Home / Lainnya / Safir dan Delapan Berandal / 5. Terjebak Tawuran

Share

5. Terjebak Tawuran

Author: Arira
last update publish date: 2026-03-16 16:39:36

"Hei."

Safir berjengit ketika dalam perjalanannya, pundaknya ditarik dari belakang. Perlahan-lahan, Safir berbalik, matanya jadi membola melihat cowok yang tersenyum padanya dengan tas hitam disampirkan di satu pundak.

"Istirahat kok gue gak lihat lo ke kantin?"

Safir memaksakan senyumannya saat Sean bertanya. "I-itu ... gak sempat. Oh iya, aku buru-buru. Maaf ya. Permisi."

Berlari sekuat tenaga dan menyalip beberapa murid yang berjalan di depannya, Safir benar-benar menghindar dari Sean. Dia tidak mau terlibat dengan mereka, apalagi dengan 'pawang' yang Windy sebutkan. Sepertinya, akan menyeramkan jika Safir keras kepala.

Mengembuskan napasnya dengan lelah, begitu tiba di parkiran Safir jadi termenung.

Kapan dia akan mendapatkan teman dekatnya? Setidaknya, satu cewek untuk teman mengobrol dan teman mengerjakan tugas.

Dia pikir setelah berkenalan di kelas, dia akan langsung mendapatkannya. Akan ada yang mengajaknya berkenalan dan mengobrol, nyatanya tidak sama sekali. Bagaimana ini? Apa mungkin belum waktunya?

˖°𓇼🌊⋆🐚

Begitu pulang sekolah, Safir mampir terlebih dulu ke cafe yang kebetulan tidak jauh dari lokasi sekolahnya. Cafe itu sedang viral, dibicarakan di mana-mana oleh anak muda, bahkan Safir bisa melihat beberapa murid SMA Nuansa Jaya beramai-ramai ke sana. Beruntung sekali, Safir bisa menikmati tempat, suasana, serta makanan dari cafe Rosemary. Hingga akhirnya, Safir memutuskan untuk segera pulang.

Pukul 15.30 Safir memeriksa maps di ponsel untuk mencari jalan pulang. Sebab, cafe ini sudah tak searah lagi dengan jalan ke rumahnya.

"Wah, ada jalan pintas." Safir tersenyum lebar. Dia memasang ponselnya di phone holder lalu segera mengenakan helm, setelahnya melajukan motor dengan kecepatan sedang.

Safir bisa saja memutar balik dan menyusuri jalan pertama ketika menuju ke cafe, tapi dilihat ada jalan lain yang jaraknya lebih pendek, dia memilih jalan itu sekarang. Tidak melewati jalan raya yang ramai, jalan ini adalah jalan yang sisi kanan dan kirinya dipenuhi kebun teh yang membentang. Suasana yang sangat menenangkan untuknya.

Safir mulai bersenandung dalam perjalanannya. Enak sekali dia bisa menikmati sore hari yang tak terlalu panas lalu dimanjakan dengan pemandangan hijau. Rasanya sudah sangat lama dia tidak melihat pemandangan seperti itu.

Melihat kembali ke penunjuk arah di ponsel, kini Safir tinggal berbelok ke kiri melewati jembatan besar, setelahnya dia akan tiba di jalan raya lalu tinggal belok kiri menuju ke komplek perumahannya.

Hanya saja tidak semudah yang Safir pikirkan dalam kepala. Ban motornya baru saja menapak di tengah jembatan saat tiba-tiba sebuah balok kayu terlempar ke hadapannya. Beruntungnya Safir bisa mengendalikan motor, dia mengerem mendadak dan menghela napas lega karena tak menabrak balok kayu itu. Jika iya, sudah dipastikan dirinya terjatuh.

"PENGECUT! GAK USAH PAKE CEWEK BUAT MANCING GUE KELUAR! KADIEU SIA!"

Safir memekik mendengar teriakan tepat di ujung jembatan yang dituju. Sekelompok cowok tiba-tiba saja berkumpul di sana. Parahnya mereka membawa berbagai macam alat, seperti senjata untuk memberontak dan melawan.

"SIAPA YANG LO BILANG PENGECUT, SAMPAH?!"

Berbalik, Safir menemukan sekelompok cowok lain di ujung jembatan yang sudah dia lewati tadi. Mereka juga sama, membawa beberapa senjata untuk perlawanan.

