Share

Sang Dewa Perang Terkuat
Sang Dewa Perang Terkuat
Author: Zila Aicha

1. Ayo Bercerai!

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2023-04-08 14:14:37

Saat ini keluarga Wood sedang berkumpul bersama di ruang keluarga mereka setelah melakukan prosesi acara pertunangan antara Shirley, si bungsu dari keluarga Wood dan Peter Green, seorang putra dari pemilik tambang emas di Carlo Hill.

Cassandra Wood, istri Bill sedang duduk di bagian pinggir dan terlihat tidak terlalu menyukai berada di sana. Beberapa kali ia melihat suaminya diperintah oleh keluarganya dan hanya menurut. Ia kesal. Sangat kesal.

Bagaimana tidak, suaminya itu tidak memiliki wibawa sedikit pun dan kerap menjadi bulan-bulanan keluarganya. Ia begitu ingin sekali melihat suaminya melawan, setidaknya sekali saja. Tapi, nyatanya sampai mereka menikah selama hampir tiga tahun lamanya, Bill masih juga sama. Masih menjadi seorang pencundang yang tidak berguna.

"Cepat isi gelas ini, Bill!" perintah Shirley pada kakak iparnya.

Bill dengan tenang mengambil botol wine merah dan membukanya dengan cepat lalu mengisi gelas Shirley kembali. Dia lalu berdiri di samping lelaki tua yang merupakan kakek Cassandra, Christopher Wood yang berwajah runcing mirip burung gagak.

Shirley pun tersenyum senang dan menyesap wine-nya perlahan. 

"Kau lihat kan, Sayang? Kakak iparku ini sangat baik hati mau melayani kami semua dengan baik," ujarnya pada Peter.

Peter Green, laki-laki yang akan segera menikah dengan Shirley itu ikut tersenyum puas, "Benar. Kau sangat beruntung sekali, Sayang."

"Tentu. Bill kami memiliki hati yang tulus, dia akan mengerjakan apa saja yang kami perintahkan," ucap George Wood, kakak laki-laki Shirley yang juga merupakan kakak ipar Bill.

Bill sama sekali tidak menanggapi dan beralih pada istrinya, "Cassie, apa kau mau aku mengisi gelasmu lagi?"

"Tidak usah," jawab Cassandra ketus.

"Mau camilan?" tanya Bill.

"Tidak perlu," sahut Cassandra dan ia pun bangkit dari kursinya.

"Kakek, maaf, aku harus ke kamar, sangat lelah," pamit wanita cantik dengan rambut pirang itu.

Tidak menunggu jawaban, dia langsung meninggalkan ruang keluarga itu. Bill segera melepaskan celemeknya dan menyusul istrinya. Wanita itu ternyata tidak ke kamar mereka, melainkan pergi ke rooftop.

Cassandra tahu suaminya sedang mengikutinya, dan sontak mendorong Bill dan memukulnya dengan badannya. 

"Kenapa, Bill? Kenapa kau harus bersikap pengecut terus? Apa kau tidak memiliki harga diri sedikit saja? Kenapa tidak melawan mereka?"

Ia tidak berhenti memukul dan Bill tampak tidak ingin mengganggu istrinya melampiaskan kemarahannya itu. Ia hanya menunggu sampai istrinya lelah memukul dirinya.

"Apa salahku sampai aku harus menikah dengan lelaki tidak berguna sepertimu?"

Bill hanya terdiam. Ia pikir menjawab perkataan istrinya sama malah membuat istrinya itu lebih marah.

"Kenapa kau mau-mau saja menjadi pembantu mereka, Bill? Katakan padaku, kenapa?" desak Cassandra, sudah tidak tahan.

Bill tidak mungkin cerita kejadian yang sebenarnya. Hal itu masih menjadi rahasia besarnya.

"Katakan! Kenapa kau tidak pernah membela diri? Aku muak melihatnya, Bill. Sangat muak melihat lelaki lemah sepertimu."

Wanita itu kemudian mulai menangis kesal. Saat Bill berniat menyentuhnya, Cassandra menjauhkan diri. 

"Membela dirimu saja kau tidak becus, bagaimana mungkin aku bisa tahan denganmu? Ayo, kita cerai saja, Bill!"

Bill membeku di tempatnya begitu mendengarnya. 

"Cerai?"

"Ya. Ayo bercerai! Aku benci lelaki sepertimu!"

"Kenapa harus bercerai?" tanya Bill.

"Kenapa, tidak? Toh, kita menikah hanya karena permintaan nenek, bukan karena saling suka." 

Cassandra memutar badan dan menatap ke arah lain. Bill mendekati istrinya dan menyentuh lengannya tapi masih ditolak.

"Aku tahu, tapi-"

"Tapi apa? Sudahlah, lebih baik kita berpisah. Tidak ada gunanya bersama," ucap Cassandra, masih tidak mau menatap wajah suaminya.

"Aku tidak bisa."

Cassandra tertawa sinis, "Tidak bisa katamu? Lihatlah dirimu! Kau hanya seorang pekerja di kios buah di pasar. Apa yang bisa aku harapkan darimu?"

Wanita yang menggerai rambutnya itu lalu duduk di kursi, menatap ke arah depan. Bill mengikutinya dan duduk di samping meskipun ia tahu istrinya tidak menyukainya.

"Apa yang salah dengan hal itu, Cassie?"  

Cassandra sungguh ingin sekali mencekik suaminya itu.

"Apa yang salah? Jelas salah. Kau tahu aku bekerja di kantor, aku seorang sekretaris di perusahaan besar. Apa kau tidak pernah memikirkan betapa malunya aku memiliki suami yang memiliki pekerjaan rendah begitu?"

Cassandra berhenti sejenak, sebelum melanjutkan, "Kau tidak tahu bagaimana mereka mengejekku. Suami pecundang, tidak punya harga diri, hidup hanya menumpang. Aku yang-"

"Cassie-"

"Jangan menyelaku dulu! Biarkan aku bicara," pinta Cassandra yang kini sudah kembali berdiri. 

Wanita itu sepertinya sudah siap meledak kembali, Bill pun juga bisa melihat hal itu dengan begitu sangat jelas.

"Karena kau, aku dipandang sebelah mata, Bill. Jadi, sudahlah, kita akhiri semuanya saja. Aku sudah tidak tahan."

Bill menggeleng dan nekad menyentuh tangan istrinya. "Tidak. Aku tidak akan pernah mau."

Cassandra mendecak lidah jengkel, "Kalau kau tidak mau, berarti aku yang akan menuntutmu di pengadilan."

"Jangan. Tolong, Cassie. Beri aku kesempatan untuk berubah!"

Cassandra mendesah lelah. Andai saja sang suami mengatakan hal itu sejak dulu, dia pasti akan langsung mendukungnya. Namun, sekarang ini dia sudah benar-benar sangat lelah.

Menunggu Bill berubah selama 3 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Dia sudah melewati begitu banyak ujian dan hinaan atas pernikahannya dengan Bill, dia tidak ingin mengalaminya lagi. Baginya semuanya sudah cukup.

"Kesempatanmu sudah tidak ada," ucap Cassandra.

Bill mulai putus asa, "Beri aku kesempatan untuk berubah!"

Cassandra masih terdiam, tidak juga berniat membalas.

"Satu kali saja," ucap Bill serius.

Lama berpikir, Cassandra yang semula terlihat ragu itu pun akhirnya menjawab, "Oke. Satu kesempatan, kalau kau tidak kunjung berubah juga, aku akan mengajukan cerai."

Sebuah senyum pun terbit di bibir Bill. 

"Oke."

Selama ini dia tidak bisa melamar pekerjaan yang bagus karena itu artinya dia harus menggunakan identitas aslinya. Hal itu tidak bisa ia lakukan karena sama saja ia mengungkap identitasnya ke publik. Ia belum bisa melakukannya, masih ada satu hal yang membuatnya harus menyembunyikan identitas aslinya.

"Ya sudah, Sayang. Aku turun."

Cassandra mengerang kesal lagi tapi sudah malas mengeluarkan kata-kata sehingga ia hanya diam saja saat melihat suaminya meninggalkan rooftop.

Ketika Bill kembali ke ruang keluarga, sang kakek mertua sudah mendelik kesal terhadapnya. "Dari mana saja kau? Gelas tamu sudah kosong."

"Berbicara dengan Cassie sebentar, Kek."

"Hm, cepat sana isi gelas Peter!"

Bill menghela napas, berusaha menahan diri lalu segera mengambil botol wine dan menuangkan minuman itu ke gelas kosong Peter.

Peter tersenyum mengejek.

"Kemarilah sebentar, calon kakak ipar!" ucap Peter, meminta Bill mendekat.

Pria itu sebenarnya enggan menanggapi tapi dia juga ingin tahu apa yang diinginkan oleh Peter sehingga ia sedikit menunduk.

"Istrimu sangat cantik, apa aku boleh mendekatinya?" bisik Peter dengan suara pelan.

Bill seketika menegang. 

"Kau ... brengsek!" teriak Bill.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Sa'e Diedik
menarik ceritanya
goodnovel comment avatar
Edison
assalamualikum
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sang Dewa Perang Terkuat    93. Ini Belum Berakhir, Gardner!

    Knox menggertakkan gigi, masih terlalu kesal pada First yang memilih untuk mengabaikannya dan pergi dari sana.Belum sempat pemuda itu berpikir untuk menyerang Kyland dan Reinhard, Kyland sudah menendangnya terlebih dulu.Knox yang tidak siap itu kembali terjatuh lagi.Di saat dia hendak bangkit, Reinhard dengan begitu cepat langsung menahannya dan menindihnya. Dia menggunakan pisau milik Kyland untuk berniat menusuk Knox.Tapi tidak disangka-sangka pada saat itu dia dilempar oleh batu yang tepat mengenai tangannya hingga membuat dirinya kehilangan kendali atas pisau itu. Pisau tersebut jatuh dan hal itu dimanfaatkan oleh Knox untuk memukul balik Reinhard.Kyland yang melihat hal itu segera mengambil pisau miliknya lagi dan berniat untuk mengambil alih tugas Reinhard untuk membunuh Knox.Tapi, hal itu tidak bisa dilakukan sebab tangannya malah terpanah secara tiba-tiba.“Brengsek!” Kyland mangumpat sembari mena

  • Sang Dewa Perang Terkuat    92. Kau Pasti Akan Mati dengan Cepat!

    Richard bangkit dengan cepat lalu buru-buru menyusul Kharel.Keduanya mulai mengeluarkan senjata mereka masing-masing, bersiap-siap untuk melakukan serangan balasan terhadap si penyerang yang belum terlihat oleh mereka itu.Sebelum mereka bisa menemukan lokasi si penyerang, dua bola api kembali dilemparkan ke arah mereka.Namun, berkat kelincahan kedua pemuda itu mereka pun bisa menghindar tepat waktu.Tapi, setelah serangan itu Kharel yang memang memiliki pendengaran yang sangat tajam menoleh ke arah Richard, “Aku tahu tadi mana mereka.”Richard menaikkan alis kanan, “Bagaimana kau bisa tahu?”Kharel hanya menjawab, “Ikut aku saja! Ayo cepat, Richard!”Richard tidak memprotes meskipun dia menginginkan sebuah jawaban. Pemuda yang masih berusia tujuh belas tahun dan memiliki perbedaan umur sebanyak empat tahun itu mengikuti Kharel.Sementara itu di arena yang lain suasana ter

