Masuk"Ih, ini ayah gak akan pulang atau gimana?" Safir mondar-mandir di depan rumah menunggu gerbang terbuka lebar lalu mobil ayahnya datang, tapi sampai sekarang Safir tak melihat tanda-tanda, bahkan suara mobil pun tak terdengar di jalanan perumahan. Padahal jam 16.00 sore adalah jadwal Ferdi pulang.
Menatap ke arah langit, Safir dibuat khawatir dengan cuaca yang mendung. Kemungkinan besar hujan akan datang mengguyur kota Bandung. Kepala Safir kini bergerak menoleh ke rumahnya, lantas menggeleng pasrah.
Safir tidak suka jika dia berada sendirian di rumah saat hujan mengguyur. Selama bertahun-tahun tinggal di asrama, Safir tak akan mengkhawatirkan hal seperti ini karena akan ada teman-temannya yang menemani. Namun sekarang sudah berbeda lagi, Safir juga tak bisa menghubungi teman-teman seenaknya, karena di asrama punya waktu tersendiri untuk memainkan ponsel.
Jadi tanpa berpikir panjang Safir segera melesat ke dalam rumah untuk memakai hoodie dan juga membawa tas serta ponsel. Dia berlari cepat mengunci pintu rumah lalu mengendarai motor scoopynya dan pergi dari sana.
Di sepanjang perjalanan sore yang semakin dingin ini, Safir menemukan tempat yang dia rasa akan membuat keadaannya baik, apalagi tempatnya ramai. Jadinya dia memarkirkan motornya di tempat parkir, lalu segera ke dalam dan membawa helm turut serta agar tidak kehujanan nanti.
Safir menatap sekeliling tempat penjual batagor ini, benar ramai dan terasa hangat membuat senyumannya mengembang. Safir tidak salah memilih tempat.
"Téh, mau batagornya?"
Safir mengangguk saat penjual batagor bertanya. "Iya, satu porsi kak."
Penjual itu mengangkat satu jempolnya. "Ini téh nomor mejanya, silakan tunggu dulu."
Menerima nomor meja, Safir langsung masuk ke dalam. Ada banyak orang dan hanya menyisakan dua tempat kosong saja di sana, jadinya Safir segera memilih tempat yang berada di dekat akuarium besar yang menampilkan ikan-ikan cantik.
Safir masih asik memperhatikan ikan berenang, hingga dia dikejutkan dengan suara petir yang begitu keras, bahkan beberapa pengunjung sampai memekik dibuatnya. Kedua mata Safir terpejam erat, selain harus menahan teriakan terkejut, dia juga harus menahan tangannya yang mendadak bergetar hebat.
Apa mungkin panic attack-nya kambuh?
Safir mulai mengatur napasnya sendiri. Dia mencoba berpikir positif. Dibandingkan di rumahnya yang kosong, lebih baik Safir berada di tempat ramai agar menghilangkan semua perasaan cemas dan sepi di dalam dirinya. Namun itu semua ternyata tak menjamin keadaannya baik-baik saja. Karena Safir tetap sendiri di sini.
Meskipun keadaan kembali ramai dengan obrolan, pengunjung bertambah, serta musik dinyalakan, Safir tetap merasa kosong tak dipedulikan. Dia seperti benda yang tak terlihat sama sekali. Sendiri dan terabaikan.
Jadi semua yang dia lakukan, niatnya mencari tempat ramai, hanyalah sia-sia.
"Téh, téh, ini batagornya."
Safir masih berusaha mengendalikan diri saat penjual datang mengantar pesanan. Dia terus berusaha mengatur napasnya seiringan dengan air matanya yang berjatuhan bertepatan dengan hujan deras mengguyur.
"Téh? Tétéh kenapa?"
Safir jadi terisak mendengar pertanyaan itu, dia menggenggam kuat tangannya untuk menahan rasa cemasnya. "Gak papa, s-simpan aja dulu kak."
Penjual itu meletakan pesanan Safir bersama teh hangat di meja, dia tampak ragu jika pelanggannya ini baik-baik saja. "Téh, ada yang perlu dibantu gak?"
