Share

Bab 5

Author: Larasati
Geisha mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

Pria itu mengangkatnya dengan cepat. "Geisha?"

"Daniel, kamu sekarang di mana?"

"Di kantor dong. Ada apa?"

Geisha menatap pantulan di kaca spion. Melihat Daniel yang satu tangannya menggandeng tangan Lucy, sementara tangan lainnya memegang ponsel di telinga, Geisha hanya merasa geli.

Lucy sepertinya ingin berkata sesuatu, tetapi Daniel mengangkat tangan untuk menghentikannya.

Pria itu menunjuk ponselnya, lalu menempelkan telunjuk di bibir, memberi isyarat agar diam.

"Geisha, kamu mau kue dari toko di timur kota nggak? Nanti pas pulang kerja aku mampir beliin."

"Nggak usah."

"Dulu kamu 'kan suka banget kue matcha dari sana?"

"Kamu sendiri yang bilang, itu dulu," sahut Geisha. "Orang 'kan bisa berubah. Yang dulu disukai banget ... sekarang udah nggak suka lagi."

Nada suara Daniel terdengar sedikit tegang. "Geisha, kamu lagi ada masalah, ya? Suaramu kedengeran aneh."

Geisha menjawab, "Nggak kok. Kamu lanjut kerja aja. Aku nggak mau ganggu."

…

Saat Daniel pulang, tangannya menjinjing sekotak kue kecil.

Geisha sedang sibuk membereskan album foto.

Mereka sudah saling kenal bertahun-tahun, dari masa sekolah sampai terjun ke dunia kerja. Mereka pernah liburan bersama, melewati hari-hari bersama. Bahkan album foto masa sekolah mereka saja sudah ada empat atau lima album.

Melihat tumpukan foto itu, Daniel pun ikut tersentuh.

Dia membungkuk dari belakang, merangkul tubuh Geisha. "Ngapain lihat-lihat foto lama?"

Geisha bertanya, "Kok pulang cepet lagi?"

Daniel tertawa kecil. "Kangen istriku dong, makanya pulang cepet buat nemenin kamu."

Geisha membereskan semua album foto itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kardus.

Diam-diam, dia menggenggam korek api itu, lalu menyelipkannya ke saku celana jeans.

Awalnya dia mengira Daniel masih akan bermesraan dengan selingkuhannya untuk beberapa waktu lagi, jadi dia berniat membakar semua album ini. Siapa sangka pria itu pulang lebih awal, mengacaukan semua rencananya.

"Sayang, kok kayaknya kamu nggak senang aku pulang cepet buat nemanin kamu?"

Geisha berdiri, menghindari tangan Daniel yang hendak merangkul pinggangnya. "Kerjaan lebih penting."

Daniel menempel seperti permen karet. "Mana ada kerjaan yang lebih penting dari kamu?"

Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Geisha. "Sayang, belakangan ini kamu kayaknya dingin banget sama aku. Aku salah apa sampai bikin kamu marah?"

Dulu, kemesraan di antara mereka terasa begitu membahagiakan dan manis.

Namun kini, setelah ada duri yang menancap di hati, Geisha hanya merasa muak.

Membayangkan tangan yang kini melingkar di pinggangnya ini baru saja memeluk wanita lain, dan bibir yang hendak menciumnya mungkin baru saja mencium wanita lain, perutnya seketika bergolak.

Terlebih lagi, ada aroma samar yang menguar dari tubuh pria itu.

Bukan parfum pria, melainkan aroma yang biasa tercium di pusat perbelanjaan.

Siapa yang betah berlama-lama di pusat perbelanjaan?

Jawabannya sudah tak perlu dipertanyakan.

Geisha mendorong Daniel dengan keras lalu berlari masuk ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya sampai dunia terasa berputar.

Daniel menepuk-nepuk punggungnya sambil menyodorkan tisu. Dia mengernyitkan kening dengan wajah penuh kekhawatiran, dan kepeduliannya tampak tulus. "Kok tiba-tiba muntah? Jangan-jangan salah makan? Bi Ani!"

Bi Ani buru-buru datang. "Ya, Tuan."

"Siang tadi Nyonya makan apa? Apa bahan makanannya nggak segar? Perut Nyonya 'kan lemah. Aku pekerjakan kamu khusus buat merawat kondisi tubuhnya, kok bisa sampai muntah?"

Bi Ani tampak bingung. "Siang tadi Nyonya nggak makan di rumah. Katanya ada urusan di luar, jangan-jangan makanan di luar yang nggak bersih."

