Share

Bab 2

Author: Moon
Wajahku seolah bertuliskan dua kata besar, "Kamu serius?"

Padahal, hari itu, Mario tiba-tiba berterus terang kepadaku bahwa dia tidak suka aku terus menempel dan bergantung padanya setiap hari.

Dia juga yang memberiku paket instalasi AI yang entah dari mana itu.

"Kenapa aku harus memberitahumu?"

Mario terdiam karena ucapanku, lalu wajahnya muram. "Memangnya paman dan bibi bakal tenang membiarkanmu pergi sendirian?"

Entah kenapa, aku teringat AI di ponselku.

"Siapa bilang aku sendirian?"

Mario terkekeh mencemooh.

"Memangnya aku nggak tahu kamu? Pergi ke supermarket di bawah saja kamu harus memintaku menemani. Memangnya siapa lagi yang bakal menemanimu?"

"Sekalipun paman dan bibi nggak keberatan, ibuku juga ...."

Belum selesai bicara, ponsel Mario berdering.

Ibunya, Bibi Ratna, yang menelepon.

Pendengaranku kurang baik. Bahkan dengan alat bantu dengar, aku tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

Namun, melihat ekspresi Mario yang makin kesal, aku sudah bisa menebaknya.

Bibi Ratna meminta Mario pergi ke Pulau Bina bersamaku.

Sebenarnya, dia bisa menolak.

Namun, setelah menutup telepon, dia menghela napas.

"Sepertinya aku memang nggak bisa lepas darimu."

Aku terdiam di tempat.

Aku bisa memahami tindakan Bibi Ratna.

Waktu kecil, gangguan pendengaranku belum separah sekarang.

Mario memang nakal. Suatu ketika, dia membawa pengeras suara mainan dan berteriak keras di dekat telingaku.

Aku langsung menutup telinga dan menangis histeris, lalu dilarikan ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaannya tidak terlalu baik.

Agar bisa menjalani kehidupan normal, mungkin aku harus terus memakai alat bantu dengar.

Orang tuaku tidak mengatakan apa-apa.

Namun, Bibi Ratna sangat marah. Dia memukuli Mario dengan keras, lalu menyuruhnya berlutut di hadapanku dan bersumpah.

"Mario bersumpah bakal menjaga Sakila seumur hidup, memperlakukannya dengan baik, dan nggak boleh menyakitinya."

Mario kecil menangis terisak-isak sampai bahunya bergetar. Saat itu, dia sama sekali belum mengerti apa itu tanggung jawab.

Namun, yang tidak disangka semua orang adalah dia benar-benar menepati janjinya.

Dari usia enam hingga delapan belas tahun, Mario adalah tempatku bergantung.

Seseorang yang bisa memahami maksudku tanpa perlu berkata-kata.

Karena itu, aku selalu tahu.

Mario sepertinya mulai menyukai Winona.

Mungkin sekitar tiga bulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi.

Winona, si murid dengan nilai terendah di kelas, tiba-tiba mulai rajin belajar.

Mario mencibir, sambil mengupas telur untukku dan bergumam pelan.

"Setelah puas bermain baru tahu menyesal. Memangnya dia pikir usaha tiga bulan bisa mengejar usaha orang lain selama tiga tahun? Aku paling nggak suka orang seperti itu."

Mario memang pernah membenci Winona karena gadis itu selalu terlambat dan membolos, juga selalu membuat keributan di kelas.

Sampai suatu hari, Mario tidak sengaja menabraknya di tikungan tangga.

Lembar-lembar soal latihan yang dipeluk gadis itu berhamburan di lantai.

Mario melihat catatan yang memenuhi lembar soal tersebut.

Sejak hari itu, dia mulai makin dekat dengan Winona.

Sebulan sebelum ujian masuk perguruan tinggi, dia mengajak Winona bergabung dalam kelompok kami yang hanya beranggotakan dua orang, agar gadis itu bisa masuk perguruan tinggi.

Sejak saat itu, dia mulai mengabaikanku.

