Home / Rumah Tangga / Saat Hasrat Menjadi Dosa / Bab 6 – Luka Hati yang Terpendam

Share

Bab 6 – Luka Hati yang Terpendam

Author: Tri Afifah
last update Last Updated: 2025-10-31 09:34:58

Bab 6 Luka Hati yang Terpendam

Setelah insiden perselingkuhan yang telah diketahui oleh Dharma, aku mencoba untuk bersikap seperti biasa. menyiapkan sarapan, makan malam untuk Dharma. walaupun aku tahu, pria itu tengah menyimpan lukanya dengan tetap terlihat tenang dan sikapnya semakin dingin padaku.

“Mas, aku sudah siapkan sarapan,” ucapku pelan.

Tapi Dharma hanya mengangguk singkat,mengambil kunci mobil, lalu pergi.

Tanpa kata, tanpa tatapan.

Suara pintu yang menutup pelan justru terasa seperti ledakan di dadaku.

Aku ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar.

Siang hari, aku mencoba menenangkan diri dengan membersihkan rumah, memasak makanan kesukaan Dharma, lalu menata ruang makan dengan rapi.

Namun saat malam tiba, Dharma hanya menyentuh piringnya sebentar sebelum bangkit dari kursi.

“Sudah kenyang,” katanya datar.

Padahal ia bahkan belum menyentuh setengahnya.

Malam semakin larut.

Dari kamar, aku bisa mendengar suara langkah Dharma menuju ruang kerja.

Lampu tetap menyala hingga lewat tengah malam.

Aku menunggu di depan pintu, membawa secangkir teh hangat. berharap agar Dharma mau menerima teh buatanku.

Tapi, nyaliku ciut. akhirnya, aku hanya mampu duduk di lantai, bersandar pada dinding. Menunggu sampai Dharma keluar dari ruang kerjanya.

***

Aku membuka mata, menatap sekeliling dan anehnya, tubuhku sudah berada diatas ranjang kamar. dengan perasaan terkejut, aku turun dari ranjang dan mencari keberadaan Dharma. Karena aku yakin, saat aku tertidur didepan ruang kerjanya dan ialah yang telah memindahkan tubuhku.

aku mencari keberadaan Dharma di Kamar mandi, Dapur, ruang tengah namun keberadaan Dharma tidak ada. Saat aku keluar, ke area parkir. mobil Dharma masih terparkir rapi . Jadi, dimana Dharma?

Aku menghela napas panjang, rasanya hatiku kian semakin berat. Sikap diam Dharma seperti sebuah selimut besar yang melilit tubuhku, rasanya begitu sesak.

Dengan perasaan yang masih berkecamuk, aku berlari kembali ke dalam kamar. Meraih ponselku dan mengetik sesuatu disebuah situs website. dan benar dugaanku, nama Adrian sudah tidak lagi ditemukan. Bahkan, nama kliniknya tidak ada di pencarian. aku terduduk lemas, seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh itu. seharusnya aku bisa lebih menguatkan hati dan tidak tergoda dengan nafsu semata. Tapi, hal yang Adrian tawarkan begitu indah dan aku tak mampu menolaknya.

“Apa yang kau lakukan?”

Mendengar suara serak itu, membuat diriku tersadar dan mencari sumber suara itu.

“M-mas Dharma?”

“Kenapa menatapku seperti itu? kau pikir aku hantu?”

Dharma kian mendekat, langkahnya terlihat begitu percaya diri.

“Aku sudah menyiapkan acara anniversary pernikahan kita.”

Aku menggigit bibir bawahku, menahan perasaan yang sama sekali tidak ku mengerti. Seharusnya, aku senang Dharma masih mengingat hari anniversary pernikahan kami. tapi, disatu sisi aku begitu penasaran dengan keberadaan Adrian. entah apa yang telah dilakukan oleh Dharma, sampai jejak digital Adrian benar-benar bersih.

