Share

BAB 9 Dua Rencana

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-23 11:31:05

Hari-hari setelah kejadian di taman kampus itu terasa aneh bagi Lintang. Melisa sempat menghilang begitu saja, tidak membalas chat, tidak mengangkat telepon, bahkan sempat membuat nomor yang ia hubungi tidak aktif. Hal itu membuat Lintang benar-benar kesal selama beberapa hari. Namun, seperti kebiasaannya, ia tidak mudah menyerah.

Lintang tetap mencoba mendekati Melisa dengan cara lain. Ia menunggu di depan gedung fakultas saat jam kuliah selesai. Kadang ia menyapa singkat di koridor, kadang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 128 Terlalu Jauh

    Suasana kamar anak-anak itu perlahan kembali ramai setelah Lintang selesai memilihkan pakaian mereka. Leyan masih sibuk berdiri di depan lemari sambil memegang kaos bergambar dinosaurus pilihannya tadi. Sedangkan Liana memeluk dress pink kecil sambil tersenyum puas karena pilihannya akhirnya dipakai juga. Sementara Lintang kecil sudah duduk di tepi ranjang sambil melipat rapi seragam sekolahnya sendiri. Tatapan Lintang kembali menyapu kamar itu perlahan. Cukup lama dia memperhatikan, terasa hangat suasana di ruangan tersebut. Meski kamar itu sederhana semuanya terlihat hidup Ada jejak tawa anak-anak di sana, ada kebiasaan kecil mereka dan ada usaha Hazel membangun dunia nyaman untuk tiga anaknya. Lintang akhirnya membuka suara sambil berdiri dekat meja belajar kecil mereka. “Kalian tidur di kamar ini?” Lintang kecil langsung mengangguk kecil. “Iya.” Suaranya tenang seperti biasa. “Tapi kalau ada bunda…” Anak itu berhenti sebentar sambil melirik ke arah pintu kamar. “…ikutnya di k

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 127 Mengurus Anak-Anak

    Suasana ruang VVIP itu perlahan mulai lebih tenang setelah semuanya dibicarakan. Hazel Chiara Parameswari masih terlihat lelah di atas ranjang rumah sakit. Matanya sembab, tubuhnya juga tampak jauh lebih lemah dibanding biasanya. Sedangkan Miranti duduk di samping ranjang sambil sesekali mengusap kepala Hazel pelan. Sementara itu, Lintang mulai membantu membereskan tas kecil tiga anak tersebut yang tadi dibawa dari sekolah. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Hazel setiap melihat wajah perempuan itu dadanya terasa makin berat. Akhirnya laki-laki itu kembali mendekat ke sisi ranjang. “Kalau gitu… Aku bawa anak-anak dulu ya.” Hazel perlahan mengangkat wajahnya. Sedangkan Lintang kembali bicara tenang. “Sekalian aku pinjam kunci cadangan rumah kamu. Kalian belum ganti pakaian dari sekolah.” Tatapannya bergantian melihat tiga anak kecil yang masih duduk dekat ranjang Hazel. “Kasihan juga kalau mereka terlalu lama di rumah sakit.” Hazel langsung diam berdiri. Dirinya memang tidak

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 126 Untuk Hazel

    Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkir rumah sakit. Suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat dari sekolah tadi. Leyan yang biasanya paling ribut sekarang duduk diam sambil memeluk tas sekolahnya. Sesekali anak itu melirik ke arah gedung rumah sakit dengan wajah cemas. Sedangkan Liana terlihat menggigit bibir kecilnya pelan sejak tadi. Matanya beberapa kali berkaca-kaca meski dirinya berusaha terlihat kuat. Dan Lintang kecil, anak itu justru paling diam. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela mobil. Jemarinya menggenggam kuat tali tas di pangkuannya sampai buku-buku jarinya sedikit memutih. Lintang memperhatikan semuanya diam-diam dari kaca tengah. Melihat reaksi tiga anak itu, dadanya terasa makin berat. Dia sadar Hazel benar-benar pusat dunia mereka. Mobil akhirnya berhenti. “Ayo…” Suara Lintang terdengar pelan sekarang. Jauh lebih lembut dibanding biasanya. Leyan langsung turun cepat lebih dulu. Diikuti Liana, sedangkan Lintang kecil keluar paling