Kepala Safir menggeleng, suara petir yang kembali terdengar membuatnya terlonjak lagi, tak bisa mengendalikan diri. Safir tak tahu nasibnya akan bagaimana jika saja seseorang tak duduk di sampingnya dan merangkulnya.
"A, gak papa, ini temen saya, lagi takut hujan."
Mendengar pernyataan itu, penjual tadi jadi mengangguk dan kembali ke tempatnya bekerja. Sementara cowok yang berada di samping Safir itu segera mengusap pelan kedua pundaknya. "Tutup matanya dulu, atur pernapasan. Ayo tarik napas pelan-pelan, embusin pelan-pelan."
Safir menurut. Sedari tadi detak jantungnya benar-benar kencang disertai napas yang terasa sulit sekali dia kendalikan hingga akhirnya sekarang dia bisa bernapas lebih normal akibat bantuan cowok itu.
Safir masih memejamkan matanya, mencium aroma stroberi yang menguar lembut menusuk indra penciuman. Manis dan membuatnya tenang untuk saat ini.
Hingga lima menit berlalu, Safir bisa mengendalikan diri. Da mulai membuka matanya untuk melihat sekitar, termasuk melihat cowok yang membantunya barusan.
"Udah baikan?" cowok itu bertanya membuat Safir membelalak.
"K-kamu?"
Cowok itu tersenyum lembut dan mengangguk. "Lupa nih kita belum kenalan, padahal udah ketemu dua kali di sekolah. Gue Sean, nama lo siapa?"
˖°𓇼🌊⋆🐚
Namanya Sean Senandika. Cowok baik dan lembut yang menolong Safir dari hari pertama dia masuk ke SMA Nuansa Jaya. Dari mulai masalah helm, mengantar ke ruang guru, mengajak bergabung di kantin, hingga sekarang cowok itu mengantar Safir pulang setelah hujan reda, tepat begitu hari menjadi oranye, alias senja.
Saat ini Safir sedang melihat profil seorang Sean Senandika di laman web sekolahnya. Sean adalah siswa berprestasi, murid teladan dua tahun berturut-turut, dan mantan ketua MPK, selain itu, dia juga menjunjung tinggi nama esktrakurikuler tata boga di sekolah. Jika dideskripsikan lebih jauh, maka Sean Senandika hampir mendekati kata cowok sempurna melebihi robot canggih.
Safir tak percaya, Sean yang membantunya adalah sosok sempurna yang tiada tandingnya. Bahkan kebaikannya patut sekali dia acungi empat jempol sekaligus.
"Ganteng juga." Safir terus memelototi sebuah foto yang terpampang jelas di layar laptop. Wajar dia berkomentar seperti itu, selama ini dia tidak pernah memperhatikan cowok asing secara detail. Dia benar-benar jauh dari yang namanya cowok.
Safir kembali memutar apa yang terjadi padanya dengan Sean. Apa Sean memang harus sebaik itu? Atau sudah terbiasa menjadi murid teladan hingga cowok itu memang dituntut menjadi super ramah pada siapa pun yang dia lihat?
Mungkin seperti itu adanya. Safir tidak berhak menilai seseorang hanya karena pertemuan pertama mereka yang amat baik dan mulus, bahkan di pertemuan kedua dan ketiga yang terbilang manis. Safir belum mengalami hal ini, jadi dia tidak bisa langsung menyimpulkan, atau membawa-bawa perasaannya sendirian.
"Pertama interaksi sama cowok, terus dilembutin, emang bikin seneng ya?"
Safir menyingkirkan laptop di hadapannya, berbaring terlentang menghadap ke atas dengan satu tangan terangkat, seolah-olah bisa mencapai langit-langit kamarnya yang dihiasi planet-planet buatan.
"Udah lama gak diperhatiin ayah, masa aku harus ngemis perhatian cowok asing," gumamnya dengan senyuman miris.
