LOGINMozan geram, "Kau tidak mau menurut padaku! Baiklah, aku akan membunuhmu, kemudian mengambil kembali apa yang aku miliki."
Wusss Duar... Jeder.... Suara angin bergemuruh datang, Sekar masih cuek, dia tidak perduli pada pembunuhan di depan, dia juga tidak punya pikiran berlebihan untuk menolong atau ikut mencelakai siapapun. Dia menunggu dengan damai diatas pohon. Mata Lekir memerah karena kelelahan dan menahan sakit di lengannya, dia sudah mati-matian mencegah Mozan merebut kembali batu di dadanya. Batu akik berbentuk cangkrang kura-kura memang tidak ada gunanya untuk dia, tapi barang yang terlalu berbahaya di tangan Mozan harus diamankan, Lekir juga tidak atau berapa banyak orang yang sudah menjadi korban dari batu akik kura-kura. Dia hanya ingin mencegah bencana terulang kembali, walaupun beberapa hari yang lalu batu ini sudah mendapatkan nutrisi. Lekir hanya tau sedikit tentang sejarah batu akik, tapi pengetahuan dangkalnya tidak membuatnya terpikat dan mengunakan batu setan. Darah merah kehitaman kental mulai keluar dari telinganya, dia membuat gerakan melukai musuh dan dirinya sendiri untuk bertahan sampai sekarang, Lekir pikir ajalnya sudah dekat, tapi dia tidak boleh mati sekarang, dia bisa mati damai hanya dengan membunuh Mozan di depannya. "Bermimpi!" Tanggap Lekir ketus. Dia menghentakan kakinya, kemudian terbang sampai menyamai ketinggian Mozan, dia mengakat satu satunya tangan yang masih bisa bergerak bebas dan membuat pose memengal kepala mengunakan pedang berlumuran darah hitam. Haaaa... Teriakannya penuh tekad. Mozan tidak kalah agresif, Mozan sudah menarik pecut miliknya untuk membelokir pedang sambil melanjutkan menyerang, yang tidak terduga pedang ditangan Lekir memang meleset, tapi pedang itu berubah haluan dan mengarah ke dadanya, Mozan tidak punya kekuatan ekstra untuk menghentikan pedang lagi, dia sudah melempar pecutnya untuk menampar perut Lekir. Matanya melebar saat berusaha membelokir pedang itu mengunakan tangan. "Sialan!" Mozan benar-benar marah. Pedang milik Lekir berhasil mengenai tangan Mozan dan menembus jauh ke dadanya. Keadaan mulai tidak diketahui ujungnya, siapa yang akan menang dengan selisih tipis diantara pertarungan mereka. Dalam keadaan mencekam itu, Mozan memanggil petir merah dari langit. Duar... Duar... Duar... Bayak petir merah bermunculan di malam yang gelap, sebenarnya Mozan enggan mengunakan petir merah, dia belum bisa mengendalikan persis sambaran petir yang akan datang, dia hanya bisa mengendalikan satu sambaran petir. Akhirnya diantara petir petir yang saling menyambar dia mengendalikan lintasan satu sambaran petir dan menyambar Lekir yang sudah terlempar menjauh oleh pecutnya. Lekir yang terkena sambaran petir merah itu mulai jatuh dari ketinggian. Boom! Tubuhnya jatuh tengkurap tidak bisa bergerak, seluruh tubuhnya berbau gosong akibat petir. Pandangan matanya mulai kabur, sisa-sisa tenaga sihir dia gunakan untuk melubangi batu akik kura-kura. Dia punya pikiran kecil, dengan suntikan sihir miliknya dia pikir batu akik itu akan pecah dan tidak bisa digunakan lagi, dia sudah kehilangan harapan untuk memenangkan pertempuran dan menyelamatkan dirinya sendiri, dia punya pikiran terakhir dengan memecahkan batu akik ini dunia akan sedikit memberikan kedamaian yang langka. Sambil tengkurap dia mulai menyalurkan sihir sampai matanya benar-benar tidak bisa melihat apapun lagi. Sihirnya terkuras habis, tapi tidak bisa memecahkan batu akik ditangannya. Sihirnya memang berguna. Sayangnya, itu hanya sebatas meredupkan kilauan batu akik kura-kura yang dulunya bersinar merah kebiruan, kini hanya memiliki warna merah terang di dalamnya. Mozan yang terbang di udara perlahan-lahan turun, napsnya tidak setabil kelihatannya. Dia berjalan lambat menuju badan Lekir yang tidak diketahui apakah masih hidup atau