بيت / Romansa / Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu / BAB 24 - RUJUKAN KE RUMAH SAKIT

مشاركة

BAB 24 - RUJUKAN KE RUMAH SAKIT

مؤلف: Jesi Sanctuary
last update تاريخ النشر: 2026-10-14 01:35:48

Menjelang sore, Gendhis akhirnya tiba di klinik Kartika bersama Bhaskara. Sejak Mbok Sumiyati menyampaikan pesan dari perempuan itu, pikirannya tak benar-benar tenang. Apalagi, Kartika meminta mereka datang bersama setelah hasil pemeriksaan laboratorium dan surat rujukan ke rumah sakit selesai.

Kata 'rumah sakit' itulah yang terus mengusik benaknya sejak tadi.

“Mas, nanti kalau ternyata harus ke rumah sakit, bagaimana?” tanya Gendhis ketika mereka duduk berdampingan di ruang tunggu klinik.

Bhas
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 48 - KEPERCAYAAN MANUSIA

    “Perempuan yang ada di kepalaku kemarin, itu memang bukan kamu.”Bhaskara melirik orang-orang yang lalu-lalang di sekitar jalan yang terlihat dari ladang belakangnya. Rahangnya mengeras, sementara tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak ingin pertengkaran mereka menjadi tontonan. Namun, alih-alih meminta Gendhis mengikutinya baik-baik, ia justru meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya pergi. “Mas—”Gendhis tersentak, matanya kian melebar. Langkahnya nyaris tersandung ketika Bhaskara membawanya dengan tergesa-gesa menuju pintu belakang rumah yang terhubung dengan ladang. Sandal jepitnya berkali-kali menyangkut di tanah yang tidak rata.“Mas, tunggu dulu. Aku bisa jelasin—”Pria itu itu tetap bergeming terhadap keluhan Gendhis. Cengkeramannya justru semakin erat hingga Gendhis meringis dan sebisa mungkin berpasrah mengimbangi langkahnya. “Mas, s-sakit!”Baru setelah mereka sampai di dalam rumah, Bhaskara melepaskan tangannya. Pintu di belakang mereka tertutup dengan bunyi

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 47 - STATUSKU, CERAI MATI

    Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Gendhis tak benar-benar bisa lepas dari percakapannya dengan Kartika. Jika dugaan Kartika benar, mungkin pria itu memang seseorang yang mengenal Bhaskara. Seseorang yang peduli kepadanya. Seseorang yang mungkin tahu di mana keluarga lelaki itu berada.Namun, jika memang demikian, mengapa mereka tak kunjung memperlihatkan diri?“Kalau memang keluarga Mas Bhaskara ada di sekitar sini, kenapa mereka nggak datang menemuiku saja?” gumam Gendhis–ia bahkan tak menyadari dirinya sedang berbicara sendiri.Ia mengeratkan pegangan pada tas yang dibawanya. “Kenapa harus diam-diam, sih? Kenapa ikut membiarkan aku semakin jauh membohongi Mas Bhaskara?” keluhnya.Bukankah akan jauh lebih mudah jika mereka datang dan menjelaskan semuanya? Gendhis bisa menyerahkan Bhaskara kepada orang-orang yang memang mengenalnya. Ia tak perlu lagi menebak-nebak siapa pria yang tinggal bersamanya selama ini, apalagi terus mempertahankan kebohongan yang semakin hari semakin sulit d

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 46 - ORANG-ORANG YANG JUJUR

    Kartika menghembuskan napas lega setelah memastikan tidak ada siapa pun yang mengikuti Gendhis dari belakang. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Retno yang masih berdiri di dekat pintu.“Retno, tolong tutup pintunya, ya? Setelah itu, kamu bisa lanjut bekerja.”“Oh, iya. Baik, Dok!” ujar Retno.Wanita itu mengangguk sebelum menarik pintu hingga tertutup rapat. Suara langkahnya perlahan menjauh menyisakan Kartika dan Gendhis di dalam ruangan.Gendhis masih berdiri di tempatnya ketika ia memperhatikan tingkah Kartika yang sejak tadi terlihat tidak tenang. Bahkan, wanita muda itu beberapa kali melirik ke arah pintu seolah memastikan–benar-benar tidak ada orang lain yang akan masuk.“Mbak, sebenarnya ada apa?” tanya Gendhis akhirnya.Kartika menunjuk kursi di hadapan mejanya seraya memaksakan satu senyum tipis–yang Gendhis tahu sebagai formalitas saja. “Duduk dulu, Ndhis. Ada yang perlu Mbak ceritakan sama kamu,” katanyaGendhis menurut untuk kemudian menarik kursi dan meletakkan t

