Share

Bab 8

Penulis: Silas
Setelah menyelesaikan semua persiapannya, tibalah hari ulang tahun Alvian.

Pagi-pagi sekali, Clara sudah bangun. Dia merias wajahnya, memakaikan Alvian baju baru, lalu masuk ke dapur untuk memasakkan semangkuk mi.

Alvian menghabiskan mi itu dengan lahap, kemudian menggenggam tangan ibunya dengan riang.

"Ibu, setelah kita pergi hari ini, kita nggak bakal kembali lagi ke sini, 'kan?"

Sambil menggandeng putranya melangkah keluar dari vila itu, Clara menjawab tanpa sedikit pun rasa berat hati.

"Benar. Kita bakal memiliki rumah yang baru, dan Ibu bakal selalu menemanimu."

Pesta ulang tahun kali ini diadakan di atas sebuah kapal pesiar.

Clara menggendong putranya naik ke kapal. Angin laut yang berembus menerpa wajah mereka dan mengacak-acak rambut mereka.

Menatap hamparan laut biru yang tak bertepi, Clara teringat saat Alvian masih bisa melihat. Pantai adalah tempat yang paling disukainya.

Dia selalu iri melihat anak-anak seusianya bermain bersama ayah mereka, memungut kerang, bermain pasir, dan berenang.

Namun, Alvian selalu begitu pengertian. Dia tidak pernah menangis atau merengek. Justru, dia malah balik menghibur Clara yang merasa sedih.

"Memang mereka punya ayah buat diajak main, tapi aku punya ibu terbaik di seluruh dunia. Aku seratus kali lebih bahagia daripada mereka."

Mengingat kenangan itu, mata Clara sedikit bergetar. Dia pun menggendong Alvian dan melangkah masuk ke aula pesta.

Karena pesta itu diselenggarakan atas undangan Rian, hampir semua tamu yang menerima undangan hadir.

Semua tamu berkumpul sambil mengangkat gelas untuk bersulang. Saat melihat Clara dan Alvian datang, mereka hanya mengangguk memberi salam tanpa berkata apa pun.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan mereka bahwa Clara dan Alvian tidak disukai Rian.

Clara juga tahu bahwa mereka datang bukan untuk benar-benar merayakan ulang tahun Alvian. Mereka hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati dan menjalin hubungan dengan Rian.

Karena itulah, menghadapi sikap dingin dan pengabaian mereka, hati Clara tetap tenang.

Hari makin malam, tetapi Rian tidak kunjung muncul. Suasana di aula pun perlahan menjadi makin gelisah dan tegang.

Banyak tamu mulai kehilangan kesabaran dan bergantian bertanya kepadanya kapan Rian akan datang.

"Sepertinya dia lagi sibuk. Mungkin sebentar lagi dia bakal datang."

Namun, hingga pukul delapan malam, ketika pesta ulang tahun hampir berakhir, sosok Rian tetap tidak terlihat.

Para tamu yang sudah mulai kesal akhirnya memilih pulang satu per satu sambil bergunjing.

"Sudah kuduga, hari ini pasti bakal datang sia-sia. Tuan Rian memang nggak peduli sama putranya, mana mungkin dia datang? Buang-buang waktuku saja!"

"Memangnya kau belum dengar? Belakangan ini, Tuan Rian selalu menemani Nona Tamara. Mana mungkin dia masih ingat pada putranya yang cacat di rumah? Melihat ibu dan anak itu saja sudah membuat nggak nyaman, apalagi merayakan ulang tahun."

"Benar. Yang satu cuma gadis miskin, yang satu lagi anak buta. Menurutku, cepat atau lambat ibu dan anak itu pasti bakal diusir. Posisi Nyonya Atmaja cepat atau lambat pasti jadi milik Nona Tamara."

Selama bertahun-tahun menikah, Clara sudah terlalu sering mendengar sindiran dan ejekan seperti itu.

Dia tidak lagi memedulikannya. Clara hanya menutup kedua telinga putranya agar tidak mendengar ucapan mereka.

Setelah semua tamu pergi, Clara membawa Alvian berdiri di depan kue ulang tahun dan mulai menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara lembut.

Alvian tersenyum, meniup lilin, lalu hendak mengucapkan harapannya. Namun, pada saat itu, terdengar suara yang sangat dikenalnya dari arah pintu.

"Maaf, hari ini Diego ada pertemuan orang tua murid. Rian menemaniku ke sekolah, jadi kami terlambat pulang. Kami belum terlambat buat pesta ulang tahun Alvian, 'kan?"

Mendengar suara itu, Clara menoleh dan melihat Rian berjalan masuk sambil menggandeng Diego.

Tatapannya beralih ke wajah Tamara yang tampak begitu puas. Clara menundukkan pandangannya dan berkata dengan nada datar.

"Nggak terlambat. Yang penting kalian datang."

Melihat Clara tidak mengeluh seperti biasanya, Rian mengeluarkan sebuah hadiah ulang tahun dan menyerahkannya kepada Alvian. Nada suaranya pun jauh lebih lembut daripada biasanya.

"Alvian, selamat ulang tahun."

Sejak Alvian lahir, baru kali ini Rian memberinya hadiah ulang tahun.

Namun, baik Clara maupun Alvian sama-sama tidak mengulurkan tangan untuk menerimanya.

Rian sedikit tertegun. Tatapannya pun berubah. Tangannya menggantung di udara cukup lama. Saat kesabarannya hampir habis, Diego tiba-tiba berlari kecil dan tanpa sengaja menabrak hadiah itu.

Patung batu di dalam kotak jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.

Tatapan Rian membeku sejenak. Sementara itu, Tamara buru-buru berpura-pura meminta maaf.

"Aduh, Diego, kok nggak hati-hati, sih? Hadiah buat adik sampai rusak. Maaf ya, Alvian. Besok Bibi ganti dengan hadiah yang baru. Jangan sedih, ya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status