Share

Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku
Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku
Author: Min Ye-Rin

Bab 1. Pertemuan

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-08-28 15:17:00

“Perusahaan ini tidak bisa menerimamu.”

Helena membeku mendengar ucapan itu. Kedua tangan terkepal di atas pangkuan. Tidak bisa menerima? Tapi kenapa? Bukankah mereka memanggilnya ke sini untuk tahap wawancara karena mereka bilang kalau dia kandidat yang pantas?

“Coba lihat dirimu sendiri. Penampilanmu sama sekali tidak mencerminkan standar Sinclair Corporation. Kamu datang ke sini untuk wawancara atau untuk menggoda pewawancaramu?”

Wanita dengan lipstik merah bata itu berdiri, menatap Helena dari ujung kepala sampai ujung kaki, berhenti sinis di bagian dada dan pinggulnya yang tampak begitu ketat.

Helena sudah berusaha semaksimal mungkin pagi ini. Dari mulai memilih pakaian terbaik yang ia punya, satu-satunya yang tersisa dari masa kuliahnya dulu. Sampai ia tidak sadar kalau tubuhnya benar-benar sudah berubah bentuk dari masa itu, membuat kain yang dulu longgar, kini melekat ketat di pinggul dan dadanya.

Bukan karena dia ingin terlihat menggoda, tapi karena dia tidak punya cukup uang untuk membeli yang baru.

Pipi Helena memanas. Dia menunduk sambil meremas jemarinya. “Ma-maaf… saya tidak bermaksud seperti itu…”

“Dan usiamu. Untuk kandidat yang baru mau memulai karier sebagai sekretaris, kamu ini sudah cukup berumur, bukan?” wanita itu memotong dengan cepat. Tak memberi ruang untuk membantah. “Saya tahu kamu adalah lulusan terbaik dari Kingsley University, tapi perusahaan ini membutuhkan sekretaris yang bisa mempresentasikan citra muda dan segar.”

Helena terdiam sejenak. Seingatnya, kualifikasi pekerja yang mereka cari tidak menyebutkan batasan usia. Ragu-ragu, ia membuka mulut. “Apa di perusahaan ini memang hanya menerima wanita muda, cantik, dan pintar berdandan saja?”

Pertanyaan sungguh-sungguh itu langsung membuat raut wajah para staff HR yang ada di ruangan wawancara itu berubah tersinggung.

Sudah bertahun-tahun Helena tidak menyentuh dunia kerja seperti ini. Gaji pelayan restoran nyaris tak cukup untuk menutup hutang dan kebutuhannya.

Apapun akan dia lakukan, termasuk saat melihat ada lowongan kerja bagus dengan bayaran yang cukup tinggi. Ia nekat melamar hanya bermodalkan ijazah kuliah yang sudah sekian lama tidak disentuh, memakai pakaian seadanya tanpa mengerti akan terlihat seperti apa.

Emosi di ruangan itu belum sempat padam, sampai akhirnya suara langkah kaki berat masuk, membuat tekanan baru di dada Helena.

“Ada keributan apa ini?”

Begitu pria itu masuk, suara di ruangan itu seketika hening, tidak ada staf yang berani bicara. Entah kenapa, Helena merasa suhu di ruangan itu ikut menurun beberapa derajat. Pastilah orang itu salah satu petinggi perusahaan ini.

Tapi, suara berat itu barusan membuat Helena mendongak perlahan. Matanya membulat menatap pria jangkung berjas abu-abu di depannya. Penampilannya begitu berwibawa, sedangkan wajahnya sangat familiar.

“Lucien?” gumam Helena nyaris tanpa suara.

Pupil Helena menyusut saat Lucien meliriknya. Dada Helena mengembang, terutama ketika Lucien mantapnya dengan sorot berbeda.

“Maaf, Tuan Sinclair… kami sedang interview, dan pelamar ini tidak sesuai dengan kandidat yang kita butuhkan, tapi dia masih saja ngeyel dan meragukan ketentuan di perusahaan kita,” ujar staf wanita. Dia berdiri tepat di samping Lucien dengan mata tak lepas dari Helena.

Helena ikut berdiri. Tangganya kini sudah meremas pinggiran rok span hitamnya.