Jadi, wajar jika dia ingin memutus hubungan denganku.

Setelah berpikir sejenak, aku menarik napas dalam-dalam.

"Kamu nggak perlu pergi. Aku bakal membantumu membujuk Bibi Ratna."

Mario menarik sudut bibirnya dengan senyum mencemooh diri sendiri.

Dia mengeluarkan selembar tiket pesawat dari sakunya.

Kemudian, dia berkata ke Winona, "Aku sempat ragu apakah harus pergi bersamamu, tapi sekarang, sepertinya aku nggak punya pilihan selain pergi."

Setelah berkata begitu, mereka saling tersenyum.

Aku diam-diam membuka AI di ponselku. [Sepertinya aku malah jadi bagian dari permainan mereka berdua.]

[Itu buruk sekali.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 12

    Sejak hari itu, Mario mencoba berbagai cara untuk meminta maaf kepadaku.Dia mengirim pesan pribadi yang panjang.Meminta Bibi Ratna datang menemuiku untuk membujukku, mengungkit sumpah dan janji yang kami buat sejak kecil.Berkali-kali mengatakan bahwa dia akan menepati janji dan menjagaku seumur hidup.Pada akhirnya, aku hanya meminta Bibi Ratna menyampaikan satu kalimat kepada Mario."Aku sudah dewasa. Aku nggak membutuhkan siapa pun buat menjaga dan melindungiku lagi."Sejak saat itu, Mario tidak pernah lagi datang mencariku atas kemauannya sendiri.Setengah bulan kemudian, aku mendapat kabar dari teman sekelas.Ternyata, pada akhirnya Mario menyerah pada Universitas Jinba dan juga memilih Universitas Naruta.Mendengar kabar itu, hatiku sama sekali tidak beriak.Aku tidak mencarinya dan tidak penasaran menanyakan alasannya.Dia sudah dewasa. Kami hanya memilih jalan masing-masing, itu saja.Namun, tidak kusangka.Pada sore hari, sehari sebelum perkuliahan dimulai, aku menerima pesa

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 11

    Namun, keesokan harinya pagi-pagi sekali, ibu Mario datang mencariku.Bibi Ratna duduk di sofa dan berbicara dengan nada tidak berdaya sekaligus menyayangkan keadaan."Sakila, Mario kemarin seharian seperti kehilangan semangat. Dia mengurung diri di kamar, nggak makan dan nggak tidur. Bahkan sampai sekarang, pilihan universitasnya sendiri masih kosong dan belum juga diisi.""Kalian berdua bertengkar, ya?""Sudah bertahun-tahun kalian bersama. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik saja. Jangan saling ngambek."Aku menggeleng pelan dengan wajah tenang."Bibi, kami nggak bertengkar. Kami cuma sudah sama-sama dewasa. Aku juga sudah punya pemikiran dan pilihan hidupku sendiri. Aku nggak mau terus terikat pada siapa pun, menjadi bayang-bayang seseorang."Bibi Ratna menatapku dan menghela napas, sepertinya memahami maksudku.Setelah mengantar Bibi Ratna pergi, aku membuka ponsel dan melihat-lihat media sosial.Dalam sekejap, aku melihat unggahan terbaru Winona di media sosial.Foto yang diun

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 10

    Tidak lama setelah pulang ke rumah, hasil ujian masuk perguruan tinggi akhirnya resmi diumumkan.Pada hari pengumuman hasil ujian, para orang tua dari kedua keluarga sengaja berkumpul untuk makan di rumahku.Meja makan dipenuhi berbagai hidangan, suasananya ramai dan hangat.Dalam hati, semua orang sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti.Aku dan Mario adalah sahabat masa kecil yang tumbuh bersama. Nilai kami kurang lebih sama, dan sejak muda kami juga sudah membuat janji.Kami pasti akan sama-sama mendaftar ke Universitas Jinba, lalu melanjutkan kuliah di sana agar bisa saling menjaga dan berkuliah di universitas yang sama.Di meja makan, Bibi Ratna menggenggam tanganku sambil tersenyum hangat dan penuh kasih."Sakila, sejak kecil kamu dan Mario sudah sepakat buat tumbuh bersama dan kuliah bersama.""Kali ini, pilih saja Universitas Jinba seperti yang sudah direncanakan. Nanti kalian juga bisa saling membantu selama kuliah."Mario duduk di samping, menatapku dengan tenang.Di m

