Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 2 Gadis Asing

Share

Bab 2 Gadis Asing

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-14 20:14:41

Jauh di kedalaman hutan terdapat suatu padang rumput indah nan luas, tidak banyak orang yang tahu tempat itu karena terkenal angker dan banyak siluman.

Tetapi sebuah gerobak lusuh setiap hari masuk ke sana.

Gerobak tersebut ditarik oleh seekor kuda kerdil kumal, sedikit tengil lebih mirip seperti keledai.

“Oak, Oak.”

“Oak, Oak,” 

Seperti itu suaranya di sepanjang jalan, begitu sumbang dan tidak enak didengar, namun bagi Arga, suara Liwa ibarat senandung nada yang indah, di mana setiap hari, hanya suara itulah yang selalu menemaninya.

“Hahaha, kau semakin pandai saja Liwa, bagus, teruslah bernyanyi.”

Arga ikut tersenyum riang di atas gerobak.

Meski tubuh Liwa terbilang kecil dari kuda pada umumnya, tetapi dia memiliki tenaga dan kekuataan fisik besar melebihi kuda-kuda yang lain. Bahkan jika dibandingkan, tenaga Liwa setara dengan 6 kuda perang bertubuh kekar.

Namun tidak ada yang tahu tentang kelebihan Liwa selain Arga sang pemiliknya, di mana selama ini, Arga sengaja menyembunyikan hal itu agar tidak menjadi masalah.

“Oak, oak?” tanya Liwa.

“Aku sudah baikan Liwa, terima kasih sudah menolongku,” jawab Arga.

Gerobak lusuh terus melaju masuk ke kerimbunan hutan yang gelap. Jalanan yang terjal tidak menjadi masalah bagi Liwa, satu gerobak rumbut menurutnya masih terlalu sangat ringan.

Berhasil melewati hutan lebat yang rimbun, Arga akhirnya tiba di padang rumput tempat iya mencari pakan bagi seluruh kuda.

Saat ini hari sudah hampir sore karena sebelumnya Arga mengalami sakit, tetapi  setelah sadar dari pingsannya, pemuda itu seketika mendapatkan kesembuhan, bahkan tubuhnya saat ini terasa lebih ringan dan bertenaga.

“Oak, Oak?”

“Tidak tahu Liwa, aku seperti mendapat tubuh baru, begitu segar dan bertenaga, hahaha.”

Arga tertawa, dia senang karena dengan kondisi bugar seperti ini, Arga bisa menyelesaikan tugasnya sebelum senja.

“Terus maju ke depan, Liwa! kita akan mengambil rumput yang ada di pinggir sungai, sudah lama kita tidak ke sana, bukankah itu tempat makan favoritmu?”

“Oak, Oak,” Liwa berjingkrak tanda setuju.

Mereka segera melesat menuju tepi padang rumput dimana di sana terdapat sungai jernih berarus deras.

Tempat Arga menghabiskan waktu di hari senggang karena di sana terdapat banyak ikan untuk dia berburu.

“Tolong! Tolong! Siapa pun tolong aku!” terdengar suara teriakan dari arah sungai membuat Arga terkejut bukan kepalang.

“Apa kau dengar Liwa? Mustahil! Bukankah hutan ini tidak pernah dimasuki orang lain?” ungkap Arga.

“Oak, oak,” tanggap Liwa.

“Apa mungkin dia siluman? Tapi mengapa ada siluman di siang hari?” gumam Arga.

“Tolong! Tolong! Tolo…ng!” teriakan itu kembali lagi membuat Arga semakin yakin bahwa itu memang suara manusia.

“Celaka, sepertinya memang ada suara manusia, kemungkinan dia sedang terhanyut, cepat Liwa! Kita harus menolongnya,” seru Arga.

Mendengar itu, Liwa langsung melesat menggunakan seluruh tenagannya menuju arah sungai membuat gerobak lusuh yang ditariknya melompat-lompat seperti seutas kain yang dibentangkan.

“Berhenti Liwa! Benar, itu dia ada yang sedang terhanyut,” seru Arga keras.

Membuat Liwa seketika menghentakan kaki depannya agar dapat langsung berhenti.

Arga segera melompat ke atas permukaan padang rumput, tubuhnya berguling beberapa kali karena turun dari kecepatan tinggi sebelum akhirnya berhenti dengan posisi telungkup.

