Share

4. Satu Peringatan

Penulis: Arira
last update Tanggal publikasi: 2026-03-16 09:32:05

Pagi ini, Safir tidak lupa menyimpan helm di tempat khusus di dekat parkiran, di sebuah bangunan kecil yang memang sengaja dibuat agar helm tidak terkena sinar matahari atau hujan. Jadi, semua murid tidak akan khawatir helmnya rusak atau repot-repot dibawa ke kelas. 

Hari kedua Safir berada di SMA Nuansa Jaya, dan hari kedua di mana dia tidak menemukan banyak motor yang terparkir. Tampaknya murid yang bersekolah di sekolah swasta Bandung ini memang dari kalangan atas semua, wajar jika hanya deretan mobil mewah yang berjajar, atau diantarkan oleh supir pribadi. Rasanya seperti berada di Jakarta saja.

Safir sudah memasuki kelasnya di lantai tiga gedung bagian barat. Dalam perjalanannya dia melamun, Safir bingung, dia belum memiliki teman dekat dengan gender cewek di kelasnya sendiri. Seperti yang sudah diceritakan, mereka semua membentuk kelompok masing-masing hingga Safir tidak enak jika tiba-tiba bergabung. Bagusnya dia diajak langsung bukan? Tapi sampai hari ini, belum ada mengajaknya. 

Saat ini langkah kaki Safir memutuskan membawanya ke dalam kantin yang belum ramai. Dia akan mengisi perutnya terlebih dahulu dibanding tidak sarapan sama sekali seperti kemarin. Lagi-lagi dia meninggalkan sarapan karena dia tidak akan menikmati sarapannya jika tidak ada teman. Lebih baik di sini, ada beberapa orang yang datang.

Safir membeli satu roti dan satu kotak susu murni lalu mendudukkan dirinya di meja paling ujung yang sebelumnya pernah dia tempati dengan kedelapan cowok yang salah satunya adalah Sean. 

Di tengah keheningan Safir menikmati rotinya, tiba-tiba saja dia merasakan seseorang duduk tepat di samping kanan membuatnya segera menoleh dan menemukan cowok bermata sipit dengan lesung pipi yang dalam. Cowok itu tersenyum manis seperti kemarin lengkap dengan headband yang selalu dikenakan.

"Pilihan tepat lo duduk di sini." Cowok itu terkekeh saat Safir mengerjap di tempatnya. "Lanjutin aja makannya, gue gak akan ganggu. Kebetulan tiap pagi gue selalu ke sini, mau pesen arumanis." 

Safir mengangguk-ngangguk dan mengalihkan pandangannya ke depan. Jika cowok itu setiap pagi ke sini dan duduk di meja yang sama, maka ... "Ini meja kalian berdelapan?" tanya Safir begitu dia menyadari sesuatu. Mungkin, kedelapan cowok itu sudah menetapkan tempat ini sebagai tempat mereka dan tak boleh ada yang menempati. Sekarang Safir seenaknya duduk di sana. "Maaf, aku pindah aja," ujarnya dan segera bangkit dari sana.

Tapi tangan Safir ditahan, cowok bermata sipit itu tersenyum lebar. "Gak masalah. Kemarin Harka udah ngizinin lo duduk di sini bareng kami, jadi gak papa."

"Harka?" Safir mengerutkan keningnya. Siapa Harka? Cowok yang mana?

"Lupa!" Cowok itu menepuk keningnya sendiri lantas terkekeh. "Kita belum kenalan. Gue Sam, lo siapa dan kelas mana?" 

Safir menjulurkan tangan kanannya, membalas jabatan tangan cowok bernama Sam. "Safir, kelas 12 IPA 4." 

"Oh?" Sam mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia menarik Safir agar duduk kembali. "Lo satu kelas sama Jho. Nanti siang gue jemput ke kelas lo, biar lo kenalan sama Eight."

"Eight?" Safir menatap Sam penuh tanya.

Kepala Sam mengangguk, dan terkekeh melihat ekspresi cewek di hadapannya. "Eight. Cowok berandal SMA Nuansa Jaya," ucapnya lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Lo murid baru, wajar gak tahu sama kami."