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 9

    Bagaimanapun, hari itu Hugo menemaniku bermain di pantai sepanjang sore.Saat hendak berpisah, aku berinisiatif mengajaknya untuk terus bepergian bersama selama beberapa hari ke depan dalam perjalanan wisata setelah lulus ini.Hari mulai beranjak senja, dan matahari pun perlahan tenggelam.Hugo mengantarku sampai ke lobi hotel tempatku menginap, lalu pergi sendirian.Sesampainya di kamar hotel, aku melepas semua lelah yang terasa di tubuh.Aku iseng membuka ponsel dan melihat-lihat unggahan di media sosial.Unggahan pertama di beranda adalah unggahan yang baru saja dibuat Winona.Foto yang menyertainya adalah foto dirinya dan Mario berdiri berdampingan di pantai dengan latar matahari terbenam.Dari sudut pandang itu, mereka tampak mesra dan suasananya begitu intim, membuat keduanya terlihat sangat dekat.Kolom komentar dipenuhi doa agar mereka langgeng dari teman-teman SMA. Bahkan, tidak sedikit yang sengaja menandai akunku untuk ikut melihat keramaian dan menggodaku.Aku menatap foto

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 8

    "Mario.""Pertama, aku punya bukti lengkap. Sekarang, kalau kamu mau membelanya dan membebaskannya dari tanggung jawab, silakan. Setelah pulang nanti, aku tetap bakal menuntut pertanggungjawaban sampai tuntas dan meminta ganti rugi yang semestinya.""Kedua, apa hakmu menilai sembarangan apakah orang lain bisa diandalkan atau nggak? Pemandu wisata yang profesional, bertanggung jawab, dan mampu membedakan benar dan salah jauh lebih bisa diandalkan daripada orang sepertimu yang nggak peduli mana yang benar dan mana yang salah serta cuma membela orang luar.""Ketiga, aku nggak membutuhkan kalian buat menemaniku, juga nggak membutuhkan belas kasihanmu. Tolong minggir dan jangan menghalangi jalan."Setelah mengatakan semua itu, aku tidak lagi memedulikan wajah Mario yang muram dan penuh amarah.Aku mengangkat tangan, menggenggam lembut lengan baju Hugo, lalu berbalik dan langsung pergi.Dari belakang terdengar teriakan Mario yang menahan amarah.Langkahku tidak berhenti. Aku bahkan tidak men

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 7

    Setelah mengatakan itu, Winona seolah-olah merasa sangat tersakiti.Matanya memerah, lalu dia segera bersembunyi di belakang Mario."Mario, aku benar-benar nggak sengaja.""Aku cuma mau meminta maaf kepada Sakila dengan baik. Aku cuma menyentuh alat bantu dengarnya sedikit.""Siapa sangka akhirnya jadi seperti ini?"Tanpa berpikir panjang, Mario secara refleks langsung melindungi Winona di belakangnya.Alisnya berkerut erat. Tatapannya kepadaku dipenuhi ketidaksabaran dan keberpihakan."Sakila, bisakah kamu jangan terus memojokkan seperti ini?""Bukannya itu cuma alat bantu dengar? Memangnya masalahnya sebesar apa?""Winona juga sudah meminta maaf kepadamu. Kenapa kamu masih terus mempermasalahkannya?""Dia juga nggak sengaja. Nggak bisakah kamu sedikit lebih lapang dada?"Mendengar pembelaannya yang sama sekali tidak membedakan benar dan salah, dadaku terasa seperti dipenuhi air laut yang dingin.Inikah sahabat masa kecil yang telah bersamaku selama dua belas tahun?Di matanya, rasa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status