/ Rumah Tangga / Saat Hasrat Menjadi Dosa / Bab 7 Jangan Melewati Batas, Sayang!

공유

Bab 7 Jangan Melewati Batas, Sayang!

작가: Tri Afifah
last update 최신 업데이트: 2025-11-20 05:50:03

Sosok Adrian hanya terlihat sekilas di antara kerumunan tamu .berdiri di dekat pilar marmer, memakai jas abu-abu gelap, wajahnya tersembunyi sebagian oleh bayangan lampu. Selena sempat mengedip, memastikan ia tidak salah lihat.Tapi Adrian ada di sana.

Seolah sengaja memancing gejolak di hatinya.

Selena menahan napas. Dalam sekejap, ia menurunkan pandangannya, menyembunyikan kegelisahan di balik senyum lembut. Detik berikutnya, ia kembali menatap Dharma seolah tidak terjadi apa-apa.

Dharma yang merasa diperhatikan,lalu ia menatap wajah istrinya yang malam ini terlihat begitu cantik. Sempurna.

“Mas,” ucapku dengan nada sangat lembut. “Aku… boleh ke belakang sebentar? Tumitku terasa sakit sekali. Sepatunya agak sempit.”

Aku Menunduk manis, menampilkan ketidakberdayaan yang nyaris sempurna.

Seakan tak ada apa pun di pikirannya selain rasa sakit di kakinya.

Dharma mengerutkan kening, tapi tidak curiga. Selena, istrinya itu memang selalu mengeluh soal high heels. ini bukan kali pertamanya.

“Aku akan minta pelayan ambilkan sandal untukmu,” jawab Dharma singkat.

Selena tersenyum, lalu menyentuh lengan Dharma ringan.

“Tidak perlu, Mas. Aku cuma ke ruang rias sebentar. Dua menit saja… Setelah itu aku kembali ke sini. Kita harus tampil sempurna di depan tamu-tamu yang datang untuk kita.”

Dharma terdiam sebentar, lalu mengangguk.

Mendapatkan izin dari Dharma,aku berbalik perlahan, berjalan anggun melewati tamu-tamu yang memuji gaun dan wajah cantik yang kumiliki. Saat sudah cukup jauh dari pandangan Dharma, langkahku berubah menjadi lebih cepat, lebih ringan, seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia harus pergi.

Aku tidak menuju ruang rias.

aku menuju lorong samping ballroom, tempat para kru hotel lewat membawa peralatan dan makanan.

Lorong yang tidak diawasi kamera.

Dari kejauhan,aku melihat siluet Adrian bergerak cepat menyelinap ke arah pintu samping.

Aku mengangkat rok gaunnya sedikit, memastikan langkah ini tidak terdengar.

“Adrian,” bisiknya lirih.

Pria itu berhenti.Berbalik.

Mata kami bertemu, wajah Adrian tampak masih sedikit bengkak. Karena pukulan Dharma saat di klinik.

“Selena,” balas Adrian, suaranya rendah, nyaris tak terdengar.

“Kenapa kamu di sini?” tanya Selena tanpa mendekat lebih jauh. Ia tidak bodoh. Jika ada seseorang lewat, bisa habis dirinya.

Adrian mendekat satu langkah. “Aku pastikan, suamimu akan membayar ini semua.”

Selena menelan ludah. “Dharma tidak sepenuhnya salah.”

Adrian tidak menjawab. ia tidak suka saat Selena terdengar masih saja membela suaminya itu.

Tiba-tiba saja, Langkah seseorang terdengar dari ujung lorong.

Selena langsung bergerak.

Dengan cepat ia menarik Adrian ke sisi dinding gelap, lalu memiringkan tubuhnya ke arah cahaya, memastikan hanya dirinya yang terlihat.

Pelayan hotel lewat, menunduk sopan pada Selena yang tampak sedang mengecek tumit sepatunya.

Tidak ada yang melihat Adrian berdiri hanya lima sentimeter di balik bayangannya.

Begitu pelayan menjauh, Selena mendekatkan wajahnya pada Adrian.

“Terkadang, kita tidak bisa menahan perasaan. tapi Adrian, berkat dirimu aku merasakan kenikmatan yang berbeda. Terimakasih dan selamat tinggal.”

Adrian tampak hendak mengatakan sesuatu, tapi dengan cepat aku menempelkan jari ke bibirnya.

“Jangan bicara, Adrian.”