Safir jadi meneguk ludahnya susah payah saat mendengar kata 'berandal' yang terucap jelas dari mulut Sam. Mengapa bisa, kepindahannya ke SMA umum ini malah seperti petaka?

˖°𓇼🌊⋆🐚

"Sa."

Safir menoleh pada Windy, si ketua kelas yang tiba-tiba saja duduk di kursi sampingnya yang kebetulan tak ada siapapun yang menempati. Sontak saja Safir menghadapkan seluruh tubuhnya pada Windy.

"Kenapa?" tanya Safir. Dilihat dari raut wajah Windy yang selalu datar-datar saja, Safir jadi tidak bisa menebak apa maksud cewek itu memanggilnya.

"Lo deket sama Eight?" Windy bertanya tanpa basa-basi. "Gue saranin lo jauhin mereka. Gue ngerti lo anak baru, makanya gue kasih tahu. Selain berandalan di NJ, mereka juga udah ada pawangnya. Kalau lo ketahuan deket sama mereka, pawangnya yang bertindak."

Windy mengatakan ini bukan tanpa alasan. Sekarang di grup angkatan tengah heboh mengenai murid baru yang dekat dengan Sam--salah satu anggota Eight. Bahkan, dikabarkan juga jika kemarin murid baru itu duduk di kantin bersama delapan cowok berandal SMA Nuansa Jaya. Windy tidak bisa membiarkannya, apalagi dia ketua kelas dari cewek baru itu. 

Takutnya, sosok yang dimaksud 'pawang' olehnya malah bertindak seperti dulu di mana sosok cewek dengan seenaknya bergaul dengan Eight.

Jika dekat dengan Sam saja--dalam artinya Sam si Paaya yang mendekati mangsanya, Windy tidak akan peduli. Tapi jika dekat dengan semua anggota Eight, jangan harap bisa bersekolah dengan tenang.

"Pawang?" Safir mengerutkan keningnya beberapa saat. "Oh ... mereka punya pacar?" tanyanya begitu dia mengerti.

Windy menggeleng. "Bukan pacar. Kayaknya minggu depan lo bakalan tahu deh. Pokoknya jangan deket sama mereka, atau hidup lo di sekolah gak akan aman."

Merasa selesai dengan urusannya, Windy beranjak dari kursi dan kembali ke bangkunya. Cewek itu berseru pada murid yang bertugas piket untuk tidak kabur dari tanggung jawab, setelahnya berpamitan untuk pulang.

Safir sendiri jadi termenung di kursinya. Dia tidak ada niatan untuk mengusik kedelapan cowok yang disebut Eight itu. Safir belum tahu mereka. Lalu tadi pagi, saat dirinya mengobrol bersama Sam dan cowok itu mengatakan jika Eight adalah berandal, Safir sudah memutuskan untuk tidak mendekati mereka lagi.

Bahkan saat waktu istirahat, seharusnya Safir kembali ke kantin sesuai pesan Sam, namun dia memilih menetap di kelas untuk menghindarinya.

Setelah peringatan muncul dari bibir Windy, Safir yakin dia tidak akan menemui cowok-cowok itu lagi. Dia akan terus menjauhinya.

Mengangguk yakin, Safir segera membawa tas dan keluar dari kelas. Dia akan pulang secepatnya agar tidak bertemu dengan Sam, atau bahkan Sean.

Sebenarnya, jika Safir mengingat Sean adalah murid teladan, kenapa cowok itu bergabung dengan Eight?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Safir dan Delapan Berandal   76. Bandung Tour On Bus

    Bus bisa menampung hingga lima belas orang atau lebih, tetapi karena belum ada penumpang lain, di bus warna merah muda itu hanya terisi Eight dan juga Safir. Cewek itu langsung antusias duduk di kursi paling sisi kanan agar bisa melihat langsung jalanan, kemudian di samping kirinya duduk Sam yang juga sama semangatnya. Menoleh ke belakang, Safir menghitung semua yang ada, dan mereka sudah lengkap. Di paling belakang ada Mahesa dan juga Jho, sementara di depan dengan kursi menyamping, Widra sudah merekam dengan senyum lebar. Bus mulai melaju dari Alun-Alun, Safir yang sudah tidak sabar hampir memekik, matanya melihat dan memperhatikan dengan semangat bangunan yang dilewati. Awalnya Safir ingin bertanya pada Sam, tetapi begitu ia mendengar sesuatu, pandangannya tertuju ke depan. Ada bagian kosong di depannya, bagian yang mana seorang pemuda berdiri memegang mikrofon, pakaiannya sama dengan sopir. "Cek, cek, satu, dua. Udah ya, nyala," ucap pemuda itu. "Halo, semuanya yang ada di sini

