Share

2. Ajakan Buaya

Penulis: Arira
last update Tanggal publikasi: 2026-03-16 09:27:19

Saat bel istirahat berbunyi, semua murid yang ada di kelas jadi sibuk masing-masing bersama perkumpulan mereka. Ada yang langsung berkumpul di satu meja membahas materi, keluar dari kelas dengan berlari, juga berburu mencari perhatian pada guru untuk membawa barang-barangnya agar mendapat nilai tambah.

Safir memperhatikan itu semua dengan saksama. Jauh sekali dari sekolah khusus putri yang dia tempati dulu. Di sini cowok dan cewek berbaur dengan sangat akrab--seperti teman satu gender saja. Lalu perbedaan lainnya, mereka membentuk perkumpulan masing-masing di satu kelas--12 IPA 4. Tidak seperti kelas Safir dulu, semua cewek yang ada di kelasnya akan selalu berkumpul bersama, tidak terpisah-pisah begini. Safir jadi bingung harus bergabung ke mana. Dia juga jadi takut salah untuk memilih teman. 

Menoleh ke kanan dan ke kiri, Safir beranjak dari bangkunya memutuskan untuk keluar dari kelas. Safir baru ingat jika perutnya perlu diisi oleh makanan, apalagi dia melewatkan sarapan begitu saja demi mengejar ayahnya, dan itu menghasilkan hal yang sia-sia.

"Halo, aku mau tanya." Sebelum benar-benar melangkah keluar, Safir menghampiri ketua kelas mereka, kebetulan ketua kelasnya seorang cewek, jadinya Safir tidak merasa canggung. "Aku mau tahu arah kantin, kamu bisa tunjukkin?"

"Gampang, tinggal lurus aja dari sini nanti belok kanan, di paling ujung itu kantin. Bakalan rame anak-anak ke sana jadi gak akan nyasar," jawab Windy--ketua kelasnya.

Safir mengangguk. "Makasih, ya."

"Iya, hati-hati digodain si Sam, lo polos soalnya!" ujar Windy ketika Safir berhasil melangkah keluar.

Safir sendiri sudah tak terlalu mendengar apa yang Windy katakan, dia pikir Windy bukan memperingatkannya. Kini, langkah Safir benar-benar mengikuti arahan sang ketua kelas hingga dia bisa melihat pintu kaca yang dibuka dan tutup otomatis. 

Begitu masuk ke sana, suasana ramai menyambutnya. Safir mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin yang benar-benar luas. Dia pikir kantinnya akan sama seperti sekolahnya dulu, panas dan sesak karena banyak murid. Namun di sini tidak sepanas yang ia perkirakan. Banyak AC yang tersedia. 

"Ey, manis!" 

Safir tersentak saat suara seseorang langsung menyapanya di samping kanan. Seorang cowok memakai head band dengan mata sipit serta lesung pipi yang dalam di kedua sisi membuat Safir mengerjap terkejut.

"Kamu manggil aku bukan?" Otomatis Safir bertanya. 

"Eh, eh, eh, beneran manis ternyata. Mana pake aku-kamu." Cowok itu berbinar senang seperti menemukan mangsa. "Iya, gue emang manggil lo. Kok sendirian, sih, di kantin? Temen lo ke mana? Nanti dikira anak ilang, lho."

Safir tak menanggapi apa-apa, bukannya sombong, tapi Safir harus berkata apa lagi? Sudah dibilang 'kan, kalau dia tidak bisa berinteraksi dengan baik bersama cowok? 

"Beneran kayak anak kecil ilang. Lo mau jajan apa? Ayo gue temenin." Cowok itu tanpa aba-aba menarik lengan Safir untuk menjauh dari pintu, sekalian agar keduanya tidak menghalangi jalan. "Karena gue baru pertama kali lihat wajah manis lo di sekolah ini, gue traktir, deh!"

Safir mengernyit. Dia tengah menahan gemetarnya karena lengannya dipegang seorang cowok, lalu sekarang dia ditraktir cowok itu karena wajahnya manis, begitu?

"Predator beraksi. Lo belum traktir gue, sekarang berani nraktir cewek yang baru lo lihat?"

Mendengar suara lain, Safir dan cowok di sampingnya menoleh bersama ke belakang. Ada segerombolan cowok di sana, berbeda-beda ekspresi dan berbeda-beda pula tampilannya membuat Safir tak bisa berkedip.

Cowok di samping Safir terkekeh riang. "Ah elah, kalian lebih kaya dari gue, masa gue traktir!" ucapnya lalu tangannya bergerak merangkul Safir. "Lihat, cewek manis, nih. Bisa-bisanya gue baru ketemu dia sekarang."

"Eh, dia 'kan murid baru."

Suara itu. Safir mengangkat pandangan begitu mendengar suara yang dirasa dia tahu. Ternyata benar saja, jika suara itu adalah milik cowok yang tadi menolong Safir serta mengantarnya ke ruang guru.

"Lo masih asing ya di sini? Sendirian?" tanya cowok itu pada Safir yang sudah menjadi pusat perhatian.

"I-iya. Aku sendirian, gak boleh?"

