Partager

BAB 9 Dua Rencana

Auteur: Adw_Canss781
last update Date de publication: 2026-03-23 11:31:05

Hari-hari setelah kejadian di taman kampus itu terasa aneh bagi Lintang. Melisa sempat menghilang begitu saja, tidak membalas chat, tidak mengangkat telepon, bahkan sempat membuat nomor yang ia hubungi tidak aktif. Hal itu membuat Lintang benar-benar kesal selama beberapa hari. Namun, seperti kebiasaannya, ia tidak mudah menyerah.

Lintang tetap mencoba mendekati Melisa dengan cara lain. Ia menunggu di depan gedung fakultas saat jam kuliah selesai. Kadang ia menyapa singkat di koridor, kadang
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 82 Ke Taman Lagi

    Suasana taman sore itu jauh lebih hidup dibanding kemarin. Beberapa anak kecil bermain di area ayunan. Ada yang bersepeda kecil mengelilingi jalan setapak taman dan suara burung bercampur angin sore membuat suasana terasa tenang. Lintang akhirnya berjalan mendekat ke bangku taman bersama dua bocah kecil yang sejak tadi ribut sendiri di sampingnya. “Pelan-pelan…” Lintang sampai harus menahan langkah Liana yang hampir tersandung sendiri karena terlalu semangat. “Om dateng lagi beneran…” kembali lagi Liana berbicara. “Iya.” Lintang tertawa kecil. “Kan kemarin udah bilang kalau gak sibuk.” Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara sudah sibuk melirik kantong belanja di tangan Lintang sejak tadi. Tatapannya benar-benar fokus. Lintang kecil yang berdiri dekat bangku hanya memperhatikan dua adiknya dengan ekspresi pasrah. “Leyan pasti penasaran makanan…” gumamnya pelan. “Enggak.” Jawaban Leyan terlalu cepat. Liana langsung melotot kecil. “Boong.” Lintang akhirnya duduk di bangku taman

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 81 Tidak Fokus

    Pagi di Bandung masih terasa dingin saat mobil hitam milik Lintang memasuki area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Jam di dashboard mobil bahkan baru menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Masih terlalu pagi untuk jam kerja kantor. Langit terlihat mendung tipis. Udara dingin khas Bandung bercampur aroma kopi dari beberapa kios kecil dekat gedung perkantoran. Sedangkan gedung tinggi Narendra Group cabang Bandung sudah mulai hidup perlahan. Beberapa karyawan terlihat baru datang. Security berjaga di depan pintu utama dan beberapa lampu kantor di lantai atas sudah menyala. Mobil Lintang berhenti pelan di area parkir khusus direksi. Begitu pintu mobil terbuka, security yang sedang berjaga langsung refleks berdiri lebih tegak. “Selamat pagi Pak.” Lintang hanya mengangguk kecil sambil berjalan masuk. Tatapannya tenang, langkahnya pelan dan aura dingin khas dirinya langsung terasa bahkan sejak pertama masuk gedung. Beberapa pegawai yang kebetulan baru datang langsung mel

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 80 Pergolakan Batin

    Suasana depan toko bunga terasa jauh lebih hangat dibanding satu jam lalu. Suara tiga bocah kecil itu terus bercampur dengan percakapan singkat di video call. Sedangkan Lintang masih berdiri diam sambil sesekali memandang layar ponsel di tangan Leyan. Di layar itu Hazel masih terlihat tenang. Sesekali tersenyum kecil melihat tingkah anak-anaknya yang berebut bicara. “Bunda nanti kapan pulang lagi?” Tanya Liana sambil memeluk paperbag makanan. Hazel tampak berpikir sebentar. “Belum tau sayang.” “Besok?” tanya Liana lagi. Hazel tersenyum kecil. “Kalau kerjaan Bunda selesai cepat.” Liana langsung manyun tipis. Sedangkan Leyan sudah mulai sibuk menceritakan makanan yang tadi mereka makan. “Aku makan ayam sama bebek.” Hazel langsung mengernyit kecil. “Dua-duanya?” “Iya.” jawab Leyan cepat. “Leyan…” Nada suara Hazel terdengar pasrah bercampur geli. “Nanti sakit perut.” Leyan membusungkan dadanya. “Aku kuat.” Lintang sampai menahan senyum kecil mendengar jawaban itu lagi. Sedan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 79 Tatap Muka

    Lintang masih berdiri di depan toko bunga sambil memandangi tiga bocah kecil di depannya. Lampu toko yang hangat menerpa wajah-wajah kecil itu pelan. Sedangkan langit Bandung sudah mulai benar-benar gelap sekarang. Liana masih memeluk paperbag makanan sambil menatapnya penuh harap. “Nanti kesini lagi kan Om?” Lintang diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil samar. “Kalau Om gak sibuk ya.” Liana langsung sedikit manyun. “Kenapa sibuk terus…” “Karena Om kerja.” jawab Lintang. “Om kerja dimana?” tanya Leyan. Lintang mengangkat tangan lalu menunjuk ke arah ujung jalan seberang taman. Di sana terlihat gedung tinggi kantor cabang Narendra Group Bandung berdiri cukup mencolok dengan lampu-lampu kantor yang masih menyala. “Di kantor yang ada disana.” Leyan langsung mengikuti arah telunjuknya. Matanya membulat kecil. “Kantor yang gede itu ya Om?” Lintang mengangguk. “Iya.” “WAH…” Leyan tampak benar-benar kagum sekarang. “Itu punya Om?” Lintang tertawa kecil.

