Share

Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan
Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan
Author: Rain

Bab 1

Author: Rain
“Pak Kades, soal posisi di Organisasi Perempuan waktu itu… aku ingin mencobanya.”

“Kamu sudah pikirkan matang-matang, Nak Mustika? Kondisi di desa jelas nggak bisa dibandingkan dengan di kesatuan. Bukankah ikut suami lebih baik? Apalagi kamu bawa Dimas.” Suara kepala desa terdengar terkejut di seberang telepon.

Yah… memang lebih baik.

Selain kenyataan bahwa hati suamiku telah menjadi milik orang lain dan melarang anak kami memanggilnya ayah, semuanya sebenarnya berjalan cukup baik.

Aku melirik poster di dinding bertuliskan “Tentara dan Masyarakat Adalah Satu Keluarga”.

Aku tersenyum pahit.

“Aku nggak terbiasa. Aku ingin kembali ke desa saja,” ucapku mantap.

Merasa sayang pada biaya telepon, kepala desa pun tak lagi membujuk.

“Ya sudah. Lagi pula, selama bertahun-tahun ini kamu membesarkan Dimas sendirian. Ada atau nggaknya Nak Baskara, sebenarnya nggak ada bedanya.”

“Kalau begitu, minggu depan kamu pulang. Aku antar ke kantor desa untuk melapor,” lanjutnya.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada kepala desa, aku kembali ke rumah sementara itu. Langkahku belum sepenuhnya terbiasa.

Sebuah rumah kecil satu lantai berbentuk kotak. Di halaman terdapat dua petak kebun sayur yang baru saja digarap. Beberapa bibit sayuran yang tumbuh jarang dan tak beraturan.

Pada hari pertama tiba di sini, aku meminjam bibit sayur dari istri tetangga sebelah rumah. Setelah seharian penuh bekerja keras, barulah kebun siap untuk ditanami. Bersamaan bibit-bibit sayuran yang kutanam, tersimpan pula harapan akan masa depan yang kusemai.

Namun malam itu, saat Baskara pulang, hal pertama yang dia lakukan adalah menyuruhku mencabut semua bibit itu.

“Mustika! Apa aku nggak kasih kamu uang?” ucapnya dingin.

“Buat apa repot-repot mengurus kebun? Bau miskin dan sial yang kamu bawa masih kurang kuat, hah?” tambahnya.

Dengan sedikit gugup, aku meremas ujung celemek, berusaha memberi penjelasan.

“Aku lihat yang lain juga menanam, jadi aku ikut. Kupikir nggak masalah… lumayan bisa menghemat uang beli sayur.”

Baskara mengerutkan keningnya. Tatapannya penuh rasa muak.

“Nggak perlu! Di sini bukan desa. Kamu nggak perlu melakukan hal-hal nggak berguna.”

“Benar kata Helena. Orang desa tetaplah orang desa. Kamu bahkan nggak sebanding dengan ujung jarinya.”

Aku menunduk.

Dalam sekejap, seluruh kehangatan di hatiku lenyap, menyisakan kepahitan yang memenuhi dada.

Helena Majid, tentara wanita dari tim seni militer, sekaligus cinta sejati Baskara di kesatuan.

Sementara aku?

Hanya istri kampung yang menemaninya dari nol.

Tentu saja tak pantas dibandingkan dengannya.

Malam itu, saat anakku terlelap, aku diam-diam melangkah ke halaman. Satu per satu bibit kucabut.

Bersama akar-akar yang tercabut itu… aku juga mencabut harapanku pada Baskara.

….

Pikiranku kembali berkecamuk. Aku menyembunyikan kesedihan di wajahku, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.

Dimas ternyata sudah bangun. Saat ini, bocah kecil itu duduk manis di meja, menyantap sarapan.

Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.

“Mama! Mama sudah pulang!”

“Sebentar lagi Dimas selesai sarapan. Habis itu bantu Mama, ya!”

Dimas adalah anak kandungku dengan Baskara. Usianya tujuh tahun.

Orang bilang, anak dari keluarga miskin tumbuh lebih cepat dewasa. Selama bertahun-tahun merawat kakek-neneknya, Dimas selalu penurut dan mengerti.