Ia menarik napas. “Jika Dharma tahu aku bertemu kamu… kamu bisa benar-benar menghilang.”

Tatapan Adrian mengeras. “Aku tidak takut dengan Dharma.”

“Bukan itu masalahnya,”

Adrian terdiam.

Aku tersenyum samar. membuat pria di hadapanku ini nampak kebingungan. Sebelum aku pergi, dengan lancang aku menarik kerah baju Adrian. Mengambil kesempatan itu untuk kembali mencicipi kenikmatan bibirnya.

Setelah itu,aku melangkah pergi. Meninggalkan Adrian yang masih nampak terkejut.

***

Tepat saat aku kembali ke ballroom, Dharma menatapku, seperti mengintimidasi lewat tatapannya.

Aku hanya tersenyum anggun, kembali menggandeng lengan Dharma seolah tidak ada yang terjadi.

“Maaf, Mas terlalu lama. tapi, Tumitku sudah baikan,”

Dharma mengangguk pelan… namun matanya tetap memerhatikannya terlalu lama.

Terlalu dalam.Seolah ia mencurigai sesuatu. Aku hanya tersenyum, terus mempertahankan senyuman itu. Berpura-pura tidak mengetahui bahwa Dharma mencurigai ku.

“Jangan melewati batas, sayang.” Aku dapat merasakan bagaimana tangan kokoh Dharma mengusap bagian belakang tubuhku secara perlahan. Tidak hanya sebuah usapan, tangan itu sedikit meremas dan membuatku nyaris mendesah tertahan.

Apakah Dharma Mengetahuinya?

Tri Afifah

Hayo tebak, Dharma tau gak sih?

| 좋아요
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 109 Anggun Castellanos

    Lampu kristal besar menggantung di langit-langit ruangan luas itu, memantulkan cahaya ke meja kayu hitam yang tampak dingin dan berwibawa. Di balik meja tersebut, seorang pria duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, sorot matanya tajam seperti pisau. Tubuhnya tegap, dibalut setelan jas gelap yang jatuh sempurna di bahunya. Ia tidak banyak bergerak, hanya satu tangannya yang bertumpu di atas meja, sementara tangan lain memegang gelas kristal berisi minuman berwarna amber. Di depannya, dua orang pria berlutut. Kepala mereka tertunduk, napas terlihat tidak teratur, seolah keberanian mereka sudah terkuras sebelum sempat membuka mulut. Di belakang keduanya, tiga pria lain berdiri tegap seperti patung. Wajah mereka datar, tangan terlipat di depan tubuh, jelas terlatih untuk patuh tanpa banyak bertanya. Pria di kursi kebesaran itu menggeser gelasnya perlahan, bunyinya beradu pelan dengan permukaan meja. “Jadi…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun menggetarka

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 108 Mencurigai Seseorang

    “Sayang, kau masih ingat dengan penculikmu?” tanya Dharma yang baru saja masuk ke dalam rumah. aku mengerutkan kening, berpikir sebentar. kenapa tiba-tiba saja Dharma mengungkit masalah itu lagi? Dharma meraih tubuhku, menuntunku agar duduk di sofa. “Kenapa tiba-tiba saja bertanya soal itu?”Dharma menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaanku.“Sebenarnya, ini karena Saka.”“Saka, si hacker itu?”Dharma menatapku tajam, seolah tidak suka jika aku mengenal salah satu anak buahnya. walaupun pada akhirnya, ia hanya mengangguk membenarkan.“Saka memiliki suatu pemikiran berbeda. Selain Adrian yang dikendalikan oleh ayahku, dia yakin ada orang lain dibalik semua hal yang terjadi pada dirimu.” Sahut Dharma. tangannya terulur untuk membelai rambutku.“Jadi, ada orang lain dibalik ini semua? apa menurutmu aku memiliki musuh? tapi, setahuku aku tidak memiliki musuh, Dharma. sebelum menikah denganmu aku hanya anak kuliahan seperti pada umumnya dan setelah lulus membantu mengelola bis

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 107 Siapa Sebenarnya Dalangnya?

