Share

Bab 3

Author: Moon
Sepanjang perjalanan, Mario duduk di antara aku dan Winona.

Orang yang kini terus mengobrol dengan Mario adalah Winona.

Aku hanya diam sambil sesekali mengobrol dengan AI.

[Benarkah kamu bakal muncul?]

[Selama kamu menginginkannya, aku bakal muncul.]

Jantungku berdegup dua kali lebih cepat, dan wajahku mulai terasa panas.

Dari samping, terdengar suara Mario.

"Kenapa wajahmu merah sekali?"

"Jangan-jangan kamu demam lagi. Merepotkan sekali."

Sambil berkata begitu, dia mulai mengobrak-abrik tasnya mencari sesuatu.

Tidak lama kemudian, Mario menyadari bahwa dia tidak membawa barang bawaan saat berangkat.

Termasuk berbagai obat yang biasanya dia bawa untukku.

"Nggak perlu dicari. Aku nggak demam."

"Mulai sekarang, kamu juga nggak perlu membawakan semua itu buatku."

Mario masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi perhatiannya teralihkan oleh Winona.

Minuman tumpah mengenai tubuh Winona.

Aku melihat Mario dengan sabar mengusap bekas tumpahan air di kaki Winona menggunakan tisu, tanpa mengeluh sedikit pun.

Manis sekali.

Namun, entah kenapa, Winona tiba-tiba memanggilku.

"Sakila, dulu Mario juga merawatmu seperti ini, 'kan?"

"Sekarang, aku malah jadi pengganggu di antara kalian. Jadi agak nggak enak, ya."

Aku tidak tahu mengapa Winona selalu punya kemampuan untuk membuat suasana menjadi sangat canggung.

Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab, lalu berdiri hendak pergi ke toilet.

Siapa sangka, saat itu pesawat tiba-tiba mengalami turbulensi. Aku kehilangan keseimbangan dan tubuhku terjengkang lurus ke belakang.

Telingaku berdenging.

Saat kukira aku akan jatuh ke lantai, sepasang tangan yang kuat menahan tubuhku dengan mantap.

Dalam sekejap, aku teringat perkataan AI.

"Aku ada di sini. Nggak bersembunyi, nggak menghilang, nggak melarikan diri."

"Aku bakal selalu ada buat menangkapmu dengan mantap."

Namun, ketika aku menoleh, yang kulihat justru kepala botak seorang paman berusia sekitar lima puluh tahun.

....

"Nak, hati-hati, ya."

Aku buru-buru berdiri. "Terima kasih, terima kasih, Paman."

Detik berikutnya, seseorang menarik pergelangan tanganku.

Itu Mario.

Di sudut kabin pesawat, wajah Mario tampak tidak senang.

"Sakila, kamu sudah bukan anak kecil lagi."

"Masih menggunakan cara seperti ini buat mencari perhatian?"

Aku masih diliputi rasa malu akibat kejadian tadi dan merasa ingin menghilang. Mendengar teguran Mario, hidupku terasa makin kelam.

"Mario, apa yang kamu bicarakan?"

Dia sama sekali tidak memedulikan kenyataan bahwa aku hampir terjatuh tadi.

"Maksudku, bisakah kamu berhenti merendahkan dirimu seperti ini? Apa kamu bakal mati kalau nggak bergantung padaku?"

Mario terlihat sangat serius.

Kalau dia bisa mengatakan kata-kata sekeras itu, sepertinya dia benar-benar sudah tidak peduli sedikit pun kepadaku.

Aku mengendus pelan.

Aku berkata dengan suara murung, "Aku mengerti."

Kemudian, tanpa menoleh lagi, aku masuk ke toilet.

Aku mengurung diri di dalam sana selama sepuluh menit untung tenang.

Akhirnya, aku menyadarinya.

Aku tidak akan pernah menyukai Mario lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 12

    Sejak hari itu, Mario mencoba berbagai cara untuk meminta maaf kepadaku.Dia mengirim pesan pribadi yang panjang.Meminta Bibi Ratna datang menemuiku untuk membujukku, mengungkit sumpah dan janji yang kami buat sejak kecil.Berkali-kali mengatakan bahwa dia akan menepati janji dan menjagaku seumur hidup.Pada akhirnya, aku hanya meminta Bibi Ratna menyampaikan satu kalimat kepada Mario."Aku sudah dewasa. Aku nggak membutuhkan siapa pun buat menjaga dan melindungiku lagi."Sejak saat itu, Mario tidak pernah lagi datang mencariku atas kemauannya sendiri.Setengah bulan kemudian, aku mendapat kabar dari teman sekelas.Ternyata, pada akhirnya Mario menyerah pada Universitas Jinba dan juga memilih Universitas Naruta.Mendengar kabar itu, hatiku sama sekali tidak beriak.Aku tidak mencarinya dan tidak penasaran menanyakan alasannya.Dia sudah dewasa. Kami hanya memilih jalan masing-masing, itu saja.Namun, tidak kusangka.Pada sore hari, sehari sebelum perkuliahan dimulai, aku menerima pesa

