Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 1 Arga

Share

Sang Kusir
Sang Kusir
Author: Pujangga

Bab 1 Arga

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-14 20:07:21

4 tahun tinggal di kerajaan Bunisora, kehidupan Arga sangat menderita.

Dia selalu diperlakukan dengan buruk oleh semua penduduk kerajaan.

Layaknya seorang budak, Arga kerap mendapatkan berbagai tugas berat tanpa sepeserpun upah yang didapat.

Jangankan upah, untuk makan saja Arga terkadang harus berburu sendiri ke dalam hutan karena tidak diberi jatah makanan.

Jika tidak bekerja, Arga akan disiksa oleh punggawa kerajaan.

Seperti sekarang, Arga tengah sakit terbaring lemas di dalam gubuk reyotnya di belakang kandang kuda kerajaan.

“Bagus! Semakin manja saja kau Arga, cepat bangun! Banyak kuda yang belum kau kasih makan, dan kotoran kuda di kandang utara juga belum kau bersihkan.”

Bentak seorang punggawa berbadan besar sembari menendang tubuh Arga yang lemah.

Entah mengapa dari semalam tubuh Arga tiba-tiba saja menggigil kedinginan, sementara dadanya terasa panas serta detak jantung melemah, membuat badan pemuda malang itu lemas tidak berdaya.

“A-a-ampun tuan Kantil, a-aku se-sepertinya sedang sakit,” Arga memohon lirih.

Empat tahun ini Arga seperti orang linglung, dia tidak ingat siapa dirinya dan dari mana asalnya.

Yang dia ingat hanya kata ‘Arga’ saja sehingga pemuda itu dipanggil Arga karena  saat pertama tiba di kerajaan, dia hanya bisa mengucapkan satu kata, yaitu Arga.

“Aku tidak peduli, cepat bangun dan cari rumput untuk para kuda! Jika tidak, kau tanggung sendiri akibatnya,” bentak punggawa yang tadi Arga panggil tuan Kantil.

Sekali lagi, punggawa itu menendang tubuh Arga dengan sangat keras sampai Arga mengerang dan muntah darah.

Setelah itu, dia langsung meninggalkan gubuk reyot Arga dengan perasaan tak berdaya. Sementara Arga masih berguling-guling kesakitan.

Setetes air mata Arga jatuh membasahi lantai tanah, “Oh Sang hyang Widi, apa salahku hingga dunia tidak adil seperti ini,” keluh Arga.

Dengan semua penderitaan di tubuhnya, Arga berusaha mencoba bangkit.

Sekali Arga kembali jatuh ke tanah, dua kali dia masih seperti itu, namun Arga tidak menyerah.

Sesakit apa pun, Arga tetap harus bekerja karena tidak memiliki tempat lagi untuk bernaung.

Selain itu, dia telah berjanji kepada Aki Begawan, seorang kakek yang pernah membantunya sebelumnya.

Sebelum Aki Begawan meninggal, Arga berjanji untuk tidak meninggalkan kerajaan Bunisora, namun ia akan melindungi kerajaan ini dengan nyawanya.

“Aki, maaf aku tidak bisa menjadi pemuda yang baik, tubuhku sangat lemah untuk berbakti pada kerajaanmu,” lirih Arga.

Aki Begawan adalah raja sebelumnya, ia meninggal karena penyakit serius di usia senja.

Dulu Arga ditemukan di dasar tebing dengan tubuh penuh luka layaknya seorang yang telah melalui pertarungan besar.

Aki Begawan membawanya dan merawat Arga sampai sembuh, namun sayang, pemuda itu tidak mengingat siapa dirinya.

Dulu saat Aki Begawan masih ada, kehidupan Arga tidak seperti sekarang, dia begitu dihormati karena dekat dengan raja.

Namun setelah Aki Begawan meninggal dan digantikan oleh putra tunggalnya.

Arga diperlakukan seperti budak oleh semua orang, bahkan para pejabat rendahan di kerajaan pun menganggap Arga tidak lebih dari sampah.

Jika tidak mencaci, maka Arga akan diperlakukan buruk secara fisik, ditendang, dijorokan, dipukul atau bahkan diludahi sebagai ungkapan kekesalan mereka.

“Tidak! Aku tidak bisa begini, aku harus kuat, Aki Begawan pasti akan kecewa jika aku cengeng seperti ini,” gumam Arga mengeraskan rahangnya.

Dia-pun kembali berusaha berdiri, Arga meraih dinding gubuk sebagai tumpuan, meski pada awalnya sangat sulit dan terasa sakit. Tetapi dengan usaha dan tekadnya yang kuat, Arga akhirnya bisa berdiri.

Kepalanya terasa pusing dan pening, tapi Arga tidak bisa menyerah, selanjutnya dia mencoba berjalan, berusaha menggeser kakinya agar melangkah. Berat tentu saja, bahkan terasa sangat berat, namun pemuda itu sungguh gigih hingga pada akhirnya Arga bisa berjalan.

Setelah bisa mengendalikan diri, Arga mulai berjalan tertatih menuju kandang kuda untuk mengambil peralatan kerjanya.

