LOGIN"Ibu mohon maaf.. Mbak Allea sedang tidak bisa ditemui." Ucap Sania dengan sopan.
Seketika Sofia menjadi lesu. Tadinya dia berharap Allea mau menemuinya. Apalagi Sofia sampai jauh-jauh datang kemari."Apa nggak bisa saya meminta waktunya sedikit saja? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.." pinta Sofia penuh harap."Maaf sekali, bu. Tapi pekerjaan mbak Allea sedang banyak sekali. Mungkin sebelum kemari, ibu bisa mengirim pesan terlebih dahulu."Sofia k"Arash bilang dia akan kembali kalau sudah tenang." Ucap Nirmala mengunjungi kakak iparnya di rumah sakit. "Dia bahkan tidak mau mengangkat panggilan dariku, Nirmala." Sahut Nurani sedih. "Sejak siang tadi aku terus menghubunginya." "Mungkin dia takut sama mas Afadh, mbak." Nirmala menarik nafas. "Ya sudahlah. Ini telah menjadi garis takdirnya. Arash dan Allea nggak bisa bersama tapi digantikan dengan yang lain." Yang lebih baik. Mendengar kalimat Nirmala yang terakhir, membuat suasana menjadi hening seketika. Arash memang tidak ditakdirkan bersama dengan Allea. Namun, semesta sepertinya memiliki rencana lain. Di sisi lain, Allea tertidur lelap setelah menjalani hari yang melelahkan. Sudah berapa lama ia tak tidur di kasur yang empuk, seprai yang wangi dan selimut yang tebal.. belum lagi AC yang dingin ini memberikannya kesejukan. Ketika Allea terjaga, wanita ini baru tersadar ji
Allea berjalan. Terus berjalan. Heelsnya yang tinggi, terkait di tangannya. Kakinya melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Telapaknya dingin. Cenderung kotor karena terus terseret. Ia menjadi perhatian orang banyak dengan kebaya pengantinnya. Raut wajah layu itu menunjukkan dirinya seperti cinderella yang baru saja kehilangan sepatunya. Kaki Allea terhenti setelah tiba di lorong yang sepi. Di area belakang rumah sakit. Tanpa ada sinar matahari. Dengan hawa dingin yang berdesir ke punggungnya. Pandangan Allea gelap. Dadanya sesak. Ia ingin muntah dan juga pingsan. Namun air mata ini lebih dulu mengaliri wajahnya. Allea jatuh terduduk di kursi. Menangis hebat. Membiarkan suara tangisan itu menggema terdengar karena dibawa udara. Allea lalu tertawa sembari memejamkan mata. Ada yang lucu tapi tak tahu apa. Seperti ada yang mengejeknya dari depan sana.
"Semuanya akan baik-baik saja.." Sentuhan lembut itu menenangkan Nurani yang menangis. Afadh tengah ditangani oleh dokter. Di dadanya tertempel alat perekam jantung. Hidung itu sudah tertaut oksigen. Satu obat di bawah lidah telah diberikan. Mudah-mudahan setelah ini kondisi Afadh bisa membaik. Nurani bersandar pada dada bidang Bagas. Sekarang hanya pada putranya ini lah ia bisa menumpahkan tangisannya. "Saran saya, pak Afadh lebih baik dirawat saja." Ucap dokter berkacamata ini memeriksa. "Apapun itu yang terbaik, dokter." Bagas memilih kamar VIP untuk kenyamanan ayahnya. Disana Afadh sudah berganti pakaian dan harus beristirahat. "Dimana adikmu, Bagas?" Afadh menanyakan itu pertama kali. "Nggak perlu papa pikirkan dia.." "Arash sudah mempermalukan papa hari ini, nak.." sambung
"Aku masih mencintaimu. Bahkan sampai saat ini masih mengharapkanmu. Namun jika semesta tak menginginkan kita bersama.. maka tak ada yang bisa kubuat selain mengikhlaskan.." *** Pukul enam pagi. Allea membuka matanya. Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah dengan cat berwarna putih. Memiliki dua tiang penyangga besar di terasnya. Nuansa klasik kental terlihat. Ornamen yang dipakai serta pondasinya. Di depan rumah ini sudah terbentang tenda dengan dudukan kursi di bawahnya. Papan bunga sudah banyak terhias di depan pagar rumah. Sebuah tulisan disana berhasil menggetirkan hari Allea. ["Allea dan Arash."] "Kita sudah sampai, mbak." Ucap sopir yang menjemput Allea. Wanita ini keluar dari mobil. Nurani datang untuk menyambut. "Selamat datang, Allea. Silahkan masuk." Nurani membawa
Afadh dibawa pulang ke rumah setelah dinyatakan baik-baik saja. Dokter bilang pria paruh baya ini mengalami serangan jantung ringan. Namun semuanya sudah membaik setelah Afadh diberikan oksigen dan obat-obatan. "Pagi nggak perlu ke kantor. Sekarang limpahkan semua pekerjaan papa pada Arash saja. Pasti ini semua karena beban pekerjaan papa yang berat." Ucap Bagas mengomel. Anak sulung ini membantu orang tuanya berjalan sampai ke kamar. Matahari mulai beranjak dari tempatnya, Bagas juga harus bersiap untuk bekerja. "Makasih, Bagas.." ucap Nurani letih. "Nggak usah ngucapin makasih. Seperti dengan orang lain saja." "Jangan dulu pindah, nak. Suatu saat mama pasti membutuhkanmu." Sambung Nurani dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu, Bagas tersenyum. Ia memeluk ibunya dengan erat. "Aku nggak akan kemana-mana.
"Halo, Arash! Kemari!" Pemuda tampan melambaikan tangan agar Arash mendekat. Pria ini tertawa. Empat orang lainnya berdiri untuk menyambut kedatangan Arash. "Apa kabar kalian semua? Astaga! Kalian belum pesan minuman? Pesan apa saja yang kalian inginkan! Akan ku bayar." Ucap Arash tersenyum lebar. "Wah.. kita harus mencicipi uang dari CEO, teman-teman!" Cetus Ricky membuat yang lain ikut tertawa. "Sudah pesan sana!" Satu orang bertindak memesan makan dan minuman. Mereka berlima, yaitu Arash dan sahabatnya tengah berkumpul di Cafe J. Tepatnya di bagian area smoking. Disini mereka menikmati malam sambil memantik rokok dan memakan cemilan. "Ku pikir kamu akan menikahi bule Amerika itu, Arash!" Seru Teddy terkekeh. Mereka adalah teman Arash ketika kuliah. "Ah, aku tidak menyukainya. Wanita itu terlalu mengatur hidupku!" Seru Arash. "Kalian ba







