로그인"Kang ...." Aku menghambur ke pelukan Kang Ipul. Laki-laki yang baru saja turun dari mobil itu kebingungan. Diapun mengajakku masuk. "Ternyata uang jajan dari Kang Ipul dikasih ke Mbak Santi," ucapku sambil nangis sesenggukan. Sampai ingus ikutan molor-molor. "Yaudah nggak apa-apa, nanti aku kasih lagi," ucapnya menangkan."Nggak apa, kang Ipul bilang? Berarti kang Ipul ngebolehin uangnya buat mbak Santi!" Aku menatapnya garang."Jangan-jangan sengaja ya, emamg mau dikasihin ke dia, Kang Ipul masih suka sama dia?" "Loh kok jadi begini si? Kan namanya udah nggak ada ya gimana." "Kang Ipul jahaaat ...! Aku menjerit, sambil memukuli dadanya. Ipul diam saja nggak bereaksi. Hanya sesekali aku melihat matanya berkedip, menahan perih di dada akibat pukulanku. Tapi tidak sekalipun dia mendorongku pergi atau menepis tanganku.Tangisku makin pecah. Bahuku bergetar. Aku terus memukulnya hingga tenagaku habis, lalu menutup wajahku dengan tangan. Hening beberapa menit. Nafasku terengah.Lalu
"Masak apa, Mak?" Terdengar suara Mbak Santi dari luar. Ternyata dia masih ingat pulang. Aku penasaran dia kemana aja pas nggak di rumah. "Kamu pulang-pulang langsung nanyain makanan, bukannya nanyain kabar orang tua," ucap Mamak sambil meracik bumbu. Sementara Mbak Santi nggak ada sedikitpun niat membantu. Dia asik main ponsel dan sibuk malak Mamak kaya preman pasar. "Bagus ya, seminggu nggak pulang, kemana aja kamu, Santi!" Bapak datang dan langsung marah-marah. Aku jadi nggak nyaman, tapi penasaran dan mendekati mereka yang sedang berada di dapur. "Santai aja dong, Pak, aku ini nyari kerja, tapi belom dapet-dapet." Mbak Santi berkata dengan santai. Dia benar-benar nggak ada hormatnya sama orang tua. "Terus selama seminggu kamu tidur dimana, Santi, kamu ini anak perempuan, kenapa suka banget kelayapan, sehari di rumah, seminggu nggak di rumah!" "Bapak tenang to, Pak, ini anak kita baru aja pulang kok malah dimarahin gini, nanti dia tambah nggak betah di rumah gimana coba?"
Yunita Aku menangis sesenggukan. Sampai beberapa saat baru sadar sudah duduk di dalam mobil. Kayaknya tadi Kang Ipul gendong aku terus bawa masuk ke mobil. "Kok Kang Ipul disini?" tanyaku. Meski masih edisi sedih-sedih, tapi aku tetap memakai logika. Ngapain juga orang ini disini. Dari kemarin perasaan aku sering lihat dia di sekitar kampus. Kalo itu si alesan antar-jemput Tika masih masuk akal. Tapi kalo di warung seblak, kan dia nggak doyan seblak. Setelah kemarin nganter aku pulang, masa sekarang kesini lagi. Niat banget kayaknya. Jangan-jangan .... "Nggak penting aku ngapain, yang penting kamu nggak digodain cowok-cowok nakal itu." Dia berusaha berkelit. "Tetep penting, Kang!" Aku keukeuh mau tau alasan dia. "Kenapa?" "Ya karena Kang Ipul itu penting buat aku--" Eh. Aku segera menutup mulut. Ngomong apa si aku ini. "Aku habis anter sayuran di daerah sini." Dia akhirnya ngejawab dengan wajah memerah. "Sayur apa?" "Ya sayur macem-macem hasil panen, ada yang pesen d
Sekarang aku mantap jemput Yunita buat pulang ke rumah. Tapi nggak hari ini. Aku mesti mantau dulu setiap hari. Gadis itu cukup keras kepala. Pasti nggak akan mudah ngajak di pulang. Tapi aku juga harus lebih berusaha lagi supaya bisa membungkusnya. Aku memarkirkan motor. Kemudian masuk ke warung makan yang bersebelahan dengan tempat Yunita kerja. Dari sini aku nungguin Yunita. Sambil sesekali ngintip ke warungnya buat mantau dia. Untung warung ini modelnya terbuka. Sehingga bisa bebas melihat ke luar karena dilengkapi jendela kaca. Jadi aku bisa mantau Yunita dari sini. ."Kang Ipul kesini lagi?" tanyanya heran. Setelah warungnya tutup, aku langsung menghampirinya. Nggak sanggup berlama-lama nunggu dia jalan keluar warung. "He'em, mau mastiin kalo istriku baik-baik aja, ayo aku anter pulang!" jawabku bikin dia kikuk. Kugenggam tangannya dan langsung kutarik supaya dia mau ikut, tapi agaknya anak ini ragu-ragu. "Ngapain si, Kang, nggak usah repot-repot, masa tiap hari mau nganter
Ipul Aku dan Wisnu duduk berdua dengan canggung. Nggak ada angin, nggak ada hujan, cowok seumuran Yunita itu datang menemuiku. Tepat saat aku lagi melakukan penguntitan sama Yunita seperti biasa. Rasanya jadi kaya ketahuan maling mangga, tapi belum sempat manjat pohonnya. Wisnu bilang mau bicara penting sama aku. Entah apa yang mau dia bicarakan, tapi feelingku, ini ada hubungannya dengan Yunita. Akhirnya aku ngajak dia ke kafe yang nggak jauh dari area kampus. Tempat ini cukup tenang, nggak ramai anak-anak kampus, jadi amanlah kalau mau ngobrol-ngobrol tanpa takut dikupingi teman Yunita. ."Jadi ada keperluan apa, kamu nemui aku, Wisnu?" tanyaku tanpa banyak basa-basi. "Sebenarnya ... Maaf, aku cuma mau mastiin." Dia menjeda ucapannya. Kopi kitam yang masih mengepulkan asap, dihirupnya perlahan. "Jadi sebenarnya njenengan itu suaminya Yunita?" tanyanya bikin aku hampir keselek. Kopi yang baru saja masuk tenggorokan hampir saja nyembur. Dari mana dia tahu? "Ya ... begitulah." Ak
"E—enggak, cuma… kebetulan lewat aja.” Aku gelagapan menerima pertanyaan dari Tika--adikku. “Lewat apanya, Mas? Ngapain coba Mas Ipul lewat-lewat sini kalo bukan buat Yunita!” Tika menyipitkan mata, jelas nggak percaya. “Udah berhari-hari aku lihat Kang Ipul mondar-mandir di sini." Aku terdiam. Mau ngeles pun percuma, Tika selalu bisa membaca ekspresiku. Akupun nggak terbiasa berbohong, pastinya susah dipercaya kalau bohong. “Jawab jujur, Mas. Sebenarnya Mas ngarepin Yunita kan?” tanyanya blak-blakan. Pertanyaan itu seperti paku yang ditancapkan ke dada. Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Aku…” "Ngaku aja kenapa si, Mas, Mas Ipul itu norak tau nggak, nguntit-nguntit kaya gini, kemarin-kemarin juga ternyata nguntit di warung seblak juga kan?" Aku menutup mata sejenak, lalu akhirnya mengaku, “Iya, Tik. Aku sayang sama Yunita. Aku nggak bisa melepaskan dia. Aku… nggak mau," ucapku pasrah. Tika tampak kaget, tapi ekspresinya cepat berubah jadi si







