LOGINPukul 19.00 malam Safir baru bisa membuka gerbang rumahnya. Cewek itu membungkuk dengan kedua telapak tangan menumpu pada lutut. Rasanya lelah sekali karena ia malah berkeliling. Safir tak tahu jalur bus atau angkutan umum lain yang menuju ke komplek rumahnya, jadinya tadi dia memutar-mutar hingga tiba di terminal Tegallega bersama angkot yang membawanya. Inilah akibatnya dia tak membawa motor dan ponselnya mati daya. Beruntungnya, dia menemukan ojek yang sedang mangkal saat berjalan menyusuri jalan tanpa arah tujuan.
Safir menghela napasnya, kembali menegakkan tubuh, merasa lega dia berhasil menginjakkan kaki di pekarangan rumahnya. Namun tidak semudah itu, Safir tiba-tiba saja terhuyung ketika sebuah tamparan keras mengenai pipi kirinya.
Rasa panas menjalar hingga lama kelamaan menjadi kebas. Safir memegang sebelah pipinya erat-erat, kedua matanya berkaca-kaca saat tahu jika yang melakukan itu adalah Ferdi, ayahnya.
"A-ayah?"
"Kelakuan kamu selama ayah tidak di rumah begini, hah?!" Ferdi berteriak, amarahnya jelas sekali terpancar di kedua bola mata. "Keluyuran gak jelas sampai malam, sampai-sampai gak bisa dihubungin. Pantas anak perempuan berlaku seperti ini, hah?! APA PANTAS?!"
Safir tersentak dengan teriakan Ferdi, air matanya semakin mengalir deras. Safir memberanikan diri mengangkat pandangannya, hendak menjelaskan semua kesalahpahaman, hanya saja dia tak jadi mengeluarkan suaranya saat dia melihat sosok lain di depan rumah.
Ada ibu tirinya, memperhatikannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, mengamati dengan lekat membuat Safir menunduk tak berbuat sesuatu. Kehadirannya membuat Safir membeku seolah balok es sudah mengepungnya.
"Ma-maaf, Yah."
"Sekali lagi kamu seperti ini, jangan berani pulang lagi!" Ferdi berbalik meninggalkan Safir begitu saja. Ayah bersama ibu tirinya itu masuk ke dalam, tak mempedulikan Safir yang mematung.
Untuk pertama kalinya Ferdi marah sebesar ini, dan Safir dibentak habis-habisan. Safir tahu, ini kesalahannya karena tak mengabari ayahnya. Tapi bagaimana dia akan menghubungi jika ponselnya saja mati? Tidak mungkin dia berani meminjam ponsel orang lain.
Dalam tangisannya yang tak kunjung berhenti, Safir hanya mengusap-ngusap pipinya yang semakin berdenyut nyeri. "Ayah kenapa berubah?"
Masih dalam posisi berdiri tanpa berniat melangkah maju, Safir mendengar sesuatu mendekatinya. Sontak saja dia membalikan tubuh, bertepatan dengan sebuah drone yang meletakan satu kotak di tanah.
Safir mengernyit, dia menghampirinya namun drone itu langsung menjauh, hanya meninggalkan kotak berwarna putih. Tanpa berkata apa-apa, Safir mengambil kotak yang ternyata terdapat sebuah tulisan tangan di atasnya.
Gue tetangga baru di depan rumah lo. Cokelatnya dimakan, buatan bokap gue.
Dengan kedua mata yang masih berair, Safir membuka kotaknya dan benar, ada cokelat dengan berbagai macam bentuk yang cantik membuat Safir tersenyum dalam diam. Pandangannya kini terangkat, melihat drone yang diambil oleh seseorang lewat jendela lantai dua rumah di seberang rumah Safir. Tak jelas siapa yang mengambilnya, Safir hanya bisa melihat siluetnya dibalik gorden putih.
"Terima kasih."
˖°𓇼🌊⋆🐚
Dengan lingkaran hitam menghiasai kedua bawah matanya, Safir memaksakan diri keluar dari kamar untuk menemui ayahnya. Begitu melihat Ferdi, istrinya, serta kedua anaknya yang sedang menikmati sarapan pagi, Safir melipir ke ruang tamu dan menunggu di sana. Dia tidak mau dicap sebagai pengganggu keluarga yang tampak harmonis itu, jadi dia memilih menunggu lebih dulu.
