MasukDi tempat yang berbeda, Rendra Mahendra duduk di sofa apartemennya menopang kepala dengan kedua tangannya.
Kiara duduk di sampingnya, wajahnya pucat. Dia sudah mencoba menenangkan Rendra sejak tadi, tapi tidak berhasil. "Ren, ini belum selesai. Kita masih bisa perbaiki." "DIAM!" Rendra berteriak, membuat Kiara tersentak. Dia berdiri, mondar-mandir seperti orang kesetanan. "Arjuna, kakakku sendiri, menikahi Aluna!" Rendra tertawa. "Dia pasti tau tentang kita." "Terus kenapa?" Kiara mencoba terdengar tenang. "Kamu kan udah gak mau sama Aluna. Harusnya kamu lega." "LEGA!" Rendra menatap Kiara dengan tatapan gila. "Kamu gak ngerti! Ini bukan soal Aluna! Ini soal Arjuna yang selalu lebih tinggi dari aku!" Rendra mengambil vas bunga di meja dan melemparnya ke dinding hingga pecah. Kiara kaget. "Sejak kecil, semua orang selalu bilang, 'Arjuna ini, Arjuna itu. Arjuna jenius. Arjuna sukses. Arjuna sempurna.' Dan aku? Aku selalu jadi bayangan!" Kiara diam, tidak tahu harus berkata apa. Rendra mengambil ponselnya, membuka media sosialnya. Semuanya membahas tentang Arjuna dan Aluna. Foto-foto Arjuna dan Aluna di mana-mana menjadi berita utama. Rendra melempar ponselnya ke sofa. "Dia menghancurkanku," bisik Rendra. "Di depan semua orang. Di hari yang seharusnya jadi hari pernikahanku." "Rendra" Kiara mendekat, mencoba memeluknya. Tapi Rendra menepis tangan Kiara. "Ini semua gara-gara kamu," katanya dingin. "Kalau kamu gak maksa aku datang ke hotel." "AKU MEMAKSA!" Kiara berdiri, marah. "Kamu yang ngajak, Rendra! Kamu yang bilang, ayo ke hotel, aku bosan sama Aluna yang polos. Jangan lempar kesalahanmu ke aku!" Mereka saling berteriak. Tiba-tiba ponsel Rendra berdering. Nomor tidak dikenal. Rendra angkat. "Halo?" Suara di seberang terdengar dingin, familiar, dan menakutkan. "Rendra." Rendra membeku. "K-kak Arjuna?" "Besok, jam sembilan pagi, datang ke kantorku. Ada yang perlu kita bicarakan tentang posisimu di perusahaan." "Kak, aku bisa jelasin." "Jam sembilan. Jangan terlambat. Atau aku yang datang ke tempatmu. Kamu gak akan suka." Telepon ditutup. Rendra menatap ponselnya dengan tangan gemetar. "Siapa?" tanya Kiara lembut. "Arjuna," bisik Rendra. "Dia akan memecat aku." Arjuna menutup telepon, meletakkan ponselnya di meja kerjanya. Dia duduk di kursi kulit hitam, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan Jakarta malam. Dia mengambil gelas whiskey di meja, meneguknya pelan. Matanya menatap kosong ke luar jendela, tapi pikirannya di tempat lain. Di kamar sebelah. Tempat di mana Aluna sekarang berada. Dia tahu perempuan itu pasti menangis. Dia dengar suara isakan samar-samar tadi sebelum dia masuk ke ruang kerjanya. Arjuna sangat ingin mengetuk pintu kamar Aluna. Menenangkan Aluna dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi Arjuna tidak bisa, dia tidak pandai berkata manis untuk menghibur seseorang, yang paling utama, Arjuna tidak mau Aluna melihatnya lemah. Arjuna mengambil folder dari laci meja. Folder tebal. Lalu membukanya. Di dalamnya, puluhan bahkan ratusan foto, artikel, dokumentasi tentang Aluna Prasetya. Foto pertama Aluna di sebuah acara lima tahun lalu. Masih muda, polos, bekerja sebagai pelayan paruh waktu. Aluna tidak tahu foto ini diambil. Dia sedang tersenyum pada tamu, membawa nampan minuman. Arjuna jatuh cinta pada pandangan pertama. Foto-foto