai akhirnya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status