Hingga beberapa menit kemudian, Safir berdiri ketika Ferdi hendak keluar diantarkan oleh istrinya tak lupa juga pria itu menggandeng tangan dua anak SMP di samping kanan dan kiri.
"Ayah." Safir memanggil, dia mendekat ragu pada Ferdi. "Safir minta tolong, Yah. Ayah kabarin wali kelas ya, Safir gak enak badan."
"Gak enak badan setelah keluyuran gak jelas?" Ferdi memicing, menatap anaknya yang masih mengenakan piyama. "Alasan. Jangan sesekali membohongi ayah dengan hal kecil seperti itu. Lagi pula ini salah siapa? Suruh siapa kamu keluyuran sampai malam? Jangan merepotkan, kamu sudah besar."
Jauh dari harapannya. Safir tak lagi berkata apa-apa saat Ferdi berbalik pergi bersama Tania dan Benji--prioritas utamanya.
Semenjak perceraian orang tuanya karena sang ayah berselingkuh dengan sahabat karib sang ibu, Safir sudah merasakan perbedaan besar atas sikap Ferdi terhadapnya. Pria paruh baya itu lebih mementingkan keluarga baru dibandingkan Safir yang menjadi hak asuhnya. Sementara Shopia--wanita yang melahirkan Safir ke dunia, sekarang entah berada di mana.
Semuanya berawal ketika Safir masih awal SMP, dia dimasukkan ke sebuah asrama khusus putri di Jakarta, katanya untuk belajar mandiri di sana. Safir pikir itu memang alasan yang sebenarnya, ternyata tidak. Dia dimasukkan ke asrama yang hanya mengizinkan murid-muridnya untuk pulang sekitar sebulan sekali itu adalah alasan agar Safir tak mengetahui permasalahan dalam keluarga.
Permasalahan panjang yang tak kunjung selesai sampai Safir menginjak kelas 10 SMA. Permasalahan itu baru terkuak dan diketahui Safir saat dia berada di kelas 11 SMA, begitu kepulangannya ke rumah ini, dia menyaksikan orang tuanya bertengkar hebat. Antara ibunya yang mencaci maki sosok wanita di pelukan sang ayah, dan ayahnya yang terus membela wanita di pelukannya.
Hingga akhirnya, ibunya yang mengalah dan pergi begitu saja tanpa melirik Safir sedikitpun. Itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Shopia.
Safir kira, keluarganya baik-baik saja dan bahagia, selalu menantikan kepulangannya dari asrama dan merencanakan untuk berlibur ke beberapa tempat yang selalu Safir rekomendasikan. Namun nyatanya apa? Sampai sekarang, Safir masih sakit hati karena mereka yang menipunya. Walaupun perasaannya tetap berharap bahwa keluarganya bisa kembali utuh, bisa tersenyum bahagia lagi. Akan tetapi, sekarang sudah mustahil.
Ferdi sudah menikah lagi dengan Diana--wanita yang kala itu dibela habis-habisan oleh Ferdi di depan istri sahnya. Mereka bahagia dengan dua anak Diana dari suami sebelumnya.
Jika Safir ditanya mengenai pilihannya, ayah ataukah ibu, jujur saja dia sendiri tidak tahu harus memilih siapa. Keduanya tampak tidak mempedulikannya. Safir hanya bisa bersyukur, setidaknya ayahnya tak mengusirnya di rumah.
"Cepat siap-siap, nanti terlambat."
Safir mengerjap mendengar suara ibu tirinya, dia mengangguk segera dan berbalik menuju ke kamarnya di lantai dua. Mungkin dia harus memaksakan diri untuk datang ke sekolah meskipun semalaman dia tak tidur sama sekali karena memikirkan bentakan ayahnya dan juga motornya yang terjebak dalam tawuran kemarin.
