Share

Bab 2

Penulis: Alwee Chan
last update Tanggal publikasi: 2026-03-01 04:00:37

"Apa?" Aluna kaget.

"Nikahi aku. Sekarang."

"Kakak gila!" Aluna mundur selangkah. "Ini pernikahan adik Kakak sendiri!"

"Rendra bukan prioritasku." Suara Arjuna dingin.

Arjuna melangkah mendekat. Aura mengintimidasi membuat Aluna tidak bisa bergerak.

"Wali, saksi, penghulu sudah siap. Aku sudah urus surat-suratnya dari tadi pagi. Kamu tinggal tanda tangan dan ucapkan ijab kabul."

"Kenapa?" Aluna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa Kakak mau melakukan ini?"

Arjuna terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.

"Karena aku gak akan membiarkan adikku yang gak berguna itu." ucap Arjuna terjeda, ia mengepalkan tangannya dengan suara tertahan.

Arjuna membuka amplop, menunjukkan dokumen di dalamnya. "Ini pernikahan kontrak. Satu tahun. Setelah itu, kamu bebas. Aku gak akan menyentuhmu tanpa izinmu. Kamu tetap punya karir dan hidupmu sendiri."

Aluna menatap dokumen itu lama. Otaknya berusaha memproses semua ini.

"Dan sebagai gantinya?" tanya Aluna.

"Kamu jadi Nyonya Mahendra, punya nama, kekuasaan dan posisi yang gak akan pernah Rendra berikan. Dan aku..." Arjuna berhenti sejenak, "aku akan hancurkan Rendra."

Mata Aluna melebar. "Apa?"

"Kamu mau balas dendam, kan?" Arjuna menatap Aluna. "Kamu mau mereka menyesal? Aku bisa mewujudkannya."

Aluna terdiam. Hatinya masih hancur. Ia sangat marah pada Rendra dan Kiara.

"Berapa lama waktu yang aku punya untuk memutuskan?" tanya Aluna.

"Sepuluh menit." Arjuna berbalik, berjalan ke pintu. "Aku tunggu di ruangan sebelah. Kalau kamu mau jadi bahan tertawaan, tetaplah di sini. Tapi kalau kamu mau balas dendam." Arjuna membuka pintu, berhenti tanpa menoleh. "Jadi istriku."

Pintu tertutup. Aluna sendirian lagi dengan gaun pengantin putih yang sekarang ingin ia lepas dan buang.

Aluna keluar. Makeup sudah diperbaiki. Mata yang bengkak diberi obat tetes mata dan concealer ekstra untuk menutupi.

Dari luar, Aluna terlihat seperti pengantin sempurna pada umumnya. Akan tetapi kenyataannya ia tengah menahan amarah dan menelan kesakitan.

Aluna berjalan keluar dari ruang pengantin utama. Melewati koridor. Kemudian berhenti di depan pintu ruangan sebelah, dimana Arjuna menunggu.

Dia membuka pintu. Di dalam sudah ada Arjuna, berdiri dengan tangan di saku celananya. Di sampingnya ada paman Aluna yang dipanggil dadakan sebagai wali.

Dua saksi lainnya orang yang Aluna tidak kenal tapi terlihat formal dan seorang penghulu dengan buku nikah di tangan.

Semua menatap Aluna. Arjuna menatapnya paling lama dan penuh arti.

"Kamu datang."

"Aku punya satu syarat," kata Aluna, suaranya sudah lebih baik.

Arjuna menaikkan alis. "Aku dengarkan."

Aluna melangkah masuk, menutup pintu. Dia berjalan sampai berdiri tepat di depan Arjuna.

Aluna menatap mata hitam Arjuna yang dingin. "Hancurkan Rendra. Bikin dia menyesal seumur hidup, begitu juga Kiara. Bikin mereka merasakan apa yang aku rasakan hari ini."

Sunyi sesaat, untuk pertama kalinya, Aluna melihat Arjuna tersenyum. Senyuman yang sangat tipis tapi Aluna sempat menangkapnya.

"Setuju."

Penghulu memulai acaranya.

"Bismillahirrahmanirrahim. Kita mulai akad nikah antara Saudari Aluna Prasetya binti Hendra Prasetya dengan Saudara Arjuna Mahendra bin Soetomo Mahendra."

Aluna duduk di samping walinya. Arjuna di hadapannya, duduk tegak, tenang, seperti sedang melakukan transaksi bisnis biasa.

Tapi bagi Aluna, ini adalah keputusan paling gila dalam hidupnya.

"Mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu miliar, dibayar tunai," lanjut penghulu.

Aluna hampir tersentak. "Satu miliar," batinnya.

Tapi wajah Arjuna datar, angka itu tidak berarti apa-apa baginya.