Butuh waktu bagi Arga sampai ke sana, walau jarak antara gubuk dan kandang kuda tidak terlalu jauh, tapi dengan kondisi Arga saat ini, menuju ke sana seperti menuju ke jurang neraka, terasa sakit dan menyiksa.

Semakin Arga melangkah, tubuhnya terasa semakin tersiksa, tapi dia tidak peduli, Arga terus melangkah.

Melihat sabit rumput di kandang kuda, setetes air mata Arga kembali terjatuh.

Betapa tidak, dengan kondisi tubuh seperti itu, Arga harus memberi makan sekitar 200 ekor kuda.

Selain itu, dia juga harus membersihkan kotorannya dari kandang, kemudian harus diangkut menuju lubang pembuangan di belakang wilayah Istana.

Tentu saja, semua pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang besar, sementara Arga saat ini sedang dalam kondisi yang sangat lemah.

Tapi Arga sekali lagi tidak bisa menyerah, demi sebuah janji, dia rela mengorbankan nyawanya.

Sebelum mengambil sabit yang terselip di salah satu tiang kandang, Arga terlebih dahulu bersiul pelan memanggil temannya.

Tidak lama seekor kuda hitam bertubuh kerdil sangat kumal datang dengan berjingkrak.

“Pohon ek, pohon ek!”

“Benar, aku sedang sakit, Liwa. Tubuhku dingin tapi entah mengapa dada ini terasa sangat panas,” jelas Arga pada kudanya.

Tepat ketika dia hendak mengambil sabit, panas di dada Arga tiba-tiba meningkat, menyebabkan dia langsung jatuh ke tanah.

“Oak, oak.” Kuda kumal meringik panik memanggil Arga.

Namun yang di panggil tidak merespon, dua kali Arga memuntahkan darah segar sebelum akhirnya terkulai lemas tidak sadarkan diri, membuat Liwa berlarian tidak tentu arah, dia bingung entah bagaimana cara menolong tuannya.

“Pohon ek, pohon ek.”

Kembali kuda kumal memanggil Arga, mengguncangkan tubuhnya, menjilati wajah, tetapi Arga tetap tidak bersuara, tubuhnya kaku sedingin mayat.

Namun beberapa saat kemudian, sesuatu yang aneh terjadi di tubuh Arga, membuat Liwa seketika melompat mundur menjauh.

Dada Arga tiba-tiba memancarkan cahaya merah kehitaman, sedikit redup tetapi memiliki aura yang menakutkan.

Bersamaan dengan munculnya cahaya tersebut, semua barang yang terbuat dari besi di kandang kuda mengalami fenomena tidak masuk akal.

Sabit, cangkul, penggaruk rumput, semua melayang ke udara, bahkan tumpukan tapal kuda untuk keperluan perang pun tidak luput ikut melayang.

Membuat kuda kumal milik Arga terus meringik seraya menghentakan kakinya ke tanah berusaha membangunkan tuannya.

Dia tidak mengerti entah mengapa benda-benda besi tersebut melayang, yang pasti, kemungkinan ada kaitannya dengan cahaya di tubuh Arga.

Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan tuannya, Liwa kembali mendekat menghampiri tubuh Arga.

Meski takut, pikirannya mengatakan dia tetap harus melakukan sesuatu.

“Oak, Oak!” kuda kumal melakukan percobaan terakhir memanggil Arga, tapi pemuda itu masih tidak merespon.

Sesaat dia melirik pada kumpulan benda besi yang melayang, sesaat lagi dia memandangi dada Arga, terus seperti itu hingga beberapa kali.

Kemudian dengan perasaan ragu, Liwa menghentakan dua kaki depannya tepat menuju dada Arga.

Dan benar saja, Arga setelah itu langsung terbangun dan kembali memuntahkan darah.

Tapi bersamaan dengan itu, semua benda besi pun seketika berjatuhan tanpa Arga sadari.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

  • Sang Kusir   Bab 27 Tragedi Kuda Gila

    Siang yang awalnya meriah seketika berubah mencekam dalam sekejap.Aura siluman tiba-tiba muncul entah dari mana membawa kengerian yang belum pernah dirasakan sebelumnya.Tidak hanya di dalam lapang pacuan, tetapi semua penduduk yang menonton pun turut ikut merasakannya.“Kalian, bantu patih Taruma hentikan kuda itu!” seru raja Balwa panik.Tidak hanya memberi perintah, dia juga ikut turun ke lapangan pacuan untuk menyelamatkan putrinya.Sementara permaisuri Sri Nanda sudah sedari tadi menangis tidak ingin putrinya terjadi sesuatu yang buruk.“Hahaha, kali ini kau akan benar-benar mati putri kecil,” putri Ardani tertawa bahagia jauh di dalam hati.Kereta yang ditumpangi oleh Jantaka dan putri Anandya terus melaju bahkan bertambah cepat.Kali ini kecepatannya telah setara dengan ilmu meringankan tubuh pendekar awal tanding.Debu tanah seketika tercipta dari hempasan roda kereta, membumbung menghalangi pandangan.Sementara patih Taruma Jati dan 100 orang Punggawa masih berdiri di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status