Bus bisa menampung hingga lima belas orang atau lebih, tetapi karena belum ada penumpang lain, di bus warna merah muda itu hanya terisi Eight dan juga Safir. Cewek itu langsung antusias duduk di kursi paling sisi kanan agar bisa melihat langsung jalanan, kemudian di samping kirinya duduk Sam yang juga sama semangatnya. Menoleh ke belakang, Safir menghitung semua yang ada, dan mereka sudah lengkap. Di paling belakang ada Mahesa dan juga Jho, sementara di depan dengan kursi menyamping, Widra sudah merekam dengan senyum lebar. Bus mulai melaju dari Alun-Alun, Safir yang sudah tidak sabar hampir memekik, matanya melihat dan memperhatikan dengan semangat bangunan yang dilewati. Awalnya Safir ingin bertanya pada Sam, tetapi begitu ia mendengar sesuatu, pandangannya tertuju ke depan. Ada bagian kosong di depannya, bagian yang mana seorang pemuda berdiri memegang mikrofon, pakaiannya sama dengan sopir. "Cek, cek, satu, dua. Udah ya, nyala," ucap pemuda itu. "Halo, semuanya yang ada di sini
Safir berguling ke samping kiri untuk menyamankan posisi tidurnya. Hangat dan wangi teh yang samar mulai tercium membuatnya tenang sekaligus tergoda untuk membuka mata. Pada akhirnya kelopak matanya bergerak, menyesuaikan cahaya yang masuk hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaannya sendiri. Kini, suara seorang wanita dari televisi mulai jelas di telinganya. Safir menoleh ke sisi kiri di mana ia bisa merasakan dengan jelas kehadiran seseorang, sedang meneguk sesuatu di cangkir yang mengepulkan uap. "Sean?" Safir buru-buru bangkit, membuat selimut yang membungkusnya jatuh sampai pinggang. "Kamu udah baikan? Sini aku periksa dulu."Sean tersenyum dan sedikit menunduk agar punggung tangan Safir menyentuh keningnya. "Gue udah gak panas, udah sembuh," jawabnya. "Lo lanjut tidur aja, belum sore, kok." Helaan napasnya terdengar ringan, suhu tubuh Sean tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat masih pucat. Pandangan Safir mengedar sesaat. Ia berada di ruangan keluarga, entah sej
Ini kedua kali Safir mengunjungi rumah Abah. Suasananya masih sama nyamannya dan hangat, membuat senyumannya juga mengembang ketika Abah menyambut dengan sapaan khas. Safir langsung menghampiri dan mencium tangan pria paruh baya itu."Apa kabar, Abah?""Baik, Neng. Seneng pisan Abah kalian ke sini lagi," ucap Abah, kini mereka semua duduk di tempat biasa.Semua bisa melepaskan senyum santai di sini, tanpa paksaan sama sekali. Untuk saat ini, Harka menghampiri Abah dan mendekat. "Sean semalam ke sini, Abah?" tanyanya, dia duduk di lantai sementara Abah duduk di kursi dan mengangguk ketika pundak Harka bersandar pada satu kakinya."Sekarang dia lagi istirahat, udah minum obat penurun panas tadi.""Dia kenapa, Abah?"Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Harka, Abah tidak langsung menjawab, dia memberikan jeda panjang hingga akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tanya sendiri, Ka. Abah juga belum tahu, Abah belum sempat nanya."Harka langsung mengangguk, dia tidak beranjak dari tempatnya d
Abah mengusap kepala Sean seperti anaknya sendiri, memberi ketenangan sekaligus kekuatan, membuat Sean menoleh dengan tatapan kosong."Maafin Sean, Abah. Sean gak sopan berkunjung di jam segini."Abah menggeleng. "Teu nanaon. Minum dulu, jangan mikirin ganggu atau nggak, tenangin dulu diri kamu."(Gak papa)Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tatapannya tak jelas mengarah ke mana, dan luka-luka yang terlihat jelas di bawah sorotan lampu, Sean terlihat bukan Sean yang sama. Abah jelas tidak menduga itu akan terjadi, tapi dia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.Nugroho dan orang tuanya sendiri. Yang jelas, Abah juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, dia harus berada di batas aman demi anaknya, berhubung sang istri sudah menjadi korban.Elusan lembut terus Abah berikan pada kepala Sean, dia tak bisa memijat pundak remaja itu sebab ada luka di sana yang akan membuatnya sakit jika disentuh.Abah menghela napas ketika Sean membawa gelas dengan gemetar, lalu meneguk airnya. "Sekar
