Share

Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus
Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus
Penulis: Silas

Bab 1

Penulis: Silas
"Rencana kecelakaan yang diatur Tuan Rian benar-benar sempurna. Bahkan polisi pun nggak menemukan kejanggalan."

"Benar. Kudengar cinta sejati Tuan Rian dan putranya mengalami kecelakaan. Yang satu mengalami pecah ginjal sehingga harus menjalani transplantasi ginjal, sedangkan yang satunya lagi mengalami cedera mata dan membutuhkan donor kornea. Kebetulan, cuma Nona Clara dan putranya yang cocok. Karena itu, Tuan Rian sengaja meminta rujuk agar setelah menikah lagi, dia bisa menandatangani persetujuan operasi sebagai anggota keluarga, lalu mendonorkan ginjal Nona Clara dan kornea mata putranya. Dia benar-benar sangat mencintai cinta pertamanya."

"Nona Clara juga malang sekali. Sampai sekarang, dia dan putranya masih nggak tahu apa-apa. Mereka bahkan nggak tahu kalau Tuan Rian saat ini lagi menemani Nona Tamara di kamar 304."

Seluruh tubuh Clara terasa membeku. Dia hampir tidak mampu berdiri tegak.

Dia tidak berani percaya bahwa kecelakaan itu ... ternyata dirancang sendiri oleh Rian?

Jadi, dia meminta rujuk juga karena ada tujuan tertentu?

Dengan langkah sempoyongan, Clara berpegangan pada dinding sambil berjalan menuju kamar pasien yang disebutkan dokter tadi.

Pintu kamar itu hanya tertutup setengah. Dari dalam terdengar suara yang begitu dikenalnya.

"Rian, pergilah melihat Clara dan anak itu." Suara Tamara terdengar selembut air. "Bagaimanapun juga, dia istrimu, dan Alvian ... juga anak kandungmu."

"Nggak perlu." Suara Rian terdengar sedingin es. "Mereka sudah nggak ada gunanya lagi."

Napas Clara seketika tercekat.

"Sebagai bentuk kompensasi, aku bakal melindungi mereka seumur hidup." Rian berhenti sejenak. Saat kembali berbicara, suaranya justru terdengar lembut. "Tapi cuma sebatas itu. Tamara, kau tahu betul bahwa orang yang kucintai adalah kau."

Tamara mengembuskan napas pelan. "Tapi Alvian, bagaimanapun juga ...."

"Kalau mencintai seseorang, kita juga bakal menyayangi orang yang dia sayangi." Rian memotong ucapannya. Suaranya rendah, tetapi penuh ketegasan. "Anakmu tentu jauh lebih penting daripada mereka."

Clara menutup mulutnya erat-erat, sementara air mata terus mengalir tanpa suara.

Selama ini dia memang tahu Rian tidak pernah mencintainya.

Namun, dia benar-benar tidak menyangka. Bahkan terhadap putra kandungnya sendiri ... dia bisa setega itu.

Rian dan Tamara adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama.

Rian adalah pria yang terpandang dan penuh wibawa, sedangkan Tamara lembut bagaikan air. Semua orang mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang diciptakan untuk satu sama lain.

Sementara Clara hanyalah asisten pribadi Rian.

Selama bertahun-tahun, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa besar cinta Rian kepada Tamara. Wanita itu diperlakukan bak permata yang selalu berada di telapak tangannya.

Demi Tamara, Rian pernah menyalakan pesta kembang api selama tiga hari tiga malam di seluruh kota. Dia juga menamai seluruh merek di bawah grup perusahaannya dengan nama Tamara, menghabiskan uang dalam jumlah fantastis untuk memborong seluruh perhiasan di sebuah lelang hanya demi membuatnya tersenyum. Singkatnya, dia memanjakan Tamara sepenuh hati.

Sayangnya, hati Tamara telah menjadi milik orang lain. Dia menolak cinta Rian, lalu pergi ke luar negeri dan menikah dengan cinta pertamanya.

Sejak saat itu, Rian menghabiskan hari-harinya dalam mabuk. Hingga pada suatu malam, karena pengaruh alkohol, dia salah mengira Clara sebagai orang lain, dan tanpa disengaja mereka pun berhubungan badan.

Setelah malam itu, Clara hamil. Begitu Nyonya Atmaja mengetahui kabar tersebut, dia segera mengambil keputusan agar mereka berdua menikah.

Selama lima tahun menjalani pernikahan, Rian bahkan tidak pernah benar-benar memandang Clara.

Saat Alvian lahir, dia bahkan tidak masuk ke ruang bersalin.

Rian bahkan tidak mengizinkan Alvian memanggilnya ayah.

Namun, tepat setelah Clara putus asa dan mengajukan perceraian, Rian tiba-tiba berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Dia mengejar Clara dengan begitu gigih. Bahkan demi menyelamatkannya, Rian hampir kehilangan nyawa dalam kebakaran.

Sambil memeluk Clara dan Alvian, untuk pertama kalinya dia berkata dengan lembut, "Aku mencintai kalian. Maukah kalian memaafkanku?"

Alvian begitu bahagia hingga semalaman tidak bisa tidur. Sambil memeluk leher Clara, dia berbisik pelan, "Ibu, ayah bilang dia mencintai kita. Kita maafkan ayah, ya?"

Hati Clara pun luluh.

Dia mengira Rian benar-benar telah berubah.

Ternyata ... semua itu hanyalah kebohongan.

Rian rujuk dengannya semata-mata demi kecelakaan itu.

Agar dia bisa secara sah mengambil ginjal Clara dan merenggut kedua mata putra mereka.

Tubuh Alvian di sampingnya juga bergetar hebat.

Anak itu ternyata ikut mendengarnya!

"Ibu ...." tanya Alvian dengan suara bergetar menahan tangis, "Mataku ... benar-benar diambil ayah?"

Pertanyaan itu bagaikan ribuan jarum yang menusuk jantung Clara.

Dia teringat kembali pada hari kecelakaan itu. Saat itu, Rian menggendong Alvian yang wajahnya berlumuran darah sambil berlari memasuki rumah sakit dengan teriakan penuh keputusasaan.

Dia juga teringat bagaimana Rian berlutut semalaman di depan ruang operasi, memohon agar dokter menyelamatkan mata putra mereka.

Ternyata ... semuanya hanyalah sandiwara!

Clara tidak sanggup menahannya lagi. Dia segera menggendong Alvian dan berlari pergi.

Dia menerobos masuk ke tangga darurat. Di ruang tangga yang remang-remang, air matanya mengalir deras tanpa henti.

"Alvian, dia bukan ayahmu lagi. Mulai sekarang, dia nggak bakal pernah menjadi ayahmu lagi."

"Ibu bakal membawamu pergi, pergi sejauh mungkin. Seperti film Superman yang paling kau sukai, kita bakal berganti identitas dan memulai hidup yang baru, agar Rian nggak pernah bisa menemukan kita lagi. Bagaimana?"

Alvian memeluk leher Clara erat-erat. Tubuh kecilnya masih gemetar. "Kalau ... kalau begitu, apa nanti Superman bakal punya mata baru?"

Air mata Clara jatuh membasahi rambut tipis putranya. "Tentu. Ibu berjanji, apa pun yang terjadi, Ibu pasti bakal membuatmu bisa melihat lagi."

Clara menatap ke luar jendela. Perlahan, sebuah rencana nekat mulai terbentuk di benaknya.

Karena Rian begitu mencintai Tamara.

Jadi, dia akan membuat Rian menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dia dan putra mereka ....

Sama-sama “mati” di tangan wanita yang paling dicintainya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status