Share

Bab 6

Author: Silas
Waktu berlalu detik demi detik. Tenggorokan Clara terasa sangat sakit hingga dia tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun. Kesadarannya pun makin kabur.

Dia merasa begitu tersiksa. Tubuhnya diliputi rasa lelah yang luar biasa, sementara air matanya perlahan mengering.

Dia sangat ingin melarikan diri dari tempat itu dan mengetahui keadaan Alvian. Namun, Clara hanya bisa terkurung di ruang bawah tanah yang gelap gulita, menjalani siksaan tanpa akhir.

Entah sudah berapa lama berlalu, Clara terbangun karena mendengar suara langkah kaki.

Kepala pelayan membuka pintu ruang bawah tanah. Clara langsung menerjang ke arahnya seolah melihat secercah harapan. Suaranya yang serak dipenuhi kepanikan dan keputusasaan.

"Di mana Alvian? Bagaimana keadaannya selama beberapa hari ini? Apa dia diintimidasi atau terluka lagi? Apa dia terus menangis mencariku ...?"

Melihat wajah Clara yang begitu pucat dan kurus hingga nyaris tidak dikenali, sorot mata kepala pelayan dipenuhi rasa iba. Dengan ragu-ragu, dia pun berkata.

"Nyonya, Anda juga tahu tuan sangat sibuk. Selama ini tuan muda dirawat oleh Nona Tamara. Di depan orang lain, dia memang nggak melakukan sesuatu yang bisa dipermasalahkan, tapi Tuan Muda Diego sering memanfaatkan kesempatan saat bermain buat mengganggu tuan muda. Selama beberapa hari ini, tuan muda sengaja dibuat terkena makanan panas saat makan hingga melepuh, sengaja dijegal hingga berkali-kali terjatuh dan tubuhnya penuh luka, bahkan pada malam hari dia dikunci di balkon dan dibiarkan kedinginan semalaman ...."

Mendengar putranya terus disiksa selama beberapa hari terakhir, hati Clara seakan berdarah.

Dengan susah payah, dia memaksa tubuhnya yang masih sakit untuk bangkit dan pergi, tetapi kepala pelayan menghentikannya.

"Nyonya, hari ini adalah acara piknik musim panas di taman kanak-kanak. Nona Tamara membawa Tuan Muda Diego keluar dan memaksa tuan muda ikut bersama mereka. Kami sudah berusaha membujuknya, tapi dia nggak mau mendengarkan. Setengah jam yang lalu Nona Tamara sudah pulang, tapi kami nggak melihat tuan muda ikut bersamanya. Kami khawatir sesuatu terjadi, jadi kami datang memberi tahu Anda."

Kabar itu bagaikan petir di siang bolong bagi Clara.

Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya yang memang sudah pucat kini kehilangan sisa warna darahnya.

Dia tidak sanggup menahan diri lagi dan langsung berlari keluar untuk mencari Alvian.

Begitu memasuki ruang tamu dan melihat Tamara duduk santai di sofa, emosi Clara langsung meledak. Tatapannya dipenuhi amarah.

"Di mana kau meninggalkan putraku?"

Tamara meliriknya sekilas dengan sikap acuh tak acuh.

"Putramu berlarian ke sana kemari saat piknik sampai menghilang entah ke mana. Diego keseleo, jadi aku buru-buru pulang buat mengobatinya dan nggak sempat peduli ke mana putramu pergi. Kalau kau begitu mengkhawatirkannya, bersujudlah tiga puluh kali. Kalau suasana hatiku lagi bagus, mungkin aku bakal memberitahumu di gunung mana putramu sedang berkeliaran."

Melihat tatapan penuh kemenangan di wajah Tamara, Clara langsung mengerti bahwa wanita itu sengaja ingin mempermalukannya.

Namun, begitu teringat putranya yang baru berusia lima tahun, tidak dapat melihat, dan ditinggalkan sendirian di gunung, Clara diliputi kecemasan yang luar biasa hingga tidak lagi memedulikan harga dirinya.

Tanpa ragu sedikit pun, Clara langsung berlutut di hadapan Tamara dan berkali-kali membenturkan dahinya ke lantai. Dalam suaranya hanya ada permohonan.

"Aku bersujud, aku bersujud. Tolong beri tahu aku, di mana Alvian berada!"

Melihat Clara begitu hina, terus memohon sambil bersujud hingga dahinya berdarah, Tamara merasa sangat puas. Kemudian, dia memberi tahu lokasi Alvian.

Clara segera bangkit dengan susah payah, lalu berlari keluar dan menghentikan sebuah taksi.

Saat tiba di lokasi, hari sudah menjelang senja. Rumput musim panas tumbuh lebat dan hutan tampak begitu rapat. Clara mencari Alvian di tengah gunung seorang diri.

Sepanjang perjalanan, dia berkali-kali terjatuh hingga seluruh tubuhnya terasa remuk.

Namun, Clara sama sekali tidak berani berhenti. Sambil menahan rasa sakit, dia terus mencari ke segala arah dan memanggil nama putranya dengan sekuat tenaga.

Langit makin gelap. Rasa takut dan putus asa di dalam hatinya pun makin besar.

Saat tubuhnya hampir tidak sanggup bertahan lagi, akhirnya dia mengikuti arah suara tangisan dan menemukan Alvian.

Anak itu duduk di tepi jurang. Hanya beberapa langkah di depannya terbentang jurang sedalam ratusan meter yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Melihat pemandangan itu, jantung Clara hampir berhenti berdetak.

Dengan seluruh tenaganya, dia segera menggendong Alvian dan membawanya menjauh ke tempat yang aman. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat.

Wajah Alvian memerah karena terlalu lama menangis. "Hiks ... hiks ... Ibu, aku tahu Ibu pasti bakal datang menyelamatkanku. Aku nggak mau berpisah dengan Ibu lagi. Kapan Ibu bakal membawaku pergi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status