LOGINSiang sedikit redup di kerajaan Bunisora karena 2 hari lagi akan masuk musim bersalju.
Awan tebal menutupi langit membuat sinar Mentari hanya dapat menembusnya sedikit saja.
Di alun-alun kerajaan, pertarungan sudah sedari tadi dimulai, sementara Ariani dan Jantaka baru tiba di sana.
Beruntung pertarungan pertama bukan giliran mereka sehingga keduanya tidak dikeluarkan dari sayembara.
“Maaf tuan patih, kami sempat tersesat karena berjalan-jalan terlalu jauh,” Jantaka dan Ariani membungkuk di hadapan patih Taruma Jati.
“Sudahlah, cepat masuk ke tempat peserta!” perintah patih Taruma Jati.
“Terima kasih tuan,” ungkap Jantaka dan Ariani serentak, keduanya kemudian berjalan memasuki bangku peserta.
Sebagian pendekar lain menatap sinis ke arah Jantaka, sementara sebagian lagi menatap ke arah Ariani.
Mendapati seorang pendekar tampan berjalan bersama seorang pendekar cantik membuat mereka merasa iri.
Terlebih keduanya telah digadang-gadang akan menjadi calon pemenang sayembara.
“Tebasan kincir! Angin beliung tahap ke 3!”
Seruan Mahendra di atas arena mengalihkan perhatian semua pendekar, membuat mereka segera menyapukan pandangan.
“Jurus itu lagi!” Kamal melebarkan mata, dia sangat khawatir terhadap sahabatnya di atas arena, di mana Mahendra saat ini sedang berhadapan dengan Arakenda.
Angin badai tercipta dari tebasan pedang Mahendra, membentuk sebuah pusaran besar yang mampu menarik apa pun ke dalamnya.
Jurus terkuat dari perguruan Pedang Badai memang sungguh mengerikan, jurus tersebut tidak hanya merusak lawan, tetapi juga merusak lingkungan sekitar.
“Sial, Menghindar!” seru Naralayan kepada semua peserta.
Jantaka, Ariani, Lintih Kemangi, Kamal serta peserta lain termasuk Waruna berlompatan menjauh.
Kursi peserta sekali lagi tertarik masuk ke dalam pusaran angin membuatnya dalam waktu singkat berubah menjadi serpihan debu.
Berbeda dengan jurus adik seperguruannya di pertandingan tahap pertama yang kalah oleh Waruna, jurus milik Mahendra lebih besar dan lebih kuat.
Jangkauan jurus tersebut juga lebih luas sehingga tidak hanya kursi peserta, tetapi beberapa kedai kecil milik pedagang pun turut melayang tertarik masuk ke dalam pusaran.
“Celaka, tidakkah ini terlalu berlebihan,” gumam patih Taruma Jati.
Pusaran angin terus berputar di atas arena, membuat Arakenda mau tidak mau harus bertahan dengan berpegangan pada pedangnya yang di tancapkan di lantai arena.
Beruntung setelah hancur akibat pertarungan Onagi, lantai arena diganti dengan batu hitam yang sangat kuat sehingga tidak akan mudah dihancurkan.
Tidak ingin kalah begitu saja, Arakenda pun segera membentuk kuda-kuda kokoh dari jurus perguruannya.
“Auman Singa Kumbang, jurus kekekalan tahap 2!” seru Arakenda.
Tiba-tiba saja dari tubuhnya merembes keluar energi berwarna merah, semakin lama, energi itu semakin banyak menyelimuti tubuh Arakenda membentuk sosok singa setinggi 2 meter.
Semua penonton kembali tercengang menatap ke atas arena, tidak salah mereka berkorban membayar penginapan hanya untuk menyaksikan pertandingan, di mana pertarungan tahap kedua ini dipenuhi oleh berbagai jurus tingkat tinggi yang memukau.
Singa kumbang berwarna merah transparan itu kemudian mengaum keras menciptakan gelombang energi cukup besar yang langsung menghantam pusaran angin.
Gauum! Siiiuttt! BUUMM!
Ledakan besar menggema ke seluruh wilayah.
Asap tebal mengepul menutupi panggung arena membuat siapa pun tidak dapat melihat entah apa yang terjadi di dalam sana, termasuk patih Taruma Jati sebagai pembawa acara.
Raja Balwa menyipitkan mata tidak sabar ingin mengetahui akhir pertarungan, tetapi sekuat apa pun dia melakukannya, panggung arena tetap tidak dapat kelihatan.
