LOGIN"Mati sekarang atau nanti sama saja."Maisa berjalan ke arah jalan, terlihat dari arah belakang dia berdiri mobil melaju kencang. Seakan tidak peduli dengan itu, wanita cantik itu berjalan hampir ke tengah.Beberapa pengguna jalan membunyikan klakson padanya, dia tetap tidak peduli. Matanya masih menatap ke arah Bima yang hanya diam.Semakin dekat mobil itu melaju kearahnya, dia malah menutup mata. Tanda dia pasrah jika mobil itu akan menabraknya."Apa kau sudah gila!"Teriakan itu membuat Maisa membuka mata. Dia pikir mobil itu sudah menabraknya. Ternyata dia sudah disisi jalan dengan Bima yang memeluk erat tubuhnya.Bukannya menatap kearah orang yang memaki, Maisa menatap pria yang memeluknya. Rasa takut itu seperti tidak ada dalam gurat wajahnya. Dia melakukan ini hanya karena ini Bima bersamanya.Maisa tidak tau lagi bagaimana caranya menahan pria asing yang baru dia temui beberapa waktu ini."Jangan memberikan keburukan pada orang lain hanya karena kecerobohanmu. Kau hanya akan m
"Kenapa kau melarang ku untuk mengakhiri hidup jika kau terus datang padaku."Seorang pria coba mengakhiri hidupnya, namun gagal karena Bima tidak ingin pria itu dengan mudah mati setelah membuat orang lain menderita."Kau harus merasakan apa yang sebelumnya kau lakukan pada orang itu. Tidak adil jika kau mati begitu saja tanpa kehancuran di dunia. Kau harus tersiksa dengan rasa bersalah yang sudah kau buat."Dengan senyuman yang menjadi ciri khasnya, Bima tampak dingin meski wajahnya tampan."Tidak! Aku ingin mati. Kau tidak bisa menghalangiku."Pria itu berusaha untuk lari ke arah tepi jembatan dan ingin melompat, namun Bima tidak membiarkan itu. Kehancuran yang pria itu rasakan harus dijalani, tak boleh dia memilih mati tanpa penyesalan."Biarkan aku mati. Siapa dirimu melarang ku! Pergi dariku! Ha!!"Teriakan pria itu membuat Bima kembali tersenyum, tak lama beberapa orang membawa pria itu yang dianggap gila karena t
"tinggal bersama?"Senyumnya tersungging tipis mendengar permintaan wanita yang ada di hadapannya. "Katakan kenapa aku harus tinggal bersamamu ketika kau hanya harus menjalani operasi. Jika setelah operasi kau tidak ingat ayahmu, bukankah itu bagus."Maisa terdiam, benar apa yang Bima katakan. Namun, hati kecilnya berkata lain."Sebenarnya aku ...""Kenapa? Kau boleh tidak percaya dengan yang kau lihat tentang kebenaran itu. Tapi bukankah akan lebih baik jika ingatanmu itu hilang." Bima coba menjelaskan jika wanita di hadapannya tidak akan rugi melupakan ayahnya."Sejujurnya bukan tentang hilang ingatan yang aku takutkan, tapi aku takut akan tiada ketika aku sangat ingin bertemu dengan ayahku," ucapnya lirih karena dia ragu mengatakannya. Hatinya terluka saat ini, namun dia tidak bisa membohongi Bima tentang kekhawatiran yang mengganggunya."Apa aku egois saat takut mati? Hidupku cukup sulit, ibu selalu aku anggap baik ketika hanya perlakuan kasar yang aku dapat. Aku membayangkan it
"Kenapa kau memintaku untuk tidak pergi?"Mereka berdua sedang duduk di sebuah taman setelah Maisa puas meluapkan rasa sakitnya. Dia meminta Bima agar tidak pergi ketika memang hanya pria asing itu yang menemaninya saat ini."Karena kau spesial. Kau bisa membantuku, kau juga bisa membuatku sembuh dari penyakit ini. Tidak bisakah aku meminta tolong agar kau tetap berada di sampingku?""Kau tidak takut saat aku memintamu membayar hal itu dengan imbalan dari yang kau minta?" Maisa menatap pria di sampingnya, dia mulai bisa berpikir. Hal itu dia lupakan, ada imbal balik dengan apa yang diminta."Kenapa kau menatapku seperti. Bukankah aku sudah ingatkan itu?""Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Maisa dengan perasaan takut. Yang dia tau, pria dihadapannya ini berbeda dengannya, jadi dia takut jika pilihannya ini merugikan dia juga."Tenanglah, aku bukan memintamu mati, aku hanya ingin kau mengatakan permintaanmu." Pria asing yang diberi nama Bima itu lebih dekat pada wanita di sam
"Ayah, aku ini putri mu. Ibu sudah tiada dan—""Berhenti bicara dan pergi. Aku tak ingin menoleh kebelakang lagi. Jangan pernah datang karena aku tak berharap kau ini ada di sini sekarang," sahut ayah Maisa, dia langsung mengenali puterinya. Kalau saja dia bersikap tak peduli, mungkin dia tidak akan terluka seperti sekarang."Ayah!" Wanita cantik itu sudah menangis mendengar penolakan dari sang ayah. Bagaimana bisa jika harapan terakhirnya bertemu dengan sang ayah. Hingga dia mengurungkan operasi yang harus dijalankan.Maisa memegang lengan ayahnya erat, bukan lagi lengan Bima, dia sedang fokus dengan pria paruh baya yang sejak lama dia tunggu kabarnya."Lepaskan! Keluargaku akan melihatmu di sini, jadi tak perlu datang lagi." Ayahnya melepaskan genggaman tangan hingga hampir terjatuh.Tak menyerah, Maisa kembali memegangi tangan ayahnya. "Kenapa ayah begitu membenciku? Apa aku ini bukan puteri kandungmu? Bahkan ayah hidup dengan nyaman di sini. Ayah tidak pernah mencari atau menanyak
"Aku butuh bantuanmu untuk mengurangi rasa sakit ini agar aku bisa bertemu dengan ayahku. Tolong bantu aku."Maisa semakin erat memegang tangan pria itu. Berharap bisa mendengar jawaban iya ketika hanya pria asing itu yang bisa membantunya."Katakan apa permintaanmu?" Suaranya begitu candu, deep voice yang akan membuat setiap wanita terpanah bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena suaranya."Aku akan katakan nanti, tidak sekarang. Bagaimana cara memanggilmu ketika aku membutuhkanmu? Katakan siapa namamu?" Maisa begitu ingin tau siapa pria yang sudah membantunya ketiga kali ini. Dia mungkin sempat mengusirnya, berharap tak ingin bertemu, namun hati kecilnya mengatakan dia butuh pria asing itu."Seharusnya manusia tau siapa dewa kehancuran, atau aku harus menyebutnya Batara? Jika tak tau, maka tak perlu mencari tau siapa aku. Jika kau memang ingin rasa sakit mu itu hilang, tak perlu mencari ku, aku tau apa yang kau butuhkan, maka aku akan datang." Pria itu memegang pergelanga