Yang membuat Safir membeku, dirinya berada di tengah-tengah dua kelompok itu. Maju salah, mundur pun akan semakin salah. Safir tak tahu harus bagaimana, tangannya dengan erat mencengkeram stang motor. Tidak mungkin kan dirinya menjatuhkan diri ke sungai di bawah jembatan?

"BURU KADIEU, LAWAN URANG!" 

Teriakan itu menjadi awal aksi saling serang. Safir tak ada waktu untuk menghindar ketika mereka berlari, mengangkat senjata masing-masing untuk melawan. Memekik tertahan, Safir mencoba berlindung di balik motornya. Dia memilih berjongkok di sana dan terpejam tak mau melihat kejadian yang tersaji.

Jika Safir memilih kabur dari sana, berlari, atau menerobos, apakah lehernya akan selamat dari beberapa senjata tajam yang mengayun bebas? Apakah kepalanya akan selamat dari beberapa batu yang dilemparkan acak?

"Ayaaah." Safir menangis seraya terus meringkuk mencoba menghindari siapapun yang hampir menginjaknya. Saat ini dia benar-benar butuh pertolongan, berharap jika ayahnya datang sebagai malaikat pelindung anaknya. Namun itu tidak mungkin terjadi. Tidak masuk akal jika ayahnya mendadak muncul di keadaan seperti ini.

"Aww!" Safir menjerit saat punggungnya terbentur balok kayu, motornya kini terseret-seret oleh cowok yang sibuk tawuran itu. Kali ini, Safir mencoba merangkak perlahan-lahan seraya memperhatikan sekitar dengan jeli. Dia harus pergi dari situasi ini.

Di tengah aksinya itu, Safir menjerit ketika seseorang langsung mengangkat tubuhnya dengan mudah tanpa kendala. Bahkan sosok itu kini berlari gesit menghindari cowok-cowok yang saling melawan. Safir sendiri tak memberontak karena terkejut, dia hanya berpegangan erat seraya menempelkan kepalanya pada dada bidang sosok yang menggendongnya saat ini.

Beberapa saat setelahnya, ketika Safir merasakan laju sosok itu terhenti, dia mulai membuka mata. Yang pertama Safir lihat adalah helaian rambut merah sosok yang menggendongnya, tengah menoleh membelakangi Safir, sepertinya sedang mengawasi tawuran yang masih berlangsung.

"Kamu." Safir memberanikan diri bersuara hingga cowok itu menoleh dan menatapnya.

"Dada gue."

"A-apa?" Safir mengerjap melihat mata sipit nan tajam yang menatapnya lurus tanpa makna.

"Dada gue," ucap cowok itu lagi.

Safir mengernyit, tidak tahu apa yang dimaksud cowok itu. Dia memutuskan untuk melihat apa yang disebutkan cowok di hadapannya, lantas Safir membelalak.

Pantas saja cowok itu terus berkata hal yang sama, ternyata dadanya dicengkeram kuat oleh tangan Safir sejak tadi untuk pegangannya. Hanya saja Safir tidak sadar. Segera dia melepaskannya, menjauhkan tangannya dari sana.

"Ma-maaf."

Menurunkan Safir, cowok dengan rambut merah menyala itu menunjuk ke jalan di belakang Safir. "Jalan ke sana, belok kiri, ada gang. Keluar dari gang, jalan raya." Setelah mengatakan itu tanpa ekspresi, cowok itu berlari kencang ke tempat tawuran tadi terjadi, meninggalkan Safir yang masih berusaha memproses apa yang cowok itu katakan. 

"Terus motor aku gimana?" Safir menggigit bibirnya. Dia tidak mau kembali lagi ke sana, dia juga tidak bisa meneriaki cowok tadi untuk membawakannya motor. Menolongnya keluar dari keributan itu saja sudah merepotkan. 

