Share

Bab 5

Penulis: Silas
Begitu menerima perintah, beberapa pengawal segera menarik Clara berdiri dan membantingnya ke dinding.

Dia menatap Rian dengan mata yang dipenuhi rasa sakit dan ketidakrelaan, lalu berteriak histeris, berusaha mati-matian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Diego sengaja menusuk tangan Alvian dengan jarum infus saat aku nggak ada. Itu sebabnya aku menamparnya! Lihat saja luka di tangan putramu ...."

Suara tamparan yang nyaring memutus ucapannya.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar. Separuh wajah Clara seketika membengkak dan setetes darah merembes dari sudut bibirnya.

Pengawal yang menamparnya mengerahkan seluruh tenaganya, lalu kembali mengayunkan tamparan keras ke pipi kirinya.

Tamparan demi tamparan mendarat tanpa henti. Sensasi perih membakar menyerbu seperti gelombang, mengoyak setiap sarafnya.

Setelah pengawal itu melepaskan pegangannya, pandangan Clara berkunang-kunang. Tubuhnya ambruk ke lantai.

Rasa sakit membuatnya hampir tidak bisa bernapas. Dengan susah payah, dia merangkak ke sisi Alvian yang menangis ketakutan, lalu menggenggam tangan kecil putranya. Dari tenggorokannya keluar suara yang serak dan nyaris tidak terdengar.

"Alvian ... jangan takut. Ibu bakal ... bakal melindungimu."

Rian memandang semua itu tanpa sedikit pun ekspresi. Namun, saat menoleh kepada Tamara, tatapannya langsung berubah lembut.

Dia mengusap air mata di wajah Tamara dengan pelan, lalu membungkuk menggendong Diego yang masih terisak sambil menenangkannya.

"Jangan takut, Tamara. Selama ada aku, aku nggak bakal membiarkan kalian diperlakukan nggak adil."

Tamara merangkul lengan Rian. Dia menunduk memandang Clara, sengaja memasang raut wajah penuh belas kasihan.

"Aku dan Diego nggak masalah kalau harus sedikit menderita. Tapi Alvian masih sekecil itu dan sekarang sudah kehilangan penglihatannya. Dia sudah cukup kasihan. Clara juga nggak mendidiknya dengan baik. Sebagai sesama ibu, aku benar-benar iba melihat anak itu. Rian, kau ayah kandungnya. Kau juga harus menasihatinya dengan baik. Orang tua harus tahu batas dalam berbicara dan bertindak, jangan sampai memberi pengaruh buruk kepada anak."

Mendengar nasihat Tamara, lalu mengingat semua yang telah terjadi belakangan ini, tatapan Rian langsung berubah tajam.

Dia menatap Clara yang terus memeluk putranya dan berkata dengan suara dingin.

"Tamara benar. Dengan ibu sepertimu, hidup Alvian cuma bakal hancur. Karena kau nggak mampu menjadi ibu yang baik, mulai sekarang jauhi Alvian. Mulai hari ini, Alvian bakal berada dalam pengawasanku. Sedangkan kau, masuk ke ruang bawah tanah dan renungkan kesalahanmu. Kalau kau sudah sadar, baru aku bakal melepaskanmu."

Setelah mengatakan itu, Rian langsung memerintahkan para pengawal menggendong Alvian dan membawanya pergi.

Mendengar keputusan itu, kesadaran Clara yang mulai kabur seketika kembali.

Dengan mata merah dipenuhi darah, dia memeluk putranya sekuat tenaga.

Emosinya berada di ambang kehancuran. Suaranya dipenuhi keputusasaan dan tekad yang tidak tergoyahkan.

"Nggak ada yang boleh membawa Alvianku pergi! Dia putraku! Selama ini kau nggak pernah mengizinkannya memanggilmu ayah, dan dia juga nggak pernah menganggapmu sebagai ayahnya. Dengan hak apa kau mau mendidiknya? Kau nggak berhak membawanya pergi!"

Mendengar tuduhan itu, wajah Rian makin gelap. Amarahnya pun makin memuncak.

"Dia bermarga Atmaja dan setengah darah yang mengalir di tubuhnya adalah darahku. Aku nggak berhak mendidiknya? Clara, menurutku kau sudah dibutakan rasa cemburu sampai benar-benar kehilangan akal!"

Sambil memarahinya, Rian memberi isyarat kepada para pengawal agar menggunakan lebih banyak tenaga.

Dalam tarik-menarik itu, Clara merasa lengannya hampir patah. Memar biru keunguan kembali memenuhi tubuhnya.

Melihat Clara tetap tidak mau melepaskan putranya meski harus mati, para pengawal saling berpandangan, lalu mengalihkan tangan mereka kepada Alvian.

Alvian yang tidak bisa melihat apa pun terus menangis sambil berteriak bahwa dia tidak ingin berpisah dari ibunya. Dia mengangkat kedua tangan kecilnya untuk melawan.

Namun, bagaimana mungkin tenaga anak sekecil itu mampu melawan beberapa orang dewasa? Dalam sekejap, tubuhnya langsung diangkat paksa.

Menyaksikan putranya dibawa pergi tepat di depan matanya, hati Clara seolah disayat sedikit demi sedikit. Kesedihannya tidak terlukiskan.

Air matanya mengalir deras, membasahi luka-luka berdarah di tubuhnya. Dia terus memohon tanpa henti.

"Aku salah ... aku tahu aku salah. Tolong kembalikan Alvian kepadaku. Dia adalah hidupku. Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa dia. Aku mohon ... aku mohon ...."

Menghadapi permohonannya, hati Rian sama sekali tidak luluh. Dia bahkan tidak melirik Clara sedikit pun, lalu pergi sambil membawa Alvian yang terus menangis dan meronta.

Beberapa pengawal juga menyeret Clara yang sudah babak belur ke dalam mobil, membawanya pulang, lalu mengurungnya di ruang bawah tanah.

Clara memandang pintu yang perlahan terkunci rapat. Dengan lemah, dia memeluk tubuhnya sendiri, tetapi pelukannya terasa begitu kosong.

Yang tersisa hanyalah jeritan pilu yang dipenuhi keputusasaan dan kepedihan, bergema di tengah kegelapan yang seolah tak berujung.

Terus bergema tanpa henti.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status