  • Safir dan Delapan Berandal   75. Baik-Baik Saja

    Safir berguling ke samping kiri untuk menyamankan posisi tidurnya. Hangat dan wangi teh yang samar mulai tercium membuatnya tenang sekaligus tergoda untuk membuka mata. Pada akhirnya kelopak matanya bergerak, menyesuaikan cahaya yang masuk hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaannya sendiri. Kini, suara seorang wanita dari televisi mulai jelas di telinganya. Safir menoleh ke sisi kiri di mana ia bisa merasakan dengan jelas kehadiran seseorang, sedang meneguk sesuatu di cangkir yang mengepulkan uap. "Sean?" Safir buru-buru bangkit, membuat selimut yang membungkusnya jatuh sampai pinggang. "Kamu udah baikan? Sini aku periksa dulu."Sean tersenyum dan sedikit menunduk agar punggung tangan Safir menyentuh keningnya. "Gue udah gak panas, udah sembuh," jawabnya. "Lo lanjut tidur aja, belum sore, kok." Helaan napasnya terdengar ringan, suhu tubuh Sean tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat masih pucat. Pandangan Safir mengedar sesaat. Ia berada di ruangan keluarga, entah sej

  • Safir dan Delapan Berandal   74. Eight Menyusul

    Ini kedua kali Safir mengunjungi rumah Abah. Suasananya masih sama nyamannya dan hangat, membuat senyumannya juga mengembang ketika Abah menyambut dengan sapaan khas. Safir langsung menghampiri dan mencium tangan pria paruh baya itu."Apa kabar, Abah?""Baik, Neng. Seneng pisan Abah kalian ke sini lagi," ucap Abah, kini mereka semua duduk di tempat biasa.Semua bisa melepaskan senyum santai di sini, tanpa paksaan sama sekali. Untuk saat ini, Harka menghampiri Abah dan mendekat. "Sean semalam ke sini, Abah?" tanyanya, dia duduk di lantai sementara Abah duduk di kursi dan mengangguk ketika pundak Harka bersandar pada satu kakinya."Sekarang dia lagi istirahat, udah minum obat penurun panas tadi.""Dia kenapa, Abah?"Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Harka, Abah tidak langsung menjawab, dia memberikan jeda panjang hingga akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tanya sendiri, Ka. Abah juga belum tahu, Abah belum sempat nanya."Harka langsung mengangguk, dia tidak beranjak dari tempatnya d

  • Safir dan Delapan Berandal   73. Pelarian; Rumah Abah

    Abah mengusap kepala Sean seperti anaknya sendiri, memberi ketenangan sekaligus kekuatan, membuat Sean menoleh dengan tatapan kosong."Maafin Sean, Abah. Sean gak sopan berkunjung di jam segini."Abah menggeleng. "Teu nanaon. Minum dulu, jangan mikirin ganggu atau nggak, tenangin dulu diri kamu."(Gak papa)Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tatapannya tak jelas mengarah ke mana, dan luka-luka yang terlihat jelas di bawah sorotan lampu, Sean terlihat bukan Sean yang sama. Abah jelas tidak menduga itu akan terjadi, tapi dia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.Nugroho dan orang tuanya sendiri. Yang jelas, Abah juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, dia harus berada di batas aman demi anaknya, berhubung sang istri sudah menjadi korban.Elusan lembut terus Abah berikan pada kepala Sean, dia tak bisa memijat pundak remaja itu sebab ada luka di sana yang akan membuatnya sakit jika disentuh.Abah menghela napas ketika Sean membawa gelas dengan gemetar, lalu meneguk airnya. "Sekar

