Share

Bab 2

Author: Rain
Aku memeluk tubuh hangat anakku erat-erat. Rasanya seperti seseorang yang hampir tenggelam, tiba-tiba menemukan pegangan yang menyelamatkan hidupnya.

“Mama nggak nangis. Dimas… Mama akan bawa kamu pulang. Pulang ke rumah kita.”

Masih sepuluh hari lagi menuju hari Rabu minggu depan.

Aku akan menyelesaikan semuanya… lalu membawa Dimas pulang.

Ya, pulang ke rumah kami yang sebenarnya.

….

Tinggal tujuh hari lagi sebelum aku harus melapor ke kantor desa.

Aku berencana pergi ke koperasi untuk memilih beberapa kain. Aku ingin membuatkan dua set pakaian baru untuk anakku.

Selama beberapa tahun terakhir, kesehatan mertuaku buruk, keluarga kami pun hidup pas-pasan. Usia Dimas sudah tujuh tahun, tapi semua bajunya penuh tambalan.

Koperasi di area militer jauh lebih besar daripada yang ada di desaku. Pilihan kainnya pun lebih beragam.

Aku berdiri di samping etalase, memilih kain dengan hati-hati.

Tepat di saat aku sudah memutuskan, suara perempuan yang familier terdengar di sampingku.

“Kenapa kamu belikan aku krim perawatan kulit, Bas? Yang lama aja belum habis.”

Helena mengedipkan mata, menatap pria di depannya dengan manja dan malu-malu.

Tatapan Baskara lembut… sangat lembut.

Jauh berbeda dari sikap acuhnya padaku.

“Kalau belum habis, simpan aja. Aku ingin belikan lagi buatmu,” ucap Baskara santai.

“Nanti jadi sia-sia, dong, Bas,” ucap Helena dengan nada manja dan sedikit cemberut sambil menutupi mulutnya.

Baskara tersenyum kecil.

“Untukmu… nggak ada yang sia-sia,” ucapnya ringan, tak peduli.

Aku berdiri di pinggir, hampir meremas kain di tanganku sampai sobek.

Sekotak krim perawatan kulit harganya empat ribu.

Sementara satu kilo beras hanya seribu.

Di desa, hanya wanita intelektual muda yang dikirim ke pedesaan yang mampu membeli barang semacam itu.

Delapan tahun menikah dengan Baskara.

Delapan tahun pula aku hidup menghemat.

Dia tak pernah sekali pun membelikanku krim perawatan kulit.

Aku bahkan tak pernah rela membelinya untuk diriku sendiri.

Kadang, saat berpapasan dengan para wanita intelektual muda, aku diam-diam menghentikan langkahku hanya untuk mencium sisa aroma harum yang tertinggal di udara.

Dulu, aku tak pernah iri pada siapa pun.

Tapi sekarang, aku hanya merasa diriku menyedihkan.

Ternyata, hidup hemat yang kulakukan bersama anakku, hanya agar Baskara punya uang lebih untuk menyenangkan wanita lain.

Setelah berjuang menahan emosi, akhirnya pasangan itu berjalan pergi.

Aku menoleh.

Dua sosok mereka perlahan memudar di kejauhan.

Aku berdiri di sudut ruangan yang gelap, seperti tikus abu-abu yang lusuh.

Seorang pramuniaga mendekat.

“Ibu sudah memilih kainnya?” tanyanya ramah.

Aku mengangguk, meletakkan kain putih, lalu meraih kain biru sederhana khas pekerja dan petani.

“Aku mau dua lembar yang ini. Berapa harganya?” tanyaku.

“Eh…” Pramuniaga itu tampak terkejut.

“Kain ini agak mahal, Bu. Totalnya tiga ribu. Ibu yakin?” lanjut pramuniaga.

Aku tersenyum tipis, berusaha menahan pahit di hati.

Ternyata, meski aku memilih kain biru paling mahal di koperasi, tetap tak sebanding dengan sekotak krim perawatan kulit yang sederhana itu.

….

Malam harinya, setelah menidurkan Dimas, aku duduk di ruang tamu dan mulai menjahit pakaian baru. Tinggal beberapa hari lagi sebelum kepergianku, aku harus menyelesaikannya secepat mungkin.

“Kenapa belum tidur?”

Suara dingin Baskara tiba-tiba terdengar, membuatku terkejut.

“Sebentar lagi, suhunya akan turun, aku mau buatkan Dimas baju baru,” jawabku tetap fokus menjahit, malas mendongak ke arah Baskara.

Baskara datang menghampiri. Begitu melihat kain biru di tanganku, alisnya langsung berkerut.

“Kenapa beli kain semahal itu? Dimas masih kecil, pakai apa aja juga bisa!”

“Anak-anak lain juga nggak pakai kain sebagus ini,” ucap pria itu.

Aku menggigit benang untuk memutusnya, lalu pindah tempat dan melanjutkan jahitan.

“Itu urusan mereka. Dimas anakku. Aku mau kasih dia baju yang bagus,” jawabku.

Raut wajah Baskara berubah suram.

“Mustika! Ini karena aku nggak ngebolehin Dimas panggil aku ‘ayah’, ‘kan?”

“Dimas aja nggak keberatan. Tapi kenapa kamu malah nyindir aku begitu?” ucap pria itu kesal.

Tanganku yang sedang menjahit terhenti. Aku menatap kain bahan itu, tapi pikiran melayang entah ke mana.

Dimas tak keberatan karena dia pengertian. Karena dia dewasa sebelum waktunya.

Namun… sejak kapan kebaikan seorang anak justru menjadi alasan untuk memperlakukannya tak adil?

Mungkin diamku membuat Baskara kesal.

Tiba-tiba dia mengambil paksa kain itu dari tanganku.

Jarum menggores telapak tanganku, meninggalkan bekas darah, membuatku menahan napas dingin.

Baskara terdiam.

Amarah di wajahnya seketika berubah menjadi penyesalan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 10

    Perempuan yang Baron sebut sebagai sosok cerdas dan tangguh itu… benarkah Mustika?Kenapa selama ini Baskara sama sekali tak tahu?Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu pikiran Baskara, membuatnya kebingungan.“Oh iya, Mas. Omong-omong, kenapa Mbak Mustika balik lagi ke desa? Apa di kesatuan nggak nyaman?”Baskara ingin menjawab, dia membuka mulutnya, tapi tak sepatah kata pun keluar.Apa lagi yang harus dia bilang?Bilang di kesatuan tak ada yang mau mengakui Mustika dan Dimas?Bilang mereka selama ini hanya dipandang sebagai kerabat miskin yang hanya menumpang ketenaran dan selalu diremehkan?Bagaimana mungkin dia akan mengatakannya?Bagaimana mungkin dia berani mengatakan kebenarannya?Di tengah rasa malu yang menyelimuti dirinya, terdengar suara wanita dari belakang.“Baron, ayo balik ke desa.”Baron menoleh, lalu melambaikan tangannya.“Oke, Mbak! Mbak Mus, coba lihat siapa yang datang?”Baskara berbalik, wajahnya menegang.“Mustika.”Langkahku terhenti. Ada kilatan ketidaksabaran di

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 9

    Wajah perempuan itu terlihat agak tenang.“Aku nggak tahu soal orang lain, tapi suamiku bukan orang yang seperti itu,” ucapnya pelan.“Awalnya, aku juga sempat takut… takut mempermalukannya. Apalagi di desa, banyak wanita intelektual yang juga menyukai suamiku.”“Tapi…”Perempuan itu menunduk, menatap bayi di pelukannya dengan sorot mata yang begitu lembut.“Tapi suamiku pernah bilang, sejak menikahiku… dia akan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Katanya, dia adalah kepala keluarga, lahir dari tanah pedesaan, sama sepertiku. Kalau ada orang yang merendahkanku… itu karena mereka lebih dulu merendahkannya.”“Dia juga bilang… karena sering nggak di rumah karena tugas tentara, semua urusan dalam dan luar rumah, aku yang urus. Dia merasa berutang banyak padaku. Bahkan kalau nanti dia melipatgandakan kebaikannya padaku, tetap nggak akan pernah cukup untuk menebusnya.”Bayi yang sudah kenyang itu mengangkat tangan mungilnya, menggosok-gosok mata.Perempuan itu tampak dengan lembut meny

