Share

09. Tak Memiliki Rasa

Author: Nyemoetdz Kim
last update publish date: 2026-03-07 20:38:59

"tinggal bersama?"

Senyumnya tersungging tipis mendengar permintaan wanita yang ada di hadapannya.

"Katakan kenapa aku harus tinggal bersamamu ketika kau hanya harus menjalani operasi. Jika setelah operasi kau tidak ingat ayahmu, bukankah itu bagus."

Maisa terdiam, benar apa yang Bima katakan. Namun, hati kecilnya berkata lain.

"Sebenarnya aku ..."

"Kenapa? Kau boleh tidak percaya dengan yang kau lihat tentang kebenaran itu. Tapi bukankah akan lebih baik jika ingatanmu itu hilang." Bima coba m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   26. BAB 26: PERANG TERBUKA DI ATAP LANGIT

    ​Keheningan di dalam kamar ICU itu terasa menipu. Meski Bima telah membuka mata dan menghirup udara dunia manusia kembali, suasana tidak lantas menjadi tenang. Udara di sudut ruangan tiba-tiba berputar ganjil, membentuk pusaran debu halus yang hanya bisa disaksikan oleh mata batin mereka. ​Bima mencoba duduk dengan susah payah, wajahnya masih sangat pucat. Ia menatap telapak tangannya sendiri; garis-garis emas yang biasanya bersinar megah di bawah kulitnya kini telah meredup total, pertanda kekuatan dewa miliknya telah ditekan paksa agar jiwanya bisa bertahan di bumi. ​Bima menatap punggung tangan Maisa yang memerah akibat percikan energi saat mereka berada di dimensi mimpi tadi. Rasa bersalah yang baru kini menghantam dadanya lebih keras daripada hukuman langit mana pun. Sebagai mantan Batara, ia tahu persis betapa kejamnya Pelacak Fajar. Mereka tidak hanya memburu raga, melainkan menyiksa jiwa siapa pun yang berani membantu sang pemberontak langit. ​B

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   25. MENEMBUS TITIK NOL

    Petir menggelegar membelah langit keunguan. Tekanan udara di alam mimpi itu tiba-tiba menjadi begitu berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri berusaha meremukkan tulang-tulang Maisa. Di hadapan mereka, gumpalan awan hitam berputar dahsyat dan membentuk sosok raksasa yang mengenakan zirah perak berkilau. Wajahnya tertutup topeng emas, namun sepasang matanya memancarkan cahaya putih yang mengintimidasi.Inilah Sang Penjaga Batas, entitas yang bertugas memastikan tidak ada hukum langit yang dilanggar, apalagi oleh seorang manusia fana."Lancang! Manusia tanah yang hina, beraninya kau menginjakkan kaki di alam pengadilan," suara Penjaga Batas itu menggema seperti ribuan lonceng logam yang memekakkan telinga. "Lepaskan tanganmu dari sang Batara, atau jiwamu akan kami lebur menjadi abu!"Maisa mempererat pelukannya pada tubuh Bima yang masih terantai, meski sekujur tubuh manusianya bergetar hebat. "Aku tidak akan melepaskannya! Dia bukan sedang diadili, dia sedang disiarkan dan

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   24 MERAMBAH DIMENSI SEMU

    ​Ruang perawatan itu kini hanya menyisakan suara ritmis dari monitor jantung. Meski luka-luka di tubuh Bima secara ajaib menutup karena sisa metabolisme surgawinya dan detak jantungnya kembali menguat, pemuda itu tetap tidak bergeming. Ia tampak seperti patung marmer yang indah namun tak bernyawa. Maisa duduk di samping ranjang, jemarinya gemetar saat menyentuh punggung tangan Bima yang terasa dingin secara tidak wajar.​Setiap detik yang berlalu tanpa melihat binar mata Bima adalah cambukan bagi Maisa. Ia merasa, jika saja ia tidak membiarkan Bima masuk ke dalam hidupnya yang fana, Bima tidak akan berakhir menjadi raga yang kosong seperti ini.​"Lukamu sudah hilang, Bima. Napasmu sudah tenang. Lalu kenapa kamu masih betah di sana? Apa hukumanmu belum selesai?" Maisa berbisik parau, membiarkan air matanya menetes ke punggung tangan Bima.​Setelah puas menangis di samping Bima dan menyalahkan diri sendiri, ia berjalan keluar ke taman rumah sakit untuk mengurangi rasa sesa

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   23 SECERCAH HARAPAN DI KORIDOR SUNYI

