Mag-log inDi balik penampilannya yang sering kusam, rambut diikat asal-asalan dengan jepit plastik, dan kantung mata hitam khas mahasiswa koas yang langganan piket malam, Kania sebenarnya bukanlah gadis dari keluarga biasa. Nama lengkapnya adalah Kania Salsabila Pradipta. Bagi orang-orang yang bergerak di dunia korporat tanah air, nama belakang "Pradipta" adalah nama besar pemilik Pradipta Utama Group—sebuah konglomerasi raksasa yang membawahi manufaktur tekstil, properti, dan logistik nasional.
Meskipun terlahir bergelimang harta, Kania memilih menutupi identitas keluarganya rapat-rapat sejak menginjakkan kaki di fakultas kedokteran. Ia tidak mau mendapat kemudahan hanya karena embel-embel nama ayahnya, Hendra Pradipta. Kania ingin berjuang dengan keringatnya sendiri. Oleh karena itu, di rumah sakit, tidak ada satu pun rekan koas atau dokter senior yang tahu bahwa gadis ceroboh yang sering kelihatan bokek itu sebenarnya anak seorang miliarder.Prinsip mandiri Kania bahkan berbuntut pada hal konyol. Ayahnya memberikan black card dan uang saku bulanan yang fantastis. Namun, Kania sengaja mengunci kartu itu di laci kosannya dan hanya membawa uang tunai seadanya. Alhasil, jika uang tunai pegangannya habis di pertengahan minggu, Kania benar-benar harus mengais koin receh di dasar tasnya demi bertahan hidup—seperti yang baru saja memicu insiden salah kirim foto konyol ke Dokter Arka. Pukul tiga sore, giliran piket Kania akhirnya selesai. Dengan langkah gontai, ia keluar dari area rumah sakit menuju gerbang utama. Pikirannya masih melayang pada kehebohan di bangsal perawat siang tadi. Masalah kiriman dua kantong besar sushi premium dari Dokter Arka sukses membuat geger seluruh staf. Rekan-rekannya sibuk menyantap makanan mewah itu sambil memuji-muji kebaikan Dokter Arka. Sementara Kania? Ia hanya bisa mengunyah satu potong sushi roll dengan perasaan campur aduk antara kenyang dan takut setengah mati jika besok harus berhadapan langsung dengan sang dokter di ruang operasi.Begitu melangkah melewati gerbang utama, sebuah mobil sedan mewah hitam berkilau sudah terparkir rapi di pinggir jalan. Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan sosok pria muda tampan mengenakan kacamata hitam. Pria itu adalah Fabian Pradipta—atau Kak Bian, kakak kandungnya yang menjabat sebagai Direktur Operasional di perusahaan keluarga. "Wajah lo udah kayak rempeyek penyok begitu, Nia," cemooh Bian saat Kania membanting tubuhnya lemas ke jok kulit mobil yang empuk. "Gara-gara Kakak, tau gak!" sungut Kania sambil melempar tas punggungnya ke jok belakang. "Gara-gara pesan 'duit lu masih?' dari Kakak pas gue ngantuk berat, gue jadi salah kirim foto dompet receh gue ke Dokter Arka!" Bian terkekeh geli seraya menancap gas membelah jalanan kota. "Ya lagian lo konyol banget. Anak pengusaha tekstil terbesar tapi isi dompetnya recehan dua ratus perak. Kalau Papa tahu lo sampai kelaparan di rumah sakit gara-gara sok mandiri, bisa-isa rumah sakit tempat lo koas dibeli sama Papa sekarang juga." "Ih, jangan dong! Malu-maluin!" sergah Kania cepat dengan wajah memerah. "Awas ya kalau Kak Bian bilang-bilang Papa atau Mama. Gue cuma mau jadi dokter yang dinilai dari kemampuan gue sendiri, bukan karena nama Pradipta.""Iya, iya, Putri Mandiri," sahut Bian tertawa. "Tapi asli, respons dokter lo gimana pas dikirimin foto recehan?" Kania meratapi nasibnya sambil bersandar lesu. "Dia cuma balas 'Kania, coba kirim hasil rontgen tadi'. Dingin banget! Terus anehnya, tadi siang dia malah ngirimin sushi premium pakai alasan 'pesanannya kelebihan'. Gue yakin itu bentuk sindiran halus karena dia mikir gue ini koas kelaparan yang tragis banget!" Tawa Bian pecah mendengar penuturan adiknya. "Boleh juga tuh dokter. Biasanya dokter konsulen senior sukanya marah-marah kalau stafnya ceroboh, tapi dia malah ngasih makan. Menarik.""Apanya yang menarik! Gue takut besok dipanggil ke ruangannya terus disuruh buat laporan seratus halaman!" ratap Kania frustrasi. Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elit di Menteng dan berhenti di depan kediaman megah keluarga Pradipta. Meskipun menyewa kamar kos sederhana dekat rumah sakit, Kania selalu pulang ke rumah utama setiap kali mendapat hari libur. Saat melangkah masuk melewati pintu jati yang tinggi, aroma masakan rumahan yang lezat langsung menyambut indra penciumannya. "Nia pulang!" teriak suara lembut Ibunya, Rahma Pradipta, dari arah ruang makan.Di ruang keluarga yang luas, Pak Hendra sedang duduk santai membaca surat kabar bisnis. Pria paruh baya yang biasanya berwajah tegas di hadapan para media itu seketika melunakkan pandangannya begitu melihat putri bungsunya berjalan mendekat. Selain Bian, Kania memiliki kakak tertua bernama Laksana Pradipta, Wakil Direktur Utama yang saat ini sedang dinas ke luar negeri. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan, Kania memang menjadi putri kesayangan yang paling dijaga di rumah ini. "Anak perempuan Papa kenapa cemberut begitu? Capek ya jaga malamnya?" tanya Pak Hendra lembut, meletakkan korannya lalu merentangkan tangan untuk menyambut pelukan manja Kania. Kania langsung menghambur ke pelukan ayahnya, menenggelamkan wajahnya di sana sambil menggumam manja. Rasa lelah dan ketakutannya akibat teror Dokter Arka seketika menguap begitu merasakan kehangatan rumah. Namun, dari sudut matanya, ia bisa melihat Bian yang berdiri di dekat pintu ruang makan sedang menatapnya dengan senyum usil, seolah siap membocorkan rahasia memalukan tentang koin recehnya kapan saja. Kania melotot tajam, memberi kode ancaman mati pada kakaknya agar tetap menjaga rahasia tersebutHari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya."Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna."Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya."Itu lo
Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja
Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar."Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania."Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r
Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang."Permennya cukup mem
Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia."Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.Arka sempat melirik singkat ke arah mata b
Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas."Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi