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 125 Karena Ada Ayah

    Pintu ruang rawat sebenarnya sudah tertutup sejak Lintang pamit tadi. Laki-laki itu juga sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari ruangan. Namun tepat saat dirinya hendak benar-benar pergi menuju lift langkahnya perlahan berhenti. Suara tangisan pelan dari dalam ruangan masih samar terdengar. Lintang langsung diam di tempat. Tangannya yang tadi hendak memasukkan ponsel ke saku perlahan turun lagi. Tanpa sadar kakinya justru kembali bergerak pelan mendekati pintu ruang rawat itu. Bukan untuk masuk, hanya dirinya tidak sanggup benar-benar pergi dalam keadaan Hazel seperti itu. Lintang berdiri diam di dekat pintu. Tatapannya kosong mengarah ke lantai koridor rumah sakit. Lalu suara Miranti terdengar lirih dari dalam. “Apa sebenarnya yang terjadi nak…” Beberapa detik kemudian, suara tangis Hazel mulai terdengar pecah. “Aku capek bu…” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang terasa seperti diremas keras. Tangannya perlahan mengepal di samping tubuh. Sedangkan dari dalam suara Ha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 124 Semua Luka

    Suasana di dalam ruang rawat itu perlahan mulai lebih tenang. Meski mata Hazel masih terlihat sembab, napas perempuan itu sudah jauh lebih stabil dibanding tadi. Sedangkan Lintang masih berdiri di dekat ranjang sambil memegang ponsel Hazel di tangannya. Tatapan laki-laki itu sesekali jatuh pada layar ponsel yang terus dipenuhi panggilan dan pesan dari Rehan Pratama. Namun untuk sementara Lintang memilih mengabaikannya dulu. Fokusnya sekarang hanya satu, Hazel. Laki-laki itu akhirnya kembali duduk di kursi dekat ranjang. Tatapannya mengarah pada Hazel yang terlihat masih sangat lelah. “Anak-anak pulang jam berapa?” Hazel yang tadi sedang menunduk perlahan mengangkat wajah. “Jam sepuluh biasanya…” Suaranya masih terdengar pelan dan lemas. Lintang langsung melirik jam di tangannya. Pukul 09.40 pagi. Berarti sekitar dua puluh menit lagi anak-anak akan selesai sekolah. Lintang mengangguk kecil pelan. “Ya udah.” Nada suaranya tetap tenang. “Nanti kalau ibu datang… aku yang jemput anak-

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 123 Password

    Ruangan rawat itu kembali dipenuhi sunyi setelah pertanyaan kecil dari Hazel tadi. Perempuan itu masih menunduk, jemarinya menggenggam pelan ujung selimut rumah sakit di atas tubuhnya. Sedangkan Lintang duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel tanpa berkedip. Dia tau perempuan itu menahan semua lukanya sendiri, sangat teringat jelas dikepalanya. Sulit baginya untuk mengabaikan. Memar di lengan, bekas cengkeraman, luka di leher dan sudut bibir yang pecah. Lintang mengusap wajahnya kasar pelan. Lalu akhirnya menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Hazel…” Suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya terlihat lelah. Sedangkan Lintang menatapnya lurus, sorot matanya serius sekali. “Kamu mau nunggu apa lagi sekarang?” Hazel langsung diam. “Kamu masih mau mikirin apa?” Nada suara Lintang mulai terdengar lebih tegas sekarang. Dia tidak sedang membentak. Namun jelas sekali emosinya sedang ditahan kuat-kuat. “Sem

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 8 Benih Kesal dan Perhatian yang Terpecah

    Siang itu, matahari bersinar cerah di halaman kampus, namun kelas tetap terasa hangat. Lintang menyesuaikan masker di wajahnya, langkahnya mantap saat memasuki gedung fakultas. Ia menatap pintu kelas tempat Melisa biasanya mengikuti perkuliahan, lalu menarik napas dalam.“Kalau chat dan telepon tid

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 7 Insiden di Tangga

    Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang ber

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 6 PDKT Semakin Intens

    Sore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 5 PDKT

    Lintang berjalan santai di koridor kampus, masker menutupi sebagian wajahnya, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Mata hitam legamnya mengamati arah kelas di mana Melisa baru saja keluar, beberapa teman mengiringi dari belakang. Hari ini, Lintang menargetkan beberapa momen kecil, sesu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status