    Berikut adalah revisi kelanjutan cerita Anda untuk Bab 23. Narasi diolah dengan memperdalam dinamika persahabatan antara Maisa dan Sully, serta mempertegas ketegangan medis akibat hilangnya perlindungan surgawi Bima yang kini membutuhkan transfusi darah manusia. Tulisan dikemas secara padat, dramatis, dan scannable di bawah 1.000 kata.​​Lampu koridor berkedip ritmis, menciptakan suasana mencekam di tengah aroma disinfektan yang menusuk hidung. Sully baru saja hendak mengurus administrasi pengobatan ibunya ketika langkah kakinya membeku seketika. Di ujung lorong, seorang wanita duduk bersimpuh di lantai dengan bahu yang berguncang hebat. Pakaian wanita itu—yang Sully kenali sebagai gaun favorit sahabatnya—kini tidak lagi berwarna putih bersih, melainkan ternoda merah pekat yang mulai mengering.​Sully merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Sahabat yang menghilang tanpa kabar selama berminggu-minggu itu kini ada di depannya, tampak hancur seperti seseorang yang baru

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   22 KUTUKAN SERATUS KELAHIRAN

    ​Kondisi Bima kini menjadi sebuah anomali yang membingungkan penghuni dua dunia. Tubuhnya terbaring kaku dan dingin di ranjang medis, terhubung dengan berbagai selang yang menjadi satu-satunya penyambung nyawa fisiknya. Namun, secara metafisika, keberadaan Bima seperti sebuah jangkar yang tersangkut di antara dua dimensi.​Di ambang batas itu, suasana terasa sangat aneh. Bima bisa melihat cahaya keemasan dari gerbang Kahyangan yang mulai terbuka, tempat para Batara berdiri dengan wajah penuh wibawa namun tampak gelisah. Mereka mengulurkan tangan, mencoba menarik sukma Bima untuk segera naik dan menyelesaikan takdir kematiannya. Namun, setiap kali jemari cahaya mereka menyentuh esensi jiwa Bima, ada sebuah ikatan tak terlihat yang menyentak mereka kembali.​"Mengapa sukmanya begitu berat?" bisik salah satu Batara dengan nada heran. "Dia sudah tidak memiliki napas yang layak, tapi buminya tidak mau melepaskannya."​Bima, dalam kondisi komanya, merasakan tarikan itu seperti

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   21 JANGKAR JIWA DI AMBANG BATAS

    ​Suara letusan senjata kedua membelah gemuruh hujan. Maisa telah melemparkan dirinya ke atas tubuh Bima, berniat menjadi perisai bagi pria yang telah memberikan segalanya untuknya. Namun, di detik-detik krusial, Bima menggunakan sisa tenaga penghabisan untuk memutar posisi mereka.​DOR!​Peluru itu kembali bersarang di tubuh Bima, tepat di punggungnya, meleset tipis dari tubuh Maisa yang kini berada dalam dekapannya. Bima mengerang tertahan, tubuhnya tersentak hebat, dan darah hangat mulai merembes membasahi pakaian Maisa.​"Tidak, Bima, kenapa?!" tangis Maisa histeris. Ia memeluk kepala Bima, mencoba menutupi luka itu dengan tangannya yang bergetar. "Kenapa kamu terus melindungiku? Aku yang harusnya mati, Bima! Aku yang sakit, aku yang tidak punya waktu lama! Kenapa kamu membuang nyawamu untukku?"​Bima tersenyum sangat tipis, wajahnya kini sepucat kertas. Napasnya tersengal, namun matanya menatap Maisa dengan kelembutan yang tak goyah. "Karena... bagiku... satu har

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   10. Mati Sekarang atau Nanti?

    "Kenapa kau melarang ku untuk mengakhiri hidup jika kau terus datang padaku."Seorang pria coba mengakhiri hidupnya, namun gagal karena Bima tidak ingin pria itu dengan mudah mati setelah membuat orang lain menderita."Kau harus merasakan apa yang sebelumnya kau lakukan pada ora

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   07. Jangan Pergi

    "Ayah, aku ini putri mu. Ibu sudah tiada dan—""Berhenti bicara dan pergi. Aku tak ingin menoleh kebelakang lagi. Jangan pernah datang karena aku tak berharap kau ini ada di sini sekarang," sahut ayah Maisa, dia langsung mengenali puterinya. Kalau saja dia bersikap tak peduli, mungkin dia tidak aka

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   08. Kenyataan yang Menyakitkan

    "Kenapa kau memintaku untuk tidak pergi?"Mereka berdua sedang duduk di sebuah taman setelah Maisa puas meluapkan rasa sakitnya. Dia meminta Bima agar tidak pergi ketika memang hanya pria asing itu yang menemaninya saat ini."Karena kau spesial. Kau bisa membantuku, kau juga bisa membuatku sembuh d

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   11. Takdir yang Sudah Tertulis

    "Mati sekarang atau nanti sama saja."Maisa berjalan ke arah jalan, terlihat dari arah belakang dia berdiri mobil melaju kencang. Seakan tidak peduli dengan itu, wanita cantik itu berjalan hampir ke tengah.Beberapa pengguna jalan membunyikan klakson padanya, dia tetap tidak peduli. Matanya masih m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status