Meremat-remat jarinya sendiri, Safir memutuskan untuk berbalik dan menuju ke arah yang ditunjukkan cowok berambut merah tadi. Saat ini nyawanya lebih penting dibandingkan motor scoopy biru miliknya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Safir dan Delapan Berandal   76. Bandung Tour On Bus

    Bus bisa menampung hingga lima belas orang atau lebih, tetapi karena belum ada penumpang lain, di bus warna merah muda itu hanya terisi Eight dan juga Safir. Cewek itu langsung antusias duduk di kursi paling sisi kanan agar bisa melihat langsung jalanan, kemudian di samping kirinya duduk Sam yang juga sama semangatnya. Menoleh ke belakang, Safir menghitung semua yang ada, dan mereka sudah lengkap. Di paling belakang ada Mahesa dan juga Jho, sementara di depan dengan kursi menyamping, Widra sudah merekam dengan senyum lebar. Bus mulai melaju dari Alun-Alun, Safir yang sudah tidak sabar hampir memekik, matanya melihat dan memperhatikan dengan semangat bangunan yang dilewati. Awalnya Safir ingin bertanya pada Sam, tetapi begitu ia mendengar sesuatu, pandangannya tertuju ke depan. Ada bagian kosong di depannya, bagian yang mana seorang pemuda berdiri memegang mikrofon, pakaiannya sama dengan sopir. "Cek, cek, satu, dua. Udah ya, nyala," ucap pemuda itu. "Halo, semuanya yang ada di sini

  • Safir dan Delapan Berandal   75. Baik-Baik Saja

    Safir berguling ke samping kiri untuk menyamankan posisi tidurnya. Hangat dan wangi teh yang samar mulai tercium membuatnya tenang sekaligus tergoda untuk membuka mata. Pada akhirnya kelopak matanya bergerak, menyesuaikan cahaya yang masuk hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaannya sendiri. Kini, suara seorang wanita dari televisi mulai jelas di telinganya. Safir menoleh ke sisi kiri di mana ia bisa merasakan dengan jelas kehadiran seseorang, sedang meneguk sesuatu di cangkir yang mengepulkan uap. "Sean?" Safir buru-buru bangkit, membuat selimut yang membungkusnya jatuh sampai pinggang. "Kamu udah baikan? Sini aku periksa dulu."Sean tersenyum dan sedikit menunduk agar punggung tangan Safir menyentuh keningnya. "Gue udah gak panas, udah sembuh," jawabnya. "Lo lanjut tidur aja, belum sore, kok." Helaan napasnya terdengar ringan, suhu tubuh Sean tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat masih pucat. Pandangan Safir mengedar sesaat. Ia berada di ruangan keluarga, entah sej

  • Safir dan Delapan Berandal   74. Eight Menyusul

    Ini kedua kali Safir mengunjungi rumah Abah. Suasananya masih sama nyamannya dan hangat, membuat senyumannya juga mengembang ketika Abah menyambut dengan sapaan khas. Safir langsung menghampiri dan mencium tangan pria paruh baya itu."Apa kabar, Abah?""Baik, Neng. Seneng pisan Abah kalian ke sini lagi," ucap Abah, kini mereka semua duduk di tempat biasa.Semua bisa melepaskan senyum santai di sini, tanpa paksaan sama sekali. Untuk saat ini, Harka menghampiri Abah dan mendekat. "Sean semalam ke sini, Abah?" tanyanya, dia duduk di lantai sementara Abah duduk di kursi dan mengangguk ketika pundak Harka bersandar pada satu kakinya."Sekarang dia lagi istirahat, udah minum obat penurun panas tadi.""Dia kenapa, Abah?"Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Harka, Abah tidak langsung menjawab, dia memberikan jeda panjang hingga akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tanya sendiri, Ka. Abah juga belum tahu, Abah belum sempat nanya."Harka langsung mengangguk, dia tidak beranjak dari tempatnya d

  • Safir dan Delapan Berandal   73. Pelarian; Rumah Abah

    Abah mengusap kepala Sean seperti anaknya sendiri, memberi ketenangan sekaligus kekuatan, membuat Sean menoleh dengan tatapan kosong."Maafin Sean, Abah. Sean gak sopan berkunjung di jam segini."Abah menggeleng. "Teu nanaon. Minum dulu, jangan mikirin ganggu atau nggak, tenangin dulu diri kamu."(Gak papa)Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tatapannya tak jelas mengarah ke mana, dan luka-luka yang terlihat jelas di bawah sorotan lampu, Sean terlihat bukan Sean yang sama. Abah jelas tidak menduga itu akan terjadi, tapi dia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.Nugroho dan orang tuanya sendiri. Yang jelas, Abah juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, dia harus berada di batas aman demi anaknya, berhubung sang istri sudah menjadi korban.Elusan lembut terus Abah berikan pada kepala Sean, dia tak bisa memijat pundak remaja itu sebab ada luka di sana yang akan membuatnya sakit jika disentuh.Abah menghela napas ketika Sean membawa gelas dengan gemetar, lalu meneguk airnya. "Sekar

