LOGINKeesokan paginya, Hazel akhirnya memutuskan masuk kuliah seperti biasa. Tubuhnya memang belum benar-benar pulih, tapi setidaknya ia merasa jauh lebih baik dibanding beberapa hari terakhir. Obat mual yang diresepkan dokter kemarin cukup membantu. Sejak semalam, rasa mual Hazel tidak separah biasanya. Ia masih sesekali merasa tidak nyaman, terutama saat mencium bau tertentu atau perutnya kosong terlalu lama, tapi setidaknya ia sudah tidak muntah terus-menerus. Pagi itu bahkan Hazel sempat memaksakan diri makan sedikit roti dan teh hangat sebelum berangkat. Miranti yang melihat itu sampai sedikit lega. “Nah, gitu”, katanya sambil meletakkan piring ke wastafel. “Walaupun sedikit, yang penting masuk.” Hazel hanya mengangguk kecil sambil merapikan tasnya. “Aku berangkat dulu.” Miranti berdiri dari duduknya. "Ibu anter.” Hazel ingin menolak. "Nggak usah—” “Ibu anter”, ulang Miranti, kali ini lebih tegas. Hazel tahu tidak ada gunanya membantah, akhirnya mereka berangkat bersama.
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia dengar dengan jelas. Sesekali tangannya bergerak pelan ke atas perutnya, lalu buru-buru ia turunkan lagi, seolah masih belum terbiasa dengan kenyataan itu. Miranti yang menyetir juga tampak diam. Tapi sesekali ia melirik Hazel dengan tatapan khawatir. “Masih mual?”, tanyanya pelan saat mobil berhenti di lampu merah. Hazel menggeleng kecil. “Nggak terlalu...” Padahal sebenarnya dadanya masih terasa sesak, bukan karena mual, tapi karena pikirannya. Ia teringat kata-kata dokter, kembar tiga, anemia dan harus dijaga. Salah satu detak jantung mereka lebih lambat dan entah kenapa, itu membuat Hazel semakin takut. Takut kalau sesuatu terjadi pada mereka, takut kalau tubuhnya tidak cukup kuat dan
Pagi harinya, Hazel terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Ia sempat tertidur beberapa jam semalam setelah terlalu lelah menangis. Saat membuka mata tetap saja kenyataan itu masih ada, tidak hilang dan tidak berubah. Kamarnya masih redup, dari luar terdengar suara Miranti di dapur. Hazel meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping ranjang. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, ini hari Senin. Harusnya jam segini ia sudah bersiap ke kampus, tapi tubuhnya terasa terlalu lemas. Kepalanya pusing, matanya bengkak, dan perutnya masih sesekali terasa mual, terlebih ia masih berada di Bandung sejak kemarin. Hazel menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya membuka chat salah satu temannya di kampus, orang yang biasanya duduk dengannya dan cukup sering menanyakan kalau Hazel tidak datang, Nabila. Ia mengirim pesan, Hazel: "Aku izin nggak masuk hari ini ya. Lagi kurang enak badan dari semalam, kayaknya butuh istirahat dulu." Setelah beberapa menit, balasan
Langit di luar sudah gelap sejak tadi. Dari jendela kamar, hanya terlihat cahaya lampu taman yang temaram menerpa dedaunan di halaman. Hazel duduk sendirian di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang. Lampu kamar tidak ia nyalakan sepenuhnya, hanya lampu tidur kecil di sudut ruangan yang membuat kamar itu tampak redup. Di luar, dari arah dapur, terdengar suara Miranti sedang memasak. Hazel sama sekali tidak peduli, tangannya memeluk lutut erat, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis sejak siang tadi, kepalanya terasa penuh dan dadanya sesak. Ia menunduk perlahan, tatapannya jatuh pada perutnya sendiri yang masih rata dan masih belum terlihat apa-apa, tapi di dalam sana ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Sesuatu yang tidak pernah ia inginkan, sesuatu yang terus mengingatkannya pada malam itu. Tubuh Hazel mulai gemetar lagi. “Kenapa...”, bisiknya lirih, suaranya bergetar. “Kenapa harus ada...?” Air matanya jatuh lagi. Ia menggeleng kuat-kuat, seperti ingin menolak kenyataan
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terlihat semakin pucat. Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka. Miranti masuk sambil membawa beberapa kantong belanja di tangan. Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat Hazel duduk di ruang tamu. “Hazel?”, panggil Miranti. Wanita itu tampak terkejut. “Loh? Kamu... kok pulang, nggak bilang-bilang? Semalam kan bilangnya saat libur panjang pulangnya?”, tanyanya cepat sambil meletakkan kantong belanja di meja. Hazel berusaha tersenyum kecil, tapi gagal. “Pengen pulang aja, Bu...”, suaranya pelan dan serak. Miranti langsung mendekat. Semakin dekat, semakin jelas wajah Hazel yang pucat, matanya yang sembab, dan tubuhnya yang tampak lemas. “Kamu sakit?” tanyanya cemas sambil mem
Jam di layar ponsel baru menunjukkan pukul 04.52 saat Hazel membuka mata. Langit di luar jendela masih gelap. Kamar kostnya sunyi, hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan sesekali bunyi motor dari jalan depan. Beberapa detik Hazel hanya diam, menatap kosong ke langit-langit, lalu ia kembali ingat. Tubuhnya langsung menegang, hari ini tentang kebenaran yang ingin ia hindari sekaligus ia hindari. Tangannya perlahan meremas selimut, dadanya mulai berdebar lagi, bahkan lebih keras dari semalam. Rasanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya sejak ia membuka mata. Hazel bangun perlahan dari ranjang. Kepalanya sedikit pusing, perutnya kembali terasa mual, tapi kali ini entah karena tubuhnya atau karena ketakutan yang sejak semalam tak berhenti menghantuinya. Dengan langkah pelan, ia berjalan ke meja belajar. Tangannya sempat berhenti di atas laci, beberapa detik, lima detik, sepuluh detik. Ia belum siap, tapi ia juga tak sanggup terus hidup dalam ketidakpastian seperti in