Penghulu menatap Arjuna. "Saudara Arjuna Mahendra, apakah Anda menerima nikahnya Aluna Prasetya binti Hendra Prasetya dengan mas kawin tersebut?"

Arjuna menatap Aluna. Mata hitam itu tidak berkedip. Tidak ada keraguan, tekadnya sudah bulat.

"Saya terima nikahnya Aluna Prasetya binti Hendra Prasetya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu miliar, dibayar tunai."

"Sah!" penghulu tersenyum.

Dua saksi mengangguk, menandatangani dokumen.

Wali Aluna khawatir, tapi dia juga ikut tanda tangan.

Penghulu memberikan buku nikah pada Arjuna dan Aluna. "Silakan tanda tangan."

Aluna mengambil pulpen dengan tangan gemetar. "Ini kenyataan. Ini benar-benar terjadi," batinnya.

Mereka menandatangani namanya masing-masing.

"Selamat," kata penghulu. "Kalian resmi menjadi suami istri."

Arjuna dan Aluna saling menoleh. Tidak ada senyuman apalagi pelukan.

Sementara tamu yang tersisa, sekitar seratus lima puluh orang yang masih setia menunggu.

Tiba-tiba pintu ballroom terbuka. Semua mata menoleh.

Aluna masuk dengan gaun pengantin krem yang indah serta makeup sempurna.

Aluna terlihat seperti ratu. Di sampingnya, Arjuna Mahendra dalam jas hitam yang tidak kalah bersinarnya.

Bisikan terdengar di mana-mana.

"Itu Arjuna Mahendra!"

"Kenapa dia di sini?"

"Bukannya itu kakak Rendra?"

"Wait, mereka berdua?"

Fotografer dan videografer langsung bekerja, mengambil gambar. Mereka terlihat serasi dan sayang untuk dilewatkan.

Arjuna dan Aluna berjalan ke panggung utama.

Arjuna mengambil mikrofon. Suaranya terdengar tegas menyapa semuanya yang ada di ruangan.

"Terima kasih sudah datang dan menunggu."

Semua orang terdiam seketika.

"Pernikahan tetap berlangsung hari ini. Tapi bukan dengan Rendra Mahendra," lanjut Arjuna sambil menatap lurus ke depan.

Bisikan semakin terdengar dimana-mana. Arjuna berhenti sesaat, membiarkan informasi itu didengar semuanya.

Arjuna menatap ke arah pintu ballroom. Bertepatan dengan Rendra yang baru saja tiba dengan wajah pucat dan terlihat berantakan. Masih pakai kaos dan jeans bukan pakaian formal.

Mata mereka bertemu. Rendra membeku. Sementara Arjuna tersenyum tipis, dingin dan mematikan. Kemudian Arjuna berkata dengan suara yang membuat semua orang bergidik.

"Aluna Prasetya baru saja sah menjadi istriku. Nyonya Arjuna Mahendra."

Suasana berubah sunyi beberapa detik, kemudian meledak.

Semua tamu yang hadir bergosip. Beberapa berdiri karena kaget. Ponsel di mana-mana, mengabadikan momen Arjuna dan Aluna dengan foto, video, dan live I*******m.

Fotografer berlarian mengambil angle terbaik. Media sosial langsung meledak. Pernikahan Aluna menjadi trending topik dalam hitungan menit.

Rendra masih berdiri di pintu, wajahnya seperti orang yang baru saja melihat hantu.

Kiara di belakangnya, ikut datang dan kaget.

Aluna melihat mereka berdua. Tidak ada air mata ataupun kesedihan. Hanya tatapan dingin.

Arjuna melepas mikrofon, menoleh pada Aluna.

"Sudah selesai?" tanyanya pelan pada Aluna.

Aluna mengangguk. "Sudah."

"Kita pulang."

Arjuna mengulurkan tangannya. Aluna menyambutnya. Kemudian mereka berjalan keluar dari ballroom, melewati Rendra dan Kiara yang masih membeku, begitupun tamu-tamu yang masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Sementara Fotografer masih mengambil gambar tanpa henti.

Keluar dari gedung, masuk ke Rolls Royce hitam yang sudah menunggu. Pintu tertutup, lalu mobil melaju meninggalkan tempat acara.

Di dalam mobil suasana menjadi sunyi. Aluna duduk kaku di samping Arjuna. Tangannya gemetar.

Sementara Arjuna fokus melihat ke depan, ia tidak bicara ataupun menoleh.

Setelah lima menit, akhirnya Aluna bicara.

"Kakak pasti punya tujuan lain, bukan?"

Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke jalan fokus menyetir.

"Rendra gak pantas dapat kamu," jawab Angga tanpa menoleh. "Dan aku gak suka melihatnya."

"Cuma itu?"

Arjuna melirik Aluna sesaat. Tatapan itu membuat jantung Aluna berdebar.

"Bukan cuma itu," kata Arjuna pelan. "Tapi kamu akan tau nanti."

Alis Aluna berkerut, ia ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia memilih diam, karena tidak sanggup ditatap seperti itu lagi.

Mobil berhenti di sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman.

Arjuna turun, membukakan pintu untuk Aluna.

"Kita di mana?" tanya Aluna.

"Rumahku," jawab Arjuna. "Sekarang rumahmu juga."

Mereka naik lift pribadi yang langsung menuju lantai empat puluh lima.

Pintu lift terbuka. Aluna melangkah keluar dan ia tercengang.

"Wow, ini luar biasa," batin Aluna.

Desain minimalis modern dengan warna hitam putih. Jendela kaca dari lantai sampai langit-langit dengan pemandangan kota Jakarta yang indah.

Furniture modern tapi elegan. Seni kontemporer di dinding. Dapur terbuka dengan interior mewah. Ruang tamu luas dengan sofa L berwarna hitam besar.

"Kamar utama untukmu," kata Arjuna, menunjuk ke koridor kanan. "Aku tidur di kamar sebelah. Kamar mandi ada di dalam. Semua keperluanmu sudah disiapkan."

Aluna menoleh. "Kakak sudah siapkan semua ini dari kapan?"

"Dari kemarin malam."

"Jadi sejak kapan Kakak tau?"

Arjuna melepas jasnya, melonggarkan dasi. "Aku sudah tau sejak seminggu yang lalu."

Aluna terdiam. "Jadi Kak Arjuna tau tapi milih gak ngasih tau aku," batin Aluna.

"Kalau aku kasih tau, kamu gak akan percaya. Kamu akan pikir aku cuma mau sabotase pernikahan adikku. Jadi aku tunggu sampai kamu liat sendiri."

"Kejam," bisik Aluna.

"Efektif," koreksi Arjuna.

Mereka saling menatap. Lalu Arjuna menghela napas. "Kamu pasti lelah. Istirahat. Besok kita bicara detail kontrak."

Aluna mengangguk, berjalan ke kamar yang ditunjuk. Sebelum masuk, dia berhenti, kemudian berbalik.

"Kakak."

"Hm?"

"Thank you."

Arjuna mengangguk, untuk pertama kalinya tatapan Arjuna lembut.

"You're welcome, Nyonya Mahendra."

Aluna masuk ke kamar, kemudian menutup pintu.

Aluna sendirian di ruangan asing yang besar dan mewah, dia duduk di lantai masih dengan gaun pengantin yang indah dan menangis.

Untuk terakhir kalinya dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini air mata terakhir untuk Rendra.

Kata nyonya Mahendra terngiang di pikirannya.

"Mulai malam ini, aku nyonya Mahendra, kakak ipar Rendra."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 72

    Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 71

    Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 70

    "Aluna!"Suara Ratih pecah memenuhi ruangan.Tubuh Aluna limbung sebelum akhirnya benar-benar jatuh. Beruntung Ratih sigap menahannya."Mas, gimana ini," panggilnya panik.Darmawan langsung bangkit dari kursinya, tongkatnya terjatuh begitu saja di lantai."Baringkan dia!"Mereka berdua dengan cepat memindahkan Aluna ke sofa. Wajah Aluna pucat dengan tangan dingin."Air! Ambil air!" perintah Darmawan tegas, tapi ada getar di suaranya.Ratih bergegas mengambil air, tangannya gemetar."Aluna… Nak… bangun…" bisiknya pelan sambil menepuk pipi cucunya.Tidak ada respon. Ponsel Aluna masih berdering di meja. Nama Arjuna terus menyala di layar.Di kantor Arjuna berdiri membeku dengan ponsel di telinga. Perasaan tidak enak langsung menghantam."Angkat, Aluna," gumamnya pelan.Ia mencoba lagi menghubungi Aluna tapi tetap tidak ada jawaban. Wajahnya langsung berubah."Dina!" panggilnya keras.Dina yang berada tidak jauh langsung masuk."Pak?""Hubungi tim pengawal. Sekarang. Tanya posisi istri s

