แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Silas
Mendengar keributan itu, Alvian sudah mengetahui apa yang telah terjadi.

Dia menggenggam erat tangan ibunya, lalu menggelengkan kepala. Suaranya yang masih polos terdengar tegas.

"Nggak usah. Aku nggak membutuhkan hadiah itu, dan aku juga nggak bakal merayakan ulang tahun bersama kalian lagi."

Mendengar ucapan itu, hati Rian diliputi perasaan yang sulit dijelaskan. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Baru saja dia hendak menanyakan maksud perkataan Alvian, Diego tiba-tiba mengambil kue ulang tahun dan melemparkannya ke arah Clara serta Alvian.

Setelah itu, dia mendorong foto-foto ulang tahun, rangkaian bunga, dan botol-botol sampanye yang menghiasi aula hingga semuanya berjatuhan dan membuat ruangan berantakan. Dengan penuh semangat, Diego mengangkat tangan sambil berseru keras.

"Paman Rian, Ibu, tempat ini besar sekali! Temani aku bermain petak umpet, ya. Siapa yang pertama menemukan aku, dialah pemenangnya."

Tamara sama sekali tidak berniat menegurnya. Sebaliknya, dia malah menarik Rian untuk ikut bermain bersama Diego.

Melihat wajah Rian yang penuh sikap memanjakan, amarah Clara kembali bergolak.

Baru saja dia hendak mengatakan sesuatu, telepon genggamnya tiba-tiba bergetar.

Begitu membukanya, dia melihat pesan dari lembaga penyedia jasa kematian palsu.

[Nona Clara, kedua jenazah palsu sudah siap dan telah dibuang ke laut. Sekarang, Anda cuma perlu melompat ke laut bersama putra Anda. Kami bakal menjemput kalian secara diam-diam dan membawa kalian pergi.]

Membaca pesan itu, Clara akhirnya mengembuskan napas lega.

Dia mengambil tisu, mengusap krim kue yang menempel di tubuh Alvian, lalu menggandeng putranya keluar dari aula.

Benar saja, Tamara terus mengawasi setiap gerak-geriknya. Begitu melihat Clara pergi, dia memberi isyarat kepada Diego agar menahan Rian, sementara dirinya diam-diam mengikuti Clara dari belakang.

Mendengar langkah kaki di belakangnya, Clara menggandeng Alvian hingga tiba di dekat pagar pembatas kapal. Dia berbalik menatap Tamara yang terus mengikutinya, lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Buat apa kau mengikutiku? Mau menjebak aku dan Alvian lagi saat nggak ada orang?"

Tamara pun sudah malas berpura-pura lagi. Tatapannya dipenuhi penghinaan dan rasa meremehkan.

"Clara, kau terlalu melebih-lebihkan dirimu sendiri. Di mata Rian cuma ada aku dan Diego. Apa pun yang kami lakukan, sekejam apa pun kami menyiksa kau dan anakmu yang buta itu, dia bakal selalu berdiri di pihak kami."

"Menyiksa? Jadi kau mengakui bahwa selama ini kaulah yang menyuruh putramu menindas Alvian dengan sengaja?"

Melihat kemarahan yang membuncah di wajah Clara, Tamara mengangguk penuh kemenangan.

"Tentu saja! Akulah yang menyuruh Diego sengaja jatuh dari tangga lalu menyalahkan putramu. Akulah yang menyuruhnya menusuk tangan putramu di rumah sakit, cuma buat memberimu pelajaran! Selama kau dikurung, Diego bisa menyiksa si buta itu sesuka hati tanpa ada seorang pun yang berani menghentikannya! Akulah yang sengaja meninggalkannya di gunung. Kalau kau tahu pun, memangnya bisa apa? Rian nggak bakal pernah percaya pada ucapanmu. Seumur hidup, kau nggak bakal pernah bisa mengalahkanku!"

Mendengar semua pengakuan itu keluar dari mulut Tamara sendiri, hati Clara kembali terasa seperti disayat.

Dia memeluk Alvian erat-erat. Suaranya dipenuhi amarah yang tidak mampu lagi disembunyikan. "Aku nggak pernah berbuat salah kepadamu. Kenapa kau berkali-kali menyakiti aku dan Alvian?"

Tamara berjalan menghampiri mereka dengan wajah dingin. Senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Karena kau merebut posisi yang seharusnya menjadi milikku. Memang sudah sepantasnya kau mati! Aku cuma mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku dan Diego. Orang seperti kalian yang menghalangi jalan kami, pantas menerima akibatnya!"

Jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa langkah. Clara dapat melihat dengan jelas kecemburuan dan kebencian yang memenuhi wajah Tamara.

Merasa waktunya sudah tepat, Clara melirik CCTV di atas dek kapal tanpa menunjukkan reaksi apa pun, lalu sengaja memancing emosi Tamara dengan ucapannya.

"Merebut? Aku adalah istri sah Rian, dan Alvian adalah putra kandungnya. Itu fakta yang nggak bisa diubah siapa pun. Dia juga sudah berjanji bakal menjaga kami seumur hidup. Jadi, sekalipun kau dan Diego mendapatkan cintanya, memangnya kenapa? Pada akhirnya, kau tetap cuma seorang selingkuhan yang nggak bakal pernah diakui. Seumur hidup, orang-orang bakal mencemoohmu. Selama kami masih hidup, Alvian adalah satu-satunya pewaris Keluarga Atmaja. Kelak, dialah yang bakal mewarisi Grup Atmaja. Siapa kau sampai berani membandingkan diri denganku?"

Setiap kata yang diucapkan Clara menghantam luka terdalam di hati Tamara hingga wanita itu kehilangan kendali.

Dengan wajah yang dipenuhi kecemburuan, Tamara tiba-tiba mengangkat tangannya dan mendorong Clara sekuat tenaga.

"Kalau begitu, matilah bersama anakmu!"

Clara sama sekali tidak melawan. Dia juga tidak berteriak meminta tolong. Sebaliknya, sambil tersenyum, dia memeluk Alvian erat-erat dan membiarkan tubuh mereka terjatuh ke laut.

Angin malam bertiup pelan. Ombak besar menerjang, lalu menelan sosok ibu dan anak itu sepenuhnya.

Debur ombak terus menghantam pantai. Permukaan laut begitu gelap gulita, hingga tidak ada apa pun yang terlihat.

Kapal pesiar raksasa itu menjulang di tepi pantai, menghalangi pandangan.

Tidak seorang pun menyadari, sebuah perahu kecil perlahan berlayar menjauh menerjang angin dan ombak, lalu menghilang tanpa jejak.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status