“Kau tidak senang dengan keputusanku?”

Pertanyaan yang dilontarkan Dharma, seperti dua mata pisau yang tajam dan siap ia tancapkan pada diriku. Keputusan apa maksudnya? Anniversary pernikahan yang dirayakan atau hilangnya seorang Adrian?

Sikapnya juga terlihat sudah biasa dan tidak seperti kemarin-kemarin. Ia bersikap kembali normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami. Adegan ciumanku dengan Adrian yang ia lihat tempo hari, seperti hilang begitu saja.

“Bu-bukan seperti itu mas,”

“Kalau begitu, bersiaplah nanti sore akan ada orang yang datang menyiapkan baju kita.” Setelah mengatakan hal itu, Dharma melangkah keluar.

Aku menelan ludah berulang kali, rasanya ini terlalu aneh. Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Lampu-lampu kristal di langit-langit ballroom itu berkilau seperti bintang yang turun ke bumi. Musik lembut dari grand piano di sudut ruangan mengalun, menciptakan suasana hangat dan mewah. Aroma bunga mawar putih dan lilin aroma vanilla bercampur di udara, menyambut setiap tamu yang datang dengan senyum ramah para pelayan berjas hitam.

Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dihiasi vas kristal berisi mawar merah muda,lambang cinta yang masih mekar di usia pernikahan kedua. Di atas panggung kecil, layar LED menampilkan tulisan:

"Happy 2nd Anniversary — A Journey of Love."

Para tamu mengenakan gaun dan jas terbaik mereka, sementara kamera dari pihak hotel merekam setiap momen bahagia. Musik berubah menjadi lembut ketika aku dan Dharma melangkah masuk bergandengan tangan. Semua mata tertuju pada kami.

Aku mengenakan gaun satin berwarna ivory, dengan rambut disanggul sederhana namun terlihat begitu elegan. Sementara Dharma, dalam setelan hitam klasik, tampak tenang dengan senyum tipis di wajahnya. Kami berdiri di tengah ruangan, disorot lampu temaram berwarna keemasan.

Terdengar Gelas kaca beradu pelan.

Dentang kecilnya tenggelam di tengah tepuk tangan dan tawa para tamu.

Namun bagiku, suara itu seperti gema yang mengguncang hati.seolah mengingatkan, bahwa di balik pesta mewah ini, antara cinta dan kehormatan keluarga dipertaruhkan.

Musik berganti menjadi lebih pelan. Lampu ballroom diredupkan, hanya menyisakan sorot keemasan di tengah ruangan, tempat Dharma dan Selena berdiri berhadapan. Semua mata tertuju pada mereka.pasangan yang menjadi pusat malam itu.

Selena mencoba tersenyum, meski dadanya terasa sesak. Ia tahu senyum itu bukan lagi cerminan bahagia, melainkan topeng yang harus dipakai di depan semua orang.

Dharma mendekat perlahan. Langkahnya tenang, matanya menatap dalam, seolah mencoba membaca hati Selena.Ia berhenti hanya sejengkal darinya, cukup dekat hingga aroma parfum mahal yang dipakainya terasa lembut menyentuh kulit.

Suara riuh para tamu seolah lenyap.

Hanya mereka berdua di tengah keramaian.

Dharma menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh telinga Selena. Dari jauh, orang-orang berpikir ia akan menciumnya.bahkan beberapa tamu menahan napas, siap menyaksikan momen paling romantis malam itu.

Namun, suaranya justru turun menjadi bisikan dingin yang hanya Selena yang bisa dengar.

“Kau pandai sekali berpura-pura, Selena,” ucapnya lirih, nadanya setipis pisau. “Sampai semua orang percaya bahwa kita masih bahagia.”

Selena tertegun. Jemarinya yang memegang gelas bergetar halus. Tapi ia tak membalas, tak bergerak, hanya tersenyum lebih lebar. senyum yang penuh luka namun tetap memesona di mata tamu-tamu yang melihat.