Daniel mengerutkan kening, menegur dengan suara berat, "Makanan di luar tuh nggak higienis, makanan siap saji juga nggak selalu segar. Kalau mau makan apa, bilang aja sama Bi Ani buat masakin di rumah. Ngapain harus keluar?"

Geisha yang masih pusing dan berkunang-kunang karena muntah, mendengar kata-kata itu malah makin naik pitam. "Daniel, kamu mau ngurung aku di rumah? Sampai keluar rumah aja aku nggak bebas?"

"Aku cuma mau ngelindungin kamu. Kalau kamu keluar sendirian, aku nggak tenang. Mulai sekarang, kalau kamu mau ke mana, bilang aja, nanti aku antar."

Geisha tertawa getir. "Emang kamu punya waktu?"

Sibuk mengurus perusahaan, sekaligus harus mendampingi selingkuhannya. Memangnya dia itu amoeba? Bisa membelah diri?

Daniel menatapnya beberapa saat, lalu mengambil tisu lagi dan mengusap peluh di dahi Geisha. "Ngomong apa sih? Kalau kamu yang minta, aku pasti ada waktu. Geisha, kita udah bersama bertahun-tahun, kamu belum paham juga isi hatiku?"

Isi hatinya?

Yang terbelah jadi dua itu? Dia memang tidak paham.

"Ya ampun!" Bi Ani tiba-tiba bertepuk tangan dengan gembira. "Nyonya belakangan ini emosinya nggak stabil, terus tadi juga muntah. Jangan-jangan ... hamil?!"

Daniel terkejut sejenak, lalu raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat gembira. "Geisha, kamu ...."

"Nggak," potong Geisha. "Aku cuma ngerasa baunya menyengat, jadi mual aja."

"Nggak bisa, kita harus tetap periksa ke dokter ...."

"Daniel!" Geisha membentak pelan. "Selama tiga bulan terakhir ini, kamu sendiri tahu, kita masih pernah melakukannya atau nggak?!"

Teringat hal itu, Geisha merasa ironis.

Tiga bulan terakhir, Daniel jarang makan di rumah. Alasannya selalu sama, ada jamuan bisnis di luar dan sudah makan.

Awalnya Geisha tidak terlalu memikirkannya. Dengan status dan posisinya sekarang, orang yang ingin mentraktirnya makan pasti antre panjang sampai berkilo-kilometer.

Sampai suatu kali, saat sedang bosan menonton drama di rumah, dia tidak sengaja mendengar sebuah kalimat.

"Kalau pria pulang ke rumah nggak mau makan, bisa dipastikan dia udah kenyang di luar."

Kalimat itu menyadarkan Geisha, sekaligus mengoyak sebuah fakta yang menyakitkan.

Lama atau tidaknya hubungan bukanlah tolak ukur kesetiaan. Manusia bisa berubah. Cinta di masa lalu memang nyata, tetapi cinta pada orang lain di kemudian hari juga sama nyatanya.

Raut wajah Daniel pun ikut mengeras. "Jadi, selama ini kamu marah-marah sama aku gara-gara ini, ya? Geisha, maafin aku. Belakangan ini urusan kantor emang lagi banyak banget, sampai aku ngelantur dan mengabaikan kamu. Aku janji, mulai besok aku bakal pulang dan makan malam bareng kamu tiap hari. Oke?"

"Nggak usah," sahut Geisha. "Sibuk aja sana, jangan sampai menghambat 'urusan penting' kamu."

"Geisha, jangan asal ngomong karena lagi emosi."

"Daniel, menurutmu ini omongan orang lagi emosi?"

Tatapan Daniel berkedut sejenak. "Aku nggak ngerti maksud kamu."

Pandangan Geisha jatuh ke pergelangan tangan pria itu.

Sebuah gelang anyaman benang merah. Tanpa permata, tanpa berlian, tampak sangat sederhana dan bersahaja.

Bahkan, anyamannya pun terlihat agak kasar.

Sekilas saja sudah ketahuan, itu jelas buatan tangan.

Hanya ada satu liontin logam kecil, berbentuk bulan sabit.

Daniel menyadari arah pandangannya dan buru-buru menjelaskan, "Oh, 'kan sebentar lagi mau Festival Bacang, bagian administrasi kantor beliin buat semua karyawan. Tiap orang di kantor punya."

Geisha menarik kembali pandangannya. "Oh, begitu ya."

"Kamu suka? Besok aku suruh bagian administrasi ambilin satu buat kamu."

"Nggak usah, aku nggak suka pakai perhiasan."

Daniel mengangguk. "Aku tahu, kamu nggak suka merasa terkekang. Kalung, gelang, cincin, anting, semuanya nggak kamu suka. Tiap kali kamu ulang tahun atau hari jadi kita, aku sampai pusing mikirin mau ngasih hadiah apa."

