LOGINBagaimanapun sejak Yanisa kembali dari Kota Lamur, sepertinya setiap hari mereka selalu mendengar nama Kelvin disebut olehnya.Sementara itu, Kelvin juga akhirnya mengetahui identitas kedua orang itu. Pria tampan tadi adalah kakak seperguruan sekaligus sepupu Yanisa yang bernama Anwar Lukardi.Selama ini, Anwar selalu menganggap Yanisa seperti adik kandungnya sendiri. Jadi, ketika melihat adiknya mencium seorang pria, dia benar-benar sulit menerimanya. Itu sebabnya, tadi dia sempat ingin langsung menebas Kelvin.Di sisi lain, biksu itu bernama Silavan."Jadi, kamulah Kelvin?" Anwar menatap Kelvin cukup lama.Kelvin berbicara sambil mengangguk, "Ya. Sepertinya Yanisa pernah menyebutku kepada kalian."Begitu mendengar perkataan Kelvin, Anwar langsung merasa kesal lagi. Dia memelotot ke arah Kelvin, lalu bertanya, "Bukannya kamu cuma ahli alkimia level dua? Kenapa kamu bisa menghilangkan Bubuk Dewa Petir dari tubuh kami?""Belakangan ini, aku sedikit mendapat kemajuan. Sekarang, aku sudah
Di sampingnya, pria tampan dengan alis tajam dan mata berbinar-binar itu bangkit duduk. Pada saat yang sama, biksu itu juga ikut duduk.Racun di tubuh mereka sudah hampir sepenuhnya dibersihkan.Saat melihat Yanisa malah menerjang ke arah Kelvin pada saat ini dan bahkan ... mencium Kelvin, mata mereka berdua membelalak sangat lebar.Kelvin sendiri juga terlihat sangat terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Yanisa akan tiba-tiba mencium dirinya.Untung saja Yanisa tidak langsung memeluk Kelvin sambil mencium. Kalau tidak, jarum-jarum perak di tubuhnya mungkin sudah menusuk makin dalam.Setelah mencium sekali, Yanisa melepaskan bibir Kelvin, lalu mengecap bibirnya pelan sambil berujar, "Mimpi ini terasa nyata banget. Aku coba lagi deh!"Yanisa memegang wajah Kelvin, lalu kembali mencium pria itu sekali lagi.Sensasi dingin dan lembut langsung terasa."Yanisa, hentikan!" Tepat saat itu, pria beralis tajam tadi membentak marah dengan suara rendah.Suaranya terdengar seperti petir yang m
"Karena dia berasal dari Balai Munres, sepertinya tiga temanmu masih bisa diselamatkan," ucap biksu itu sambil tersenyum. "Kalau begitu, aku juga nggak perlu terus merebus obat lagi.""Master, beberapa hari ini kami benar-benar sudah merepotkanmu." Jordan lalu memberi tahu Kelvin, "Silakan ikut aku."Kelvin mengikuti Jordan masuk ke sebuah kamar samping. Di dalam ruangan itu, ada tiga ranjang dan di atasnya terbaring tiga orang.Seorang pria dengan alis tajam dan tatapan tegas, seorang biksu, dan ....Saat Kelvin masuk dan melihat jelas orang ketiga, ekspresinya sedikit berubah. Dia berucap dengan heran, "Yanisa?"Benar sekali. Orang terakhir yang sedang terbaring di sana ternyata adalah Yanisa.Sejak Yanisa meninggalkan pesan untuk Kelvin terakhir kali, lalu dia membalasnya, mereka sudah tidak pernah berhubungan lagi.Kelvin tidak menyangka akan bertemu Yanisa di tempat seperti ini."Kamu mengenal Yanisa?" tanya Jordan dengan heran sambil memandang Kelvin.Kelvin menjawab sambil menga
Kelvin merasa heran. Jalan yang mereka lewati ternyata bukan pintu utama. Dengan dipandu oleh Jordan, mereka memutar cukup jauh hingga tiba di depan sebuah pintu samping.Di depan pintu samping itu, berdiri dua biksu. Keduanya berjaga di depan pintu sambil berbicara pelan satu sama lain.Ketika melihat Kelvin dan Jordan mendekat, kedua biksu itu segera berdiri dan merangkapkan kedua tangan. Kemudian, mereka menyapa, "Pak Jordan!"Jordan cepat-cepat membalas hormat kepada mereka, lalu memberi tahu, "Master sekalian, ini dokter yang kuajak kemari. Aku ingin membawanya masuk."Kedua biksu itu mengangguk. Salah satu dari mereka membalas, "Kepala Kuil sudah memberi tahu kami. Kalian berdua boleh masuk."Jordan mengangguk, lalu berkata kepada Kelvin, "Ikut aku."Kelvin memandang pintu itu dan merasa ada sesuatu yang aneh, tetapi dia tidak tahu apa. Pada saat itu, Jordan berucap lagi, "Kelvin, pijakkan setiap langkahmu tepat mengikuti langkahku."Kelvin merasa bingung, tetapi tetap mengikuti
Kelvin merasa penasaran dengan identitas Balai Munres. Tempat itu dikenal seolah mengetahui segala hal di dunia, bahkan jaringan informasinya terkesan lebih kuat daripada para Pengawas Malam."Ayo!" kata Jordan.Kelvin berpamitan dengan Juan. Setelah itu, mereka bertiga turun ke bawah. Setelah memastikan Niveria sudah pergi, barulah Kelvin ikut Jordan naik mobil dan menuju Kuil Mahata.Di dalam hati, Kelvin sedikit menantikannya.Felix pernah mengatakan bahwa di Kota Yanir ada beberapa orang yang tidak boleh disinggung. Orang pertama adalah Anderson dan sejauh ini Kelvin sudah bertemu dengannya. Namun, tampaknya tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.Orang kedua adalah Jerome yang sampai sekarang belum Kelvin temui.Sementara itu, orang ketiga adalah seorang biksu tua di Kuil Mahata.Namun siapa tepatnya, Felix tidak menjelaskan.Kelvin memutuskan untuk bersikap rendah hati. Jika sampai Felix mengatakan orang itu tidak boleh diusik, kemungkinan besar dia setara dengan Anderson, yait
Di depan Kelvin, berdiri seorang pria muda berambut pirang.Mendengar ucapan Kelvin, pria itu menatapnya dengan bingung. Tatapan matanya menunjukkan sedikit keheranan. Dia bertanya dengan penasaran, "Apa kita pernah bertemu?"Kelvin membalas sambil mengangguk, "Mungkin kamu nggak memperhatikan. Waktu itu di Kompleks Zenada, saat beli rumah, kamu pakai cincin penyimpanan untuk menggoda wanita."Benar sekali, orang ini adalah pria yang pernah Kelvin lihat di Kompleks Zenada.Mereka hanya pernah bertemu sekali, tetapi saat itu pria ini sedang menggoda wanita, jadi hal tersebut cukup membekas di ingatan Kelvin.Pria itu sedikit terkejut, lalu berdeham sebelum bertanya, "Ada kejadian seperti itu ya?"Setelah itu, pria itu menoleh ke arah Juan sambil bertanya, "Juan, ini orang yang kamu bilang bisa menyembuhkan temanku?"Juan tersenyum tipis dan membalas sembari mengangguk, "Benar. Di dunia ini, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan temanmu adalah dia."Kemudian, Juan tersenyum dan mempe
Keluarga Lorenz, Kota Jingawan!Saat ini di rumah Keluarga Lorenz, kepala keluarga yang hanya berstatus nama saja, Gino Lorenz, sedang mondar-mandir di dalam sebuah kamar.Di atas ranjang di sampingnya, ada seseorang yang sedang berbaring. Orang itu tidak lain adalah Karlo."Kenapa belum kembali jug
Adrian menatap ke arah Kelvin. Wajah dan sorot matanya dipenuhi keputusasaan, ketakutan, dan amarah!Yang membuat Adrian putus asa adalah karena dia mengira rencana yang disusunnya kali ini sudah sempurna tanpa celah. Namun kenyataannya, Kelvin justru berhasil membalikkan keadaan.Awalnya setelah te
Ini benar-benar seperti orang mengantuk yang langsung diberi bantal. Kebetulan sekali, Kelvin memang juga berencana pergi ke Kota Lamur. Dia pun menyetujui sambil mengangguk, "Pas banget, aku juga ada urusan di Kota Lamur. Kapan kita berangkat?""Sekarang? Sebentar lagi aku jemput kamu di depan wism
"Sebelum kamu dibunuh, kamu akan dibuat pingsan dulu. Setelah itu, akan ada orang yang membantu agar kamu dan Tia berhubungan." Usai berkata demikian, tatapan Charles perlahan menjadi dingin. Dia melanjutkan, "Aku sebenarnya nggak mau bertindak sampai sejauh ini. Tapi Nak, kamu benar-benar nggak tah