Dari jauh, sorotan kamera menangkap adegan itu.

suami yang tampak mencium istrinya dengan lembut. Nyatanya, itu hanya bisikan dingin yang memisahkan cinta dari kepura-puraan.

Musik kembali mengalun, menutupi segala kebenaran yang nyaris terbongkar di tengah gemerlap malam. Saat Selena mengalihkan pandangannya ke arah para tamu, ia menangkap sosok yang sudah mengusik ketenangan hatinya.

“Adrian?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 109 Anggun Castellanos

    Lampu kristal besar menggantung di langit-langit ruangan luas itu, memantulkan cahaya ke meja kayu hitam yang tampak dingin dan berwibawa. Di balik meja tersebut, seorang pria duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, sorot matanya tajam seperti pisau. Tubuhnya tegap, dibalut setelan jas gelap yang jatuh sempurna di bahunya. Ia tidak banyak bergerak, hanya satu tangannya yang bertumpu di atas meja, sementara tangan lain memegang gelas kristal berisi minuman berwarna amber. Di depannya, dua orang pria berlutut. Kepala mereka tertunduk, napas terlihat tidak teratur, seolah keberanian mereka sudah terkuras sebelum sempat membuka mulut. Di belakang keduanya, tiga pria lain berdiri tegap seperti patung. Wajah mereka datar, tangan terlipat di depan tubuh, jelas terlatih untuk patuh tanpa banyak bertanya. Pria di kursi kebesaran itu menggeser gelasnya perlahan, bunyinya beradu pelan dengan permukaan meja. “Jadi…” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun menggetarka

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 108 Mencurigai Seseorang

    “Sayang, kau masih ingat dengan penculikmu?” tanya Dharma yang baru saja masuk ke dalam rumah. aku mengerutkan kening, berpikir sebentar. kenapa tiba-tiba saja Dharma mengungkit masalah itu lagi? Dharma meraih tubuhku, menuntunku agar duduk di sofa. “Kenapa tiba-tiba saja bertanya soal itu?”Dharma menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaanku.“Sebenarnya, ini karena Saka.”“Saka, si hacker itu?”Dharma menatapku tajam, seolah tidak suka jika aku mengenal salah satu anak buahnya. walaupun pada akhirnya, ia hanya mengangguk membenarkan.“Saka memiliki suatu pemikiran berbeda. Selain Adrian yang dikendalikan oleh ayahku, dia yakin ada orang lain dibalik semua hal yang terjadi pada dirimu.” Sahut Dharma. tangannya terulur untuk membelai rambutku.“Jadi, ada orang lain dibalik ini semua? apa menurutmu aku memiliki musuh? tapi, setahuku aku tidak memiliki musuh, Dharma. sebelum menikah denganmu aku hanya anak kuliahan seperti pada umumnya dan setelah lulus membantu mengelola bis

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 107 Siapa Sebenarnya Dalangnya?

    Seorang pria masuk dengan langkah cepat dan wajah serius. Jasnya belum dilepas, dasinya agak longgar seolah ia baru saja datang dari tempat lain tanpa sempat beristirahat.“Saka?” Rendi mengangkat kepala. “Kukira kau sudah pulang.”Saka menutup pintu di belakangnya, lalu langsung menatap Dharma.“Kita perlu bicara pak, sekarang.”Dharma meletakkan kotak makan di meja, ekspresinya berubah dari santai menjadi waspada.“Ada apa?”Saka berjalan mendekat, suaranya diturunkan meski ruangan sudah kosong.“Aku baru dapat laporan lanjutan soal kasus Selena.”Rendi otomatis berdiri sedikit lebih dekat, seolah tak ingin ketinggalan informasi.“Kita tahu Adrian yang menculik Selena pertama kali,” lanjut Saka. “Dan kita juga tahu dia sempat ‘kehilangan’ Selena karena diselamatkan oleh seseorangl.”“Adrian,” gumam Rendi. “Itu yang kau maksudkan?”Saka menggeleng pelan.“Masalahnya bukan itu.”Ia menghela napas, lalu menatap Dharma lurus-lurus.“Yang mencurigakan adalah… setelah Selena diselamatkan,

