Home / Urban / Sang Dewa Perang Terkuat / 152. Perubahan Sikap

Share

152. Perubahan Sikap

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2023-08-26 00:10:56

Steven tidak lagi membantah dan segera saja membawa para pasukan mereka untuk segera kembali ke Kerajaan Ans De Lou.

Di tengah perjalanan, dia tidak berbicara sedikitpun dan hanya terdiam saja.

Sementara itu, beberapa pasukannya terlihat mulai berbicara di bagian belakang saat melihat wajah sang jenderal perang terhebat itu luar biasa tidak sedap dipandang.

Mereka hanya berani berbisik-bisik karena tidak ingin membuat pemilik julukan Dewa Maut itu tersinggung atas ucapan mereka.

"Apa Jenderal Mackenzie marah pada kita?" tanya seseorang pada temannya.

"Tidak mungkin. Mengapa dia marah pada kita? Tidak ada alasan apapun baginya bisa marah pada kita."

"Kau benar. Kita bahkan selalu menurut kepadanya dan walaupun sebagian dari kita tadinya sempat tidak menurut namun pada akhirnya kita kembali menurut kepadanya."

Seorang lainnya juga ikut menanggapi, "Kita sudah melakukan apa saja yang dia perintahkan."

"Kurasa dia bukan marah pada kita tapi ...."

Perkataan salah satu pasukan yang terbilan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Dewa Perang Terkuat    89. Kita Coba Saja!

    Kharel membeku di tempatnya berdiri.Sedangkan Richard dengan gesit langsung berlari menuju ke tempat kecelakaan mobil itu terjadi. Elliot menyambar tangan Kharel lalu mengajak pemuda itu untuk mengejar Richard.Knox mengusap bagian belakang kepalanya, bingung tapi pada akhirnya dia pun ikut menyusul ketiga orang yang saat ini menjadi sekutunya itu.Elliot cukup syok melihat nomor mobil yang mengalami kecelakaan itu.“Mobil nomor sebelas. Ini … mobil Gale, Kharel,” Elliot berkata dengan nada lemas. Beberapa staf penyelenggara telah berdatangan tapi Richard yang lebih dulu tiba itupun dengan cepat membuka pintu mobil yang telah terbalik itu. Kecelakaan itu terlihat begitu parah sebab beberapa kaca pecah dan hancur. Tapi, semua orang belum mengetahui kondisi dari tiga penumpang yang ada di dalamnya.“Kharel, bantu aku!” Richard berteriak. Saat Kharel tidak menanggapi ucapannya karena terlalu terkejut, Richard berteriak sekali lagi, “Kharel, sadarlah!”“Kharel!” kali ini Richard memb

  • Sang Dewa Perang Terkuat    88. Gale Mana?

    Kalau saja Knox Mest tidak takut kepada Riley Mackenzie, dia pasti sudah mendengus keras menanggapi perkataan Elliot Gardner.Dua orang itu berbicara seolah-olah dia tidak ada di sana. Padahal orang yang sedang dibicarakan oleh mereka adalah dirinya.“Elliot anakku, cara ini adalah yang terbaik. Kalau kita tidak memakai cara ini, aku tidak yakin kami bisa mengeluarkan kalian semua dari wilayah ini atau tidak,” kata Riley.Elliot jelas hanya bisa menerima rencana yang telah disusun oleh sahabat baik ayahnya itu. Namun, Knox yang masih terlalu syok itu pun bertanya, “Wakil Jenderal Mackenzie, saya … bukanlah seseorang yang penting di kelompok kami dan saya tidak yakin kalau mereka akan mendengarkan saya.”“Aku tahu itu. Yah, kita memang bisa tidak memaksa teman-temanmu itu untuk mempercayai semua perkataan kami tapi yang bisa kupastikan adalah kami akan berusaha penuh untuk menyelamatkan kalian semua,” kata Riley.Akan tetapi, Knox tetap saja ragu. Pasalnya beberapa teman-temannya masi

