Share

Bab 2

Author: Silas
Setelah kembali ke kamar pasien, Clara mengambil ponselnya dan menelepon sebuah lembaga penyedia jasa kematian palsu untuk mengatur dua jenazah.

Pihak sana bertanya kapan dia membutuhkannya. Clara membuka kalender, menatap tanggal yang ditandai sebagai hari ulang tahun putranya, lalu berkata pelan.

"Dua puluh hari lagi, 19 April."

Tadi malam, Rian sudah berjanji akan mengadakan pesta ulang tahun Alvian yang kelima.

Kalau begitu, di pesta ulang tahun yang megah itu, dia akan membawa putranya mati untuk selamanya!

Setelah mengatur semuanya, Clara akhirnya berhasil menenangkan diri dan mendapatkan kembali akal sehatnya.

Selanjutnya, Rian tidak pernah muncul lagi.

Dia hanya mengutus sekretarisnya untuk datang dan menyampaikan bahwa dia sedang menghubungi para ahli mata, berharap masih ada kemungkinan agar Alvian bisa melihat kembali.

Ibu dan anak itu sama-sama tahu, itu hanyalah kebohongan baru yang dibuatnya.

Sebab, selama ini Rian terus menjaga Tamara di kamar pasiennya dan tidak pernah meninggalkannya walau selangkah.

Pada hari dia keluar dari rumah sakit, setelah menyelesaikan semua prosedur administrasi, Rian justru datang untuk pertama kalinya.

Dia membawa sebuket bunga dan sebuah mobil balap mainan sebagai hadiah untuk mereka.

Rian mengira ibu dan anak itu akan menerimanya dengan gembira, tetapi sikap keduanya justru dingin.

"Aku alergi serbuk sari. Aku nggak bisa menyentuh bunga."

"Aku sudah nggak bisa melihat. Aku nggak membutuhkan mobil balap lagi."

Tangan Rian yang sedang menyodorkan hadiah langsung terhenti di udara.

"Aku kurang mempertimbangkannya, jadi salah memilih hadiah. Aku bakal minta sekretaris menyiapkan yang baru. Kalian suka apa? Perhiasan? Atau robot transformer? Bagaimana kalau tas Hermès keluaran terbaru? Cokelat? Makanan ringan ...."

Sepanjang perjalanan pulang, dia terus menyebutkan berbagai macam hadiah, seolah benar-benar ingin menebus kesalahannya.

Namun, Clara tahu, semua yang dia sebutkan adalah barang-barang yang disukai Tamara dan putranya. Clara sering melihat Tamara memamerkan hadiah-hadiah itu di media sosial.

Lima tahun menikah, bahkan kesukaan istri dan anaknya sendiri pun tidak Rian ketahui, tetapi masih ingin berpura-pura menjadi suami dan ayah yang baik.

Clara sudah tidak berminat lagi ikut memainkan sandiwara itu. "Kami nggak menginginkan apa pun. Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja langsung."

Rian tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu. Dia sedikit tertegun.

Setelah terdiam beberapa detik, barulah dia membuka suara.

"Bukan masalah besar. Cuma saja Tamara sudah bercerai dan pulang ke tanah air bersama anaknya. Untuk sementara, mereka belum punya tempat tinggal, jadi aku menjemput mereka buat tinggal di rumah kita dulu. Bulan depan mereka bakal pindah."

Ternyata semua hadiah itu hanyalah pembuka untuk membicarakan hal ini.

Sudut bibir Clara terangkat membentuk senyum tipis, sementara sorot matanya dipenuhi sindiran.

Dia sudah membawa mereka pulang, jadi untuk apa meminta pendapat mereka lagi?

Clara menatap vila yang sudah berada di depan mata. Dia mengangguk pelan dan tidak berkata apa-apa lagi.

Melihat Clara menyetujuinya, kekhawatiran di hati Rian pun lenyap.

Dia langsung membuka pintu mobil, lalu berjalan menghampiri Tamara dengan lembut. Tidak lama kemudian, Rian tersenyum sambil mengangkat Diego yang berlari menghampirinya dari kejauhan ke dalam pelukannya.

Ketiganya mengobrol dan tertawa sambil berjalan memasuki vila, tampak seperti sebuah keluarga yang utuh dan harmonis.

Setelah menggendong Alvian masuk ke dalam rumah, Clara melihat Tamara sedang menyeka keringat Diego dengan tisu sambil mengomel pelan.

"Lihat dirimu, main sepak bola sampai berkeringat begini."

Rian pun mengusap kepala Diego dengan penuh kasih sayang. "Anak kecil memang sebaiknya aktif."

Diego membusungkan dada dengan wajah penuh kebanggaan. "Paman Rian benar! Lebih baik aku keluar main daripada seperti orang buta yang cuma diam di rumah seharian dan nggak pergi ke mana-mana."

Mendengar kalimat itu, Alvian langsung menundukkan kepala. Seketika, matanya memerah.

Hati Clara bergetar hebat. Dia segera menutup kedua telinga putranya dengan tangan, sementara rasa pilu di matanya nyaris meluap.

Dia berniat membawa Alvian pergi, tetapi Tamara memanggilnya.

"Nona Clara, Rian pasti sudah memberitahumu kalau aku dan Diego bakal menumpang tinggal di sini untuk sementara waktu. Aku tahu kau dan Alvian terluka akibat kecelakaan itu. Tenang saja, aku bakal mendidik Diego dengan baik. Dia pasti nggak bakal mengganggu kalian beristirahat atau merepotkan kalian."

Rasa puas yang tidak dapat disembunyikan dalam suaranya membuat dada Clara terasa sesak dan napasnya tercekat.

Clara tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menundukkan kepala, berusaha menekan semua amarah dan keputusasaan yang memenuhi dadanya.

Saat berjalan cepat menaiki tangga, dia mendengar suara lembut Rian yang dipenuhi kehangatan.

"Tamara, di sinilah rumahmu dan Diego. Bagiku, merekalah orang luar. Jadi, kau nggak perlu memedulikan mereka."

Pintu kamar tidur tertutup rapat.

Seluruh tenaga Clara seolah ikut terkuras habis. Sambil memeluk putranya, dia terkulai lemas di lantai.

Dia menekan dada yang terus berdenyut nyeri, sementara air mata mengalir deras tanpa henti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status