berikutnya, Aluna di fashion show pertamanya sebagai desainer pendatang baru. Aluna menerima penghargaan sebagai pendatang baru terbaik. Aluna di berbagai acara fashion. Aluna tersenyum, tertawa. Artikel tentang karir Aluna. Interview-interview kecil. Portfolio desainnya. Semuanya ada. Selama lima tahun Arjuna hanya bisa melihat dari jauh. Arjuna menutup folder, meletakkannya kembali ke laci, menguncinya. "Akhirnya," bisiknya. Akhirnya Aluna ada di sini. Di rumahnya, dengan namanya sebagai istrinya. Arjuna berdiri, berjalan ke jendela, menatap pantulan dirinya di kaca. Pria 32 tahun yang semua orang takuti, tidak pernah kalah dalam bisnis. Arjuna bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Kecuali satu yaitu hati perempuan yang sekarang tidur dan menangis di kamar sebelah. "Satu tahun," gumamnya. "Aku punya satu tahun untuk membuatmu melihatku sebagai suami sesungguhnya dan jatuh cinta padaku." Arjuna menutup gorden, mematikan lampu ruang kerja, dan berjalan ke kamarnya. Lewat pintu kamar Aluna. Arjuna berhenti sebentar. Ingin mengetuk untuk memastikan Aluna baik-baik saja, tapi ia urungkan niatnya. Besok Arjuna akan mulai untuk menghancurkan Rendra. Sementara Aluna dan Arjuna di dunia mereka masing-masing, media sosial meledak. Gosip beredar lebih cepat daripada virus. Ada komentar yang menghujat. Ada juga komentar mendukung pernikahan Arjuna dan Aluna. Puluhan repost foto Arjuna dan Aluna di ballroom. Mereka terlihat luar biasa, Aluna dalam gaun pengantin yang indah, Arjuna dalam jas hitam yang sempurna. Sementara di akun i*******m Kiara Darmawan. Komentar membanjiri setiap postingannya. Ada yang menyebutnya pelakor, perusak rumah tangga orang. Menyumpahinya karma dan unfollow Kiara. Mendadak follower Kiara turun 50 ribu dalam satu malam. Keesokan paginya. Aluna terbangun dengan mata bengkak. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Mimpi buruk terus datang, tentang Rendra, Kiara, dan video itu. Tapi saat membuka mata dan melihat kamarnya yang mewah membuat Aluna sadar bahwa ia sudah menikah dengan Arjuna Mahendra. Aluna bangun dari tempat tidur king size dengan piyama sutra yang sudah disiapkan di lemari, lagi-lagi, ukurannya pas. Aluna masuk ke kamar mandi. Aluna cukup kaget, di sana ada bak mandi besar dan shower. Produk perawatan lengkap, semua dari brand mahal yang Aluna tidak berani beli. Aluna melihat dirinya di cermin besar. Mata bengkak, rambut berantakan dan wajah pucat. "Oke, Aluna. Kamu udah nangis semalam. Sekarang saatnya bangkit," gumamnya pelan. Aluna mandi, air hangat membasahi semua lelah dan sakit hati semalam. Setelah itu, ia keluar, mengeringkan diri, dan membuka lemari. Lagi-lagi Aluna tercengang, lemari sudah penuh dengan pakaian. Gaun, blouse, celana, blazer, semua dengan tag masih menempel. Semua merek desainer dan lagi ukurannya pas. "Arjuna." gumam Aluna. "Dia benar-benar sudah menyiapkan segalanya." Aluna memilih outfit simple celana hitam dan blouse putih. Tidak mencolok tapi tetap elegan dengan makeup natural. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. "I am ready." Senyumnya. Aluna keluar dari kamar. Bau kopi dan aroma enak tercium dari dapur. Ia berjalan ke ruang makan dan berhenti. Arjuna sudah ada di sana. Sudah rapi dengan kemeja putih, lengan digulung sampai siku, menampilkan lengan yang berotot dan celana bahan hitam. Jam tangan mewah di pergelangan tangan. Rambut rapi disisir ke belakang. "Kamu bangun," kata Arjuna tanpa menoleh, fokus pada wajan di depannya. "Kakak masak?" Aluna tercengang. "Aku hidup sendiri sepuluh tahun. Tentu aku bisa masak." Arjuna mengangkat wajan, menuang scrambled eggs ke piring. "Duduk. Sarapan hampir siap." Aluna duduk di tengah dapur, masih terpesona. Arjuna menyajikan telur orak-arik, roti panggang, salad, dan jus jeruk segar serta pancake dengan blueberry. "Kakak." Aluna menatap pancake itu. "Kenapa pake blueberry?" Arjuna duduk di seberangnya, mengambil kopi hitamnya. "Karena itu kesukaanmu." "Dari mana Kakak tau?" Arjuna menatapnya lewat atas cangkir kopinya. "Aku perhatian." Bukan jawaban yang memuaskan, tapi Aluna memilih tidak bertanya lebih lanjut. Mereka makan dalam diam, dan anehnya itu nyaman. Setelah beberapa menit, Arjuna bicara. "Hari ini, aku ada meeting dengan Rendra di kantor. Jam sembilan." Aluna mengangkat kepala. "Untuk?" "Memecat dia secara resmi." "Oh." Aluna mengangguk pelan. "Kamu mau datang?" Aluna terkejut. "Aku?" "Kamu kan mau liat dia hancur." Arjuna menatapnya. "Ini kesempatanmu." Aluna terdiam, memikirkannya. Hati kecilnya ingin melihat Rendra merasakan apa yang dia rasakan. Tapi disisi lain, ia lelah dengan drama yang akan terjadi. "Aku akan pikirkan," jawab Aluna akhirnya. Arjuna mengangguk, tidak memaksa. Mereka melanjutkan sarapan.Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In
Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In
"Aluna!"Suara Ratih pecah memenuhi ruangan.Tubuh Aluna limbung sebelum akhirnya benar-benar jatuh. Beruntung Ratih sigap menahannya."Mas, gimana ini," panggilnya panik.Darmawan langsung bangkit dari kursinya, tongkatnya terjatuh begitu saja di lantai."Baringkan dia!"Mereka berdua dengan cepat memindahkan Aluna ke sofa. Wajah Aluna pucat dengan tangan dingin."Air! Ambil air!" perintah Darmawan tegas, tapi ada getar di suaranya.Ratih bergegas mengambil air, tangannya gemetar."Aluna… Nak… bangun…" bisiknya pelan sambil menepuk pipi cucunya.Tidak ada respon. Ponsel Aluna masih berdering di meja. Nama Arjuna terus menyala di layar.Di kantor Arjuna berdiri membeku dengan ponsel di telinga. Perasaan tidak enak langsung menghantam."Angkat, Aluna," gumamnya pelan.Ia mencoba lagi menghubungi Aluna tapi tetap tidak ada jawaban. Wajahnya langsung berubah."Dina!" panggilnya keras.Dina yang berada tidak jauh langsung masuk."Pak?""Hubungi tim pengawal. Sekarang. Tanya posisi istri s
Sepanjang malam Arjuna hanya memperhatikan wajah sang istri. Ada kilatan bahagia dan sekaligus cemas. "Kalian duniaku saat ini. Aku pasti akan menjaga kalian segenap jiwaku."Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, jatuh tepat di wajah Aluna. Matanya perlahan terbuka. Untuk beberapa detik Aluna terus memandangi wajah sang suami. Senyum kecil dan rasa lega menyelimuti hatinya.Perlahan tangan Aluna menyentuh pelan hidung Arjuna sambil memberikan kecupan sesaat di sana.Seketika bayi dalam perut Aluna bergerak. Aluna segera mengelus pelan perutnya sambil tersenyum."Pagi Sayang." Tiba-tiba suara serak Arjuna menyapa."Apa dia bergerak?"Aluna mengangguk. Kecupan lembut jatuh di kening Aluna di tambah dengan senyuman lembut."Aww," teriak Aluna sambil mengelus perutnya."Sakit?""Gak, cuma tendangan kali ini lebih keras aja. Mungkin karena udah hampir akhir trimester dua."Kali ini Arjuna yang mengelus perut Aluna dengan bisikan lembutnya."Halo jagoan Pa