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 45 - PRIA TUA BERTOPI

    Pagi itu, Gendhis bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda dari biasanya. Ingatan tentang malam sebelumnya sesekali muncul, tetapi ia berusaha tidak terlalu memikirkannya. Ia masih belum tahu bagaimana harus bersikap kepada Bhaskara setelah semua yang terjadi di antara mereka.Ketika keluar dari kamar setelah membersihkan diri, pria itu ternyata sudah bangun lebih dulu. Bhaskara berdiri di dekat jendela ruang tengah, satu tangannya memegang cangkir, sementara tangan lainnya sedikit menyingkap tirai untuk melihat halaman.“Mas sudah bangun?”Bhaskara menoleh dengan senyum yang masih sama hangatnya seperti semalam. “Sudah dari tadi, sudah mandi juga. Kamu sudah?”“Sudah, Mas. Mas mau langsung sarapan?” Sebenarnya, Bhaskara sudah tahu jawabannya bahkan sebelum bertanya. Aroma sabun yang samar tercium ketika Gendhis mendekat, berpadu dengan rambutnya yang masih sedikit lembab. Penampilannya pagi itu tampak berseri, terlebih dengan kebaya ungu yang dikenakannya–Ah, kain itu melekat pas

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 44 - LINGKARAN SETAN

    Pagi-pagi sekali, Karman sudah tiba di rumah Wenok. Napasnya masih sedikit terengah setelah berjalan cepat dari jalan utama desa, sementara ujung celananya basah terkena embun yang menempel pada rerumputan. Dari halaman, ia melihat Wenok sedang duduk di bangku kayu, memilah beberapa lembar daun yang baru dipetiknya. Perempuan itu mengangkat wajah ketika mendengar langkah Karman mendekat.“Lho, Karman?” Wenok memang mengenal hampir seluruh warga desa, begitupun warga desa yang seluruhnya mengenal Wenok.“Iya, Mbah, ini saya,” sahutnya sembari mengambil tangan renta Wenok untuk disalami. “Pagi-pagi begini sudah keluyuran, keluyurannya ke rumahku. Tumben sekali, Man … ada apa?”“Ada … ada yang perlu saya ceritakan, Mbah.”Wenok memandangi wajahnya sejenak sebelum meletakkan daun-daun itu ke dalam keranjang. Meski usia Karman sudah tidak muda lagi, jarak umur mereka cukup jauh. Tak heran jika Wenok masih sering memperlakukannya seperti anak sendiri.“Duduk dulu di ruang tamuku. Kamu sud

  • Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu   BAB 43 - TANGAN DAN MULUTMU

    Bhaskara sudah telentang di atas ranjang dengan kepala bertumpu pada bantal, sementara Gendhis duduk bersimpuh di antara kedua kakinya dengan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Jemarinya justru bergantian memilin ujung bajunya lalu menempelkannya di lutut, seolah kedua tangan itu sama-sama menolak bekerja sama.Posisi itu membuat wajah Gendhis terlihat jelas—merah sampai ke leher, bibir bawah yang digigit, dan napasnya terdengar pendek. Bhaskara menatapnya dari bawah, dan dadanya tiba-tiba mengencang oleh ‘kasih’ yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya.Nyantanya, Ini bukan soal nafsunya saja.“Ndhis,” ucapnya pelan, “kalau kamu terpaksa, jangan.”“Nggak terpaksa,” sanggahnya. Gendhis mengangkat wajah dan matanya yang berkaca-kaca oleh malu bertemu dengan mata tegas Bhaskara sesaat sebelum menghindar lagi. “Aku Cuma nggak tahu bisa apa nggak,” akunya.“Membayangkannya saja Mas sudah tegang, Ndhis. Jadi nggak mungkin kamu nggak bisa,” jawab Bhaskara tersenyum m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status