Sementara si kuda kumal berguling ke depan terhantam gerobak lusuh yang ditariknya.

“Maaf Liwa, aku harus menyelamatkannya dulu,” teriak Arga.

Dia lekas bangkit dari tanah dan berlari menuju sungai.

Pakaian dan wajah Arga sangat kotor sekali karena dipenuhi debu tanah, bahkan beberapa bagian tubuhnya mengalami memar dan lecet, tapi dia tidak peduli.

Tanpa berpikir apa pun, Arga kemudian melompat masuk ke dalam sungai mengejar sosok yang sedang terhanyut.

Arus deras membantu dia berenang dengan cepat hingga sesaat Arga sudah bisa meraih tubuhnya.

“Kisanak! Kisanak! Apa anda bisa mendengarku?” tanya Arga, tetapi yang ditanya tidak menjawab, tubuhnya telah lemas tidak sadarkan diri.

“Celaka! Apa orang ini sudah mati?” gumam Arga, selanjutnya dia lantas menarik tubuh tersebut ke tepian untuk memastikan kondisinya.

Setelah tiba di tepian, Arga mengangkat tubuh itu dan dibaringkannya di atas hamparan batu cukup lebar.

“Ini …? Dia ternyata seorang gadis, jadi yang kupegang tadi adalah …? Tidak, tidak, aku tingak sengaja, maafkan aku,” ungkap Arga merasa bersalah.

Di sana Arga baru sadar bahwa yang ditolongnya tersebut ternyata merupakan seorang gadis muda berusia sekitar 17 tahun. Wajahnya sungguh cantik dan bersih, bahkan saking cantiknya, terlalu sulit di gambarkan dengan kata-kata.

Hidung bangir terpahat indah pada bentuk wajah tirus mulus tanpa noda, berbibir merah muda bergelombang dengan dua mata lentik menggambarkan sosok seorang dewi yang turun dari khayangan.

Gadis itu memiliki rambut berwarna hitam berkilau sangat kontras dengan kulit putihnya yang mulus.

Pakaian hijau terang yang dikenakannya sedikit transparan karena basah sehingga menampilkan lekuk tubuh sangat indah yang membuat siapa pun akan terpana memandangnya.

Termasuk Arga, seumur hidup, baru kali ini dia menyaksikan keseluruhan tubuh perempuan, terlebih perempuan yang ada di hadapannya memiliki kecantikan yang tidak manusiawi membuat hidung Arga seketika mengucurkan banyak darah akibatnya.

“Sial, mataku telah ternodai,” umpat Arga memalingkan pandangan.

Namun setelah itu, Arga kembali sadar bahwa dia harus memastikan kondisinya.

Serupa seorang tabib, dengan ragu Arga meraih pergelangan tangan gadis itu, merasakan detak nadinya menggunakan dua jari tangan.

“Syukurlah dia ternyata masih hidup, tapi ….? Bagaimana ini, aku tidak bisa melakukannya?” Arga bingung, dia harus memberikan nafas buatan untuk gadis itu.

Seperti orang tenggelam pada umumnya, sang gadis tidak bisa bernafas karena paru-parunya tertutupi air.

Sebagai seorang pemuda yang baik, Arga tentu tidak bisa melakukannya.

Dia tahu bersentuhan bibir dengan bukan istri sah adalah sebuah pelanggaran berat, bisa-bisa Arga akan berakhir di tiang gantungan.

“Ini salah, tapi jika dibiarkan, dia akan mati kehabisan nafas,” gumam Arga dilema.

Setelah cukup merenung, Arga akhirnya memberanikan diri untuk melakukannya.

Menggunakan dua telapak tangan yang disatukan, Arga menekan dada gadis itu beberapa kali hingga dia memuntahkan seluruh air di paru-parunya.

Setelah itu dengan cepat dia memberikan nafasnya melalui sentuhan bibir.

Ada sedikit rasa yang asing di tubuhnya, namun Arga tidak peduli, dia terus melakukan itu hingga beberapa kali, sampai pada akhirnya sang gadis menggelinjang dan kembali bisa bernafas.

Arga segera mundur menjauh karena tidak ingin dipersalahkan.