"Polos banget nih cewek," komentar seorang cowok dengan rambut hitam bercampur biru tua itu membuat Safir membelalak.

Cowok yang bertanya tadi tersenyum lembut. "Ya udah, gabung aja sama kami berdelapan, oke?"

Safir benar-benar ingin menolak dan langsung kabur saja dari pada memilih delapan cowok di sana. Namun rangkulan cowok sipit membuatnya tak berdaya. Jadinya saat ini, diiringi tatapan aneh dari murid lain, Safir duduk bersama delapan cowok sekaligus. 

Safir tak habis pikir. Seharusnya dia berteman dengan cewek di hari pertama masuk sekolah umum, karena sejak dulu pertemanannya memang selalu dengan para cewek. Sekarang, kenapa jadi seperti ini?

Untuk saat ini, Safir berusaha keras untuk fokus pada makanannya sendiri. Ia tidak akan menghiraukan cowok-cowok yang duduk mengelilingi itu. Bahkan untuk menatap dan mengangkat wajah pun rasanya tidak bisa ia lakukan semudah biasanya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Safir dan Delapan Berandal   76. Bandung Tour On Bus

    Bus bisa menampung hingga lima belas orang atau lebih, tetapi karena belum ada penumpang lain, di bus warna merah muda itu hanya terisi Eight dan juga Safir. Cewek itu langsung antusias duduk di kursi paling sisi kanan agar bisa melihat langsung jalanan, kemudian di samping kirinya duduk Sam yang juga sama semangatnya. Menoleh ke belakang, Safir menghitung semua yang ada, dan mereka sudah lengkap. Di paling belakang ada Mahesa dan juga Jho, sementara di depan dengan kursi menyamping, Widra sudah merekam dengan senyum lebar. Bus mulai melaju dari Alun-Alun, Safir yang sudah tidak sabar hampir memekik, matanya melihat dan memperhatikan dengan semangat bangunan yang dilewati. Awalnya Safir ingin bertanya pada Sam, tetapi begitu ia mendengar sesuatu, pandangannya tertuju ke depan. Ada bagian kosong di depannya, bagian yang mana seorang pemuda berdiri memegang mikrofon, pakaiannya sama dengan sopir. "Cek, cek, satu, dua. Udah ya, nyala," ucap pemuda itu. "Halo, semuanya yang ada di sini

  • Safir dan Delapan Berandal   75. Baik-Baik Saja

    Safir berguling ke samping kiri untuk menyamankan posisi tidurnya. Hangat dan wangi teh yang samar mulai tercium membuatnya tenang sekaligus tergoda untuk membuka mata. Pada akhirnya kelopak matanya bergerak, menyesuaikan cahaya yang masuk hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaannya sendiri. Kini, suara seorang wanita dari televisi mulai jelas di telinganya. Safir menoleh ke sisi kiri di mana ia bisa merasakan dengan jelas kehadiran seseorang, sedang meneguk sesuatu di cangkir yang mengepulkan uap. "Sean?" Safir buru-buru bangkit, membuat selimut yang membungkusnya jatuh sampai pinggang. "Kamu udah baikan? Sini aku periksa dulu."Sean tersenyum dan sedikit menunduk agar punggung tangan Safir menyentuh keningnya. "Gue udah gak panas, udah sembuh," jawabnya. "Lo lanjut tidur aja, belum sore, kok." Helaan napasnya terdengar ringan, suhu tubuh Sean tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat masih pucat. Pandangan Safir mengedar sesaat. Ia berada di ruangan keluarga, entah sej

  • Safir dan Delapan Berandal   74. Eight Menyusul

    Ini kedua kali Safir mengunjungi rumah Abah. Suasananya masih sama nyamannya dan hangat, membuat senyumannya juga mengembang ketika Abah menyambut dengan sapaan khas. Safir langsung menghampiri dan mencium tangan pria paruh baya itu."Apa kabar, Abah?""Baik, Neng. Seneng pisan Abah kalian ke sini lagi," ucap Abah, kini mereka semua duduk di tempat biasa.Semua bisa melepaskan senyum santai di sini, tanpa paksaan sama sekali. Untuk saat ini, Harka menghampiri Abah dan mendekat. "Sean semalam ke sini, Abah?" tanyanya, dia duduk di lantai sementara Abah duduk di kursi dan mengangguk ketika pundak Harka bersandar pada satu kakinya."Sekarang dia lagi istirahat, udah minum obat penurun panas tadi.""Dia kenapa, Abah?"Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Harka, Abah tidak langsung menjawab, dia memberikan jeda panjang hingga akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tanya sendiri, Ka. Abah juga belum tahu, Abah belum sempat nanya."Harka langsung mengangguk, dia tidak beranjak dari tempatnya d

