Share

Bab 7

Penulis: Silas
Mendengar tangisan dan keluh kesah putranya, hati Clara terasa begitu perih, seolah tercabik-cabik.

Dia memeluk putranya yang akhirnya berhasil ditemukan kembali sambil menangis tersedu-sedu.

"Sebentar lagi, Alvian. Ibu bakal segera membawamu pergi ke tempat yang nggak bisa ditemukan siapa pun. Setelah itu, nggak bakal ada lagi orang yang bisa menyakitimu."

Setelah berhasil menenangkan Alvian, Clara menggendongnya menyusuri jalan pegunungan selama tiga jam.

Kakinya dipenuhi lepuh berdarah. Seluruh tubuhnya penuh goresan akibat daun dan semak-semak. Dahi yang sebelumnya terluka kini dipenuhi kerak darah. Keadaannya tampak begitu lemah hingga seolah bisa pingsan kapan saja.

Namun, berkat tekad yang begitu kuat, Clara tetap berhasil membawa putranya pulang.

Begitu membuka pintu vila, Clara melihat Rian sedang menemani Tamara dan Diego makan malam.

Rian dengan telaten mengupas udang, membumbuinya, lalu menyuapkannya kepada Tamara. Dia juga dengan sabar menyingkirkan daun bawang, jahe, dan bawang putih dari makanan Diego agar anak itu mau makan. Bahkan, Rian sama sekali tidak merasa jijik saat Tamara dan Diego menyodorkan camilan yang sudah mereka makan setengah, lalu memakannya sambil tersenyum.

Clara yang kelelahan dan kelaparan hanya memandang dari kejauhan. Melihat mereka bertiga yang tampak begitu akrab seperti sebuah keluarga bahagia, sorot matanya dipenuhi kehampaan dan hawa dingin.

Clara tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya ingin kembali ke kamar tanpa menarik perhatian. Namun, Rian memanggilnya dengan nada dingin.

"Bukannya aku sudah bilang kau harus menjauh dari Alvian? Ke mana lagi kau membawanya? Lihat keadaan kalian sekarang!"

Mendengar dirinya justru dimarahi, seluruh emosi yang selama ini dipendam Clara akhirnya meledak seperti gunung berapi.

"Semua luka di tubuh Alvian dan semua kejadian yang menimpanya selama ini, sebenarnya terjadi karena aku atau karena kau? Apa kau benar-benar nggak tahu? Matanya sudah nggak bisa melihat, tetapi kau tetap membiarkan Diego menyiramnya dengan makanan panas dan menjegalnya sampai jatuh! Hari ini, dia ditinggalkan sendirian di tepi jurang tanpa seorang pun memedulikannya. Kalau bukan karena aku menemukannya, mungkin dia nggak bakal selamat sampai malam ini! Kau sama sekali nggak pernah peduli pada keadaannya. Dengan alasan apa kau masih menyalahkanku?"

Mendengar tangisan dan tuduhan Clara yang penuh kepedihan, Rian seketika terdiam.

Tatapannya tertuju pada luka-luka baru di tubuh Alvian. Dahinya sedikit berkerut. Baru saja hendak berbicara, Tamara yang memasang wajah penuh keluhan lebih dulu menyela.

"Diego masih kecil, aktif, dan belum tahu batas. Karena itu, dia nggak sengaja membuat Alvian terluka. Tapi dia benar-benar nggak bermaksud begitu. Dia cuma kasihan melihat adiknya sendirian dan mau menghiburnya. Tadi saat piknik, dia bahkan sampai keseleo karena memetik bunga buat Alvian. Aku juga terlalu panik, jadi tanpa sadar melupakan Alvian ...."

Dengan beberapa kalimat singkat, Tamara berhasil menutupi semua yang telah terjadi.

Seperti yang diduganya, perhatian Rian langsung teralihkan. Dia segera membungkuk memeriksa kaki Diego yang terkilir, sementara wajahnya dipenuhi rasa khawatir.

"Diego keseleo? Kenapa nggak bilang dari tadi? Parah nggak? Masih sakit? Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga. Kalau nggak diperiksa, aku nggak bakal tenang."

Sambil terus menanyakan keadaannya, Rian menggendong Diego dan bergegas menuju rumah sakit, seolah sangat mengkhawatirkan anak itu.

Clara memandang punggung Rian yang terburu-buru pergi, lalu menatap Alvian dalam pelukannya yang tampak kelelahan dan penuh luka. Hidungnya terasa perih.

Dia menahan air matanya sekuat tenaga, lalu membawa putranya kembali ke kamar dan mengobati setiap lukanya dengan hati-hati.

Bahkan saat tertidur, Alvian masih terus menangis sambil memanggil ibunya.

Clara mengusap lembut punggungnya. Matanya berkaca-kaca, sementara di dalam hatinya hanya tersisa satu harapan.

Semoga waktu berlalu lebih cepat. Lebih cepat lagi.

Dia hanya ingin semua ini segera berakhir dan menghilang untuk selamanya.

Beberapa hari berikutnya, Rian dan Tamara tidak pulang.

Clara tidak peduli ke mana mereka pergi. Sambil merawat putranya, dia juga diam-diam mempersiapkan segala sesuatu untuk kepergian mereka.

Dia membagi harta yang diperolehnya dari perceraian sebelumnya menjadi beberapa bagian, lalu menyumbangkannya ke daerah-daerah pegunungan yang miskin. Sementara itu, sebagian uang lainnya ditransfer ke sebuah rekening rahasia sebagai bekal hidup ibu dan anak itu di kemudian hari.

Selain itu, dia juga menggandakan seluruh rekam medis Alvian sebagai arsip untuk pemeriksaan dan pengobatan di masa mendatang.

Semua riwayat komunikasi, catatan panggilan telepon, serta aktivitas di berbagai media sosial juga Clara hapus hingga bersih, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status