Share

Bab 4

Author: Silas
Mendengar nada bicaranya yang sedingin es, hati Clara seolah jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar.

Dia memeluk erat putranya sambil melihat kepala pelayan mengambil cambuk dan mengayunkannya.

"Jangan!"

Tubuh Clara bergetar hebat. Dia membungkuk dan menggunakan tubuhnya untuk menahan cambukan itu.

Suara cambuk yang membelah udara terus bergema di seluruh vila. Rasa sakit membuat seluruh tubuh Clara kejang, tetapi dia tidak berani mundur sedikit pun.

Pakaiannya tercabik-cabik oleh cambukan. Bekas luka berdarah memenuhi tubuhnya, tampak mengerikan.

Clara menggigit bibir sekuat tenaga. Mulutnya dipenuhi rasa darah, sementara erangan kesakitan keluar dari tenggorokannya.

Darah terus menetes. Kesadarannya makin lama makin kabur.

Saat cambukan terakhir berakhir, seluruh tenaga dan semangatnya juga telah habis. Tubuhnya roboh ke lantai.

Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, hal terakhir yang dilihatnya adalah punggung Rian yang menggendong Diego sambil menggandeng Tamara pergi.

Entah sudah berapa lama berlalu, Clara akhirnya membuka mata dan melihat langit-langit rumah sakit yang putih bersih.

Mengingat kejadian sebelum pingsan, dia langsung tersadar sepenuhnya dan menggenggam tangan seorang perawat.

"Perawat, di mana putraku? Bagaimana keadaannya?"

"Putra Anda baik-baik saja. Cuma saja, akhir-akhir ini dia terlalu kelelahan, jadi masih beristirahat. Justru Anda yang penuh luka. Sebaiknya berbaring dan istirahat yang cukup."

Setelah mendengar penjelasan perawat, Clara menahan rasa sakit dan berjalan ke sisi putranya. Mendengar Alvian masih memanggil ibu dalam tidurnya, hatinya terasa begitu perih.

Dia menggenggam tangan kecil putranya erat-erat. Suaranya dipenuhi rasa bersalah.

"Alvian, Ibu gagal melindungimu sampai kau terluka separah ini. Ibu berjanji, mulai sekarang Ibu nggak bakal membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Ibu pasti bakal membawamu pergi."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Rian membuka pintu dan menatapnya dengan wajah muram.

"Pergi? Apa kau mau bercerai lagi? Alvian sudah kehilangan penglihatannya dan usianya masih sangat kecil. Demi dia, bisakah kau bersikap tenang dan berhenti membuat masalah?"

Nada bicaranya yang seolah merasa dirinya benar membuat amarah Clara makin membara.

Melihat luka di dahi putranya dan kedua matanya yang telah buta, Clara hanya merasa semua ini begitu ironis.

Dia ingin mengabaikan segalanya dan bertanya kepada Rian, siapa sebenarnya yang menjadi penyebab Alvian sampai berakhir seperti ini?

Namun, kata-kata itu akhirnya dia telan kembali.

Sebab, Clara tahu, jika Rian mengetahui mereka berdua sudah tahu yang sebenarnya, pria itu tidak akan pernah membiarkan mereka pergi begitu saja.

Selama Tamara masih ada, dia dan Alvian akan terus ditindas tanpa pernah memiliki kesempatan untuk bangkit.

Demi masa depan putranya, Clara hanya bisa menahan amarahnya.

"Aku tahu apa yang paling dibutuhkan Alvian sekarang. Aku juga nggak berniat bercerai."

Kalimat terakhir, "aku justru berniat membuatmu kehilangan istri dan anak," tidak pernah Clara ucapkan.

Rian juga tidak memikirkannya lebih jauh. Saat melihat perban di tubuh Clara yang masih berlumuran darah, nada bicaranya perlahan melunak.