tidak. "Hahaha! Aku akan menguasai seluruh Gunung Kumulus dengan batu itu." Langkahnya semakin cepat, dia memaksakan diri untuk mengambil batu dan segera pergi bersembunyi lagi, dia takut para dukun di Blok putih dan Blok emas akan menemukan dia, padahal sudah berpuluh-puluh tahun dia bersembunyi dengan hati-hati. Tidak jauh dari keduanya Sekar yang masih asik menyaksikan pertempuran mereka berdua kini berwajah muram. Beberapa detik yang lalu dia sangat transparan sampai tidak ada yang sadar di atas pohon tinggi mencolok terdapat dirinya. Pertarungan keduanya sangat bersemangat membuatnya ikut berteriak, "Ayo! Ayo! Ayo... Hajar dia pendek pedang. Hajar penjahat sampai mati." Sayangnya dunia mereka hanya fokus satu sama lain dan tidak menyadari keberadaan Sekar. Saat teriakan semangat untuk yang kedua kalinya, tepatnya saat tusukan pedang ke dada Mozan dia berteriak paling keras, "Mati kau, hahaha." Duar.... Petir merah yang dipanggil Mozan menyambar akar pohon yang Sekar tinggali. Bag... Pohon itu langsung gosong, daunya rontok sampi mengeluarkan asap. Kerek... Pohon yang dia tinggali akhirnya tumbang, dia dihimpit diantara pohon tumbang dan tanah. Dia memang tidak terluka sedikitpun, tapi...siapa yang tidak marah saat sedang asyik-asyiknya duduk, kursinya di ambil. Sekar memukul batang pohon yang menghimpit dirinya mengunakan seruling bambu. Kerek... Kerek... Garis-garis retakan muncul sangat cepat sampai akhirnya menjadi tumpukan kayu bakar. Sekar menghilang seketika. Wusss... Dia langsung berdiri di belakang Mozan. Kemudian memukulinya sampai babak belur. Mozan merasa bulu kuduknya berdiri, tapi dia tidak tau apa dan siapa yang membuat radar bencananya berdering nyaring. Wusss... Dia merasakan angin berhembus di belakangnya, sebelum dia menoleh kebelakang pandangannya menjadi hitam. Sampai matipun dia tidak menyangka akan mati hanya karena beberapa pukulan dari orang yang tidak jelas. Setelah benar-benar mati, esensi jiwa dan sihir tubuhnya yang tersisa terbang ke arah Lekir, semuanya terbang menuju genggaman tangan Lekir yang terdapat batu akik kura-kura. Usaha keras Lekir sia-sia, batu akik kura-kura itu kembali menyala api merah kebiru-biruan. Sedangkan jasad Mozan yang mati kini menjadi abu dan menghilang tertiup angin malam. Di tempat menghilangnya jasad itu terdapat beberapa barang yang tertinggal tidak ikut menghilang. Mata Sekar berbinar, otaknya sudah berpikir liar di antara barang-barang itu terdapat makanan enak, kasihanilah dia yang sudah berapa hari tidak bisa makan layak, ini penyiksaan lahir batin, oke. Membongkar koleksi milik Mozan, Sekar kembali kecewa, didalamnya tidak ada satupun yang bisa dimakan, mungkin yang sedikit berguna adalah rumah pagar miniatur kecil yang bisa membesar dan mengecil sesuai pikiran orang yang menyentuhnya. Tidak apa-apa, dia harus bersyukur, setidaknya dia tidak akan jadi hewan yang tidur di pohon lagi. Dia membawa rumah pagar miniatur kecil itu sambil meyeret bocah yang tidak diketahui apakah sudah mati atau masih hidup di lengannya yang lain. Dia membawanya santai sambil menyeretnya, dia tidak perduli apakah menyeret tubuh setengan mati itu akan memperparah kondisi fisik orang yang di bawanya. Setelah beberapa benturan ditambah tusukan kerikil kecil pada kepala dan tubuh Lekir, akhirnya sampai juga ke tepi sungai. Sekar memfokuskan pikiranya untuk berpikir... Jadilah besar rumah pagar!! Bersamaan dengan menyentuh miniatur. Boom... Rumah pagar miniatur kini mebsar dan tergambar jelas di pinggiran sungai. Awalnya dia ingin tidur diatas pohon, sayangnya karena dua orang ini dia gagal tidur, "Huaaaa..." Seru Sekar menguap. Dia melirik orang berdarah yang tergeletak di pinggir sungai dan berpikir. Aku akan menguburkan dia besok saja, aku terlalu mengantuk sekarang. Dia mengagumi pikirannya sendiri kemudian berjalan menuju rumah pagar. Bang... Pintu rumah pagar itu tertutup tanpa terbuka lagi sampai esok hari, pemilik rumah tidak perduli orang yang setengah mati di pinggir sungai itu akan masuk angin dan kedinginan semalam penuh. ... Keesokan harinya Sekar mulai menggali lubang untuk mengubur pria yang setengah mati itu, geraknya sangat asal-asalan saat mengali, tangannya gemetaran begitu mencangkul tanah sepuluh cangkulan dibawah pohon beringin rindang. "Aku lapar... Seharian ini aku belum makan apapun." Napasnya tersengal-sengal, wajahnya memerah sambil terduduk begitu mencangkul lubang yang ke dua belas. Menatap pria yang masih tergeletak damai di seberang sungai, Sekar mengeluh. "Kenapa tubuhnya sangat panjang melebihi tinggi badanku, lubang yang aku gali baru setengah panjang tubuhnya. Aku capek... Haa haaa... BERENGSEK." Setelah istirahat selama satu jam sambil kelaparan, dia meyeret tubuhnya untuk mengali liang lahat lagi. Waktu berlalu cepat, Sekar hanya mendapatkan galian lubang yang bahkan tidak cukup untuk mengubur kelinci, padahal dia menggali lubang seharian penuh. Dengan penuh emosi akhirnya Sekar menyerah dan berencana untuk melanjutkan esok hari. Hari sudah sore, sedangkan dia masih kelaparan juga. Dia berkeliaran di pegunungan sepi itu dan mendapat beberapa buah liar hanya sekedar untuk mengganjal lapar, karena hari sudah terlalu gelap Sekar kembali dan berencana untuk tidur. Tak berselang lama setelah Sekar menyentuh bantal, dia mulai bermimpi. "Tok tok tok..." Suara ketukan pintu terdengar tiga kali. "Tok tok tok..." Ketukan pintu terdengar kembali, sepertinya orang itu tidak menyerah untuk pergi sebelum orang yang didalam rumah bangunan."Apa ini aman! Kau yakin itu tidak berbahaya untuk anak itu?" Ananti duduk santai sambil melihat makhluk hitam pekat yang bermata emas salib terbalik kini berwujud manusia jadi-jadian yang super tampan. Jika Sekar disini dia psti akan bilang ke mereka berdua: "Apa kalian berdua sehat, hah!" Ini bukan karena apapun, Sekar hanya berpikir... tidak akan bisa bereproduksi antara Monster dan manusia. Dia juga merinding menayangkan andegan tidak senonoh saat keduanya berbaring. Tapi lupakan Sekar sudah tidak ada disana, dia sudah terputus sangat jauh dari 12 dukun catur. Iris mata pria itu penuh kelembutan saat memandang perut Ananti yang kini sudah menonjol membentuk cetakan telur yang sedikit lebih besar dari telur unta. "Sayang, dia akan keluar sebenar lagi. Dia bilang, dia sangat senang punya ibu sepertimu." Makluk tentakel hitam yang kini berwajah manusia itu tidak bohong karena dia bisa berkomunikasi secara telepati dalam jarak dekat. Anak monster tidak seperti anak manusia yang
Bernapas berat sambil menghunus pedang, pedang itu melesat tepat sasaran ke tubuh makluk unggu, tapi makhluk ungu juga punya insting untuk mempertahankan hidup dan berhasil menghindar.Lekir kesulitan untuk menemukan sudut yang cocok untuk membunuhnya, dia menatap tajam makluk unggu sampai menemukan jawaban dimana harus memprediksi gerakan menghindarnya yang akan datang. Kesabarannya tidak sia-sia, dia mendapat bayangan fatamorgana dimana tentakel ungu akan menjulur selanjutnya. Tidak tanggung-tanggung, seluruh tentakel akan bergerak ke belakang tubuhnya bukan mengincar Lekir lagi.Tanpa keraguan Lekir melesat kedepan, kakinya menapak diatas air dan melompat.Syuttt.....Cress....Tangkai bunga paling atas itu terpotong menjadi dua, tentakel ungu itu bergerak tidak beraturan, tidak seperti sebelumnya terarah dan terkendali.Guru sungguh jenius, guru bisa memikirkan terik ini hanya dengan memadang. Kali ini beban Lekir berkurang, dia bisa santai untuk memotong tentakel tanpa harus wasp