"Ada satu hal yang aku mau, kamu mau kasih aku nggak?"

Daniel tampak senang. "Tentu aja, kamu mau apa?"

"Aku mau beli sebuah planet kecil, terus kasih nama pakai namaku."

"Itu mah gampang." Daniel langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon. "Aku suruh Henry urusin sekarang ...."

"Nggak usah, aku sudah cek semuanya. Tinggal kamu tanda tangan, bank langsung bisa transfer."

Daniel mengangguk. "Tanda tangan di mana? Aku tanda tangan sekarang."

"Nggak usah buru-buru, beberapa hari lagi. Mereka bakal kirim dokumennya ke aku, nanti aku kasih kamu tanda tangan."

"Oke."

Geisha berkata, "Kamu keluar dulu, aku mau ganti baju."

Daniel terkekeh. "Kita udah bersama bertahun-tahun, bagian tubuh mana yang belum pernah dilihat? Masih malu-malu aja."

"Aku nggak biasa ganti baju dilihatin orang."

Daniel mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Iya, aku nurut aja. Aku tunggu di ruang makan, ya. Habis ganti baju langsung turun buat makan."

"Hmm."

Daniel keluar dari kamar, diikuti oleh Bi Ani.

Geisha mengeluarkan ponselnya dan menyegarkan linimasa media sosialnya.

Unggahan paling atas adalah dari Lucy.

Lucy: [Semoga aku laksana bintang dan kamu bagai bulan, bersinar terang bersama setiap malam. Hari ini hampir saja kehilanganmu, beruntung ada dia yang membantuku menemukannya kembali.]

Foto yang diunggah adalah sepasang tangannya yang cantik.

Di pergelangan tangannya, melingkar gelang anyaman benang merah buatan tangan, dengan liontin logam yang berbentuk bintang.

Gelang itu pas sekali dipadukan dengan gelang Daniel yang bermotif bulan, seolah memang dibuat berpasangan.

Geisha membakar habis semua album foto itu dalam sekejap, lalu membuang abunya ke dalam kloset dan menyiramnya hingga bersih.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 100

    "Mmph!"Geisha hampir tidak sempat bereaksi ketika tiba-tiba dicium. Shane menciumnya?!Adegan ini terlalu absurd. Geisha sempat mengira dirinya masih bermimpi.Namun, rasa perih yang nyata di bibirnya seketika menghancurkan ilusinya.Ciuman Shane mendarat begitu membabi buta, nyaris disertai gigitan dan isapan.Baru saja Geisha membuka mulut untuk berbicara, pria itu langsung membungkamnya dan mengambil alih napasnya. Geisha memukul bahunya, tetapi sama sekali tidak berguna. Pukulannya bahkan tidak bisa menyakitinya sedikit pun. Sebaliknya, itu malah membuat Shane makin gila dan terus menuntut lebih. "Geisha! Geisha!"Geisha tidak menjawab."Geisha, kamu kenapa? Ada apa?"Geisha tetap bungkam."Geisha, kamu di mana? Jawab aku!"Shane tiba-tiba berhenti. Dia menyeringai nakal, lalu menyodorkan ponsel ke depan wajah Geisha. "Mau kasih tahu dia nggak apa yang baru aja aku lakuin ke kamu?"Geisha sudah terlalu lama kekurangan oksigen. Kepalanya terasa pusing dan berat. Dia hanya bisa t

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 99

    Rahasia ini telah disembunyikan oleh kedua wanita tersebut selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka berniat membawanya hingga ke liang kubur.Namun, Thea berkata, "Geisha, aku bisa menebak kalau masalah antara kamu dan Daniel itu karena kejadian yang menimpaku. Sebagai teman, aku nggak bisa diam saja melihat kalian berpisah cuma karena salah paham, tapi sekarang ... Sepertinya masalah ini sudah sampai pada titik yang sulit diperbaiki. Aku nggak tahu harus gimana buat menebus rasa bersalahku ke kamu. Jadi, aku cerita semua kejadian malam itu ke Daniel secara utuh dan apa adanya. Sisanya, kalian berdua yang putusin sendiri, ya."Ponsel itu kembali berpindah ke tangan Daniel.Dari seberang telepon, Geisha bisa mendengar suara napasnya.Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, begitu pula dengan Daniel.Pada akhirnya, Geisha lah yang lebih dulu bersuara, "Masalah Thea, aku harap kamu bisa merahasiakannya baik-baik dan jangan pernah membocorkannya. Kalau nggak, aku nggak akan ting

