Share

Bab 4

Author: Alwee Chan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-01 04:02:39

Gedung Mahendra Group menjulang 50 lantai di kawasan SCBD. Kaca hitam berkilau di bawah sinar matahari pagi. Logo "MG" raksasa di bagian atas gedung terlihat dari kejauhan.

Rolls Royce hitam Arjuna berhenti di pintu masuk VIP. Staf parkir langsung datang membukakan pintu.

Arjuna turun pertama, lalu berbalik, mengulurkan tangannya pada Aluna.

Aluna menatap tangan Angga sesaat, tangan besar dan jemari panjang.

Aluna tersenyum, lalu meletakkan tangannya di sana.

Aluna turun dari mobil, puluhan pasang mata tertuju padanya. Security, resepsionis dan karyawan yang kebetulan lewat.

Semua kenal siapa Arjuna Mahendra, dan sekarang, semua ingin tahu siapa perempuan yang datang bersamanya.

Aluna mengangkat dagu, berjalan dengan percaya diri meski jantungnya berdebar tidak karuan.

Aluna memakai outfit yang ia pilih tadi pagi, celana hitam, blouse putih silk, dan blazer cream yang dia ambil dari lemari. Sepatu heels 7cm hitam. Tas Hermes Birkin krem yang lagi-lagi sudah ada di lemari. Arjuna benar-benar menyiapkan segalanya.

Mereka melangkah masuk ke lobby. 

Mata Aluna menyapu ke seluruh ruangan. Lampu hias kristal besar tergantung di tengah ruangan. Air mancur indoor dengan desain modern. Puluhan karyawan mondar-mandir dengan file dan laptop.

Begitu melihat Arjuna, semua orang berhenti.

Membungkuk sopan. "Selamat pagi, Pak Arjuna."

Arjuna hanya mengangguk singkat, terus berjalan melewati semuanya. 

Semua yang melihat mereka mulai berbisik. 

"Itu siapa?"

"Kayaknya yang kemarin viral deh."

"Serius? Dia yang menikah sama Pak Arjuna?"

"Cantik ya."

Aluna pura-pura tidak dengar, terus berjalan di samping Arjuna dengan kepala tegak.

Mereka masuk ke lift khusus CEO dan tamu VIP.

Saat lift tertutup, suasana berubah sepi. Saat itulah Aluna baru bisa menghela napas lega.

"Gugup?" tanya Arjuna, yang sejak tadi memperhatikannya.

"Sedikit," jujur Aluna. "Mereka semua menatapku."

"Biasakan. Kamu sekarang Nyonya Mahendra. Orang akan selalu menatapmu."

"Aku belum terbiasa dengan ini semua," ucap Aluna sambil menatap pantulannya di cermin lift. "Perhatian, spotlight dan gedung setinggi ini."

Arjuna meliriknya. "Kenapa mesti gugup. Kamu desainer. Kamu biasa tampil di fashion show di depan ratusan orang."

"Itu beda. Di sana, mereka lihat karyaku. Bukan aku sebagai istri CEO."

"Lalu, biarkan mereka melihat keduanya," ucap Arjuna. "Kamu bukan cuma istriku. Kamu Aluna Prasetya, desainer berbakat. Jangan biarkan siapapun melihatmu hanya sebagainya istriku. Karena kamu lebih dari itu."

Aluna menatap Arjuna, sedikit terkejut dan pipinya bersemu merah.

Berbeda dengan Arjuna, sama sekali tidak menatap balik. Satu hal yang Aluna sadari, ia merasa dihargai.

Ting. Lantai 50. Lift terbuka.

Lantai 50 berbeda total dari lobby. Lebih tenang dan berkelas. Karpet tebal, dinding dengan panel kayu gelap dan lukisan seni terpajang di sepanjang koridor.

Di ujung koridor, ruang CEO, ruang Arjuna.

Tapi sebelum sampai di sana, ada meja resepsionis. Seorang sekretaris wanita langsung berdiri saat melihat Arjuna.

"Selamat pagi, Pak Arjuna," sapanya sopan. Lalu melirik Aluna dengan tatapan penasaran tapi tetap sopan.

"Pagi, Mbak Dina," jawab Arjuna. "Ini istriku, Aluna. Aluna, ini Dina, sekretaris dan tangan kananku di kantor."

Dina tersenyum ramah, mengulurkan tangan. "Selamat pagi, Bu Aluna. Senang bisa bertemu langsung dengan istri CEO."