Ukhuk! Ukhuk!

Sang gadis kembali muntah, dia bangkit dari pembaringan seraya memegangi dadanya yang masih terasa sesak.

“Ka-ka-kau siapa?” tanya sang gadis keheranan.

“A—aku adalah orang yang menolongmu,” jawab Arga ikut terbata.

“Cincin itu …?” Arga terkejut melihat sebuah cincin emas di jari manis tangan kiri sang gadis, dari tadi dia tidak menyadarinya karena terlalu panik.

Mendapati gadis itu memakai sebuah cincin yang sangat Arga kenal, Arga bergegas bersujud di hadapannya.

“A-ampuni hamba gusti putri, hamba sudah lancang karena tidak mengenali anda,” ucap Arga gemetaran tidak berani mengangkat wajah.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 195 Campur tangan dewa

    “Siapa dia? apa putra mahkota Lingga Hiang juga merupakan alkemis?” tanya raja Evandaru pada putri Elenio.“Dia Argadanta Niskala Candra, putra tunggal dari Maha Prabu Niskala Jayanata. Kedatangannya memang sebuah kejutan, ayah. Dia memiliki begitu banyak harta dan mampu membunuh 8000 kesatria pasukan aliansi,” tutur putri Elenio membeberkan semua tentang Arga pada ayah-nya.“Kabar tentang kesaktian orang-orang Benua Utara memang bukan isapan jempol belaka,” gumam raja Evandaru.“Lantas mengapa dirimu tidak bisa membaca pikirannya?” tanya raja Evandaru kemudian.“Entahlah, mungkin karena energi batin tuan Arga terlalu besar. Kita tidak tahu entah sesakti apa dia sebenarnya,” jawab putri Elenio.“Jangan lepaskan dia, ayah akan sangat senang jika pemuda itu tertarik padamu,” pinta raja Evandaru.Tentu saja putri Elenio langsung merona mendengar itu di mana sedari awal, dia memang sudah menaruh hati kepada Arga.Mendapati ayahnya juga tertarik, putri Elenio seperti mendapatkan dukungan p

  • Sang Kusir   Bab 194 Racun Sihir

    Pertemuan keluarga kerajaan masih tetap berlangsung di mana raja Evandaru belum menemukan jalan keluar untuk bisa menyelesaikan pertikaian.Harapan satu-satunya sekarang adalah Arga mau membantu mereka, namun sampai saat ini Arga belum memberikan jawaban.“Bagaimana tuan Arga?” tanya raja Evandaru menegaskan.“Jika perang ini berakhir dengan kemenangan, aku menginginkan kerajaan Balkan menghapus sistem kasta dan memperbolehkan masyarakat kecil tinggal di kota raja,” ungkap Arga.“Raja yang besar bukan dia yang memiliki kekuatan dan harta tidak terbatas, tetapi mereka yang mampu membangun negeri untuk kesejahteraan rakyat tanpa harus memiliki kesenjangan,” sambung Arga.“Kaya boleh, tetapi sikap saling menghargai dan peduli sesama wajib ditanamkan kerena itu akan mampu membangun kekuasaan yang kokoh dan tidak terkalahkan,” jelas Arga.Antonio membuka mulutnya lebar tidak percaya Arga berani mengungkapkan semua itu di depan penguasa Balkan.Sementara Mutiara Sendayu hanya mengerutkan ke

  • Sang Kusir   Bab 193 Permintaan Kerajaan Balkan

    “Apa maksudmu putriku?” tanya raja Evandaru mengerutkan kening.Tidak hanya raja, tetapi semua pembesar kerajaanpun sama-sama mengerutkan kening tidak mengerti dengan ucapan Elenio.Arga memang sorang pahlawan dan kesaktria sakti, tetapi urusan strategi perang, raja Evandaru tidak yakin terhadapnya.Tetapi putri Elenio segera menghampiri raja dan membisikan sesuatu yang membuat mulut ayahnya terbuka lebar.“A—apa kau yakin dengan itu putriku?” tanya raja Evandaru terbata.“Benar ayah,” jawab putri Elenio pelan.“Begitu rupanya, berarti kita benar-benar kedatangan tamu agung,” raja Evandaru tersenyum lebar.Lady Geffie juga tidak melepaskan pandangan terhadap Arga, dia yakin Arga bukanlah pemuda seperti yang terlihat.Hatinya mengatakan Arga adalah orang besar yang sengaja bersembunyi dibalik kesederhanaan.Terlepas dari hatinya yang selalu bergetar terhadapnya, Lady Geffie sangat berharap Arga dapat membantu keluarganya yang kini sedang di sekap.Gadis itu sudah tidak peduli lagi deng