  • Safir dan Delapan Berandal   72. Akan Sean Bayar

    "Katanya kamu berbuat onar dan membantah perintahnya. Apa aja yang kamu lakukan, Sean?!"Cambukan lain di punggungnya membuat Sean meringis pelan, tetapi dia tidak mengeluh atau berteriak meminta ampun seperti pertama kali mengalami. Sean cukup menahan diri hingga terbiasa sampai kini. Kepalanya tertunduk, tidak begitu dalam, tetapi mampu menyembunyikan wajah dari ibunya yang membentak dan ayahnya yang terus melayangkan cambukan kasar."Jawab, Sean!" Suara ayahnya turut keluar, membuat suasana yang kacau kian tak mengenakan."Sean mau keluar."Cambukan terhenti, napas berat yang saling bertautan memenuhi seisi kamar Sean yang gelap yang menyesakkan. Kedua orang tuanya terdiam seperti menyaksikan anak satu-satunya melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh diperbuat sepanjang hidupnya."Maksud kamu apa?!" Wanita paruh baya itu melangkah maju, menarik rambut bergelombang Sean membuat anaknya mendongak paksa. "Apa yang kamu maksud keluar?!""Sean gak mau, Ma." Se

  • Safir dan Delapan Berandal   71. Bertemu Juga

    "Manis?" Sam mengerjap untuk memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak. Ternyata memang tidak salah jika yang datang ke kantin adalah Safir. Kemarin dia sudah menunggu cewek itu, tetapi Jho mengatakan Safir tidak masuk sekolah dan wali kelasnya mengatakan ayahnya yang mengabari bahwa Safir izin tidak masuk.Sam tentu saja khawatir, berhubung dia tahu tentang kondisi Safir dan ayahnya, mengenai fakta yang ada, dan beberapa masalah lainnya. Dia bahkan rela berdiri di depan pagar rumah Yasa, berharap Safir keluar dari rumahnya. Namun cewek itu tidak muncul.Safir menatap Sam yang memegang kedua tangannya, dia berikan senyuman tulus untuk cowok itu. "Hai, Sam. Kenapa kayak cemas gitu?"Sam termenung. Bagaimana mungkin cewek yang sudah menangis sejadi-jadinya malam itu sekarang bisa tersenyum begitu cerah? Sam mengembuskan napasnya perlahan. "Lo gak papa? Kenapa kemarin gak masuk? Gue khawatir, lho.""Oh, kemarin." Safir kembali mengingat hal-hal yang kemarin terjadi, kemudian dia

  • Safir dan Delapan Berandal   69. Kutukan Akhir

    "Kenapa saya?" Harka langsung melontarkan pertanyaan, nadanya jelas tidak menyetujui, ada pemberontakan di sana."Karena Neyna tidak bisa." Andre menatap anaknya sendiri, kemudian kembali pada Harka. "Anak saya hanya satu--Neyna. Tetapi ada kamu yang hadir di sini, maka kamu yang akan meneruskan sa

  • Safir dan Delapan Berandal   66. Bersama Eight

    "Gue manggil mereka biar gak sepi, seenggaknya gak diem doang di sini." Tatapan Yasa mengarah pada Safir yang masih duduk di sofa, tapi bukan di ruang tamu, ini ruangan yang biasa digunakan ketika Eight berkumpul.Apa yang dimaksud Yasa barusan adalah dia mengundang Eight untuk datang malam ini. Ya

  • Safir dan Delapan Berandal   65. Jadi Terungkap

    Safir sekarang tahu jawaban jelasnya. Hal-hal buram yang membuatnya bertanya-tanya sudah menjadi kejelasan hingga rasa sakit menggila dalam diri. Pantas saja wanita yang dia anggap ibu kandungnya pergi begitu saja tanpa mau melihat, pantas saja pria yang dia akui sebagai ayah kandungnya pun berubah

  • Safir dan Delapan Berandal   63. Membuka Ruang

    "Eh lo semua tahu gak?! Waktu udah ngintip jawaban gue, gurunya bilang 'anak-anak isinya santai aja jangan ngasal, ini bukan pelajaran bahasa Indonesia yang bisa ngarang cerita!' gitu."Tawa terdengar mengisi ruang yang ada di area tenda pedagang kaki lima yang ditempati. Safir juga tidak bisa mena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status