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 69

    Sepanjang malam Arjuna hanya memperhatikan wajah sang istri. Ada kilatan bahagia dan sekaligus cemas. "Kalian duniaku saat ini. Aku pasti akan menjaga kalian segenap jiwaku."Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, jatuh tepat di wajah Aluna. Matanya perlahan terbuka. Untuk beberapa detik Aluna terus memandangi wajah sang suami. Senyum kecil dan rasa lega menyelimuti hatinya.Perlahan tangan Aluna menyentuh pelan hidung Arjuna sambil memberikan kecupan sesaat di sana.Seketika bayi dalam perut Aluna bergerak. Aluna segera mengelus pelan perutnya sambil tersenyum."Pagi Sayang." Tiba-tiba suara serak Arjuna menyapa."Apa dia bergerak?"Aluna mengangguk. Kecupan lembut jatuh di kening Aluna di tambah dengan senyuman lembut."Aww," teriak Aluna sambil mengelus perutnya."Sakit?""Gak, cuma tendangan kali ini lebih keras aja. Mungkin karena udah hampir akhir trimester dua."Kali ini Arjuna yang mengelus perut Aluna dengan bisikan lembutnya."Halo jagoan Pa

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 68

    Malam semakin larut saat mobil mereka akhirnya memasuki area penthouse.Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Indah tapi tidak cukup untuk mengalihkan pikiran Aluna yang masih penuh.Begitu pintu terbuka Aluna langsung berjalan masuk tanpa banyak bicara.Arjuna memperhatikannya. Dia tahu istrinya sedang berusaha menerima semuanya.Di dalam kamar Aluna baru saja selesai membersihkan diri, kini ia sedang duduk di tepi ranjang dalam diam. Tangannya kembali mengusap perutnya, lebih lama dari biasanya.Arjuna mendekat perlahan."Hidupku aneh ya," ucapnya seperti bisikan pada dirinya sendiri."Masih kepikiran?" Aluna mengangguk. "Aku gak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang."Arjuna duduk di depannya. "Aku ada disini." Tangannya menggenggam erat tangan Aluna.Aluna menatapnya. "Semua berubah dalam satu hari. Kenyataan itu bikin aku merasa bingung. Harus sedih atau justru bahagia."Arjuna mendengarkan semuanya."Aku punya kakek nenek, punya masa lalu yang aku gak

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 67

    Suasana dalam ruangan berubah, dari yang tegang sejak pertama masuk kini berubah. Namun Arjuna belum sepenuhnya yakin dengan semuanya karena terlalu mendadak dan begitu rapi. Sementara Aluna masih menatap foto di tangannya. Jari-jarinya bergetar saat menyentuh wajah kecil di gambar itu. "Kenapa aku gak pernah tahu?" tanya Aluna pelan. Suaranya seperti bisikan. Mereka mendekat pada Aluna. Perlahan tangan yang keriput itu menyapu lembut air mata Aluna. "Maafkan kami." "Kalian?" Aluna tidak tahu harus memulai dari mana. "Kita belum berkenalan dengan baik Aluna," kata pria tua itu. "Iya Aluna. Maafkan Kakekmu yang sedikit jahat. Harusnya kami memperkenalkan diri kami dengan baik. Bukan seperti saat kamu pertama datang kemari." Keduanya tersenyum. "Saya Darmawan dan istriku Ratih Darmawan. Kami kakek nenekmu dari pihak ibumu." "Mama?! Tapi?" Ratih menggenggam tangan Aluna dengan lembut. "Kami gak pernah benar-benar pergi dari hidup kamu Aluna," katanya pelan. "Kami

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 1

    Jerit ranjang bersuara. Sepasang anak manusia tengah bergelut dengan pertarungan hebat di atas ranjang. Peluh keringat membanjiri keduanya, Rendra dan Kiara.Padahal hari ini adalah hari pernikahan Rendra dan Aluna. Tapi Rendra justru tidur dengan Kiara di sebuah hotel.Tanpa mereka sadari, semua k

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 5

    Foto itu diambil di acara amal. Acara yang Aluna sendiri bahkan sudah lupa.Aluna mengernyit pelan. "Kenapa foto ini ada di meja Kakak? Apa mungkin?"Sebelum Aluna sempat memikirkan lebih jauh.Klik. Pintu ruangan terbuka.Aluna langsung menoleh. Aluna pikir itu Arjuna yang kembali. Ternyata Rendra

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 4

    Gedung Mahendra Group menjulang 50 lantai di kawasan SCBD. Kaca hitam berkilau di bawah sinar matahari pagi. Logo "MG" raksasa di bagian atas gedung terlihat dari kejauhan.Rolls Royce hitam Arjuna berhenti di pintu masuk VIP. Staf parkir langsung datang membukakan pintu.Arjuna turun pertama, lalu

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 3

    Di tempat yang berbeda, Rendra Mahendra duduk di sofa apartemennya menopang kepala dengan kedua tangannya.Kiara duduk di sampingnya, wajahnya pucat. Dia sudah mencoba menenangkan Rendra sejak tadi, tapi tidak berhasil."Ren, ini belum selesai. Kita masih bisa perbaiki.""DIAM!" Rendra berteriak, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status