Masuk
"Gagal lagi… gagal lagi…"
Cetasss. Cetasss. Cetasss. Tiga suara cambukan menggema, memecah keheningan puncak pegunungan. Di baliknya terdengar suara berat seorang kakek tua, penuh wibawa. Di puncak yang diselimuti kabut dingin, seorang pemuda bertelanjang dada berdiri tegap. Di tangan kanannya tergenggam besi panjang berukuran satu meter. Tatapannya lurus ke depan, menahan perih tanpa sepatah kata pun. Di belakangnya, sang guru berdiri—kakek tua berhanfu hitam, wajah keras namun tenang. Di tangannya tergenggam sebatang ranting kayu, bukan sekadar alat hukuman, melainkan ujian tekad dan keteguhan muridnya. Angin gunung berhembus dingin, membawa keheningan setelah cambukan terakhir. Kakek tua itu menurunkan ranting kayu, napasnya berat namun teratur. Ia menatap punggung pemuda itu, yang kini terdapat tanda merah bekas cambukan—tetap tegap meski bekas cambukan kemarin belum hilang. “Cukup sampai hari ini,” ucapnya pelan, tenggelam di antara desir angin. Tian Hei mengendurkan genggamannya sejenak, lalu kembali mencengkeram besi panjang. Setetes keringat jatuh ke tanah berbatu. Ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat, matanya menampakkan keengganan. “Hari ini adalah latihan terakhirmu di pegunungan ini,” lanjut sang kakek, melangkah ke samping tebing. “Setelah ini, temui aku di dalam goa.” Tian Hei menarik napas dalam-dalam. Ucapan sang guru terasa lebih berat daripada cambukan sebelumnya. Ia menggenggam besi panjangnya dengan tekad yang lebih kokoh. “Baik, Guru,” jawabnya singkat. Tanpa menunggu balasan, kakek tua itu berbalik. Jubah hanfu hitamnya berkibar diterpa angin, menyatu dengan kabut di tepi puncak. Tak lama kemudian, hanya suara angin dan detak jantung Tian Hei yang tersisa. Ia berdiri sendirian, memandangi langit yang mulai berubah warna. Setiap luka di punggungnya mengingatkan pada tahun-tahun penuh sunyi, dingin, dan ujian. Besi sepanjang satu meter kini terasa berbeda—bukan sekadar alat latihan, tapi saksi perjalanan yang akan segera berakhir. Setelah beberapa saat, ia menuruni jalur sempit yang berliku di sisi gunung. Kabut tipis menyelimuti lereng, dan suara gemuruh air semakin jelas. Tak lama kemudian, terpampanglah pemandangan menakjubkan: air terjun tinggi menghantam sungai jernih di bawahnya. Di sanalah Tian Hei membersihkan tubuhnya dari peluh dan rasa perih. Air dingin membasuh kulitnya, membawa pergi kelelahan. Setelah selesai, ia melompat dari batu ke batu, menuju pertengahan air terjun. Di balik tirai air deras, tersembunyi bebatuan besar dan akar pohon tua menjalar seperti cakar naga. Di sanalah mulut goa—tersembunyi sempurna. Tian Hei menarik napas, menegakkan punggung, dan melangkah masuk ke kegelapan. Suara gemuruh air terjun perlahan menghilang, digantikan keheningan yang menekan. Cahaya dari luar meredup, meninggalkan bayangan kelam di dinding goa. Udara dingin dan lembap membawa aroma tanah tua dan bebatuan basah—seakan tempat itu telah lama tak tersentuh dunia luar. Langkah kakinya bergema pelan. Setiap pijakan terasa berat, bukan karena lelah, tapi oleh perasaan asing yang menekan dadanya. Di dinding goa, ukiran kuno mulai tampak samar. Garis-garisnya kasar, menggambarkan sosok manusia berlatih, bertarung, dan bermeditasi. Ia berhenti sejenak, menelusuri ukiran dengan pandangan. “Ini…” gumamnya pelan. Ia pernah melihat simbol serupa pada gulungan tua sang kakek. Lorong goa melebar hingga membuka ke sebuah ruangan batu luas. Di tengah ruangan, pilar batu kuno berdiri, retak dan dipenuhi lumut. Di atasnya terletak kotak kayu hitam—sederhana, namun memancarkan aura berat. Tian Hei melangkah hati-hati. Setiap langkah seakan diuji, goa itu seolah mengamatinya. Saat jarinya hampir menyentuh kotak, suara berat bergema: “Jika kau melangkah lebih jauh, jalan kembali tak lagi sama.” tak jauh darinya, sosok kakek misterius duduk bersila di atas batu persegi, dikelilingi aura kelam yang bergejolak. Tekanan aura membuat udara bergetar halus. Ia bukan orang lain, dialah guru yang telah menemani Tian Hei sejak bayi. “Kita tidak memiliki ikatan darah,” ujar kakek itu, tajam menembus jiwa Tian Hei. “Namun takdir mempertemukan kita, menciptakan ikatan guru dan murid.” Ia menatap liontin giok di dada Tian Hei. “Itu satu-satunya petunjuk tentang asal-usulmu. Keputusan kini ada padamu: menjadi kuat dan mencari tahu keluargamu… atau tetap lemah, menutup mata dari kebenaran, hidup dalam penyesalan.” Tian Hei mengepalkan tangan, matanya bersinar penuh tekad. Sang kakek menatap lama, dia berahda di sisi Tian Hei bukan lah waktu singkat melaikan sudah 18 tahun dia berada di sisi pemuda itu, jadi dia tahu betul seperti apa karakter Tian Hei ini. Tegas, tangguh, berkomitmen, keras