"Bagus kalau begitu. Karena aku sudah berjanji bakal menjaga kalian berdua seumur hidup, aku nggak bakal mengingkari janji itu."

Clara tahu, sebanyak apa pun dia menjelaskan, Rian tetap hanya akan membela Tamara dan putranya.

Karena itu, dia menganggap semua ucapan Rian hanya seperti angin lalu dan tidak menanggapinya sedikit pun.

Rian mengira Clara telah mendengarkannya. Dia meletakkan obat yang dibawanya, lalu berbalik pergi.

"Obat-obatan ini buat mengobati luka luar. Ingat, oleskan setiap hari pada Alvian supaya nggak meninggalkan bekas luka."

Setelah memandang kepergiannya, senyum yang amat pahit muncul di wajah Clara.

Luka di tubuh memang akan mengering dan sembuh perlahan. Namun, bagaimana dengan luka di hati?

Karena kehilangan penglihatannya, kehidupan Alvian telah berubah selamanya. Dengan apa semua itu bisa ditebus?

Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Beberapa hari berikutnya, Rian tidak pernah datang menjenguk lagi.

Sebaliknya, para perawat yang datang memeriksa pasien sesekali mengobrol tentang gosip di rumah sakit.

"Dengar-dengar, yang menyewa satu lantai kamar pasien VIP itu presdir Grup Atmaja. Putranya juga lumayan tampan, cuma terlalu aktif. Setiap hari menempel terus pada ayahnya, minta dibacakan cerita, minta bermain mobil balap, bahkan makan pun harus disuapi. Apa pun yang diminta, ayahnya selalu mengabulkan."

"Ibu anak itu juga cantik dan lembut. Pantas saja Tuan Rian begitu tergila-gila padanya. Kalian nggak lihat sendiri, begitu dia bilang mau makan kue atau menginginkan kalung apa, Tuan Rian langsung mengambil kunci mobil dan pergi membelikannya. Benar-benar dimanjakan."

Clara hanya mendengarkan dalam diam tanpa sedikit pun merasa terusik.

Dia menyelimuti Alvian yang sedang tertidur dengan pulas, lalu berjalan keluar dari kamar pasien dengan langkah pelan untuk mengambil obat.

Karena khawatir terjadi sesuatu, dia berlari sepanjang jalan saat pergi maupun kembali hingga hampir kehabisan napas.

Namun, baru tiba di depan pintu, dia mendengar tangisan putranya dari dalam kamar pasien.

Hati Clara langsung mencelos. Dia mendorong pintu hingga terbuka lebar dan melihat Diego sedang menusukkan jarum infus ke tangan Alvian hingga darah mengalir deras.

Darahnya langsung mendidih. Dalam sekejap, Clara kehilangan kendali. Dia bergegas menghampiri Diego, menamparnya keras, dan mendorongnya hingga terhuyung.

Setelah itu, dia memeluk Alvian, lalu menyeka darah yang terus keluar dari tangannya. Hatinya dipenuhi rasa sakit dan penyesalan.

Tangisan anak-anak bergema di sepanjang lorong rumah sakit dan dengan cepat menarik perhatian Rian serta Tamara.

Begitu melihat mereka, Diego langsung berlari menghampiri sambil mengusap air matanya, lalu lebih dulu mengadu.

"Paman Rian, Ibu, tadi aku cuma bermain dengan Dik Alvian. Begitu melihat kami, Bibi Clara langsung menamparku tanpa berkata apa-apa!"

Mendengar perkataan itu, wajah Rian langsung diselimuti amarah. Tatapannya kepada Clara begitu dingin dan menyeramkan.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung memanggil para pengawal. Suaranya sedingin es.

"Waktu itu aku sudah memperingatkanmu. Karena kau nggak mau mendengarkan, kali ini bakal kubuat kau benar-benar jera! Kau berani memukul anak kecil sekeras itu, berarti kau harus menerima balasan sepuluh kali lipat!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status