Aku tersenyum, sembari merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan.

“Nggak usah. Mama nggak perlu bantuanmu, Dimas,” ucapku lembut.

“Selesai sarapan, kamu main saja sama teman-temanmu.”

Mendengar itu, sorot mata Dimas langsung meredup. Matanya pun memerah.

“Ma… mereka bilang aku nggak tahu malu. Numpang di rumah orang tapi nggak mau pergi. Mereka nggak mau main sama aku.”

“Mama… ini rumah kita, ‘kan?” ucapnya lirih.

Bocah kecil itu masih belum tahu cara menyembunyikan perasaannya. Dia menatapku dengan polos, menunggu jawabanku.

Hidungku perih. Air mata jatuh lebih dulu sebelum aku menjawab.

Aku membuka mulut. Hatiku seakan dicelupkan berulang kali ke dalam air pahit.

Melihatku menangis, Dimas panik. Dia langsung memelukku erat.

“Dimas nggak apa-apa, kok, Ma. Mama jangan nangis, ya?”

“Dimas nggak tanya lagi… Dimas baik-baik saja.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 10

    Perempuan yang Baron sebut sebagai sosok cerdas dan tangguh itu… benarkah Mustika?Kenapa selama ini Baskara sama sekali tak tahu?Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu pikiran Baskara, membuatnya kebingungan.“Oh iya, Mas. Omong-omong, kenapa Mbak Mustika balik lagi ke desa? Apa di kesatuan nggak nyaman?”Baskara ingin menjawab, dia membuka mulutnya, tapi tak sepatah kata pun keluar.Apa lagi yang harus dia bilang?Bilang di kesatuan tak ada yang mau mengakui Mustika dan Dimas?Bilang mereka selama ini hanya dipandang sebagai kerabat miskin yang hanya menumpang ketenaran dan selalu diremehkan?Bagaimana mungkin dia akan mengatakannya?Bagaimana mungkin dia berani mengatakan kebenarannya?Di tengah rasa malu yang menyelimuti dirinya, terdengar suara wanita dari belakang.“Baron, ayo balik ke desa.”Baron menoleh, lalu melambaikan tangannya.“Oke, Mbak! Mbak Mus, coba lihat siapa yang datang?”Baskara berbalik, wajahnya menegang.“Mustika.”Langkahku terhenti. Ada kilatan ketidaksabaran di

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 9

    Wajah perempuan itu terlihat agak tenang.“Aku nggak tahu soal orang lain, tapi suamiku bukan orang yang seperti itu,” ucapnya pelan.“Awalnya, aku juga sempat takut… takut mempermalukannya. Apalagi di desa, banyak wanita intelektual yang juga menyukai suamiku.”“Tapi…”Perempuan itu menunduk, menatap bayi di pelukannya dengan sorot mata yang begitu lembut.“Tapi suamiku pernah bilang, sejak menikahiku… dia akan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Katanya, dia adalah kepala keluarga, lahir dari tanah pedesaan, sama sepertiku. Kalau ada orang yang merendahkanku… itu karena mereka lebih dulu merendahkannya.”“Dia juga bilang… karena sering nggak di rumah karena tugas tentara, semua urusan dalam dan luar rumah, aku yang urus. Dia merasa berutang banyak padaku. Bahkan kalau nanti dia melipatgandakan kebaikannya padaku, tetap nggak akan pernah cukup untuk menebusnya.”Bayi yang sudah kenyang itu mengangkat tangan mungilnya, menggosok-gosok mata.Perempuan itu tampak dengan lembut meny

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 8

    Sementara dia… bergabung ke militer, menempuh jalan hidup yang dipilihnya sendiri.Baskara tak berani mengakui.Di balik sikap benci dan dinginnya yang selalu dia tunjukkan padaku dan Dimas… sebenarnya tersimpan rasa bersalah yang besar.Galaknya hanya topeng, tapi hatinya pengecut.Karena itulah, meski dia tahu…Bahwa aku tinggal di desa selama delapan tahun demi berbakti pada orang tuanya.Tahu aku menunggunya selama delapan tahun.Tahu betapa tulus dan tanpa pamrihnya aku.Tahu betapa sungguh-sungguhnya perasaanku padanya.Dia tetap tak mau mengakui.Dan tak berani mengakui.Setiap kali melihatku dan Dimas, yang terbayang di benaknya adalah kebobrokannya sendiri.Karena demi melarikan diri dari hidup yang tak ingin dia jalani, dia telah mengurung seorang gadis tak bersalah selama delapan tahun.Tanpa sadar, tangannya kembali terulur hendak mengambil rokok. Namun, suara seorang perempuan dari seberangnya menghentikan gerakannya.“Mas… bisa tolong ambilkan air panas?”Perempuan itu te