    Seorang pria masuk dengan langkah cepat dan wajah serius. Jasnya belum dilepas, dasinya agak longgar seolah ia baru saja datang dari tempat lain tanpa sempat beristirahat.“Saka?” Rendi mengangkat kepala. “Kukira kau sudah pulang.”Saka menutup pintu di belakangnya, lalu langsung menatap Dharma.“Kita perlu bicara pak, sekarang.”Dharma meletakkan kotak makan di meja, ekspresinya berubah dari santai menjadi waspada.“Ada apa?”Saka berjalan mendekat, suaranya diturunkan meski ruangan sudah kosong.“Aku baru dapat laporan lanjutan soal kasus Selena.”Rendi otomatis berdiri sedikit lebih dekat, seolah tak ingin ketinggalan informasi.“Kita tahu Adrian yang menculik Selena pertama kali,” lanjut Saka. “Dan kita juga tahu dia sempat ‘kehilangan’ Selena karena diselamatkan oleh seseorangl.”“Adrian,” gumam Rendi. “Itu yang kau maksudkan?”Saka menggeleng pelan.“Masalahnya bukan itu.”Ia menghela napas, lalu menatap Dharma lurus-lurus.“Yang mencurigakan adalah… setelah Selena diselamatkan,

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 106 Masakan Istrinya Tercinta

    Ruang rapat lantai dua puluh tiga dipenuhi cahaya putih dari lampu gantung modern. Dinding kaca memperlihatkan kota yang bergerak cepat di luar sana, kontras dengan suasana di dalam ruangan yang terasa tegang.Dharma duduk di kursi utama, punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu di atas meja panjang berlapis kayu hitam. Di sisi kanannya, Rendi sibuk dengan tablet dan beberapa lembar laporan cetak. Jemarinya bergerak cepat, sesekali berbisik ke salah satu staf untuk memastikan data yang ditampilkan di layar proyektor sudah siap.“Proyek ini terlalu berisiko,” ujar salah satu pemegang saham senior, suaranya datar namun terdengar begitu tegas. “Pasar belum stabil. Kita seharusnya menahan dana dulu.”Beberapa orang mengangguk setuju.Dharma menyilangkan jarinya, menatap pria itu tanpa ekspresi berlebihan.“Jika kita menunggu pasar stabil, kita akan terlambat,” jawabnya tenang. “Perusahaan lain sudah masuk lebih dulu. Kita tidak bisa hanya jadi penonton.”Rendi melirik Dharma sekilas,

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 105 Darlo Castellanos

    Aku masih menatap matahari yang kini sudah setengah tenggelam di balik garis laut. Warna jingganya semakin dalam, seolah laut sedang menelan api perlahan-lahan. Cahaya itu memantul di permukaan air, bergerak naik turun mengikuti napas ombak.Bahuku terasa hangat karena bersandar pada Dharma. Ia tidak bicara, tapi aku tahu ia juga sedang menikmati momen indah ini.Aku menghela napas pelan.“Aku suka saat-saat seperti ini,” kataku akhirnya, memecah keheningan. “Saat dunia rasanya berhenti sebentar.”Dharma menoleh sedikit ke arahku.“Karena tidak ada yang harus kita kejar,” katanya. “Tidak ada yang harus kita takuti.”Aku tersenyum kecil. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi begitu bermakna bagiku.Aku menatap kembali ke laut, melihat matahari kini hanya tersisa setengah lingkaran merah keemasan. Warna Langit mulai memudar diganti dengan warna oranye seperti terbakar perlahan.“Aku sering berpikir,” ucapku pelan, “kalau hidup itu seperti matahari terbenam, pasti yang kita lihat hanya k

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 104 Matahari Tenggelam

    Sore harinya, aku dan Dharma pergi ke tempat dimana Dharma harus melakukan sesi konsultasi. Kami berjalan berdampingan menuju klinik dokter Elara. Tanganku menggenggam lengan Dharma, bisa kurasakan ketegangan samar di ototnya meski wajahnya terlihat tenang.Nama Dharma dipanggil tak lama kemudian.Kami masuk ke ruangan yang didominasi warna krem dan putih itu. Aroma antiseptik tipis tercium. Di balik meja, dokter Elara duduk dengan senyum hangatnya.“Silakan duduk,” katanya.Dharma duduk di kursi pasien, aku di sampingnya.Dokter Elara membuka berkas di mejanya.“Ini sudah sesi ketiga, ya, Dharma. Saya ingin tahu bagaimana perkembangan terakhir.”Dharma menarik napas sebentar, lalu menjawab dengan nada lebih mantap dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya.“Secara fisik jauh lebih baik, Dok.”Dokter Elara mengangguk.“Lebih baik dalam arti?”Dharma melirikku sekilas, lalu kembali menatap dokter.“Aku sudah bisa menjalani hubungan suami istri tanpa gangguan seperti sebelumnya.”Aku bis

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status