"Katanya kamu berbuat onar dan membantah perintahnya. Apa aja yang kamu lakukan, Sean?!"Cambukan lain di punggungnya membuat Sean meringis pelan, tetapi dia tidak mengeluh atau berteriak meminta ampun seperti pertama kali mengalami. Sean cukup menahan diri hingga terbiasa sampai kini. Kepalanya tertunduk, tidak begitu dalam, tetapi mampu menyembunyikan wajah dari ibunya yang membentak dan ayahnya yang terus melayangkan cambukan kasar."Jawab, Sean!" Suara ayahnya turut keluar, membuat suasana yang kacau kian tak mengenakan."Sean mau keluar."Cambukan terhenti, napas berat yang saling bertautan memenuhi seisi kamar Sean yang gelap yang menyesakkan. Kedua orang tuanya terdiam seperti menyaksikan anak satu-satunya melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh diperbuat sepanjang hidupnya."Maksud kamu apa?!" Wanita paruh baya itu melangkah maju, menarik rambut bergelombang Sean membuat anaknya mendongak paksa. "Apa yang kamu maksud keluar?!""Sean gak mau, Ma." Se
"Manis?" Sam mengerjap untuk memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak. Ternyata memang tidak salah jika yang datang ke kantin adalah Safir. Kemarin dia sudah menunggu cewek itu, tetapi Jho mengatakan Safir tidak masuk sekolah dan wali kelasnya mengatakan ayahnya yang mengabari bahwa Safir izin tidak masuk.Sam tentu saja khawatir, berhubung dia tahu tentang kondisi Safir dan ayahnya, mengenai fakta yang ada, dan beberapa masalah lainnya. Dia bahkan rela berdiri di depan pagar rumah Yasa, berharap Safir keluar dari rumahnya. Namun cewek itu tidak muncul.Safir menatap Sam yang memegang kedua tangannya, dia berikan senyuman tulus untuk cowok itu. "Hai, Sam. Kenapa kayak cemas gitu?"Sam termenung. Bagaimana mungkin cewek yang sudah menangis sejadi-jadinya malam itu sekarang bisa tersenyum begitu cerah? Sam mengembuskan napasnya perlahan. "Lo gak papa? Kenapa kemarin gak masuk? Gue khawatir, lho.""Oh, kemarin." Safir kembali mengingat hal-hal yang kemarin terjadi, kemudian dia
"Harka." Sebuah kemajuan di mana Safir bisa berbicara lebih dalam berdua dengan Harka. Pada awalnya dia sangat ketakutan dengan kapten Eight itu, tapi sejak Harka terus mendorongnya maju, batas diantara keduanya juga menjadi pecah hingga menghilang. Hanya saja, benarkah itu tidak bisa abadi? Safir
Kedua motornya sudah terparkir di garasi luas yang biasa digunakan ketika mereka datang. Normalnya, jumlah yang mengisi selalu delapan motor, kali ini tidak, sebab hanya Sam dan Jho yang ada. Begitu turun dan melangkahkan kaki beberapa meter menuju pintu utama dan masuk ke dalam. Tidak perlu menget
"Dari mana saja, kamu izinnya hanya semalam, tapi kenapa menjadi dua malam? Di mana kamu menginap?"Kaki Safir baru dua detik lalu menyentuh ubin rumah ketika pertanyaan dari Ferdi menyerang. Kepalanya yang terasa berat, bertambah sakit karena itu. Semalaman dia dan Widra mengobrol mengenai Eight,
Selimut hangat membungkus tubuhnya yang meringkuk di kursi. Kedua tangannya membalut penuh cangkir berisi susu jahe hangat yang mengepulkan uap di depan wajahnya. Safir mengangguk untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja pada seorang wanita paruh baya, merangkulnya dan menenangkannya setelah S