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 7

    Baskara tak tahu bagaimana reaksi Helena. Sekalipun tahu, dia tak akan terlalu memikirkannya.Begitu keluar dari aula, dia menyandarkan tubuhnya yang lesu ke dinding. Dia menarik sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam hingga asap memenuhi rongga dadanya.Barulah setelah menghembuskan napas panjang, dia seperti hidup kembali.Musik dari dalam aula masih terus berdentum. Baskara hanya melirik sekilas, sebelum akhirnya berbalik pergi.Dia rindu… rindu yang samar pada kampung halaman.Dia membuka pintu gerbang halaman.Malam ini, cahaya bulan begitu terang, jatuh menerangi kebun sayur yang terlihat sedikit berantakan.Dua petak tanah. Tidak besar, juga tidak kecil. Begitu melihatnya, jelas hasil tangan orang yang terbiasa bekerja di kebun. Tanahnya diratakan dengan rapi, garis-garisnya teratur.Hanya saja, beberapa tunas liar yang tumbuh sembarangan merusak harmoni itu.Tangannya yang terselip di saku kembali terasa gatal. Baskara mengeluarkan korek api, tapi tepat saa

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 6

    Komandan Imran mengerutkan keningnya, berusaha membela Baskara.“Kamu juga aneh, Baskara. Mereka itu bukan kerabat dekatmu, kenapa malah kamu bawa tinggal di kompleks keluarga.”“Menurutku, lebih baik kamu cepat suruh mereka pergi. Jangan sampai hubunganmu sama Helena terganggu.”“Kalau kamu sungkan atau nggak tega, bilang sama aku. Biar aku yang urus.”Meski Komandan Imran tampak begitu bersemangat membela, jelas sekali ada rasa bersalah melintas di wajah Baskara.Aku dan Baskaran adalah pasangan muda.Saat itu, dia baru delapan belas tahun, sementara aku tujuh belas.Hanya berjumpa satu kali dari kejauhan, kami langsung memutuskan untuk hidup bersama. Dua minggu setelah menikah, Baskara bergabung dengan militer.Di militer, dia bertemu rekan-rekan dari berbagai penjuru negeri, mendengar cerita mereka yang bermacam-macam membuatnya menyadari perbedaan nasib manusia. Pada awalnya, setiap kali sulit tidur, dia selalu memikirkan keluarganya yang berada jauh di sana.Memikirkan istri yang

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 5

    “Mustika! Mustika!”“Dimas!”Baskara membuka setiap pintu kamar satu per satu, memeriksa setiap sudut rumah tanpa terlewat.Kosong.Sepi.Tak ada seorang pun.Aku dan anakku benar-benar sudah pergi.Tanpa sepatah kata pun.Tanpa pamit.Baskara terduduk di sofa, suasana hatinya campur aduk.Bukankah ketenangan seperti ini yang selama ini dia inginkan?Namun entah kenapa…Justru hatinya terasa semakin tak tenang.Apa mungkin… Sebenarnya dalam seminggu terakhir, dia sudah terbiasa dengan keberadaanku dan Dimas?Namun yang dia cintai bukankah Helena?Ya, wanita yang dia cintai hanya Helena.Sosok wanita seperti Helena-lah yang pantas untuk dirinya cintai.Mustika hanyalah perempuan desa.Ya, hanya perempuan dari kampung, tak lebih.Baskara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Dia masuk ke kamar, membuka lemari dan mengeluarkan perlengkapan tidurnya yang dulu.Di hari pertama aku dan Dimas tiba di kesatuan, Baskara berkata tegas padaku.“Mustika… kamar ini untukmu. Tapi kita nggak mungkin s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status