  • Sang Dewa Perang Terkuat    91. Fase Kedua

    “Aku … ingin keluar dari tempat ini.”Untuk sesaat Richard hanya bisa berkedip-kedip ketika mendengar jawaban Jeremy.“Aku dan salah seorang temanku sudah terlalu muak berada di sini.” Jeremy menambahkan dengan ekspresi wajah terlihat lelah. Richard menghela napas panjang, tapi belum memberikan komentar apapun.Sebelum dia sempat memberikan tanggapan, dia malah kembali mendengar jeremy berbicara lagi, “Menghancurkan perserikatan kerajaan-kerajaan yang berisi begitu banyak orang yang memiliki kekuatan besar tentu akan sulit.”Dia berhenti sejenak dan menatap Richard dengan tatapan penuh keyakinan, “Tapi … membawaku keluar dari tempat sialan ini kurasa tidak terlalu sulit. Benar begitu, Putra Mahkota?”Richard De Kruk yang memang terkenal memiliki ekspresi datar pun akhirnya menjawab, “Baiklah, sepakat.”Jeremy melebarkan mata, tampak terkejut dengan persetujuan Richard yang begitu mudahnya. “Kau setuju?”“Ya.”“Kau … tidak akan berubah pikiran?”Richard mendengus pelan, “Jika kau ber

  • Sang Dewa Perang Terkuat    Pengumuman -_-

    Hai, Pembaca Setia Mohon maaf sebesar-besarnya saya belum bisa publish lanjutan cerita buku ini di malam ini.Selanjutnya, saya akan coba publish besok ya Readers. Omong-omong masih adakah yang menunggu-nunggu lanjutan cerita ini? Bisakah beri komentar di sini?Kemungkinan besar season 4 buku ini akan segera tamat di bulan ini. Semoga masih setia menunggu akhir dari kisah Kharel Mackenzie dan teman-temannya ya.Terima kasih. ^•^Salam hangat,Zila Aicha

  • Sang Dewa Perang Terkuat    90. Aku Juga Tidak Percaya Mereka!

    Niall terlihat ragu-ragu.Tapi, saat dia mengingat bagaimana ketelitian Richard yang juga sama seperti Kharel, dia pun berpikir bahwa Richard tidak akan mungkin memberikan ide jika dia tahu hal itu akan berakhir burukDikarenakan keyakinannya itu, Niall mengambil napas dalam-dalam, “Baiklah, kita coba saja. Lagipula, kita tidak punya banyak pilihan.”“Kau benar. Mereka juga belum tentu mau menolong Niall,” Kharel juga setuju.Richard menahan napas saat Niall mulai membuka obat yang dimiliki oleh Roy Ways itu.Obat itu ternyata berjumlah cukup banyak sehingga mereka menggunakannya dengan sangat hati-hati.“Tidak ada petunjuk apapun. Berapa dosis yang harus kita gunakan?” Niall pertanyaan dengan alis mengerut.First Kiansa yang baru sa berjalan menuju ke arah mereka pun menjawab cepat-cepat, “Satu butir sudah cukup.”Niall sontak menoleh ke arah sang pangeran

  • Sang Dewa Perang Terkuat    89. Kita Coba Saja!

    Kharel membeku di tempatnya berdiri.Sedangkan Richard dengan gesit langsung berlari menuju ke tempat kecelakaan mobil itu terjadi. Elliot menyambar tangan Kharel lalu mengajak pemuda itu untuk mengejar Richard.Knox mengusap bagian belakang kepalanya, bingung tapi pada akhirnya dia pun ikut menyusul ketiga orang yang saat ini menjadi sekutunya itu.Elliot cukup syok melihat nomor mobil yang mengalami kecelakaan itu.“Mobil nomor sebelas. Ini … mobil Gale, Kharel,” Elliot berkata dengan nada lemas. Beberapa staf penyelenggara telah berdatangan tapi Richard yang lebih dulu tiba itupun dengan cepat membuka pintu mobil yang telah terbalik itu. Kecelakaan itu terlihat begitu parah sebab beberapa kaca pecah dan hancur. Tapi, semua orang belum mengetahui kondisi dari tiga penumpang yang ada di dalamnya.“Kharel, bantu aku!” Richard berteriak. Saat Kharel tidak menanggapi ucapannya karena terlalu terkejut, Richard berteriak sekali lagi, “Kharel, sadarlah!”“Kharel!” kali ini Richard memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status