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 78 Makan Bersama

    Aroma bebek goreng hangat memenuhi meja mereka. Suara sendok beradu pelan dengan piring bercampur suara ocehan tiga bocah kecil yang tidak pernah benar-benar diam sejak tadi. Leyan jelas jadi yang paling fokus dengan makanan. Bocah itu makan dengan lahap sekali, paha ayam di satu tangan. Sedangkan paha bebek di piringnya sudah mulai habis setengah. “Pelan-pelan.” Lintang sampai tertawa kecil melihatnya. “Nanti keselek.” Leyan langsung menggeleng cepat sambil tetap mengunyah penuh semangat. “Enggak.” Sedangkan Liana justru mulai sibuk sendiri dengan dada ayam goreng pilihannya. Ia mencoba menyuir sendiri. Gagal lalu mencoba lagi, lalu masih gagal. “Kok susah…” Lintang memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya menarik pelan piring kecil itu ke arahnya. “Sini.” Liana langsung mendongak. “Hm?” “Om bantu.” ucap Lintang. Mata bocah kecil itu langsung berbinar. “YEAAY.” Sedangkan Lintang yang duduk di samping adiknya langsung menghela napas kecil. “Makanya belajar makan sendiri

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 77 Makan dengan Si Kembar

    Mobil hitam milik Lintang Aksara Narendra akhirnya berhenti di depan bangunan besar dengan papan nama khas yang menyala cukup mencolok. Bebek Goreng Pak Karim - Bandung. Cabang Bandung memang berbeda dibanding cabang lain. Bangunannya jauh lebih besar, lebih modern dan selalu ramai hampir setiap hari. Lampu-lampu hangat di bagian depan resto mulai menyala menyambut sore yang perlahan menuju malam. Area parkir cukup penuh, beberapa keluarga terlihat baru datang. Sedangkan aroma khas ayam dan bebek goreng langsung tercium bahkan sejak mereka baru turun dari mobil. “WAAAH…” Liana langsung membulatkan mata kagum begitu melihat bangunan besar di depannya. “Bagus bangettt…” Sedangkan Leyan sibuk melihat papan nama resto sambil menunjuk kecil. “Yang itu gambar bebeknya lucu.” Lintang sampai tersenyum kecil melihat reaksi mereka. Ia turun lebih dulu lalu membukakan pintu satu per satu. “Pelan-pelan aja.” Seat belt dilepas, Liana langsung turun duluan sambil lompat kecil. Sedangkan L

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 73 Bandung dan Tiga Anak Kecil

    Minggu pagi di rumah utama keluarga Narendra masih terasa tenang saat Lintang sudah siap berangkat ke Bandung. Jam bahkan belum menunjukkan pukul delapan. Udara Jakarta masih belum terlalu panas, beberapa ART terlihat sibuk merapikan ruang makan. Sedangkan suasana rumah jauh lebih sepi dibanding ma

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 72 Kumpul Keluarga

    Mobil hitam milik Lintang Aksara Narendra akhirnya memasuki halaman rumah utama keluarga Narendra saat langit Jakarta benar-benar gelap. Lampu taman menyala hangat di sepanjang jalan masuk. Suara tawa dan obrolan sudah terdengar samar bahkan sebelum mobilnya berhenti sempurna di garasi samping rumah

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 71 Enam Tahun Berlalu

    Kehidupan Hazel perlahan mulai menemukan ritmenya kembali, meski melelahkan dan meski sering membuat tubuh dan pikirannya nyaris tumbang. Hazel tetap menjalaninya pelan-pelan. Pagi hari rumah kecil di Jakarta Selatan itu selalu ramai sejak subuh. Suara tangisan bayi, suara mainan jatuh, ocehan kec

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 69 Foto

    Hari sudah mulai sore saat Kevin akhirnya berdiri dari karpet ruang tengah. Langit di luar jendela mulai berubah jingga samar. Suasana rumah kecil itu juga perlahan lebih tenang dibanding tadi. Leyan Arvindra sudah mulai mengantuk sambil bersandar di dada ibunya. Sedangkan Lintang kembali sibuk mem

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status