Aluna berjabat tangan. "Senang bertemu Mbak Dina, juga."

"Rendra sudah datang?" tanya Arjuna, langsung to the point.

"Sudah, Pak. Menunggu di ruang meeting biasa."

"Bagus. Siapkan dokumen yang aku minta."

"Sudah siap, Pak. Ada di meja Bapak."

Arjuna mengangguk, lalu menatap Aluna. "Kamu mau tunggu di ruanganku atau ikut?"

Aluna diam sesaat. Memutuskan pilihannya.

"Aku tunggu di ruangan Kakak," jawabnya akhirnya.

Arjuna menatap Aluna, memastikan. "Yakin?"

"Yakin."

"Oke." Arjuna membuka pintu ruangannya, mempersilakan Aluna masuk. "Aku gak akan lama."

Aluna melangkah masuk dan berhenti mendadak. Ruangannya lebih bagus dari yang lain, sangat luas. Seluruh dinding kaca semuanya. Sampai-sampai Aluna bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari sana.

Meja kerja besar dari kayu mahoni gelap dengan dua layar komputer. Rak buku penuh dengan buku bisnis, ekonomi, dan beberapa novel klasik. Sofa kulit hitam di sudut ruangan dengan meja kopi. Mini bar dengan koleksi whiskey premium.

Ini ruangan kerja Arjuna. Pria yang mengendalikan kerajaan bisnis bernilai triliunan dan sekarang Arjuna adalah suaminya.

Aluna berjalan ke jendela, melihat pemandangan. Dari sini, Jakarta terlihat kecil. Gedung-gedung pencakar langit seperti mainan. Mobil-mobil seperti semut.

Aluna menghela napas, berbalik, dan matanya menangkap sesuatu.

Di meja Arjuna, di antara file dan dokumen, ada bingkai foto kecil. Aluna penasaran, kemudian mendekat.

"Foto di acara amal," batinnya.

Foto Aluna jaman dulu, lima tahun yang lalu dengan rambut dikuncir kuda dengan seragam pelayan. Sedang tersenyum pada tamu sambil membawa nampan.

"Apa mungkin?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 72

    Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 71

    Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 70

    "Aluna!"Suara Ratih pecah memenuhi ruangan.Tubuh Aluna limbung sebelum akhirnya benar-benar jatuh. Beruntung Ratih sigap menahannya."Mas, gimana ini," panggilnya panik.Darmawan langsung bangkit dari kursinya, tongkatnya terjatuh begitu saja di lantai."Baringkan dia!"Mereka berdua dengan cepat memindahkan Aluna ke sofa. Wajah Aluna pucat dengan tangan dingin."Air! Ambil air!" perintah Darmawan tegas, tapi ada getar di suaranya.Ratih bergegas mengambil air, tangannya gemetar."Aluna… Nak… bangun…" bisiknya pelan sambil menepuk pipi cucunya.Tidak ada respon. Ponsel Aluna masih berdering di meja. Nama Arjuna terus menyala di layar.Di kantor Arjuna berdiri membeku dengan ponsel di telinga. Perasaan tidak enak langsung menghantam."Angkat, Aluna," gumamnya pelan.Ia mencoba lagi menghubungi Aluna tapi tetap tidak ada jawaban. Wajahnya langsung berubah."Dina!" panggilnya keras.Dina yang berada tidak jauh langsung masuk."Pak?""Hubungi tim pengawal. Sekarang. Tanya posisi istri s

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 69

    Sepanjang malam Arjuna hanya memperhatikan wajah sang istri. Ada kilatan bahagia dan sekaligus cemas. "Kalian duniaku saat ini. Aku pasti akan menjaga kalian segenap jiwaku."Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, jatuh tepat di wajah Aluna. Matanya perlahan terbuka. Untuk beberapa detik Aluna terus memandangi wajah sang suami. Senyum kecil dan rasa lega menyelimuti hatinya.Perlahan tangan Aluna menyentuh pelan hidung Arjuna sambil memberikan kecupan sesaat di sana.Seketika bayi dalam perut Aluna bergerak. Aluna segera mengelus pelan perutnya sambil tersenyum."Pagi Sayang." Tiba-tiba suara serak Arjuna menyapa."Apa dia bergerak?"Aluna mengangguk. Kecupan lembut jatuh di kening Aluna di tambah dengan senyuman lembut."Aww," teriak Aluna sambil mengelus perutnya."Sakit?""Gak, cuma tendangan kali ini lebih keras aja. Mungkin karena udah hampir akhir trimester dua."Kali ini Arjuna yang mengelus perut Aluna dengan bisikan lembutnya."Halo jagoan Pa

