Share

BAB 6: MAKAN MALAM

Author: acaca
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-10 19:25:14

​Kania meremas jemari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan dengan jantung yang berdegup tak beraturan. Kediaman utama keluarga Dewantara di kawasan elit Jakarta Pusat malam ini tampak begitu megah dengan pendar lampu kristal gantung yang mewah.

​Di sofa ruang tamu, Kania duduk kaku mengenakan dress merah muda lembut berpotongan A-line. Wajahnya dipoles riasan tipis alami atas paksaan ibunya. Namun, di balik penampilannya yang cantik sebagai putri bungsu konglomerat Pradipta Group, pikiran Kania sebenarnya sedang mengalami korsleting hebat.

​Keluarga Dewantara? Dewantara Health Corp?

​Kania sadar betul siapa pemilik imperium bisnis ini. Dan hal yang paling membuat bulu kuduknya berdiri adalah fakta bahwa dokter konsulennya yang dingin bak es batu—Dokter Arka Dewantara—adalah putra tunggal dari pemilik jaringan rumah sakit tempatnya menempuh pendidikan koas.

​"Wah, Pak Hendra, terima kasih sudah hadir," ujar Pak Gunawan Dewantara ramah pada ayah Kania. "Pengadaan alat medis dari Pradipta Group sudah hampir rampung. Saya sangat puas."

​"Sama-sama, Pak Gunawan," sahut Pak Hendra penuh wibawa. "Oya, kenalkan ini putri bungsu saya, Kania. Dia sedang koas di rumah sakit."

​"Oh ya? Kebetulan sekali, putra saya Arka juga dokter spesialis yang memegang operasional medis di sana," tanggap Pak Gunawan hangat.

​Mati gue... mati gue beneran... bisik Kania dalam hati, kepalanya makin menunduk dalam.

​Tiba-tiba, kedengaran suara langkah kaki yang mantap turun dari tangga kayu jati. Langkah itu tidak terburu-buru, sangat berirama, namun memancarkan dominasi yang amat kuat. Keadaan di ruang tamu mendadak hening secara alami.

​Kania memberanikan diri mendongakkan kepalanya sedikit, dan detik itu juga napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

​Dokter Arka melangkah turun. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu mempesona dalam balutan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap dan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Tanpa jas dokter putihnya, Arka memancarkan aura pria dewasa yang matang, cerdas, berkelas, dan mengintimidasi.

​"Maaf membuat Anda menunggu, Pak Hendra," ujar Arka dengan suara berat bernada rendah. Pria itu menjabat tangan ayah Kania dengan tegas, lalu mengalihkan pandangannya pada Kania.

​Untuk sepersekian detik, Kania menangkap pijar ketertarikan yang sangat halus di mata Arka ketika melihat penampilannya malam ini. Namun, wajah tampan konsulennya itu dengan cepat kembali dingin dan datar, seolah-olah mereka baru pertama kali bertemu.

​Arka mengulurkan tangan kanannya ke arah Kania. "Arka Dewantara."

​Jantung Kania melompat saat membalas genggaman tangan Arka yang hangat dan kokoh. "K-Kania Salsabila, Pak..." cicit Kania gugup, tak sanggup menatap mata di balik kacamata tipis itu.

​Arka tidak langsung melepas genggamannya. "Kania Salsabila Pradipta," ulang Arka dengan penekanan halus di nama belakangnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Senang berkenalan dengan Anda."

​Acara berlanjut ke meja makan besar dengan sajian makanan mewah ala Prancis. Arka duduk persis di seberang Kania. Keberadaan pria itu di depan mata menjadi ujian ketahanan mental terbesar bagi Kania. Cara Arka berbicara, memegang pisau makan, hingga menyesap air dari gelas kristal memancarkan daya tarik pria bertangan dingin yang luar biasa.

​"Dokter Arka," potong Ibu Rina, ibu Arka, di tengah perbincangan bisnis. "Mama dengar Kania ini juga koas di Rumah Sakit Medika Utama. Apa kalian pernah berpapasan?"

​Kania hampir tersedak potongan dagingnya. Ia refleks mendongak menatap Arka dengan tatapan memohon agar pria itu tidak membeberkan rahasia foto dompet receh atau insiden sushi.

​Arka menyesap airnya tenang, lalu meletakkan gelas tanpa suara. "Rumah sakit kami sangat luas, Ma. Ada ratusan koas di sana. Saya jarang memperhatikan hal-hal di luar jadwal operasi."

​Kania menghembuskan napas lega yang panjang di dalam hati. Aman!

​Namun, Arka kembali melanjutkan dengan nada datar namun sarat maksud terselubung. "Tapi... kemarin ada seorang koas yang sempat salah mengirim dokumen ke nomor pribadi saya karena kurang tidur. Gaya kerjanya cukup unik."

​Orang tua mereka tertawa kecil. Kania meremas serbet makan di pangkuannya kuat-kuat dengan wajah memerah padam seperti kepiting rebus. Dokter Arka sialan! Dia sengaja banget ngerjain gue!

****

​Usai makan malam, Kania yang sudah tidak tahan dengan atmosfer canggung memilih memisahkan diri ke area teras belakang yang menghadap ke kolam renang tropis. Ia berdiri menghirup udara malam untuk menenangkan jantungnya.

​Suara langkah kaki yang mantap kembali mendekat dari arah belakang. Kania berbalik cepat.

​Arka berdiri hanya berjarak dua langkah darinya. Jas abu-abunya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku. Bau harum parfum woody dan amber yang mahal menguar kuat dari tubuh pria itu.

​"Kenapa bersembunyi di sini, Kania Salsabila Pradipta?" tanya Arka pelan, tenggelam bersama gemericik air kolam.

​Kania meneguk ludah, mencoba memberanikan diri. "Saya tidak bersembunyi, Pak Arka. Cuma cari udara segar."

​Arka melangkah satu tapak lebih mendekat. Tingginya yang menjulang membuat Kania harus mendongak. "Putri bungsu Pradipta Group... ternyata orang yang sama dengan gadis yang panik gara-gara uangnya sisa koin receh di ruang jaga."

​Wajah Kania kembali memanas. "Dokter Arka! Tolong jangan dibahas lagi! Saya kan tidak tahu kalau Dokter itu anak dari mitra bisnis Papa!"

​"Saya tidak menyalahkan kamu," potong Arka tenang. Matanya menyapu wajah Kania yang terpoles cantik. "Tapi penampilan kamu malam ini jauh lebih rapi dibanding baju scrub kusut kemarin."

​Kania memutar matanya pelan. "Ya iyalah, ini kan acara formal. Kalau di rumah sakit tujuannya kerja, bukan fashion show."

​Sebuah dengusan napas halus keluar dari hidung Arka—respon paling dekat dengan tawa dari pria dingin itu.

​"Hari Senin nanti kamu ada jadwal di poliklinik ortopedi bersama saya," ujar Arka kembali serius dan tegas. "Jangan datang terlambat. Dan pastikan kamu tidak membawa aura 'anak manja konglomerat' ke dalam ruang periksa saya."

​"Saya tidak pernah manja di rumah sakit, Dokter Arka!" protes Kania tak terima.

​Arka menatap Kania lurus-lurus dengan tatapan tajam yang penuh kuasa. "Buktikan hari Senin nanti," kataya pelan namun menohok.

​Pria itu kemudian berbalik secara elegan, melangkah kembali ke dalam untuk bergabung dengan orang tua mereka. Kania memandangi punggung tegap Arka yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Pria itu memang sangat kaku dan menyebalkan, tetapi Kania tidak bisa membohongi matanya sendiri: Dokter Arka Dewantara malam ini benar-benar tampak sangat tampan dan memikat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status