共有

Panas

last update 公開日: 2026-10-12 22:00:15

Hari Sabtu, orang-orang sedang bersantai. Bapak dan Ibu mertua di rumah semua nggak ke sawah. Katanya mau istirahat. Tapi di rumah malah masak nasi megono dan bikin ingkung dari ayam jantan jawa. Mereka bilang mau buat selamatan. Entah selamatan apa. Mungkin mau panen lagi.

Sore hari tiba-tiba ada mobil berhenti di depan rumah, membawa sepeda motor. Ibu mertua menyambut dengan senang. Begitupun Kang Ipul dan Bapak mertua. Mereka terlihat bungah.

"Wah apik!" seru Mbok'e dengan mata berbinar.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Aku dan Wisnu

    "Yaudah yuk!" Dia lalu menarik tanganku. Membawaku masuk ke sebuah kedai. Aroma penyetan yang nikmat bikin aku lupa sama kekesalan yang baru aja kualami. Padahal aku pengen mencak-mencak sama dia. Tapi sekarang pengen ngisi perut yang banyak karena sudah kosong. "Mau pesen apa?" tanyanya. Mataku liar melihat-lihat menu. Aneka olahan ayam dan ikan komplit. Belum lagi sayurannya juga komplit. Jadi galau mau pilih apa."Ayam bakar aja deh." "Itu aja?" tanya Kang Ipul. Akupun mengangguk. Malu lah kalau mau pesan macam-macam. Apalagi aku dan dia masih ngambang hubungannya. Aku juga sudah janji nggak mau bergantung sama dia, nggak mau memanfaatkan dia, kalau pesan makanan banyak-banyak, sama aja manfaatin kan. Dia lalu memesan makanan pada pegawai kedai. Sementara sambil nunggu, aku disuruh ngambil nasi dan juga aneka lalapan. Disini lalapan dan nasi ambil sendiri sepuasnya. Akupun dengan bebas memilih berbagai lalapan. Biar kaya kambing nggak apa-apalah yang penting enak. "Jangan b

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Jangan Marah

    "Kang ...." Aku menghambur ke pelukan Kang Ipul. Laki-laki yang baru saja turun dari mobil itu kebingungan. Diapun mengajakku masuk. "Ternyata uang jajan dari Kang Ipul dikasih ke Mbak Santi," ucapku sambil nangis sesenggukan. Sampai ingus ikutan molor-molor. "Yaudah nggak apa-apa, nanti aku kasih lagi," ucapnya menangkan."Nggak apa, kang Ipul bilang? Berarti kang Ipul ngebolehin uangnya buat mbak Santi!" Aku menatapnya garang."Jangan-jangan sengaja ya, emamg mau dikasihin ke dia, Kang Ipul masih suka sama dia?" "Loh kok jadi begini si? Kan namanya udah nggak ada ya gimana." "Kang Ipul jahaaat ...! Aku menjerit, sambil memukuli dadanya. Ipul diam saja nggak bereaksi. Hanya sesekali aku melihat matanya berkedip, menahan perih di dada akibat pukulanku. Tapi tidak sekalipun dia mendorongku pergi atau menepis tanganku.Tangisku makin pecah. Bahuku bergetar. Aku terus memukulnya hingga tenagaku habis, lalu menutup wajahku dengan tangan. Hening beberapa menit. Nafasku terengah.Lalu

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Drama Uang Jajan

    "Masak apa, Mak?" Terdengar suara Mbak Santi dari luar. Ternyata dia masih ingat pulang. Aku penasaran dia kemana aja pas nggak di rumah. "Kamu pulang-pulang langsung nanyain makanan, bukannya nanyain kabar orang tua," ucap Mamak sambil meracik bumbu. Sementara Mbak Santi nggak ada sedikitpun niat membantu. Dia asik main ponsel dan sibuk malak Mamak kaya preman pasar. "Bagus ya, seminggu nggak pulang, kemana aja kamu, Santi!" Bapak datang dan langsung marah-marah. Aku jadi nggak nyaman, tapi penasaran dan mendekati mereka yang sedang berada di dapur. "Santai aja dong, Pak, aku ini nyari kerja, tapi belom dapet-dapet." Mbak Santi berkata dengan santai. Dia benar-benar nggak ada hormatnya sama orang tua. "Terus selama seminggu kamu tidur dimana, Santi, kamu ini anak perempuan, kenapa suka banget kelayapan, sehari di rumah, seminggu nggak di rumah!" "Bapak tenang to, Pak, ini anak kita baru aja pulang kok malah dimarahin gini, nanti dia tambah nggak betah di rumah gimana coba?"