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 106 Masakan Istrinya Tercinta

    Ruang rapat lantai dua puluh tiga dipenuhi cahaya putih dari lampu gantung modern. Dinding kaca memperlihatkan kota yang bergerak cepat di luar sana, kontras dengan suasana di dalam ruangan yang terasa tegang.Dharma duduk di kursi utama, punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu di atas meja panjang berlapis kayu hitam. Di sisi kanannya, Rendi sibuk dengan tablet dan beberapa lembar laporan cetak. Jemarinya bergerak cepat, sesekali berbisik ke salah satu staf untuk memastikan data yang ditampilkan di layar proyektor sudah siap.“Proyek ini terlalu berisiko,” ujar salah satu pemegang saham senior, suaranya datar namun terdengar begitu tegas. “Pasar belum stabil. Kita seharusnya menahan dana dulu.”Beberapa orang mengangguk setuju.Dharma menyilangkan jarinya, menatap pria itu tanpa ekspresi berlebihan.“Jika kita menunggu pasar stabil, kita akan terlambat,” jawabnya tenang. “Perusahaan lain sudah masuk lebih dulu. Kita tidak bisa hanya jadi penonton.”Rendi melirik Dharma sekilas,

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 105 Darlo Castellanos

    Aku masih menatap matahari yang kini sudah setengah tenggelam di balik garis laut. Warna jingganya semakin dalam, seolah laut sedang menelan api perlahan-lahan. Cahaya itu memantul di permukaan air, bergerak naik turun mengikuti napas ombak.Bahuku terasa hangat karena bersandar pada Dharma. Ia tidak bicara, tapi aku tahu ia juga sedang menikmati momen indah ini.Aku menghela napas pelan.“Aku suka saat-saat seperti ini,” kataku akhirnya, memecah keheningan. “Saat dunia rasanya berhenti sebentar.”Dharma menoleh sedikit ke arahku.“Karena tidak ada yang harus kita kejar,” katanya. “Tidak ada yang harus kita takuti.”Aku tersenyum kecil. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi begitu bermakna bagiku.Aku menatap kembali ke laut, melihat matahari kini hanya tersisa setengah lingkaran merah keemasan. Warna Langit mulai memudar diganti dengan warna oranye seperti terbakar perlahan.“Aku sering berpikir,” ucapku pelan, “kalau hidup itu seperti matahari terbenam, pasti yang kita lihat hanya k

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 104 Matahari Tenggelam

    Sore harinya, aku dan Dharma pergi ke tempat dimana Dharma harus melakukan sesi konsultasi. Kami berjalan berdampingan menuju klinik dokter Elara. Tanganku menggenggam lengan Dharma, bisa kurasakan ketegangan samar di ototnya meski wajahnya terlihat tenang.Nama Dharma dipanggil tak lama kemudian.Kami masuk ke ruangan yang didominasi warna krem dan putih itu. Aroma antiseptik tipis tercium. Di balik meja, dokter Elara duduk dengan senyum hangatnya.“Silakan duduk,” katanya.Dharma duduk di kursi pasien, aku di sampingnya.Dokter Elara membuka berkas di mejanya.“Ini sudah sesi ketiga, ya, Dharma. Saya ingin tahu bagaimana perkembangan terakhir.”Dharma menarik napas sebentar, lalu menjawab dengan nada lebih mantap dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya.“Secara fisik jauh lebih baik, Dok.”Dokter Elara mengangguk.“Lebih baik dalam arti?”Dharma melirikku sekilas, lalu kembali menatap dokter.“Aku sudah bisa menjalani hubungan suami istri tanpa gangguan seperti sebelumnya.”Aku bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status