  • Sang Kusir   Bab 192 Pertemuan Kerajaan

    “Siapa kau anak muda? Beraninya datang ke istanaku tanpa izin,” bentak raja Evandaru.Hampir 500 pasukan kesatria sudah siap bertarung mengepung Arga dan Mutiara Sendayu di mana sepasang muda-mudi itu masuk istana kerajaan tanpa permisi.Para bangsawan yang di bawa Rhobinson memang sama melarikan diri ke wilayah istana. Tetapi mereka belum tiba karena dihadang pasukan penjaga gerbang membuat sosok Arga dan Mutiara Sendayu tidak ada yang mengenali.“Cepat katakan! Atau pasukanku akan membinasakanmu di sini,” kembali raja Evandaru berteriak.Arga dari tadi tidak menjawab karena sedang mengamati situasi, dia khawatir masih ada pengkhianat di dalam istana yang akan membocorkan situasi istana kepada aliran bangsawan bergelar.Setelah yakin yang berada di sana adalah orang-orang kepercayaan raja Evandaru, dia segera mengibaskan tangannya membuat putri Elenio dan yang lain seketika muncul di hadapan semua orang.500 pasukan kesatria serentak mundur terkejut bukan buatan, sementara raja Evand

  • Sang Kusir   Bab 191 Petikaian Rumah Lelang bagian 3

    “Di mana ini? Apa kita tiba-tiba berpindah ke sebuah hutan?” Duke Ega panik karena mendapat dirinya tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap.Arga memang sengaja membawa mereka ke sisi lain dunia dimensi gelang pusaka kerena tidak ingin siapa pun mengetahui letak penyimpanan harta miliknya.Setelah berhasil mengamankan orang-orang penting, pemuda itu segera mengirimkan pesan suara.“Kalian sekarang sedang berada di dunia dimensi milikku, tetap tenang di sana karena ini tidak akan lama. Antonio, gunakan pedangmu untuk penerangan,”“Tuan Arga?” gumam Antonio.Sring!Untuk pertama kalinya Antonio mencabut pedang tersebut di mana sedari tadi, dirinya tidak menggunakannya karena Antonio tidak suka bertarung.Lelaki kerdil itu hanya mengandalkan perlindungan Mutiara Sendayu tanpa sekalipun menghadapi musuh.“Anda?” seru Duke Ega terkejut mendapati Antonio ada bersamanya.“Benar tuan, aku adalah bawahan dari tuan Arga,” jawab Antonio sopan.“Apa yang terjadi dengan kita?” tanya Lady Eleni

  • Sang Kusir   bab 190 Pertikaian Rumah Lelang bagian 2

    Hampir 200 penyihir serentak merapalkan mantera menyerang Arga dengan energi sihirnya.Cahaya jingga berlesatan dari berbagai sisi dengan kecepatan tinggi mengincar tubuh Arga berniat membunuhnya.“Hahaha, trik yang sama tidak akan berguna padaku,” Arga tertawa kecil.“Hasrat perang tahap 6, jirah dewa perang!” teriaknya lantang.Energi biru seketika menyeruak membentuk baju perang sangat indah membuat mata semua orang terpana melihatnya.Tidak hanya para kesatria yang sedang bertarung saja, tetapi semua pembesar bangsawan bergelar juga ikut terpana menyaksikan Arga.Apa yang dilakukannya sungguh ajaib layaknya seorang dewa sehingga mereka mulai bertanya-tanya siapa Arga sebenarnya.Setiap cahaya jingga dari energi sihir mengenai tubuh Arga, cahaya itu akan langsung terpental kesembarang arah mengenai beberapa kesatria musuh hingga mereka tewas dalam waktu singkat.“Pusaka macam apa yang dipakainya? Itu sungguh indah sekali,” ungkap Durori melebarkan mata.“Aku harus mendapatkan pusak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status