Malam semakin larut saat mobil mereka akhirnya memasuki area penthouse.Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Indah tapi tidak cukup untuk mengalihkan pikiran Aluna yang masih penuh.Begitu pintu terbuka Aluna langsung berjalan masuk tanpa banyak bicara.Arjuna memperhatikannya. Dia tahu istrinya sedang berusaha menerima semuanya.Di dalam kamar Aluna baru saja selesai membersihkan diri, kini ia sedang duduk di tepi ranjang dalam diam. Tangannya kembali mengusap perutnya, lebih lama dari biasanya.Arjuna mendekat perlahan."Hidupku aneh ya," ucapnya seperti bisikan pada dirinya sendiri."Masih kepikiran?" Aluna mengangguk. "Aku gak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang."Arjuna duduk di depannya. "Aku ada disini." Tangannya menggenggam erat tangan Aluna.Aluna menatapnya. "Semua berubah dalam satu hari. Kenyataan itu bikin aku merasa bingung. Harus sedih atau justru bahagia."Arjuna mendengarkan semuanya."Aku punya kakek nenek, punya masa lalu yang aku gak
Suasana dalam ruangan berubah, dari yang tegang sejak pertama masuk kini berubah. Namun Arjuna belum sepenuhnya yakin dengan semuanya karena terlalu mendadak dan begitu rapi. Sementara Aluna masih menatap foto di tangannya. Jari-jarinya bergetar saat menyentuh wajah kecil di gambar itu. "Kenapa aku gak pernah tahu?" tanya Aluna pelan. Suaranya seperti bisikan. Mereka mendekat pada Aluna. Perlahan tangan yang keriput itu menyapu lembut air mata Aluna. "Maafkan kami." "Kalian?" Aluna tidak tahu harus memulai dari mana. "Kita belum berkenalan dengan baik Aluna," kata pria tua itu. "Iya Aluna. Maafkan Kakekmu yang sedikit jahat. Harusnya kami memperkenalkan diri kami dengan baik. Bukan seperti saat kamu pertama datang kemari." Keduanya tersenyum. "Saya Darmawan dan istriku Ratih Darmawan. Kami kakek nenekmu dari pihak ibumu." "Mama?! Tapi?" Ratih menggenggam tangan Aluna dengan lembut. "Kami gak pernah benar-benar pergi dari hidup kamu Aluna," katanya pelan. "Kami
"Apa?" Aluna kaget."Nikahi aku. Sekarang.""Kakak gila!" Aluna mundur selangkah. "Ini pernikahan adik Kakak sendiri!""Rendra bukan prioritasku." Suara Arjuna dingin.Arjuna melangkah mendekat. Aura mengintimidasi membuat Aluna tidak bisa bergerak."Wali, saksi, penghulu sudah siap. Aku sudah urus
Jerit ranjang bersuara. Sepasang anak manusia tengah bergelut dengan pertarungan hebat di atas ranjang. Peluh keringat membanjiri keduanya, Rendra dan Kiara.Padahal hari ini adalah hari pernikahan Rendra dan Aluna. Tapi Rendra justru tidur dengan Kiara di sebuah hotel.Tanpa mereka sadari, semua k
Foto itu diambil di acara amal. Acara yang Aluna sendiri bahkan sudah lupa.Aluna mengernyit pelan. "Kenapa foto ini ada di meja Kakak? Apa mungkin?"Sebelum Aluna sempat memikirkan lebih jauh.Klik. Pintu ruangan terbuka.Aluna langsung menoleh. Aluna pikir itu Arjuna yang kembali. Ternyata Rendra
Gedung Mahendra Group menjulang 50 lantai di kawasan SCBD. Kaca hitam berkilau di bawah sinar matahari pagi. Logo "MG" raksasa di bagian atas gedung terlihat dari kejauhan.Rolls Royce hitam Arjuna berhenti di pintu masuk VIP. Staf parkir langsung datang membukakan pintu.Arjuna turun pertama, lalu







