共有

Bab 4

作者: Moon
Satu jam kemudian, kami turun dari pesawat.

Dalam perjalanan menuju hotel, aku dan Mario sama sekali tidak berbicara.

Membawa barang ke dalam lift, keluar dari lift, makan siang, semuanya kulakukan sendiri.

Mario bilang dia datang untuk menemaniku dalam perjalanan ini, tetapi sebenarnya sepanjang perjalanan dia terus menemani Winona.

Kupikir, tidak apa-apa juga.

Lagi pula, aku masih punya AI.

AI mengatur jadwal perjalananku selama beberapa hari ini dengan sangat rapi, bahkan langsung membuatkannya dalam bentuk tabel.

Namun, baru setengah jalan kubaca, seseorang mengambil ponselku.

Ketika mendongak, aku melihat Winona yang tersenyum puas.

"Wah, jadwalnya sangat terperinci."

"Mario, ini pasti kamu yang menyiapkannya khusus buat Sakila, 'kan?"

Aku mengerutkan kening dan hendak merebut kembali ponselku.

Namun, Mario sudah mengambilnya dari tangan Winona.

Dia meliriknya sekilas, lalu mengerutkan kening.

"Bukan aku yang membuatnya."

Setelah berkata begitu, dia menatapku.

"Setahuku, kamu nggak punya kesabaran seperti ini. Siapa yang membuatkannya untukmu?"

Aku mengambil kembali ponselku dengan kesal, mengabaikan kepanikan yang terpancar dari matanya.

"Bukan urusanmu."

"Tapi, memangnya pantas melihat-lihat privasi orang lain sembarangan?"

Aku bersumpah, aku tidak bermaksud jahat.

Siapa pun yang sepanjang perjalanan terus dibuat pusing oleh dua orang sinting ini, pasti suasana hatinya tidak akan baik.

Namun, Winona salah memahami maksudku.

Dia mundur dua langkah, matanya memerah.

"Mario, Sakila, apa kalian berdua nggak suka aku ikut bersama kalian?"

"Memang begitulah. Anak pintar cuma suka berteman dengan anak pintar. Orang bodoh sepertiku memang nggak pantas."

Sambil berkata begitu, dia mengusap air matanya, lalu berbalik hendak pergi.

Mario menahannya, lalu menoleh kepadaku dengan mata yang memerah.

"Sakila, kamu keterlaluan."

"Cuma jadwal perjalanan saja, memangnya perlu sampai segitunya melindunginya?"

Aku menatap mereka berdua dengan bingung.

Tiba-tiba aku merasa perkataan Winona ada benarnya.

"Memang perlu."

"Seberantakan apa pun jadwal itu, tetap saja dia sudah bersusah payah membuatnya untukku."

"Aku pergi sendiri. Kalian terserah."

Setelah berkata begitu, aku mengambil barang-barangku dan melewati Mario.

Sejak awal, aku memang berniat pergi sendirian.

Mario benar. Sudah waktunya aku belajar menjadi dewasa. Jadi, tanpa ragu, aku mengikuti rute yang diberikan AI dan menghabiskan waktu satu jam untuk menemukan pantai seorang diri.

Pantainya indah sekali.

Tiba-tiba aku teringat hari ketika pertama kali terpikir untuk melihat laut.

Saat itu, aku mencium samar aroma wangi dari tubuh Mario dan bertanya kepadanya aroma apa itu.

Dia berpura-pura serius, tetapi telinganya memerah.

"Aroma angin laut."

"Sakila, setelah lulus, mau pergi melihat laut bersamaku?"

Saat itu, aku sangat bahagia.

Namun, sekarang, yang datang untuk melihat laut sesuai janji hanya Sakila.

Aku memotret pemandangan itu secara asal, lalu mengirimkannya kepada AI.

Dia langsung membalas.

[Sekarang, berbaliklah.]

Pada saat itu, jantungku seolah hampir melompat keluar dari dada.

Aku segera berbalik, tetapi pandanganku terhalang oleh dua sosok.

Mario dan Winona.

Aku berdiri dan melihat ke belakang mereka dengan penuh harap.

Tidak ada apa-apa.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 12

    Sejak hari itu, Mario mencoba berbagai cara untuk meminta maaf kepadaku.Dia mengirim pesan pribadi yang panjang.Meminta Bibi Ratna datang menemuiku untuk membujukku, mengungkit sumpah dan janji yang kami buat sejak kecil.Berkali-kali mengatakan bahwa dia akan menepati janji dan menjagaku seumur hidup.Pada akhirnya, aku hanya meminta Bibi Ratna menyampaikan satu kalimat kepada Mario."Aku sudah dewasa. Aku nggak membutuhkan siapa pun buat menjaga dan melindungiku lagi."Sejak saat itu, Mario tidak pernah lagi datang mencariku atas kemauannya sendiri.Setengah bulan kemudian, aku mendapat kabar dari teman sekelas.Ternyata, pada akhirnya Mario menyerah pada Universitas Jinba dan juga memilih Universitas Naruta.Mendengar kabar itu, hatiku sama sekali tidak beriak.Aku tidak mencarinya dan tidak penasaran menanyakan alasannya.Dia sudah dewasa. Kami hanya memilih jalan masing-masing, itu saja.Namun, tidak kusangka.Pada sore hari, sehari sebelum perkuliahan dimulai, aku menerima pesa

