Share

Bab 8

Author: Rain
Sementara dia… bergabung ke militer, menempuh jalan hidup yang dipilihnya sendiri.

Baskara tak berani mengakui.

Di balik sikap benci dan dinginnya yang selalu dia tunjukkan padaku dan Dimas… sebenarnya tersimpan rasa bersalah yang besar.

Galaknya hanya topeng, tapi hatinya pengecut.

Karena itulah, meski dia tahu…

Bahwa aku tinggal di desa selama delapan tahun demi berbakti pada orang tuanya.

Tahu aku menunggunya selama delapan tahun.

Tahu betapa tulus dan tanpa pamrihnya aku.

Tahu betapa sungguh-sungguhnya perasaanku padanya.

Dia tetap tak mau mengakui.

Dan tak berani mengakui.

Setiap kali melihatku dan Dimas, yang terbayang di benaknya adalah kebobrokannya sendiri.

Karena demi melarikan diri dari hidup yang tak ingin dia jalani, dia telah mengurung seorang gadis tak bersalah selama delapan tahun.

Tanpa sadar, tangannya kembali terulur hendak mengambil rokok. Namun, suara seorang perempuan dari seberangnya menghentikan gerakannya.

“Mas… bisa tolong ambilkan air panas?”

Perempuan itu te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 10

    Perempuan yang Baron sebut sebagai sosok cerdas dan tangguh itu… benarkah Mustika?Kenapa selama ini Baskara sama sekali tak tahu?Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu pikiran Baskara, membuatnya kebingungan.“Oh iya, Mas. Omong-omong, kenapa Mbak Mustika balik lagi ke desa? Apa di kesatuan nggak nyaman?”Baskara ingin menjawab, dia membuka mulutnya, tapi tak sepatah kata pun keluar.Apa lagi yang harus dia bilang?Bilang di kesatuan tak ada yang mau mengakui Mustika dan Dimas?Bilang mereka selama ini hanya dipandang sebagai kerabat miskin yang hanya menumpang ketenaran dan selalu diremehkan?Bagaimana mungkin dia akan mengatakannya?Bagaimana mungkin dia berani mengatakan kebenarannya?Di tengah rasa malu yang menyelimuti dirinya, terdengar suara wanita dari belakang.“Baron, ayo balik ke desa.”Baron menoleh, lalu melambaikan tangannya.“Oke, Mbak! Mbak Mus, coba lihat siapa yang datang?”Baskara berbalik, wajahnya menegang.“Mustika.”Langkahku terhenti. Ada kilatan ketidaksabaran di

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 9

    Wajah perempuan itu terlihat agak tenang.“Aku nggak tahu soal orang lain, tapi suamiku bukan orang yang seperti itu,” ucapnya pelan.“Awalnya, aku juga sempat takut… takut mempermalukannya. Apalagi di desa, banyak wanita intelektual yang juga menyukai suamiku.”“Tapi…”Perempuan itu menunduk, menatap bayi di pelukannya dengan sorot mata yang begitu lembut.“Tapi suamiku pernah bilang, sejak menikahiku… dia akan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Katanya, dia adalah kepala keluarga, lahir dari tanah pedesaan, sama sepertiku. Kalau ada orang yang merendahkanku… itu karena mereka lebih dulu merendahkannya.”“Dia juga bilang… karena sering nggak di rumah karena tugas tentara, semua urusan dalam dan luar rumah, aku yang urus. Dia merasa berutang banyak padaku. Bahkan kalau nanti dia melipatgandakan kebaikannya padaku, tetap nggak akan pernah cukup untuk menebusnya.”Bayi yang sudah kenyang itu mengangkat tangan mungilnya, menggosok-gosok mata.Perempuan itu tampak dengan lembut meny