kepala, sekali berkata pantang baginya untuk menariknya kembali. Dengan satu lambaian tangan, kotak kayu yang belumnya Tian Hei lihat melayang ke hadapannya. Perlahan, tutup kotak terbuka. Di dalamnya terbaring kitab usang, memancarkan aura dominan—seakan memiliki kehendak sendiri. Tian Hei tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Beberapa detik kemudian, tangan kakek misterius itu bergerak membentuk rangkaian pola yang nyaris tak terlihat oleh mata. Gerakannya begitu cepat hingga bahkan satu tarikan napas pun belum sempat berlalu, sosok kakek itu sudah berdiri hanya satu langkah di depan Tian Hei. Tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi, jari-jarinya menyentuh beberapa titik di tubuh Tian Hei dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa. Tak lama kemudian, aliran energi asing menyusup ke dalam tubuh Tian Hei. Energi itu menelusuri setiap syaraf dan meridian, hingga berpusat pada satu titik tempat diama suatu hari akan terbentuk sebuah dantian, pusat energi atau inti dari seorang kultivator. “Sekarang kau bukan lagi orang biasa,” ucap kakek tua itu, tatapannya menembus jiwa. “Jalan kultivator kejam. Hukum rimba berlaku—menindas atau ditindas, membunuh atau dibunuh,pilihan itu ada di tangan mu, setelah kau meninggalkan pegunungan ini aku tidak akan ikut campur lagi dengan latihan mu, ingat! Latihan ini berbeda dari latihan-latihan sebelumnya." Ucap kakek itu. "Aku hanya bisa memberikan mu ini, ini hadiah kecil dariku, untuk sedik membantumu di luar sana. Waktumu hanya tiga tahun untuk mencapai Ranah jiwa mula. Jika gagal… kau tak pantas memanggilku seorang guru dengan kata lain kau tak pantas menjadi muridku” ucap kakek itu tegas nan tajam, suaranya menggema di dalam goa “Guru pernah berkata, semakin berisiko suatu jalan, semakin besar manfaat yang akan didapat. Aku memilih menjadi kuat. Aku adalah murid Guru. Suatu hari, aku akan berhasil… dan membuat Guru bangga.” ucapan Tian Hei ini membuat sang guru mengangguk puas Tanpa aba-aba, setelah mengtankan semua apa yang ingin dia katakan dan mendengar respon Tian Hei, kaki kakek tua itu terangkat menendang tubuh Tian Hei membuat tubuh itu melayang keluar goa , melesat menembus udara, meninggalkan pegunungan, menuju takdir yang belum ia ketahui. "Tian... Aku yakin tidak butuh lama kau akan menguncang dunia ini dengan kekuatan mu" suara tua itu berangsur-angsur menghilang di ikuti tubuh kakek tua menghilang bak di telan bumi.Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar
"Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan
BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya
“Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di
Keheningan itu mencekik. Sang kusir, yang tadinya berteriak pongah, kini membeku dengan cambuk yang masih melayang di udara. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Sebagai kultivator Penempaan Raga puncak, ia memiliki insting yang lebih tajam dari majikannya, dan insting itu menjeritkan satu kata: lari. Tuan Muda di dalam kereta menelan ludah. Wajahnya yang tadi memerah karena marah kini pucat pasi. Ia ingin membalas cacian gadis misterius itu, namun lidahnya terasa kelu. Tatapan Tian Hei seolah sedang menelanjangi jiwanya, menimbang bagian tubuh mana yang akan dipatahkan lebih dulu. “Ja… jangan berlagak!” Tuan Muda itu akhirnya terbata, mencoba menyelamatkan harga dirinya di depan kerumunan yang menonton. “Paman Lin! Kenapa diam saja? Bereskan mereka!” Namun sebelum kusir itu sempat bergerak—atau bahkan memohon maaf—kaki Tian Hei bergerak sedikit, menghentak bumi dengan tekanan yang halus namun presisi. KRAK! Roda depan kereta kayu mewah itu hancur berkeping-keping
Ia melangkah menyusuri jalur sempit di antara pepohonan, langkahnya mantap dan nyaris tanpa suara meski membawa beban tambahan. Gadis itu terkejut bukan karena cara ia diangkat—melainkan karena keseimbangan Tian Hei sama sekali tak berubah, seolah tubuhnya memang tak terpengaruh oleh berat manusia lain. Beberapa saat berlalu dalam diam. “Turunkan aku,” ucap gadis itu akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Tidak,” jawab Tian Hei singkat. “Kondisimu tidak memungkinkan.” Gadis itu mengerutkan kening. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri segera menjalar, memaksanya berhenti. Napasnya sedikit tersengal. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku,” katanya dingin. “Cukup tahu kau tidak bisa berjalan,” balas Tian Hei tanpa menoleh. Langkah Tian Hei tiba-tiba melambat. Bukan karena kelelahan—melainkan karena sesuatu yang lain. Alisnya sedikit mengerut saat indra spiritualnya menangkap getaran asing di udara. Tipis, namun jelas. Satu… dua… lalu lebih banyak lagi. Aura-