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Suamiku

    Yunita Aku menangis sesenggukan. Sampai beberapa saat baru sadar sudah duduk di dalam mobil. Kayaknya tadi Kang Ipul gendong aku terus bawa masuk ke mobil. "Kok Kang Ipul disini?" tanyaku. Meski masih edisi sedih-sedih, tapi aku tetap memakai logika. Ngapain juga orang ini disini. Dari kemarin perasaan aku sering lihat dia di sekitar kampus. Kalo itu si alesan antar-jemput Tika masih masuk akal. Tapi kalo di warung seblak, kan dia nggak doyan seblak. Setelah kemarin nganter aku pulang, masa sekarang kesini lagi. Niat banget kayaknya. Jangan-jangan .... "Nggak penting aku ngapain, yang penting kamu nggak digodain cowok-cowok nakal itu." Dia berusaha berkelit. "Tetep penting, Kang!" Aku keukeuh mau tau alasan dia. "Kenapa?" "Ya karena Kang Ipul itu penting buat aku--" Eh. Aku segera menutup mulut. Ngomong apa si aku ini. "Aku habis anter sayuran di daerah sini." Dia akhirnya ngejawab dengan wajah memerah. "Sayur apa?" "Ya sayur macem-macem hasil panen, ada yang pesen d

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Tunggu Aku

    Sekarang aku mantap jemput Yunita buat pulang ke rumah. Tapi nggak hari ini. Aku mesti mantau dulu setiap hari. Gadis itu cukup keras kepala. Pasti nggak akan mudah ngajak di pulang. Tapi aku juga harus lebih berusaha lagi supaya bisa membungkusnya. Aku memarkirkan motor. Kemudian masuk ke warung makan yang bersebelahan dengan tempat Yunita kerja. Dari sini aku nungguin Yunita. Sambil sesekali ngintip ke warungnya buat mantau dia. Untung warung ini modelnya terbuka. Sehingga bisa bebas melihat ke luar karena dilengkapi jendela kaca. Jadi aku bisa mantau Yunita dari sini. ."Kang Ipul kesini lagi?" tanyanya heran. Setelah warungnya tutup, aku langsung menghampirinya. Nggak sanggup berlama-lama nunggu dia jalan keluar warung. "He'em, mau mastiin kalo istriku baik-baik aja, ayo aku anter pulang!" jawabku bikin dia kikuk. Kugenggam tangannya dan langsung kutarik supaya dia mau ikut, tapi agaknya anak ini ragu-ragu. "Ngapain si, Kang, nggak usah repot-repot, masa tiap hari mau nganter

  • Sabar, Mas Aku Masih Kecil   Empat Mata

    Ipul Aku dan Wisnu duduk berdua dengan canggung. Nggak ada angin, nggak ada hujan, cowok seumuran Yunita itu datang menemuiku. Tepat saat aku lagi melakukan penguntitan sama Yunita seperti biasa. Rasanya jadi kaya ketahuan maling mangga, tapi belum sempat manjat pohonnya. Wisnu bilang mau bicara penting sama aku. Entah apa yang mau dia bicarakan, tapi feelingku, ini ada hubungannya dengan Yunita. Akhirnya aku ngajak dia ke kafe yang nggak jauh dari area kampus. Tempat ini cukup tenang, nggak ramai anak-anak kampus, jadi amanlah kalau mau ngobrol-ngobrol tanpa takut dikupingi teman Yunita. ."Jadi ada keperluan apa, kamu nemui aku, Wisnu?" tanyaku tanpa banyak basa-basi. "Sebenarnya ... Maaf, aku cuma mau mastiin." Dia menjeda ucapannya. Kopi kitam yang masih mengepulkan asap, dihirupnya perlahan. "Jadi sebenarnya njenengan itu suaminya Yunita?" tanyanya bikin aku hampir keselek. Kopi yang baru saja masuk tenggorokan hampir saja nyembur. Dari mana dia tahu? "Ya ... begitulah." Ak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status