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 8

    Sementara dia… bergabung ke militer, menempuh jalan hidup yang dipilihnya sendiri.Baskara tak berani mengakui.Di balik sikap benci dan dinginnya yang selalu dia tunjukkan padaku dan Dimas… sebenarnya tersimpan rasa bersalah yang besar.Galaknya hanya topeng, tapi hatinya pengecut.Karena itulah, meski dia tahu…Bahwa aku tinggal di desa selama delapan tahun demi berbakti pada orang tuanya.Tahu aku menunggunya selama delapan tahun.Tahu betapa tulus dan tanpa pamrihnya aku.Tahu betapa sungguh-sungguhnya perasaanku padanya.Dia tetap tak mau mengakui.Dan tak berani mengakui.Setiap kali melihatku dan Dimas, yang terbayang di benaknya adalah kebobrokannya sendiri.Karena demi melarikan diri dari hidup yang tak ingin dia jalani, dia telah mengurung seorang gadis tak bersalah selama delapan tahun.Tanpa sadar, tangannya kembali terulur hendak mengambil rokok. Namun, suara seorang perempuan dari seberangnya menghentikan gerakannya.“Mas… bisa tolong ambilkan air panas?”Perempuan itu te

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 7

    Baskara tak tahu bagaimana reaksi Helena. Sekalipun tahu, dia tak akan terlalu memikirkannya.Begitu keluar dari aula, dia menyandarkan tubuhnya yang lesu ke dinding. Dia menarik sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam hingga asap memenuhi rongga dadanya.Barulah setelah menghembuskan napas panjang, dia seperti hidup kembali.Musik dari dalam aula masih terus berdentum. Baskara hanya melirik sekilas, sebelum akhirnya berbalik pergi.Dia rindu… rindu yang samar pada kampung halaman.Dia membuka pintu gerbang halaman.Malam ini, cahaya bulan begitu terang, jatuh menerangi kebun sayur yang terlihat sedikit berantakan.Dua petak tanah. Tidak besar, juga tidak kecil. Begitu melihatnya, jelas hasil tangan orang yang terbiasa bekerja di kebun. Tanahnya diratakan dengan rapi, garis-garisnya teratur.Hanya saja, beberapa tunas liar yang tumbuh sembarangan merusak harmoni itu.Tangannya yang terselip di saku kembali terasa gatal. Baskara mengeluarkan korek api, tapi tepat saa

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 6

    Komandan Imran mengerutkan keningnya, berusaha membela Baskara.“Kamu juga aneh, Baskara. Mereka itu bukan kerabat dekatmu, kenapa malah kamu bawa tinggal di kompleks keluarga.”“Menurutku, lebih baik kamu cepat suruh mereka pergi. Jangan sampai hubunganmu sama Helena terganggu.”“Kalau kamu sungkan atau nggak tega, bilang sama aku. Biar aku yang urus.”Meski Komandan Imran tampak begitu bersemangat membela, jelas sekali ada rasa bersalah melintas di wajah Baskara.Aku dan Baskaran adalah pasangan muda.Saat itu, dia baru delapan belas tahun, sementara aku tujuh belas.Hanya berjumpa satu kali dari kejauhan, kami langsung memutuskan untuk hidup bersama. Dua minggu setelah menikah, Baskara bergabung dengan militer.Di militer, dia bertemu rekan-rekan dari berbagai penjuru negeri, mendengar cerita mereka yang bermacam-macam membuatnya menyadari perbedaan nasib manusia. Pada awalnya, setiap kali sulit tidur, dia selalu memikirkan keluarganya yang berada jauh di sana.Memikirkan istri yang

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 5

    “Mustika! Mustika!”“Dimas!”Baskara membuka setiap pintu kamar satu per satu, memeriksa setiap sudut rumah tanpa terlewat.Kosong.Sepi.Tak ada seorang pun.Aku dan anakku benar-benar sudah pergi.Tanpa sepatah kata pun.Tanpa pamit.Baskara terduduk di sofa, suasana hatinya campur aduk.Bukankah ketenangan seperti ini yang selama ini dia inginkan?Namun entah kenapa…Justru hatinya terasa semakin tak tenang.Apa mungkin… Sebenarnya dalam seminggu terakhir, dia sudah terbiasa dengan keberadaanku dan Dimas?Namun yang dia cintai bukankah Helena?Ya, wanita yang dia cintai hanya Helena.Sosok wanita seperti Helena-lah yang pantas untuk dirinya cintai.Mustika hanyalah perempuan desa.Ya, hanya perempuan dari kampung, tak lebih.Baskara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Dia masuk ke kamar, membuka lemari dan mengeluarkan perlengkapan tidurnya yang dulu.Di hari pertama aku dan Dimas tiba di kesatuan, Baskara berkata tegas padaku.“Mustika… kamar ini untukmu. Tapi kita nggak mungkin s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status