Mag-log in
Kania memijat pelipisnya yang berdenyut dengan jemari yang terasa lemas. Lampu neon di ruang jaga perawat Bangsal Melati Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu menyilaukan untuk matanya yang sudah memerah akibat kurang tidur. Pukul sepuluh pagi, dan Kania baru saja menyelesaikan piket malam marathon selama dua belas jam yang nyaris tanpa jeda.
Sebagai seorang mahasiswi koas yang sedang berjuang menuntaskan stase bedah ortopedi, hidup Kania Salsabila kini berkisar di antara lembaran rekam medis, tumpukan resep, dan rasa kantuk yang kronis. Rambut cokelat gelapnya diikat asal-asalan dengan jepit plastik murah, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang menjuntai di lehernya. Pakaian scrub hijaunya tampak sedikit kusut, namun matanya yang bulat jernih masih memancarkan daya juang yang gigih. Di tengah usahanya menahan kelopak mata agar tidak terpejam, ponsel di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari sang kakak, Fabian. "Duit lu masih?" Kania mendengkus pelan. Tanya itu ibarat sindiran yang tepat sasaran. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kain sederhana yang dibawanya harian, lalu membukanya lebar-lebar di atas meja. Isinya sungguh tragis. Hanya ada selembar uang kertas dua puluh ribu rupiah yang terlipat kumal, dua lembar lima ribuan, serta belasan koin recehan seratus dan lima ratus rupiah yang berserakan. Kania memang sengaja membatasi uang tunai pegangannya demi komitmen "hidup mandiri" tanpa fasilitas kemewahan keluarganya, tetapi hari ini keuangannya benar-benar mencapai titik nadir. Dengan sisa-sisa kesadaran yang menipis, Kania meraih ponselnya, memotret tumpukan koin receh di atas meja tersebut, lalu mengetikkan pesan singkat: "Sisa segini, tf dongg" Jemari Kania yang lemas mengetuk tombol kirim secara refleks. Namun, alih-alih membuka obrolan dengan kakaknya, mata Kania yang remang-remang justru tak sengaja mengetuk kontak paling atas yang baru saja mengirimkan notifikasi. Detik berikutnya, layar ponsel menampilkan pesan yang terkirim. Kania mengerjapkan matanya cepat, mencoba memperjelas pandangannya. Nama kontak di bagian atas layar membuat seluruh darah di tubuh Kania mendadak berhenti mengalir: Dr. Arka Dewantara, Sp.OT. "Mati gue..." bisik Kania dengan suara tercekat di tenggorokan. Rasa kantuk Kania seketika sirna seratus persen, berganti dengan gelombang panik yang dahsyat. Di hadapannya bukan obrolan sang kakak, melainkan ruang obrolan pribadi milik Dokter Arka—konsulen senior bedah ortopedi sekaligus pendiri Dewantara Health Corp. Di seluruh rumah sakit, Dr. Arka Dewantara dikenal sebagai figur yang teramat ditakuti. Di usianya yang baru 32 tahun, pria itu bukan hanya dokter genius yang tangan dinginnya selalu dinantikan oleh pasien-pasien berkelas, tetapi juga pengusaha sukses yang mengendalikan jaringan rumah sakit swasta raksasa. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan kacamata tipis, namun sikapnya kaku, sangat dingin, dan tidak pernah memberi toleransi pada keserobohan sekecil apa pun. Belum sempat jemari gemetar Kania menekan tombol hapus pesan, dua centang biru di bawah foto uang recehnya sudah berubah warna. Arka meraba papan ketik dan mengetikkan balasan singkat khas dirinya: "Kania." "Coba kirim hasil rontgen tadi." Di ruang jaga, Kania hampir melompat dari kursinya saat membaca balasan itu. Jemarinya menari liar di atas layar dengan kepanikan luar biasa. "MAAF DOK SALAH KIRIM!" "🙏🙏🙏" "Mana hasilnya?" balas Arka dingin, sama sekali tidak menanggapi drama kepanikan sang anak koas. "Oh iya, sebentar Dok..." Dengan tangan bergetar hebat, Kania mengambil lembaran film rontgen pasien dari atas meja, memotretnya secara terburu-buru, lalu mengunggahnya ke ruang obrolan. Setelah foto terkirim, Kania langsung merebahkan dahinya ke atas meja kayu dengan rintihan pasrah. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini balasan dari kakaknya, Fabian: "Makanya kalau bangun tidur langsung cuci muka, jangan main HP." "GUE LAGI JAGA SIALL!" balas Kania meluapkan kekesalannya. "Kenapa lo, Kan? Mukanya udah kayak mau dieksekusi mati gitu," celetuk Marcelo, teman sesama koas yang baru masuk membawa segelas teh hangat. "Gue... gue salah kirim foto dompet receh gue ke Dokter Arka," cicit Kania lemas, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. "Gue malah minta transferan uang ke dia!" Seketika Marcelo dan Juju yang mendengar hal itu tertawa terpingkal-pingkal di ruang jaga. "Gila lo, Kania! Minta transferan ke CEO Dewantara Group?!" gelak Marcelo. "Siap-siap aja lo dijemur di depan ruang operasi nanti sore!" Kania hanya bisa meratapi kebodohannya. Ia sudah membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya saat berhadapan langsung dengan Dokter Arka nanti. **** Namun, tepat pukul sebelas siang, pintu ruang jaga perawat mendadak diketuk. Seorang kurir makanan melangkah masuk sambil membawa dua kantong kertas berukuran besar dengan logo restoran Jepang premium yang sangat ternama. "Atas nama Kania dan tim perawat Bangsal Melati?" tanya kurir tersebut. Juju dan Marcelo saling pandang dengan alis terangkat. "Iya, benar. Dari siapa ya, Mas?" "Pengirimnya atas nama Dr. Arka Dewantara. Katanya pesanannya kelebihan, jadi disuruh antar ke sini buat makan siang," jawab sang kurir seraya meletakkan kantong-kantong berisi puluhan porsi sushi premium segar di atas meja. Kania terbelalak menatap deretan kotak makanan mewah di depannya. Di saat yang sama, sebuah pesan singkat kembali masuk ke ponselnya dari nomor yang sama. Dari Dr. Arka: "Makan siang dulu. Biar matanya tidak salah kirim foto lagi." Kania terpaku memandangi layar ponselnya. Pria dingin yang terkenal irit bicara dan tak tersentuh itu... baru saja mengirimkan makan siang mewah untuk seluruh ruang jaga hanya gara-gara satu foto koin receh yang konyol. Dan saat itulah Kania tahu, kehidupannya di stase ortopedi tidak akan pernah berjalan biasa saja lagi.Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya."Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna."Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya."Itu lo
Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja
Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar."Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania."Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r
Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang."Permennya cukup mem
Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia."Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.Arka sempat melirik singkat ke arah mata b
Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas."Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi







