Share

BAB 5:RUTINITAS

Author: acaca
last update publish date: 2026-10-08 19:55:13

​Hari Jumat pagi berjalan persis seperti hari-hari sebelumnya di Rumah Sakit Medika Utama: riuh, terburu-buru, dan menyita seluruh energi fisik maupun mental Kania.

​Kania sama sekali tidak punya waktu untuk melamunkan hal-hal melankolis, apalagi memikirkan Dokter Arka. Bagi Kania, prioritas hidupnya saat ini sangat sederhana dan membumi: menyelesaikan laporan visite tepat waktu, tidak salah mengambil sampel darah pasien, dan memastikan dirinya tidak pingsan karena terlambat makan siang.

​Sekitar pukul sembilan pagi, Kania berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor lantai dua sambil membawa setumpuk map rekam medis tebal di pelukannya. Rambutnya disanggul asal menggunakan jepit badak berwarna hitam, dan beberapa helai anak rambut tampak keluar berantakan menghiasi dahi serta leher belakangnya. Wajahnya polos tanpa riasan sama sekali—hanya diolesi pelembab bibir tipis yang aromanya sudah agak memudar.

​Saat Kania hendak berbelok menuju stasiun perawat, sosok tinggi berbalut jas dokter putih melangkah keluar dari ruang konsultasi.

​Itu Dokter Arka.

​Di belakang pria itu, berjalan dua orang residen senior dan seorang suster kepala. Arka tampak sedang menatap layar tablet medis di tangannya, mendengarkan laporan berkala dari dokter residen di sampingnya dengan wajah tanpa ekspresi.

​Kania refleks menghentikan langkah, meminggirkan tubuhnya rapat-rapat ke dinding koridor untuk memberikan jalan bagi rombongan dokter konsulen tersebut.

​"Selamat pagi, Dokter Arka," sapa Kania sopan, menundukkan kepalanya sedikit.

​Arka menghentikan langkahnya sejenak. Matanya yang tajam dan dingin bergulir menatap Kania dari atas sampai bawah. Tidak ada keramahan di sana. Tidak ada binar ketertarikan, senyuman manis, apalagi gestur hangat yang biasa ada di dalam cerita-cerita novel romantis.

​Pandangan Arka benar-benar murni pandangan seorang atasan yang melihat bawahannya yang berantakan.

​"Kania," panggil Arka pendek. Suaranya datar dan kering.

​"Iya, Dok?"

​"Tali sepatu kanan kamu lepas," ujar Arka dingin tanpa perubahan nada suara. "Dan itu ujung map paling bawah hampir jatuh. Kalau berkas rekam medis pasien tercecer di lantai, kamu yang saya suruh menyusun ulang berdasarkan tanggal dari lima tahun lalu."

​Kania tersentak kecil, lalu buru-buru melirik ke bawah. Benar saja, tali sepatu kets putihnya yang sudah agak kusam terurai di lantai, dan salah satu map tebal memang sudah miring hampir meluncur jatuh.

​"Eeh, maaf, Dok! Terima kasih," cicit Kania sibuk menahan tumpukan map dengan dagunya seraya mencoba membenarkan posisi berkas.

​Arka tidak membuang waktu sedetik pun untuk membantunya. Pria itu hanya berdeham pendek, memalingkan wajahnya kembali ke layar tablet, lalu melangkah pergi melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata pun.

​"Cakep sih cakep, tapi kaku banget kayak kanebo kering," gumam Kania pelan begitu rombongan Arka sudah berbelok di ujung koridor. Kania mendengkus pelan, lalu jongkok di pinggir koridor untuk mengikat tali sepatunya.

​Apakah Kania tersinggung atau patah hati? Sama sekali tidak. Bagi Kania, sikap cuek dan kaku Dokter Arka justru sebuah keuntungan besar. Makin cuek dokter konsulennya, makin kecil kemungkinan Kania ditegur atau diinterogasi hal-hal aneh.

****

​Pukul satu siang, perut Kania menyuarakan protest keras. Mengingat uang tunai di dompetnya tinggal sedikit dan ia enggan menggunakan kartu ATM pemberian orang tuanya demi menjaga komitmen "hidup mandiri", Kania melangkah menuju pantry khusus staf konsulen di lantai empat menggunakan kartu akses yang diberikan Arka kemarin.

​Suasana pantry ini sangat berbeda jauh dengan kantin utama rumah sakit yang bising. Ruangannya dingin ber-AC, harum seperti kafe mahal, dan dilengkapi dengan mesin pembuat kopi otomatis serta kulkas besar berisi persediaan makanan khusus para dokter spesialis.

​"Wah, surga dunia..." bisik Kania girang.

​Tanpa ragu-ragu, Kania mengambil satu wadah roti lapis daging yang tebal dan sekotak susu cokelat. Ia duduk di salah satu kursi bar kayu di sudut pantry, lalu mulai menyantap rotinya dengan lahap. Mulutnya mengunyah penuh, pipinya mengembang bulat seperti tupai yang sedang menimbun makanan.

​Pintu pantry mendadak bergeser terbuka lagi.

​Kania hampir saja tersedak roti di mulutnya. Ia buru-buru menoleh dengan panik.

​Arka melangkah masuk. Pria itu sudah melepas jas dokternya, kini hanya mengenakan kemeja biru tua yang lengannya tergulung rapi. Arka tampak sedikit terkejut melihat Kania duduk di sudut ruangan dengan mulut yang masih penuh roti dan pipi mengembung konyol.

​Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung selintas detik sebelum ekspresi Arka kembali berubah menjadi datar dan tak tersentuh.

​"D-dokter Arka! Selamat siang, Dok," sapa Kania cepat-cepat menelan makanannya dengan susah payah.

​Arka tidak langsung menjawab. Pria itu berjalan santai menuju mesin pembuat kopi, menuangkan espresso ke cangkirnya.

​"Kamu manfaatkan kartu itu dengan sangat baik rupanya," ujar Arka datar tanpa menoleh.

​Kania terkekeh kecil tanpa rasa canggung, menepuk-nepuk tangannya yang terkena remahan roti. "Hehe, kan Dokter sendiri yang bilang daripada saya pingsan di ruang operasi, Dok. Lagipula rotinya enak banget."

​Arka membalikkan badan, bersandar santai di tepi meja dapur seraya menyesap kopinya perlahan. Tatapan matanya tetap rasional dan berjarak.

​"Kemajuan laporan rekam medis pasien cedera ortopedi kemarin sudah kamu selesaikan?" tanya Arka tiba-tiba, membawa percakapan kembali murni ke urusan pekerjaan.

​"Oh! Sudah lima puluh persen, Dok. Tinggal analisis hasil laboratorium darahnya yang baru keluar jam dua nanti," sahut Kania lugas.

​"Pastikan jam tiga sudah ada di meja saya," kata Arka tegas. "Saya tidak mau terima alasan keterlambatan hanya karena kamu keasyikan makan siang di sini."

​"Siap, Dok! Tenang aja, jam tiga pas pasti sudah beres!" jawab Kania percaya diri.

​Arka meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong ke dalam bak cuci piring, merapikan kemejanya, lalu melangkah menuju pintu keluar.

​"Tutup kulkasnya rapat-rapat kalau sudah selesai. Jangan teledor," cetus Arka pendek sebelum melangkah keluar dari pantry.

​Kania menjulurkan lidahnya tipis ke arah pintu yang tertutup rapat. "Duh, beneran bisa bikin darah tinggi kalau ngomong sama Es Batu begitu. Untung rotinya enak!"

​Kania kembali melanjutkan makan buahnya dengan santai. Di dalam pikirannya saat ini tidak ada ruang untuk membayangkan hal-hal romantis. Yang ada di kepala Kania hanya dua hal: menyelesaikan laporan jam tiga nanti, dan rencana pulang ke rumah orang tuanya besok Sabtu untuk meminta Mamah memasakkan sup ayam kesukaannya.

​Kania tidak pernah menyadari bahwa di rumah orang tuanya esok malam, sebuah acara makan malam keluarga besar telah disiapkan—sebuah pertemuan bisnis keluarga Pradipta yang akan mempertemukannya kembali dengan Dokter Arka dalam takdir yang sama sekali tidak pernah ia duga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status