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 68

    Malam semakin larut saat mobil mereka akhirnya memasuki area penthouse.Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Indah tapi tidak cukup untuk mengalihkan pikiran Aluna yang masih penuh.Begitu pintu terbuka Aluna langsung berjalan masuk tanpa banyak bicara.Arjuna memperhatikannya. Dia tahu istrinya sedang berusaha menerima semuanya.Di dalam kamar Aluna baru saja selesai membersihkan diri, kini ia sedang duduk di tepi ranjang dalam diam. Tangannya kembali mengusap perutnya, lebih lama dari biasanya.Arjuna mendekat perlahan."Hidupku aneh ya," ucapnya seperti bisikan pada dirinya sendiri."Masih kepikiran?" Aluna mengangguk. "Aku gak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang."Arjuna duduk di depannya. "Aku ada disini." Tangannya menggenggam erat tangan Aluna.Aluna menatapnya. "Semua berubah dalam satu hari. Kenyataan itu bikin aku merasa bingung. Harus sedih atau justru bahagia."Arjuna mendengarkan semuanya."Aku punya kakek nenek, punya masa lalu yang aku gak

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 67

    Suasana dalam ruangan berubah, dari yang tegang sejak pertama masuk kini berubah. Namun Arjuna belum sepenuhnya yakin dengan semuanya karena terlalu mendadak dan begitu rapi. Sementara Aluna masih menatap foto di tangannya. Jari-jarinya bergetar saat menyentuh wajah kecil di gambar itu. "Kenapa aku gak pernah tahu?" tanya Aluna pelan. Suaranya seperti bisikan. Mereka mendekat pada Aluna. Perlahan tangan yang keriput itu menyapu lembut air mata Aluna. "Maafkan kami." "Kalian?" Aluna tidak tahu harus memulai dari mana. "Kita belum berkenalan dengan baik Aluna," kata pria tua itu. "Iya Aluna. Maafkan Kakekmu yang sedikit jahat. Harusnya kami memperkenalkan diri kami dengan baik. Bukan seperti saat kamu pertama datang kemari." Keduanya tersenyum. "Saya Darmawan dan istriku Ratih Darmawan. Kami kakek nenekmu dari pihak ibumu." "Mama?! Tapi?" Ratih menggenggam tangan Aluna dengan lembut. "Kami gak pernah benar-benar pergi dari hidup kamu Aluna," katanya pelan. "Kami

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 5

    Foto itu diambil di acara amal. Acara yang Aluna sendiri bahkan sudah lupa.Aluna mengernyit pelan. "Kenapa foto ini ada di meja Kakak? Apa mungkin?"Sebelum Aluna sempat memikirkan lebih jauh.Klik. Pintu ruangan terbuka.Aluna langsung menoleh. Aluna pikir itu Arjuna yang kembali. Ternyata Rendra

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 3

    Di tempat yang berbeda, Rendra Mahendra duduk di sofa apartemennya menopang kepala dengan kedua tangannya.Kiara duduk di sampingnya, wajahnya pucat. Dia sudah mencoba menenangkan Rendra sejak tadi, tapi tidak berhasil."Ren, ini belum selesai. Kita masih bisa perbaiki.""DIAM!" Rendra berteriak, m

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 2

    "Apa?" Aluna kaget."Nikahi aku. Sekarang.""Kakak gila!" Aluna mundur selangkah. "Ini pernikahan adik Kakak sendiri!""Rendra bukan prioritasku." Suara Arjuna dingin.Arjuna melangkah mendekat. Aura mengintimidasi membuat Aluna tidak bisa bergerak."Wali, saksi, penghulu sudah siap. Aku sudah urus

  • Sang Kakak Buat Aku Tergila    Bab 1

    Jerit ranjang bersuara. Sepasang anak manusia tengah bergelut dengan pertarungan hebat di atas ranjang. Peluh keringat membanjiri keduanya, Rendra dan Kiara.Padahal hari ini adalah hari pernikahan Rendra dan Aluna. Tapi Rendra justru tidur dengan Kiara di sebuah hotel.Tanpa mereka sadari, semua k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status