  • Sang Dewa Perang Terkuat    87. Rencana yang Matang

    Knox Mest yang mendengarkan pertanyaan Elliot Gardner pun merasa bahwa sebenarnya hal itu tidak perlu ditanyakan lagi.Lagipula, siapa yang tidak mengenal bagaimana strategi perang yang selama ini dijalankan oleh James Gardner?Seingat dirinya, Kerajaan Mecco yang merupakan tempatnya berasal juga pernah dikalahkan oleh James Gardner dalam sebuah perang. Jadi, siapa lagi yang bisa membuat strategi yang begitu rapi sampai-sampai pihak penyelenggara kompetisi itu tidak sadar bahwa ada dua penyusup yang telah masuk ke dalam area kompetisi? Dan hal itu pun ternyata dikonfirmasi oleh Riley Mackenzie yang tersenyum mendengar pertanyaan dari putra sahabat itu. Dia pun kemudian berkata, “Tentu saja, Nak. Bahkan … dialah yang juga telah membuat perencanaan untuk melindungi kalian agar bisa sampai di area resmi kompetisi.”Elliot terpana. Ah, dia tahu jika ayahnya memang hebat. Tapi dia hanya tidak mengira bahwa ayahnya benar-benar memikirkan hal itu dengan begitu sangat matang sampai sekara

  • Sang Dewa Perang Terkuat    86. Kau Setuju?

    James Garder tiba-tiba saja mendesah kesal begitu mendengar pertanyaan Kharel Mackenzie.Tapi, dia tetap menjawab, “Dia sekarang … di mobil Elliot.”“Hah?” Kharel menaikkan alisnya begitu mendengar jawaban James, terlihat terkejut.James tertawa jengkel lalu kemudian mulai menggerutu dengan nada suara tidak jelas, “Kami membuat kesalahan. Oh, maksudku dia … ayahmu yang membuat kesalahan. Dia seharusnya mengemudi mobil ini, tapi … dia malah salah nomor.”Dia menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan, “Mungkin dia sudah kehilangan penglihatannya yang bagus jadi dia tidak bisa membaca dengan benar. Ah, si tua itu!”Pria paruh baya itu tampak seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Bahkan, Richard terlihat bingung dengan bagaimana James bersikap di depannya.Hal itu membuat Kharel tersenyum pada Richard seakan meminta pengertian Richard.Richard pun untuk pertama kalinya tersenyum maklum. “Er, Paman. Lalu … bagaimana rencananya?” Kharel bertanya agar James melupakan kekesalannya pad

  • Sang Dewa Perang Terkuat    85. Kau Terlalu Ceroboh!

    Kharel sudah berniat untuk berbicara, tapi sang sopir berdeham pelan seakan memang belum selesai berbicara. Kharel pun memilih diam terlebih dulu dengan sambil mengernyitkan dahi.“Tapi … sayangnya kau terlalu ceroboh, anak muda!” lanjut sopir itu yang diikuti oleh sebuah tawa pelan.Namun, tawa itu bukanlah jenis tawa mengejek. Dia hanya tertawa santai, seolah hal yang dilakukan Richard adalah sebuah hal yang lucu.Tetapi, Richard tetap saja tidak suka ditertawakan seperti itu sehingga dia malah lebih menekan pistol itu ke dahi sopir itu, “Jangan banyak bicara! Atau aku akan benar-benar membuatmu berhenti bernapas!”Namun, reaksi sopir itu di luar dugaan Richard, dia dengan santai membalas, “Anak muda, satu peluru itu sangat berharga di tempat ini. Kau tidak mungkin akan menggunakannya hanya untuk membunuh seorang yang tidak perlu kau bunuh seperti aku, bukan?”“Kau banyak bicara!” ucap Richard dengan nada agak keras.Kharel yang sudah tidak tahan lagi pun mendesah jengkel, “Paman, b

  • Sang Dewa Perang Terkuat    84. Itulah Tujuan Mereka!

    Kharel hampir saja menjawab pertanyaan Elliot, tapi sahabat baiknya itu malah lebih dulu berbicara, “Kharel, kau lupa ayahku James Gardner dan … kakekku Jody Gardner?”Alis kanan Kharel terangkat sedikit. Elliot tersenyum miring, “Aku mewarisi dua sifat yang berbeda dari mereka. Jadi, kau … tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang bisa membodohi cucu Jody Gardner.”Sebetulnya Kharel bukannya terkejut Kharel membanggakan asal usulnya. Dia tahu ayah Elliot memanglah jenderal perang yang luar biasa hebat. Tidak pernah ada yang berani meragukan kemampuan pria yang merupakan sahabat baik ayahnya itu.Namun, ini pertama kalinya dia menyebut perihal Jody Gardner, seorang prajurit yang dicap sebagai pengkhianat karena banyak perbuatannya yang telah merugikan Kerajaan Ans De Lou di masa lalu.“Kakekku memang memiliki banyak kesalahan besar, tapi … kurasa tidak ada yang bisa membantah bila dia juga cukup pintar … licik, kan?”Telinga Elliot memerah tapi tetap melanjutkan dengan wajah sedikit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status