  • Safir dan Delapan Berandal   73. Pelarian; Rumah Abah

    Abah mengusap kepala Sean seperti anaknya sendiri, memberi ketenangan sekaligus kekuatan, membuat Sean menoleh dengan tatapan kosong."Maafin Sean, Abah. Sean gak sopan berkunjung di jam segini."Abah menggeleng. "Teu nanaon. Minum dulu, jangan mikirin ganggu atau nggak, tenangin dulu diri kamu."(Gak papa)Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tatapannya tak jelas mengarah ke mana, dan luka-luka yang terlihat jelas di bawah sorotan lampu, Sean terlihat bukan Sean yang sama. Abah jelas tidak menduga itu akan terjadi, tapi dia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.Nugroho dan orang tuanya sendiri. Yang jelas, Abah juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, dia harus berada di batas aman demi anaknya, berhubung sang istri sudah menjadi korban.Elusan lembut terus Abah berikan pada kepala Sean, dia tak bisa memijat pundak remaja itu sebab ada luka di sana yang akan membuatnya sakit jika disentuh.Abah menghela napas ketika Sean membawa gelas dengan gemetar, lalu meneguk airnya. "Sekar

  • Safir dan Delapan Berandal   72. Akan Sean Bayar

    "Katanya kamu berbuat onar dan membantah perintahnya. Apa aja yang kamu lakukan, Sean?!"Cambukan lain di punggungnya membuat Sean meringis pelan, tetapi dia tidak mengeluh atau berteriak meminta ampun seperti pertama kali mengalami. Sean cukup menahan diri hingga terbiasa sampai kini. Kepalanya tertunduk, tidak begitu dalam, tetapi mampu menyembunyikan wajah dari ibunya yang membentak dan ayahnya yang terus melayangkan cambukan kasar."Jawab, Sean!" Suara ayahnya turut keluar, membuat suasana yang kacau kian tak mengenakan."Sean mau keluar."Cambukan terhenti, napas berat yang saling bertautan memenuhi seisi kamar Sean yang gelap yang menyesakkan. Kedua orang tuanya terdiam seperti menyaksikan anak satu-satunya melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh diperbuat sepanjang hidupnya."Maksud kamu apa?!" Wanita paruh baya itu melangkah maju, menarik rambut bergelombang Sean membuat anaknya mendongak paksa. "Apa yang kamu maksud keluar?!""Sean gak mau, Ma." Se

  • Safir dan Delapan Berandal   71. Bertemu Juga

    "Manis?" Sam mengerjap untuk memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak. Ternyata memang tidak salah jika yang datang ke kantin adalah Safir. Kemarin dia sudah menunggu cewek itu, tetapi Jho mengatakan Safir tidak masuk sekolah dan wali kelasnya mengatakan ayahnya yang mengabari bahwa Safir izin tidak masuk.Sam tentu saja khawatir, berhubung dia tahu tentang kondisi Safir dan ayahnya, mengenai fakta yang ada, dan beberapa masalah lainnya. Dia bahkan rela berdiri di depan pagar rumah Yasa, berharap Safir keluar dari rumahnya. Namun cewek itu tidak muncul.Safir menatap Sam yang memegang kedua tangannya, dia berikan senyuman tulus untuk cowok itu. "Hai, Sam. Kenapa kayak cemas gitu?"Sam termenung. Bagaimana mungkin cewek yang sudah menangis sejadi-jadinya malam itu sekarang bisa tersenyum begitu cerah? Sam mengembuskan napasnya perlahan. "Lo gak papa? Kenapa kemarin gak masuk? Gue khawatir, lho.""Oh, kemarin." Safir kembali mengingat hal-hal yang kemarin terjadi, kemudian dia

  • Safir dan Delapan Berandal   69. Kutukan Akhir

    "Kenapa saya?" Harka langsung melontarkan pertanyaan, nadanya jelas tidak menyetujui, ada pemberontakan di sana."Karena Neyna tidak bisa." Andre menatap anaknya sendiri, kemudian kembali pada Harka. "Anak saya hanya satu--Neyna. Tetapi ada kamu yang hadir di sini, maka kamu yang akan meneruskan sa

  • Safir dan Delapan Berandal   66. Bersama Eight

    "Gue manggil mereka biar gak sepi, seenggaknya gak diem doang di sini." Tatapan Yasa mengarah pada Safir yang masih duduk di sofa, tapi bukan di ruang tamu, ini ruangan yang biasa digunakan ketika Eight berkumpul.Apa yang dimaksud Yasa barusan adalah dia mengundang Eight untuk datang malam ini. Ya

  • Safir dan Delapan Berandal   63. Membuka Ruang

    "Eh lo semua tahu gak?! Waktu udah ngintip jawaban gue, gurunya bilang 'anak-anak isinya santai aja jangan ngasal, ini bukan pelajaran bahasa Indonesia yang bisa ngarang cerita!' gitu."Tawa terdengar mengisi ruang yang ada di area tenda pedagang kaki lima yang ditempati. Safir juga tidak bisa mena

  • Safir dan Delapan Berandal   53. Tetap Salah

    "Dari mana saja, kamu izinnya hanya semalam, tapi kenapa menjadi dua malam? Di mana kamu menginap?"Kaki Safir baru dua detik lalu menyentuh ubin rumah ketika pertanyaan dari Ferdi menyerang. Kepalanya yang terasa berat, bertambah sakit karena itu. Semalaman dia dan Widra mengobrol mengenai Eight,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status