  • Safir dan Delapan Berandal   72. Akan Sean Bayar

    "Katanya kamu berbuat onar dan membantah perintahnya. Apa aja yang kamu lakukan, Sean?!"Cambukan lain di punggungnya membuat Sean meringis pelan, tetapi dia tidak mengeluh atau berteriak meminta ampun seperti pertama kali mengalami. Sean cukup menahan diri hingga terbiasa sampai kini. Kepalanya tertunduk, tidak begitu dalam, tetapi mampu menyembunyikan wajah dari ibunya yang membentak dan ayahnya yang terus melayangkan cambukan kasar."Jawab, Sean!" Suara ayahnya turut keluar, membuat suasana yang kacau kian tak mengenakan."Sean mau keluar."Cambukan terhenti, napas berat yang saling bertautan memenuhi seisi kamar Sean yang gelap yang menyesakkan. Kedua orang tuanya terdiam seperti menyaksikan anak satu-satunya melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh diperbuat sepanjang hidupnya."Maksud kamu apa?!" Wanita paruh baya itu melangkah maju, menarik rambut bergelombang Sean membuat anaknya mendongak paksa. "Apa yang kamu maksud keluar?!""Sean gak mau, Ma." Se

  • Safir dan Delapan Berandal   71. Bertemu Juga

    "Manis?" Sam mengerjap untuk memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak. Ternyata memang tidak salah jika yang datang ke kantin adalah Safir. Kemarin dia sudah menunggu cewek itu, tetapi Jho mengatakan Safir tidak masuk sekolah dan wali kelasnya mengatakan ayahnya yang mengabari bahwa Safir izin tidak masuk.Sam tentu saja khawatir, berhubung dia tahu tentang kondisi Safir dan ayahnya, mengenai fakta yang ada, dan beberapa masalah lainnya. Dia bahkan rela berdiri di depan pagar rumah Yasa, berharap Safir keluar dari rumahnya. Namun cewek itu tidak muncul.Safir menatap Sam yang memegang kedua tangannya, dia berikan senyuman tulus untuk cowok itu. "Hai, Sam. Kenapa kayak cemas gitu?"Sam termenung. Bagaimana mungkin cewek yang sudah menangis sejadi-jadinya malam itu sekarang bisa tersenyum begitu cerah? Sam mengembuskan napasnya perlahan. "Lo gak papa? Kenapa kemarin gak masuk? Gue khawatir, lho.""Oh, kemarin." Safir kembali mengingat hal-hal yang kemarin terjadi, kemudian dia

  • Safir dan Delapan Berandal   69. Kutukan Akhir

    "Kenapa saya?" Harka langsung melontarkan pertanyaan, nadanya jelas tidak menyetujui, ada pemberontakan di sana."Karena Neyna tidak bisa." Andre menatap anaknya sendiri, kemudian kembali pada Harka. "Anak saya hanya satu--Neyna. Tetapi ada kamu yang hadir di sini, maka kamu yang akan meneruskan sa

  • Safir dan Delapan Berandal   66. Bersama Eight

    "Gue manggil mereka biar gak sepi, seenggaknya gak diem doang di sini." Tatapan Yasa mengarah pada Safir yang masih duduk di sofa, tapi bukan di ruang tamu, ini ruangan yang biasa digunakan ketika Eight berkumpul.Apa yang dimaksud Yasa barusan adalah dia mengundang Eight untuk datang malam ini. Ya

  • Safir dan Delapan Berandal   65. Jadi Terungkap

    Safir sekarang tahu jawaban jelasnya. Hal-hal buram yang membuatnya bertanya-tanya sudah menjadi kejelasan hingga rasa sakit menggila dalam diri. Pantas saja wanita yang dia anggap ibu kandungnya pergi begitu saja tanpa mau melihat, pantas saja pria yang dia akui sebagai ayah kandungnya pun berubah

  • Safir dan Delapan Berandal   63. Membuka Ruang

    "Eh lo semua tahu gak?! Waktu udah ngintip jawaban gue, gurunya bilang 'anak-anak isinya santai aja jangan ngasal, ini bukan pelajaran bahasa Indonesia yang bisa ngarang cerita!' gitu."Tawa terdengar mengisi ruang yang ada di area tenda pedagang kaki lima yang ditempati. Safir juga tidak bisa mena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status