Semua tubuh yang terendam dalam air itu mulai keluar menampakan wujud aslinya. Tubuh itu seperti ubur-ubur raksasa yang tentakelnya berwarna ungu tua, kemudian menjalar menjadi ungu muda. Dan bagian atasnya seperti pecahan kelopak bunga dengan tangkai bunga di atasnya. Makhluk itu menggeliat ganas sampai mencabik utuh tanaman bakau yang ada di depan mata. Air sungai bergolak hebat saat makhluk itu naik ke permukaan, seolah seluruh arus sungai tiba-tiba tunduk pada kehadirannya. Percikan airnya memantul hingga ke dinding kapal kayu, dingin dan menyengat, membawa bau anyir yang menusuk sampai ke rongga hidung. Setiap tentakel yang bergerak seperti cambuk raksasa itu memecahkan permukaan air dengan suara keras, membuat riak air besar bergulung dari tepi sungai menuju ke kapal tempat Sekar dan yang lain berada. Lekir bergerak waspada sampai ke tepi kapal. Langkahnya terukur tapi cepat, seperti pemburu yang tahu persis kapan harus mendekat dan kapan harus menyingkir. Angin kencang yang la
Setelah kejadian yang tidak menyenangkan di penginapan, Sekar dan Lekir keluar tanpa uang sepeserpun. Kini mereka sampai di tengah-tengah lalu lalang untuk ke dermaga. "Minggir jika kalian berdua tidak mau bepergian. Jangan menghalangi orang-orang di belakang." Penjaga itu dengan tidak sabar menunjuk pada Sekar dan Lekir untuk pergi sambil terus memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya. Orang berikutnya dalam antrean mengambil segenggam emas berkilau dan perak, kemudian melewati mereka, lalu berjalan menuju dermaga. "Guru ..." Lekir dipenuhi dengan rasa bersalah. Setelah pertempuran dengan Mozan, sudah merupakan keajaiban baginya untuk tetap hidup; dia benar-benar lupa tentang kehilangan emas dan perak di penginapan. "Ini semua salahku. Jika aku tidak terburu-buru untuk mengamankan batu akik, aku tidak akan menyebabkan Guru bekerja keras. " "Uh ..." Tidak Lekir, aku benar-benar tidak punya uang. Menjadikanmu murid adalah keputusan yang tepat. "Kenapa tidak Guru berbela
Sekar ingin protes, tapi bos penginapan sudah menjulurkan baju maskot: sejenis pakaian kuning cerah, dengan hiasan bambu di kepala. "Ah," gumam Sekar lirih, "aku menyesal menginap di sini." Hari pertama pekerjaan itu langsung membuktikan bahwa orang normal memang suka melihat drama manusia yang teraniaya, baik itu mendapat simpati atau hanya sekedar cacian. Lekir berdiri di dapur, dia memegang wajan dengan tatapan seperti hendak menghabisi seseorang. "Guru," katanya ketika Sekar lewat dengan seruling khasnya yang selalu di bawa di pinggang. "Tolong ingat. Aku ini pendekar pedang. Bukan koki spatula." "Aku tau," jawab Sekar ringan. Padahal dalam hati dia bilang jika Lekir itu koki eksekutif, "Aku percaya." "Beruntung guru masih percaya padaku." Lekir mendesah dalam tragedi. Tapi anehnya, ketika mulai memasak, gerakannya efisien. Mungkin terlalu efisien. Pisau di tangannya bergerak secepat kilat, memotong sayuran seolah itu latihan memenggal musuh. Salah satu staf lama m
Awalnya Sekar masih tidur pulas, tapi perut kenyang membuatnya tidak bisa tidur lagi, kamu mengerti kan bagaimana rasanya perut kenyang dibawa tidur. Tidak nyaman dan membuat mual. Sekar bergerak gelisah dalam tidurnya, kemudian dia terbangun sendiri karena percakapan di kamar. "Koki, kenapa ada orang tambahan di kamarku?!" Sekar menggeliat malas, dia tidak panik jika ada orang tambahan secara tiba-tiba, sayangnya dia belum melihat kehancuran tembok di penginapan, mungkin jika dia tau sekarang dia akan kabur paling awal. "Guru. Aku tidak tau, saat aku datang ke kamar guru, mereka tiba-tiba menerobos masuk begitu saja." Tunjuk Lekir pada dua orang, keduanya penuh cacat dari pertempuran sebelumnya. Pakaian Sajada robek, Rajan terluka lebih parah daripada Sajada, kedua lenganya patah tulang. Sajada mendongak menatap wajah orang yang bertarung dengannya. "Rajan, sejak tadi aku masih kebingungan, kenapa kamu tidak memakai senjata saat kita bertarung?" Sajada menatap intens seluruh t