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 11

    Namun, keesokan harinya pagi-pagi sekali, ibu Mario datang mencariku.Bibi Ratna duduk di sofa dan berbicara dengan nada tidak berdaya sekaligus menyayangkan keadaan."Sakila, Mario kemarin seharian seperti kehilangan semangat. Dia mengurung diri di kamar, nggak makan dan nggak tidur. Bahkan sampai sekarang, pilihan universitasnya sendiri masih kosong dan belum juga diisi.""Kalian berdua bertengkar, ya?""Sudah bertahun-tahun kalian bersama. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik saja. Jangan saling ngambek."Aku menggeleng pelan dengan wajah tenang."Bibi, kami nggak bertengkar. Kami cuma sudah sama-sama dewasa. Aku juga sudah punya pemikiran dan pilihan hidupku sendiri. Aku nggak mau terus terikat pada siapa pun, menjadi bayang-bayang seseorang."Bibi Ratna menatapku dan menghela napas, sepertinya memahami maksudku.Setelah mengantar Bibi Ratna pergi, aku membuka ponsel dan melihat-lihat media sosial.Dalam sekejap, aku melihat unggahan terbaru Winona di media sosial.Foto yang diun

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 10

    Tidak lama setelah pulang ke rumah, hasil ujian masuk perguruan tinggi akhirnya resmi diumumkan.Pada hari pengumuman hasil ujian, para orang tua dari kedua keluarga sengaja berkumpul untuk makan di rumahku.Meja makan dipenuhi berbagai hidangan, suasananya ramai dan hangat.Dalam hati, semua orang sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti.Aku dan Mario adalah sahabat masa kecil yang tumbuh bersama. Nilai kami kurang lebih sama, dan sejak muda kami juga sudah membuat janji.Kami pasti akan sama-sama mendaftar ke Universitas Jinba, lalu melanjutkan kuliah di sana agar bisa saling menjaga dan berkuliah di universitas yang sama.Di meja makan, Bibi Ratna menggenggam tanganku sambil tersenyum hangat dan penuh kasih."Sakila, sejak kecil kamu dan Mario sudah sepakat buat tumbuh bersama dan kuliah bersama.""Kali ini, pilih saja Universitas Jinba seperti yang sudah direncanakan. Nanti kalian juga bisa saling membantu selama kuliah."Mario duduk di samping, menatapku dengan tenang.Di m

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 9

    Bagaimanapun, hari itu Hugo menemaniku bermain di pantai sepanjang sore.Saat hendak berpisah, aku berinisiatif mengajaknya untuk terus bepergian bersama selama beberapa hari ke depan dalam perjalanan wisata setelah lulus ini.Hari mulai beranjak senja, dan matahari pun perlahan tenggelam.Hugo mengantarku sampai ke lobi hotel tempatku menginap, lalu pergi sendirian.Sesampainya di kamar hotel, aku melepas semua lelah yang terasa di tubuh.Aku iseng membuka ponsel dan melihat-lihat unggahan di media sosial.Unggahan pertama di beranda adalah unggahan yang baru saja dibuat Winona.Foto yang menyertainya adalah foto dirinya dan Mario berdiri berdampingan di pantai dengan latar matahari terbenam.Dari sudut pandang itu, mereka tampak mesra dan suasananya begitu intim, membuat keduanya terlihat sangat dekat.Kolom komentar dipenuhi doa agar mereka langgeng dari teman-teman SMA. Bahkan, tidak sedikit yang sengaja menandai akunku untuk ikut melihat keramaian dan menggodaku.Aku menatap foto

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 8

    "Mario.""Pertama, aku punya bukti lengkap. Sekarang, kalau kamu mau membelanya dan membebaskannya dari tanggung jawab, silakan. Setelah pulang nanti, aku tetap bakal menuntut pertanggungjawaban sampai tuntas dan meminta ganti rugi yang semestinya.""Kedua, apa hakmu menilai sembarangan apakah orang lain bisa diandalkan atau nggak? Pemandu wisata yang profesional, bertanggung jawab, dan mampu membedakan benar dan salah jauh lebih bisa diandalkan daripada orang sepertimu yang nggak peduli mana yang benar dan mana yang salah serta cuma membela orang luar.""Ketiga, aku nggak membutuhkan kalian buat menemaniku, juga nggak membutuhkan belas kasihanmu. Tolong minggir dan jangan menghalangi jalan."Setelah mengatakan semua itu, aku tidak lagi memedulikan wajah Mario yang muram dan penuh amarah.Aku mengangkat tangan, menggenggam lembut lengan baju Hugo, lalu berbalik dan langsung pergi.Dari belakang terdengar teriakan Mario yang menahan amarah.Langkahku tidak berhenti. Aku bahkan tidak men

  • Saat Aku Tak Lagi Bergantung Padanya   Bab 7

    Setelah mengatakan itu, Winona seolah-olah merasa sangat tersakiti.Matanya memerah, lalu dia segera bersembunyi di belakang Mario."Mario, aku benar-benar nggak sengaja.""Aku cuma mau meminta maaf kepada Sakila dengan baik. Aku cuma menyentuh alat bantu dengarnya sedikit.""Siapa sangka akhirnya jadi seperti ini?"Tanpa berpikir panjang, Mario secara refleks langsung melindungi Winona di belakangnya.Alisnya berkerut erat. Tatapannya kepadaku dipenuhi ketidaksabaran dan keberpihakan."Sakila, bisakah kamu jangan terus memojokkan seperti ini?""Bukannya itu cuma alat bantu dengar? Memangnya masalahnya sebesar apa?""Winona juga sudah meminta maaf kepadamu. Kenapa kamu masih terus mempermasalahkannya?""Dia juga nggak sengaja. Nggak bisakah kamu sedikit lebih lapang dada?"Mendengar pembelaannya yang sama sekali tidak membedakan benar dan salah, dadaku terasa seperti dipenuhi air laut yang dingin.Inikah sahabat masa kecil yang telah bersamaku selama dua belas tahun?Di matanya, rasa s

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status