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 8

    Sementara dia… bergabung ke militer, menempuh jalan hidup yang dipilihnya sendiri.Baskara tak berani mengakui.Di balik sikap benci dan dinginnya yang selalu dia tunjukkan padaku dan Dimas… sebenarnya tersimpan rasa bersalah yang besar.Galaknya hanya topeng, tapi hatinya pengecut.Karena itulah, meski dia tahu…Bahwa aku tinggal di desa selama delapan tahun demi berbakti pada orang tuanya.Tahu aku menunggunya selama delapan tahun.Tahu betapa tulus dan tanpa pamrihnya aku.Tahu betapa sungguh-sungguhnya perasaanku padanya.Dia tetap tak mau mengakui.Dan tak berani mengakui.Setiap kali melihatku dan Dimas, yang terbayang di benaknya adalah kebobrokannya sendiri.Karena demi melarikan diri dari hidup yang tak ingin dia jalani, dia telah mengurung seorang gadis tak bersalah selama delapan tahun.Tanpa sadar, tangannya kembali terulur hendak mengambil rokok. Namun, suara seorang perempuan dari seberangnya menghentikan gerakannya.“Mas… bisa tolong ambilkan air panas?”Perempuan itu te

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 7

    Baskara tak tahu bagaimana reaksi Helena. Sekalipun tahu, dia tak akan terlalu memikirkannya.Begitu keluar dari aula, dia menyandarkan tubuhnya yang lesu ke dinding. Dia menarik sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam hingga asap memenuhi rongga dadanya.Barulah setelah menghembuskan napas panjang, dia seperti hidup kembali.Musik dari dalam aula masih terus berdentum. Baskara hanya melirik sekilas, sebelum akhirnya berbalik pergi.Dia rindu… rindu yang samar pada kampung halaman.Dia membuka pintu gerbang halaman.Malam ini, cahaya bulan begitu terang, jatuh menerangi kebun sayur yang terlihat sedikit berantakan.Dua petak tanah. Tidak besar, juga tidak kecil. Begitu melihatnya, jelas hasil tangan orang yang terbiasa bekerja di kebun. Tanahnya diratakan dengan rapi, garis-garisnya teratur.Hanya saja, beberapa tunas liar yang tumbuh sembarangan merusak harmoni itu.Tangannya yang terselip di saku kembali terasa gatal. Baskara mengeluarkan korek api, tapi tepat saa

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 6

    Komandan Imran mengerutkan keningnya, berusaha membela Baskara.“Kamu juga aneh, Baskara. Mereka itu bukan kerabat dekatmu, kenapa malah kamu bawa tinggal di kompleks keluarga.”“Menurutku, lebih baik kamu cepat suruh mereka pergi. Jangan sampai hubunganmu sama Helena terganggu.”“Kalau kamu sungkan atau nggak tega, bilang sama aku. Biar aku yang urus.”Meski Komandan Imran tampak begitu bersemangat membela, jelas sekali ada rasa bersalah melintas di wajah Baskara.Aku dan Baskaran adalah pasangan muda.Saat itu, dia baru delapan belas tahun, sementara aku tujuh belas.Hanya berjumpa satu kali dari kejauhan, kami langsung memutuskan untuk hidup bersama. Dua minggu setelah menikah, Baskara bergabung dengan militer.Di militer, dia bertemu rekan-rekan dari berbagai penjuru negeri, mendengar cerita mereka yang bermacam-macam membuatnya menyadari perbedaan nasib manusia. Pada awalnya, setiap kali sulit tidur, dia selalu memikirkan keluarganya yang berada jauh di sana.Memikirkan istri yang

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 5

    “Mustika! Mustika!”“Dimas!”Baskara membuka setiap pintu kamar satu per satu, memeriksa setiap sudut rumah tanpa terlewat.Kosong.Sepi.Tak ada seorang pun.Aku dan anakku benar-benar sudah pergi.Tanpa sepatah kata pun.Tanpa pamit.Baskara terduduk di sofa, suasana hatinya campur aduk.Bukankah ketenangan seperti ini yang selama ini dia inginkan?Namun entah kenapa…Justru hatinya terasa semakin tak tenang.Apa mungkin… Sebenarnya dalam seminggu terakhir, dia sudah terbiasa dengan keberadaanku dan Dimas?Namun yang dia cintai bukankah Helena?Ya, wanita yang dia cintai hanya Helena.Sosok wanita seperti Helena-lah yang pantas untuk dirinya cintai.Mustika hanyalah perempuan desa.Ya, hanya perempuan dari kampung, tak lebih.Baskara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Dia masuk ke kamar, membuka lemari dan mengeluarkan perlengkapan tidurnya yang dulu.Di hari pertama aku dan Dimas tiba di kesatuan, Baskara berkata tegas padaku.“Mustika… kamar ini untukmu. Tapi kita nggak mungkin s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status