Bus bisa menampung hingga lima belas orang atau lebih, tetapi karena belum ada penumpang lain, di bus warna merah muda itu hanya terisi Eight dan juga Safir. Cewek itu langsung antusias duduk di kursi paling sisi kanan agar bisa melihat langsung jalanan, kemudian di samping kirinya duduk Sam yang juga sama semangatnya. Menoleh ke belakang, Safir menghitung semua yang ada, dan mereka sudah lengkap. Di paling belakang ada Mahesa dan juga Jho, sementara di depan dengan kursi menyamping, Widra sudah merekam dengan senyum lebar. Bus mulai melaju dari Alun-Alun, Safir yang sudah tidak sabar hampir memekik, matanya melihat dan memperhatikan dengan semangat bangunan yang dilewati. Awalnya Safir ingin bertanya pada Sam, tetapi begitu ia mendengar sesuatu, pandangannya tertuju ke depan. Ada bagian kosong di depannya, bagian yang mana seorang pemuda berdiri memegang mikrofon, pakaiannya sama dengan sopir. "Cek, cek, satu, dua. Udah ya, nyala," ucap pemuda itu. "Halo, semuanya yang ada di sini
Safir berguling ke samping kiri untuk menyamankan posisi tidurnya. Hangat dan wangi teh yang samar mulai tercium membuatnya tenang sekaligus tergoda untuk membuka mata. Pada akhirnya kelopak matanya bergerak, menyesuaikan cahaya yang masuk hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaannya sendiri. Kini, suara seorang wanita dari televisi mulai jelas di telinganya. Safir menoleh ke sisi kiri di mana ia bisa merasakan dengan jelas kehadiran seseorang, sedang meneguk sesuatu di cangkir yang mengepulkan uap. "Sean?" Safir buru-buru bangkit, membuat selimut yang membungkusnya jatuh sampai pinggang. "Kamu udah baikan? Sini aku periksa dulu."Sean tersenyum dan sedikit menunduk agar punggung tangan Safir menyentuh keningnya. "Gue udah gak panas, udah sembuh," jawabnya. "Lo lanjut tidur aja, belum sore, kok." Helaan napasnya terdengar ringan, suhu tubuh Sean tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat masih pucat. Pandangan Safir mengedar sesaat. Ia berada di ruangan keluarga, entah sej
Ini kedua kali Safir mengunjungi rumah Abah. Suasananya masih sama nyamannya dan hangat, membuat senyumannya juga mengembang ketika Abah menyambut dengan sapaan khas. Safir langsung menghampiri dan mencium tangan pria paruh baya itu."Apa kabar, Abah?""Baik, Neng. Seneng pisan Abah kalian ke sini lagi," ucap Abah, kini mereka semua duduk di tempat biasa.Semua bisa melepaskan senyum santai di sini, tanpa paksaan sama sekali. Untuk saat ini, Harka menghampiri Abah dan mendekat. "Sean semalam ke sini, Abah?" tanyanya, dia duduk di lantai sementara Abah duduk di kursi dan mengangguk ketika pundak Harka bersandar pada satu kakinya."Sekarang dia lagi istirahat, udah minum obat penurun panas tadi.""Dia kenapa, Abah?"Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Harka, Abah tidak langsung menjawab, dia memberikan jeda panjang hingga akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tanya sendiri, Ka. Abah juga belum tahu, Abah belum sempat nanya."Harka langsung mengangguk, dia tidak beranjak dari tempatnya d
Abah mengusap kepala Sean seperti anaknya sendiri, memberi ketenangan sekaligus kekuatan, membuat Sean menoleh dengan tatapan kosong."Maafin Sean, Abah. Sean gak sopan berkunjung di jam segini."Abah menggeleng. "Teu nanaon. Minum dulu, jangan mikirin ganggu atau nggak, tenangin dulu diri kamu."(Gak papa)Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tatapannya tak jelas mengarah ke mana, dan luka-luka yang terlihat jelas di bawah sorotan lampu, Sean terlihat bukan Sean yang sama. Abah jelas tidak menduga itu akan terjadi, tapi dia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.Nugroho dan orang tuanya sendiri. Yang jelas, Abah juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, dia harus berada di batas aman demi anaknya, berhubung sang istri sudah menjadi korban.Elusan lembut terus Abah berikan pada kepala Sean, dia tak bisa memijat pundak remaja itu sebab ada luka di sana yang akan membuatnya sakit jika disentuh.Abah menghela napas ketika Sean membawa gelas dengan gemetar, lalu meneguk airnya. "Sekar