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 98

    Geisha tidak punya nafsu makan.Setelah makan, dia secara sukarela mengusulkan, "Aku tidur di sofa ruang tamu aja."Shane sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Sebenarnya, Geisha tahu persis apa yang ingin diucapkan pria itu. Pasti berkaitan dengan kejadian di Gedung Zenith hari ini.Namun, yang dia butuhkan saat ini bukanlah kata-kata penghiburan, apalagi sindiran.Dia hanya ingin tenang sejenak.Untungnya, Shane kali ini cukup pengertian. Dia hanya mengucapkan, "Istirahatlah yang cukup," lalu masuk ke kamar tidur.Geisha tidak tahu sudah berapa lama dia gelisah bolak-balik di sofa, sebelum akhirnya terlelap dalam kantuk yang berat.Dalam keadaan setengah sadar, dia seolah bermimpi tentang adegan di atap Gedung Zenith hari ini.Bedanya, kali ini, dialah yang berdiri di tepi atap gedung itu.Angin bertiup kencang dan hujan turun dengan derasnya.Tetesan hujan yang dingin menghantam tubuhnya, lalu diterpa angin malam yang menusu

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 97

    Baru saja keluar dari lift, dia berpapasan dengan Shane.Dengan sigap, pria itu merangkulnya dan menariknya kembali masuk ke dalam lift.Dia langsung menekan tombol lantai 64.Geisha berkata, "Aku mau ke resepsionis buat pesan kamar.""Malam ini kamu tidur di tempatku.""Nggak mau.""Daniel lagi ada di Kota Sentana sekarang. Kalau dia nyamperin terus berlutut di depan pintu kamar kamu buat ngasih penjelasan, kamu masih bisa tidur nggak?"Geisha terdiam."Mending kamu tidur di tempatku. Kalaupun dia nyari ke sini, biar aku yang nyuruh dia pergi. Jangan sampai dia ganggu waktu mesraku sama pacarku."Geisha langsung pasrah. Dia menatap indikator lantai di atas pintu lift yang angkanya terus melompat naik satu per satu. Shane mengusap kepala anjing-anjing itu. "Kalian hari ini kelakuannya bagus. Besok suruh ibu kalian tambahin jatah paha ayam."Anjing-anjing itu menjulurkan lidah sambil menyeringai polos, lalu menjilati tangan Shane.Shane mengerutkan kening, lalu mengusapkan air liur di

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 96

    Saat mereka sedang berbicara, terdengar keriuhan di pintu masuk Gedung Zenith.Sekelompok satpam keluar satu per satu, disusul rombongan besar wartawan yang membawa kamera dan berbagai peralatan liputan. Setelah itu, polisi, pemadam kebakaran, dan para negosiator.Terakhir, sepasang pria dan wanita yang dikelilingi oleh sekelompok satpam.Wajah Lucy masih basah oleh air mata, sementara Daniel menggendongnya di pelukannya."Sudah keluar! Mereka sudah keluar!"Massa langsung berbondong-bondong maju ke depan.Hanya Geisha dan Shane yang masih berdiri di tempat.Ketiga anjing itu sepertinya juga merasakan suasana hati pemiliknya. Mereka duduk dengan patuh tanpa membuat onar, hanya menempel erat di kaki Geisha.Entah kenapa, suasana itu terasa sedikit hangat. Sebuah mobil hitam perlahan berhenti di pinggir jalan. Henry membuka pintu dan berlari cepat ke sana, lalu berdiri melindungi Daniel dan Lucy sambil membantu polisi membuka jalan. Saat rombongan itu melewati tempat mereka, Geisha te

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 95

    Di langit di atas Sungai Grandis, kembang api masih terus meledak.Namun, sudah tidak ada banyak orang yang menonton lagi. Semua orang mulai berlari ke arah yang sama.Geisha bertanya dengan bingung, "Kalian mau ke mana?"Seorang pemuda menjawab, "Katanya ada orang yang mau bunuh diri dengan melompat dari Gedung Zenith!"Melompat dari gedung?Geisha langsung berdiri. Gedung Zenith letaknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar dua atau tiga ratus meter."Pak Shane, bagaimana kalau kita ke sana?"Shane sepertinya tidak terlalu terkejut. Dia hanya terkekeh pelan. "Dia memang benar-benar nekat."Suara langkah kaki dan dentuman kembang api di sekitar saling berbaur, membuat Geisha tidak mendengar perkataannya dengan jelas."Kamu ngomong apa?""Ayo, lihat .... Nggak ada salahnya."Geisha menuntun ketiga anjing itu dan berjalan ke arah sana.Shane memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangannya. "Di sini ramai. Jangan sampai kepisah."Kawasan Sungai Grandis malam ini ditakdirkan untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status