“Saya bukan meragukan, Tuan. Saya hanya bertanya, apakah perusahaan ini hanya menerima karyawan yang muda dan pandai berdandan, alih-alih karyawan yang memiliki skill? Saya hanya memastikan kualifikasi yang dicari perusahaan.”

Tubuh Helena menegang ketika pria itu membalasnya dengan tersenyum. Bukan senyum ramah, justru senyum yang seolah sedang mengukur sehebat apa kemampuan yang Helena miliki.

Helena tertunduk lagi. Entah kenapa tatapan itu membuatnya sedikit terintimidasi. Ia juga tidak yakin apakah Lucien masih mengingatnya.

“Mana berkasnya?” tanya Lucien dingin. Matanya melirik sinis ke arah sang wanita yang tidak kunjung memberi apa yang dia minta. “Kamu tidak mendengarku?”

“Ah… iya, ini… Tuan.” dengan tangan gemetar, dia memberikan berkas milik Helena, lalu mundur satu langkah.

“Kalian keluar. Biar aku yang menyelesaikan wawancara ini,” ujar Lucien tegas. Tidak memberi kesempatan untuk membantah.

Di ruangan itu, kini hanya tersisa Helena dan Lucien. Keheningan menyergap dada Helena. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

Dalam ketegangan itu, Helena mengingat-ingat. Sinclair Corporation memang dimiliki oleh keluarga Sinclair. Ia pernah dengar mereka memang memiliki banyak cabang perusahaan. Tapi, Helena tidak menyangka jika ia akan langsung bertemu Lucien Sinclair sendiri di sini.

“Helena Ricci,” sebut Lucien. Dia duduk di kursi seberang Helena, sambil pelan-pelan menaikkan pandangannya dan berhenti tepat di wajah Helena.

“Istri dari mendiang sahabat saya, Adrian?”

Helena mengerjap pelan. Napasnya tertahan beberapa detik. “I-iya.” Dia menunduk, seolah menyembunyikan rasa malunya.

Jadi dia benar-benar Lucien yang Helena kenal. Sahabat lama suaminya yang sudah lama meninggal.

Wanita itu berusaha merapikan ujung kemeja dan lipatan roknya. Dia benar-benar merasa tidak percaya diri. Dia bisa melihat Lucien yang ekspresinya tetap dingin dan formal. Aneh, ia terlihat sangat berbeda dari Lucien yang pernah menenangkannya di depan pusara Adrian.

“Duduklah,” katanya sambil membolak-balikan berkas di tangannya. “Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.”

Lucien menjeda kalimatnya beberapa detik. Matanya terpaku pada keterangan tentang pengalaman kerja Helena.

“Saya percaya kemampuanmu, tapi Helena… riwayat pekerjaanmu membuat saya tidak habis pikir. Dengan bakat sebesar ini, kamu justru menyia-nyiakannya di dapur restoran dan kurir makanan?”

Helena tidak langsung menjawab. Dia meremas jemarinya. Apa kali ini dia akan gagal hanya karena tidak memiliki pengalaman kerja yang baik? Apa harapannya untuk merubah nasib dan keluar dari kemiskinan akan benar-benar kandas?

“Dan satu lagi,” potong Lucien cepat. “Di perusahaan ini, penampilan memang menjadi bahan pertimbangan terutama untuk posisi sekretaris. Karena kamu akan sering berhadapan langsung dengan klien dan jajaran direksi.”

Lucien kembali menyandarkan tubuhnya. “Kamu tidak perlu tersinggung. Itu semua bukan hanya untuk menjaga nama baik perusahaan, tapi juga untuk menjaga martabatmu sebagai seorang karyawan.”

Penjelasan Lucien berhasil membuat Helena merasa lebih kecil. Sejak menjadi janda, orang-orang memang jadi sering teliti terhadap penampilannya. Helena tidak menyangka ia akan mencolok juga di tengah area perkantoran yang berisi orang-orang yang sama-sama berpakaian kemeja putih-hitam.

“Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Sinclair,” katanya pelan. “Kalau memang saya diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini, saya akan berusaha memenuhi syarat dan bekerja dengan sebaik-baiknya.”

Lucien meletakkan berkas itu. “Tunggu balasan email dari kami, paling lama lima hari kerja,” ujarnya. Dia berdiri sambil merapikan jasnya.