"Katanya kamu berbuat onar dan membantah perintahnya. Apa aja yang kamu lakukan, Sean?!"Cambukan lain di punggungnya membuat Sean meringis pelan, tetapi dia tidak mengeluh atau berteriak meminta ampun seperti pertama kali mengalami. Sean cukup menahan diri hingga terbiasa sampai kini. Kepalanya tertunduk, tidak begitu dalam, tetapi mampu menyembunyikan wajah dari ibunya yang membentak dan ayahnya yang terus melayangkan cambukan kasar."Jawab, Sean!" Suara ayahnya turut keluar, membuat suasana yang kacau kian tak mengenakan."Sean mau keluar."Cambukan terhenti, napas berat yang saling bertautan memenuhi seisi kamar Sean yang gelap yang menyesakkan. Kedua orang tuanya terdiam seperti menyaksikan anak satu-satunya melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh diperbuat sepanjang hidupnya."Maksud kamu apa?!" Wanita paruh baya itu melangkah maju, menarik rambut bergelombang Sean membuat anaknya mendongak paksa. "Apa yang kamu maksud keluar?!""Sean gak mau, Ma." Se
"Manis?" Sam mengerjap untuk memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak. Ternyata memang tidak salah jika yang datang ke kantin adalah Safir. Kemarin dia sudah menunggu cewek itu, tetapi Jho mengatakan Safir tidak masuk sekolah dan wali kelasnya mengatakan ayahnya yang mengabari bahwa Safir izin tidak masuk.Sam tentu saja khawatir, berhubung dia tahu tentang kondisi Safir dan ayahnya, mengenai fakta yang ada, dan beberapa masalah lainnya. Dia bahkan rela berdiri di depan pagar rumah Yasa, berharap Safir keluar dari rumahnya. Namun cewek itu tidak muncul.Safir menatap Sam yang memegang kedua tangannya, dia berikan senyuman tulus untuk cowok itu. "Hai, Sam. Kenapa kayak cemas gitu?"Sam termenung. Bagaimana mungkin cewek yang sudah menangis sejadi-jadinya malam itu sekarang bisa tersenyum begitu cerah? Sam mengembuskan napasnya perlahan. "Lo gak papa? Kenapa kemarin gak masuk? Gue khawatir, lho.""Oh, kemarin." Safir kembali mengingat hal-hal yang kemarin terjadi, kemudian dia
"Kenapa saya?" Harka langsung melontarkan pertanyaan, nadanya jelas tidak menyetujui, ada pemberontakan di sana."Karena Neyna tidak bisa." Andre menatap anaknya sendiri, kemudian kembali pada Harka. "Anak saya hanya satu--Neyna. Tetapi ada kamu yang hadir di sini, maka kamu yang akan meneruskan sa
"Gue manggil mereka biar gak sepi, seenggaknya gak diem doang di sini." Tatapan Yasa mengarah pada Safir yang masih duduk di sofa, tapi bukan di ruang tamu, ini ruangan yang biasa digunakan ketika Eight berkumpul.Apa yang dimaksud Yasa barusan adalah dia mengundang Eight untuk datang malam ini. Ya
Safir sekarang tahu jawaban jelasnya. Hal-hal buram yang membuatnya bertanya-tanya sudah menjadi kejelasan hingga rasa sakit menggila dalam diri. Pantas saja wanita yang dia anggap ibu kandungnya pergi begitu saja tanpa mau melihat, pantas saja pria yang dia akui sebagai ayah kandungnya pun berubah
"Eh lo semua tahu gak?! Waktu udah ngintip jawaban gue, gurunya bilang 'anak-anak isinya santai aja jangan ngasal, ini bukan pelajaran bahasa Indonesia yang bisa ngarang cerita!' gitu."Tawa terdengar mengisi ruang yang ada di area tenda pedagang kaki lima yang ditempati. Safir juga tidak bisa mena