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 11

    Namun, keesokan harinya pagi-pagi sekali, ibu Mario datang mencariku.Bibi Ratna duduk di sofa dan berbicara dengan nada tidak berdaya sekaligus menyayangkan keadaan."Sakila, Mario kemarin seharian seperti kehilangan semangat. Dia mengurung diri di kamar, nggak makan dan nggak tidur. Bahkan sampai sekarang, pilihan universitasnya sendiri masih kosong dan belum juga diisi.""Kalian berdua bertengkar, ya?""Sudah bertahun-tahun kalian bersama. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik saja. Jangan saling ngambek."Aku menggeleng pelan dengan wajah tenang."Bibi, kami nggak bertengkar. Kami cuma sudah sama-sama dewasa. Aku juga sudah punya pemikiran dan pilihan hidupku sendiri. Aku nggak mau terus terikat pada siapa pun, menjadi bayang-bayang seseorang."Bibi Ratna menatapku dan menghela napas, sepertinya memahami maksudku.Setelah mengantar Bibi Ratna pergi, aku membuka ponsel dan melihat-lihat media sosial.Dalam sekejap, aku melihat unggahan terbaru Winona di media sosial.Foto yang diun

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 10

    Tidak lama setelah pulang ke rumah, hasil ujian masuk perguruan tinggi akhirnya resmi diumumkan.Pada hari pengumuman hasil ujian, para orang tua dari kedua keluarga sengaja berkumpul untuk makan di rumahku.Meja makan dipenuhi berbagai hidangan, suasananya ramai dan hangat.Dalam hati, semua orang sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti.Aku dan Mario adalah sahabat masa kecil yang tumbuh bersama. Nilai kami kurang lebih sama, dan sejak muda kami juga sudah membuat janji.Kami pasti akan sama-sama mendaftar ke Universitas Jinba, lalu melanjutkan kuliah di sana agar bisa saling menjaga dan berkuliah di universitas yang sama.Di meja makan, Bibi Ratna menggenggam tanganku sambil tersenyum hangat dan penuh kasih."Sakila, sejak kecil kamu dan Mario sudah sepakat buat tumbuh bersama dan kuliah bersama.""Kali ini, pilih saja Universitas Jinba seperti yang sudah direncanakan. Nanti kalian juga bisa saling membantu selama kuliah."Mario duduk di samping, menatapku dengan tenang.Di m

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 9

    Bagaimanapun, hari itu Hugo menemaniku bermain di pantai sepanjang sore.Saat hendak berpisah, aku berinisiatif mengajaknya untuk terus bepergian bersama selama beberapa hari ke depan dalam perjalanan wisata setelah lulus ini.Hari mulai beranjak senja, dan matahari pun perlahan tenggelam.Hugo mengantarku sampai ke lobi hotel tempatku menginap, lalu pergi sendirian.Sesampainya di kamar hotel, aku melepas semua lelah yang terasa di tubuh.Aku iseng membuka ponsel dan melihat-lihat unggahan di media sosial.Unggahan pertama di beranda adalah unggahan yang baru saja dibuat Winona.Foto yang menyertainya adalah foto dirinya dan Mario berdiri berdampingan di pantai dengan latar matahari terbenam.Dari sudut pandang itu, mereka tampak mesra dan suasananya begitu intim, membuat keduanya terlihat sangat dekat.Kolom komentar dipenuhi doa agar mereka langgeng dari teman-teman SMA. Bahkan, tidak sedikit yang sengaja menandai akunku untuk ikut melihat keramaian dan menggodaku.Aku menatap foto

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 8

    "Mario.""Pertama, aku punya bukti lengkap. Sekarang, kalau kamu mau membelanya dan membebaskannya dari tanggung jawab, silakan. Setelah pulang nanti, aku tetap bakal menuntut pertanggungjawaban sampai tuntas dan meminta ganti rugi yang semestinya.""Kedua, apa hakmu menilai sembarangan apakah orang lain bisa diandalkan atau nggak? Pemandu wisata yang profesional, bertanggung jawab, dan mampu membedakan benar dan salah jauh lebih bisa diandalkan daripada orang sepertimu yang nggak peduli mana yang benar dan mana yang salah serta cuma membela orang luar.""Ketiga, aku nggak membutuhkan kalian buat menemaniku, juga nggak membutuhkan belas kasihanmu. Tolong minggir dan jangan menghalangi jalan."Setelah mengatakan semua itu, aku tidak lagi memedulikan wajah Mario yang muram dan penuh amarah.Aku mengangkat tangan, menggenggam lembut lengan baju Hugo, lalu berbalik dan langsung pergi.Dari belakang terdengar teriakan Mario yang menahan amarah.Langkahku tidak berhenti. Aku bahkan tidak men

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 7

    Setelah mengatakan itu, Winona seolah-olah merasa sangat tersakiti.Matanya memerah, lalu dia segera bersembunyi di belakang Mario."Mario, aku benar-benar nggak sengaja.""Aku cuma mau meminta maaf kepada Sakila dengan baik. Aku cuma menyentuh alat bantu dengarnya sedikit.""Siapa sangka akhirnya jadi seperti ini?"Tanpa berpikir panjang, Mario secara refleks langsung melindungi Winona di belakangnya.Alisnya berkerut erat. Tatapannya kepadaku dipenuhi ketidaksabaran dan keberpihakan."Sakila, bisakah kamu jangan terus memojokkan seperti ini?""Bukannya itu cuma alat bantu dengar? Memangnya masalahnya sebesar apa?""Winona juga sudah meminta maaf kepadamu. Kenapa kamu masih terus mempermasalahkannya?""Dia juga nggak sengaja. Nggak bisakah kamu sedikit lebih lapang dada?"Mendengar pembelaannya yang sama sekali tidak membedakan benar dan salah, dadaku terasa seperti dipenuhi air laut yang dingin.Inikah sahabat masa kecil yang telah bersamaku selama dua belas tahun?Di matanya, rasa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status