Helena menghela napas lega. “Terima kasih, Tuan.”

“Satu lagi, Helena.”

Helena yang sudah berdiri, kembali melirik ke arah Lucien yang kini membelakanginya. Dia menatap punggung pria tegap itu was-was.

“Jangan terlalu sering menunduk. Itu sebabnya kamu mudah direndahkan,” ujar Lucien, lalu pergi tanpa berucap lagi.

Sampai Helena pergi dari gedung itu dan berjalan pulang ke rumah, pria itu masih meninggalkan pikiran di benaknya.

Begitu Helena membuka pintu apartemennya, sebuah botol bir melayang ke arahnya dan hancur berkeping-keping membentur tembok.

Prang!

“Dari mana saja, kamu Helena? Apa yang kamu lakukan diluar sana, sampai lupa menyiapkan kebutuhanku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 46. Milikmu Masih Keras

    Tangan Lucien merayap menyentuh belahan Helena di bawah sana. Dia membelainya lembut, sambil sesekali menekan-nekan bagian tengahnya. Tubuh Helena bergetar setiap kali merasakan sentuhan itu. Mulutnya sedikit terbuka, mendesah, lalu meremas kepala Lucien. “Pegang milikku juga, Helena,” bisik Lucien berat. “Aku juga ingin merasakan sentuhanmu lagi.”Mata Helena yang semula terpejam, kini sudah kembali terbuka. Dia berkedip ringan, ragu, tapi perlahan, tangannya turun ke bawah, menyentuh milik Lucien yang sudah mengeras sempurna. “Ahh… gerakkan dengan sedikit cepat,” katanya. Helena melakukan sesuai perintah. Gerakan itu begitu amatir, kadang Lucien meringis karena terlalu kasar, tapi pria itu tidak marah. Dia justru menuntun Helena sampai wanita itu nyaman.“Ya, begitu… lakukan lebih cepat,” kata Lucien, saat tangan Helena mulai terlatih bergerak di bawah sana. Dia juga tidak tinggal diam. Jari Lucien menelusup dari samping kain penutup, lalu menyibak setiap lapisan dari vagina He

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 45. Lakukan Sekarang, Helena

    Awalnya Helena ragu, tapi karena sudah cukup lama, Lucien hanya menempelkan bibirnya, wanita itu mulai mendorong lidahnya keluar. Dari sudut mata, Helen bisa melihat Lucien tersenyum. Pria itu memejamkan mata, dan ikut membuka bibirnya. Desahan halus keluar dari mulut Helena, ketika tangan Lucien meraba dadanya. Meremasnya pelan, penuh perasaan. Ciuman Helena turun ke leher Lucien. Mengecup dan menjilat leher pria itu. Dia cukup lama menyesap buah jakun Lucien, dan itu berhasil membuat pria itu melenguh panjang. “Iya, Helena… lakukanlah apapun yang kamu kamu,” bisik Lucien. Kedua tangannya kebelakang—dia jadikan sebagai penopang tubuh. Tangan Helena membuka kancing kemeja Lucien, satu persatu, dengan gerakan ragu. Matanya sesekali melirik pria yang kini sudah terpejam dengan sisa senyum di wajahnya. Ini sangat memalukan. Helena belum pernah seperti ini, tapi apa yang tubuhnya lakukan, di luar kendalinya. Tepat ketika kemeja itu terbuka sepenuhnya, Helena mengerjap kasar. Ini b

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 44. Miliki Aku Sepenuhnya

    Lima belas menit berlalu. Amarah yang semula bergemuruh di dada Helena, lambat laun, sudah lebih terkendali. Lucien menuntun wanita itu untuk duduk di tepi ranjang. Tubuhnya benar-benar ringkih, belum lagi mata cekungnya lengkap dengan lingkaran hitam di bawah mata. “Lucien…” gumam Helena lirih. Wajahnya masih tertunduk, tangannya saling meremas di pangkuan. Dia tampak ragu. Kalimatnya masih bertahan di tenggorokan, cukup lama. Tubuhnya menegang, ketika tangan Lucien menggenggam jemarinya. Wajah Helena terangkat, menatap pria itu tanpa berkedip. “Tidak perlu takut, kamu bisa bicara padaku, apapun itu,” kata Lucien pelan. Sebelah tangannya membelai pipi Helena yang hangat. “Aku akan mendengarkannya. Kalau bisa membantu, aku juga akan membantumu.”Lucien menjeda kalimatnya cukup lama. Dia menatap lurus Helena, seolah berusaha membersihkan rasa ragu di mata wanita itu. “Aku ada di pihakmu,” katanya dalam. Helena menunduk lagi. Dia menggigit bibirnya. “Kenapa kamu memilihku?” tanya H

