LOGIN
Tangan Lucien merayap menyentuh belahan Helena di bawah sana. Dia membelainya lembut, sambil sesekali menekan-nekan bagian tengahnya. Tubuh Helena bergetar setiap kali merasakan sentuhan itu. Mulutnya sedikit terbuka, mendesah, lalu meremas kepala Lucien. “Pegang milikku juga, Helena,” bisik Lucien berat. “Aku juga ingin merasakan sentuhanmu lagi.”Mata Helena yang semula terpejam, kini sudah kembali terbuka. Dia berkedip ringan, ragu, tapi perlahan, tangannya turun ke bawah, menyentuh milik Lucien yang sudah mengeras sempurna. “Ahh… gerakkan dengan sedikit cepat,” katanya. Helena melakukan sesuai perintah. Gerakan itu begitu amatir, kadang Lucien meringis karena terlalu kasar, tapi pria itu tidak marah. Dia justru menuntun Helena sampai wanita itu nyaman.“Ya, begitu… lakukan lebih cepat,” kata Lucien, saat tangan Helena mulai terlatih bergerak di bawah sana. Dia juga tidak tinggal diam. Jari Lucien menelusup dari samping kain penutup, lalu menyibak setiap lapisan dari vagina He
Awalnya Helena ragu, tapi karena sudah cukup lama, Lucien hanya menempelkan bibirnya, wanita itu mulai mendorong lidahnya keluar. Dari sudut mata, Helen bisa melihat Lucien tersenyum. Pria itu memejamkan mata, dan ikut membuka bibirnya. Desahan halus keluar dari mulut Helena, ketika tangan Lucien meraba dadanya. Meremasnya pelan, penuh perasaan. Ciuman Helena turun ke leher Lucien. Mengecup dan menjilat leher pria itu. Dia cukup lama menyesap buah jakun Lucien, dan itu berhasil membuat pria itu melenguh panjang. “Iya, Helena… lakukanlah apapun yang kamu kamu,” bisik Lucien. Kedua tangannya kebelakang—dia jadikan sebagai penopang tubuh. Tangan Helena membuka kancing kemeja Lucien, satu persatu, dengan gerakan ragu. Matanya sesekali melirik pria yang kini sudah terpejam dengan sisa senyum di wajahnya. Ini sangat memalukan. Helena belum pernah seperti ini, tapi apa yang tubuhnya lakukan, di luar kendalinya. Tepat ketika kemeja itu terbuka sepenuhnya, Helena mengerjap kasar. Ini b
Lima belas menit berlalu. Amarah yang semula bergemuruh di dada Helena, lambat laun, sudah lebih terkendali. Lucien menuntun wanita itu untuk duduk di tepi ranjang. Tubuhnya benar-benar ringkih, belum lagi mata cekungnya lengkap dengan lingkaran hitam di bawah mata. “Lucien…” gumam Helena lirih. Wajahnya masih tertunduk, tangannya saling meremas di pangkuan. Dia tampak ragu. Kalimatnya masih bertahan di tenggorokan, cukup lama. Tubuhnya menegang, ketika tangan Lucien menggenggam jemarinya. Wajah Helena terangkat, menatap pria itu tanpa berkedip. “Tidak perlu takut, kamu bisa bicara padaku, apapun itu,” kata Lucien pelan. Sebelah tangannya membelai pipi Helena yang hangat. “Aku akan mendengarkannya. Kalau bisa membantu, aku juga akan membantumu.”Lucien menjeda kalimatnya cukup lama. Dia menatap lurus Helena, seolah berusaha membersihkan rasa ragu di mata wanita itu. “Aku ada di pihakmu,” katanya dalam. Helena menunduk lagi. Dia menggigit bibirnya. “Kenapa kamu memilihku?” tanya H
Tubuh Lucien menegang. Rahangnya terkatup semakin kuat. Matanya gelap, seolah hendak menelan tubuh ringkih Helena saat ini juga. “Helena…”Kalimat Lucien menggantung saat Helena mengangkat wajah dan menatapnya dalam. Air mata wanita itu sudah menjadi satu dengan keringat di wajahnya. “Kenapa kamu berbohong?” tanya Helena lirih. “Kenapa kamu berbohong tentang dua orang asing yang menyerang apartemenku malam itu?”Bahu Lucien yang semula tegang, kini sedikit lebih turun. Matanya yang semula gelap dan mengerikan, kini perlahan berubah teduh dan pilu. Kekecewaan Helena menghantam tepat di jantung Lucien.“Aku melakukannya, hanya untuk—”“Melindungiku?” potong Helena cepat. Wanita itu terkekeh hambar. “Kamu selalu berdalih melakukan semuanya untuk melindungiku, Lucien.”Wanita itu berdiri, lalu melangkah dengan kaki gemetar. Dia berhenti tepat di depan Lucien. Tangannya terangkat, memukul dada Lucien. “Apa ini bagian dari tanggung jawabmu untuk menjalankan amanah Adrian?” Helena kembal
Helena menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah pucat dan tirus, mata cekung, membuat dirinya terlihat lebih mengenaskan dari biasanya. Sudah tiga hari setelah kejadian itu, bahkan Lucien tidak datang menemuinya. Hanya beberapa pelayan dan dokter yang merawatnya. “Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Lucien,” gumam Helena. Tangannya menyentuh permukaan cermin yang dingin. “Kamu selalu saja meninggalkan pertanyaan besar untukku.” “Nona Helena.” Pintu terbuka. Seorang pelayan datang membawa satu nampan makanan. Helena meliriknya sekilas, menatap makanan, tanpa minat, lalu kembali menatap cermin. “Dimana Lucien?” tanyanya datar. Pelayan itu tidak langsung menjawab. Tubuhnya yang membungkuk, kini sudah berdiri lebih tegak. “Tuan—”“Katakan padanya, sampai kapan aku akan dikurung di tempat ini? Katakan padanya, aku ingin bicara dan menyelesaikan masalah ini.”Helena berbalik badan, menatap pelayan itu dengan mata yang sudah basah. “Sekarang,” tegas Helena. Dia duduk di tepi ranjang
Helena menolak, saat Lucien hendak menggendongnya. Tubuhnya gemetar, lalu beringsut menjauh. “Jangan… jangan sentuh aku,” katanya, sambil menggeleng kasar, lalu meringkuk lebih kecil. Lucien menatap wanita itu dengan mata yang sudah panas. Pria itu kembali berjongkok di depan Helena. Dia menatap Helena yang sudah setengah sadar. Tangannya menangkup wajah Helena. “Helena, ini aku… Lucien,” katanya dengan suara berbisik. “Aku akan melindungimu, jangan takut.”Mata Helena berkedut ringan. Tak lama, air matanya kembali mengalir. “Bawa aku pergi… bawa aku pergi dari sini,” katanya lirih. “Aku mohon….”Lucien mengatupkan rahangnya. Dia melirik dua pengawalnya yang masih berdiri di ambang pintu sambil membelakangi mereka. “Cari Matteo sampai ketemu,” kata Lucien dingin. “Aku mau dia malam ini, hidup atau mati.” Tubuh dua pria itu berdiri lebih tegak, mereka berbalik, lalu membungkuk hormat. “Baik, Tuan!” kata mereka serempak, sebelum akhirnya pergi. Mata Lucien kembali menelanjangi s