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 43. Rantai Yang Menjeratku

    Tubuh Lucien menegang. Rahangnya terkatup semakin kuat. Matanya gelap, seolah hendak menelan tubuh ringkih Helena saat ini juga. “Helena…”Kalimat Lucien menggantung saat Helena mengangkat wajah dan menatapnya dalam. Air mata wanita itu sudah menjadi satu dengan keringat di wajahnya. “Kenapa kamu berbohong?” tanya Helena lirih. “Kenapa kamu berbohong tentang dua orang asing yang menyerang apartemenku malam itu?”Bahu Lucien yang semula tegang, kini sedikit lebih turun. Matanya yang semula gelap dan mengerikan, kini perlahan berubah teduh dan pilu. Kekecewaan Helena menghantam tepat di jantung Lucien.“Aku melakukannya, hanya untuk—”“Melindungiku?” potong Helena cepat. Wanita itu terkekeh hambar. “Kamu selalu berdalih melakukan semuanya untuk melindungiku, Lucien.”Wanita itu berdiri, lalu melangkah dengan kaki gemetar. Dia berhenti tepat di depan Lucien. Tangannya terangkat, memukul dada Lucien. “Apa ini bagian dari tanggung jawabmu untuk menjalankan amanah Adrian?” Helena kembal

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 42. Ini Aku Lucien...

    Helena menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah pucat dan tirus, mata cekung, membuat dirinya terlihat lebih mengenaskan dari biasanya. Sudah tiga hari setelah kejadian itu, bahkan Lucien tidak datang menemuinya. Hanya beberapa pelayan dan dokter yang merawatnya. “Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Lucien,” gumam Helena. Tangannya menyentuh permukaan cermin yang dingin. “Kamu selalu saja meninggalkan pertanyaan besar untukku.” “Nona Helena.” Pintu terbuka. Seorang pelayan datang membawa satu nampan makanan. Helena meliriknya sekilas, menatap makanan, tanpa minat, lalu kembali menatap cermin. “Dimana Lucien?” tanyanya datar. Pelayan itu tidak langsung menjawab. Tubuhnya yang membungkuk, kini sudah berdiri lebih tegak. “Tuan—”“Katakan padanya, sampai kapan aku akan dikurung di tempat ini? Katakan padanya, aku ingin bicara dan menyelesaikan masalah ini.”Helena berbalik badan, menatap pelayan itu dengan mata yang sudah basah. “Sekarang,” tegas Helena. Dia duduk di tepi ranjang

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 41. Jangan Sentuh Aku

    Helena menolak, saat Lucien hendak menggendongnya. Tubuhnya gemetar, lalu beringsut menjauh. “Jangan… jangan sentuh aku,” katanya, sambil menggeleng kasar, lalu meringkuk lebih kecil. Lucien menatap wanita itu dengan mata yang sudah panas. Pria itu kembali berjongkok di depan Helena. Dia menatap Helena yang sudah setengah sadar. Tangannya menangkup wajah Helena. “Helena, ini aku… Lucien,” katanya dengan suara berbisik. “Aku akan melindungimu, jangan takut.”Mata Helena berkedut ringan. Tak lama, air matanya kembali mengalir. “Bawa aku pergi… bawa aku pergi dari sini,” katanya lirih. “Aku mohon….”Lucien mengatupkan rahangnya. Dia melirik dua pengawalnya yang masih berdiri di ambang pintu sambil membelakangi mereka. “Cari Matteo sampai ketemu,” kata Lucien dingin. “Aku mau dia malam ini, hidup atau mati.” Tubuh dua pria itu berdiri lebih tegak, mereka berbalik, lalu membungkuk hormat. “Baik, Tuan!” kata mereka serempak, sebelum akhirnya pergi. Mata Lucien kembali menelanjangi s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status