Sampai pada akhirnya, patih Taruma Jati harus menggunakan tenaga dalam menghempaskan semua asap dari tempat pertarungan.
Swuuus!
Dari kibasan tangannya muncul angin besar yang berhembus membawa semua asap tebal jauh ke ketinggian, menampilkan dua peserta yang masih berdiri sedang menatap satu sama lain.
Mata semua orang tidak bisa berkedip menyaksikan fenomena langka di hadapannya.
Mungkin untuk para pendekar tingkat tinggi sudah biasa, tetapi bagi para penduduk serta pendekar tingkat rendah, semua itu adalah hal paling menakjubkan yang pernah mereka lihat.
“Sudah kuduga,” bibir Waruna membentuk seringai tipis yang mengerikan.
Sementara patih Taruma Jati masih menunggu entah siapa yang akan menang.
Kebanyakan peserta lomba mengira Arakenda yang lebih unggul karena penguasaan perubahan energi miliknya sudah sangat jauh.
Begitu juga sebagian besar penonton, tetapi bagi Ariani dan Jantaka, Mahendralah pemenangnya.
Dan benar saja, beberapa saat setelah itu, Arakenda tiba-tiba terjatuh dan langsung tidak sadarkan diri, membuat sebagian besar penonton tidak percaya melihatnya.
Sementara raja Balwa menggeleng di kejauhan, “sangat disayangkan pendekar seberbakat Arakenda kalah,” gumamnya pelan.
“Pertarungan ini dimenangkan oleh Mahendra!” seru patih Taruma Jati mengumumkan.
Seketika sorak sorai penonton menggema di alun-alun. Mereka yang tadi mendukung Arakenda pun kini berbelot mengagungkan nama Mahendra.
Arakenda langsung di bawa ke ruang perawatan menggunakan tandu, sementara Mahendra tersenyum senang menuruni arena.
“Pertarungan selanjutnya, Masudev melawan Bulga!” seru patih Taruma Jati, membuat kedua pendekar muda tersebut langsung melompat ke atas arena.
Selagi pertarungan berlangsung, Arga saat ini terpaksa harus melanjutkan pekerjaan membersihkan kandang.
Tanpa rasa jijik pemuda itu dengan telaten membersihkan setiap sudut kandang dari kotoran.
Kotoran kuda dimasukkan ke sebuah wadah, kemudian di angkut menggunakan gerobak.
Selain memindahkan kotoran, Arga juga harus memandikan beberapa kuda karena sudah 3 hari tidak di mandikan.
Terlebih kuda perang, kuda-kuda itu harus setiap hari dimandikan agar kesehatan dan kekuatan fisiknya selalu terjaga.
Tidak banyak kuda yang Arga mandikan saat ini, di mana sebagian kuda sedang di gunakan latihan oleh para prajurit.
“Oak, Oak?” tanya Liwa. Dia menanyakan keberadaan 3 kuda jantan bertubuh besar yang tidak ada di kandangnya.
“Aku tidak tahu, mungkin mereka dibawa oleh Senopati untuk keperluan sayembara,” jawab Arga.
Dan memang benar, pagi-pagi sekali punggawa Kantil sudah datang ke kandang membawa ketiga kuda itu atas permintaan Senopati Rajo.
Di mana ketiganya akan digunakan untuk keperluan sayembara.
Tidak hanya kuda saja, tetapi 3 kereta perang pun ikut dibawa punggawa Kantil, karena tahap terakhir dari sayembara adalah tes keahlian berkusir.
“Ayo Liwa, kau juga ikut ke sungai, aku sekalian akan memandikanmu di sana,” seru Arga.
“Oak, oak, oak,” Liwa berjingkrak senang.
Arga memang tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang terhadap kuda, layaknya kepada manusia, dia rawat setiap kuda dengan sangat baik.
Bersama 50 kuda lain, Liwa berjalan mengikuti Arga menuju sungai.
Sudah seperti kepada ayahnya sendiri, seluruh kuda kerajaan tidak pernah Arga ikat untuk dibawa, di mana mereka selalu mengikuti ke mana pun pemuda itu membawanya.
Satu persatu setiap kuda Arga mandikan, termasuk Liwa yang berada di urutan terakhir karena kuda dekil itu memilih bermain terlebih dahulu sebelum memasuki sungai.
“Akhirnya, pekerjaanku selesai juga hari ini, ayo semua kita pulang! maaf tidak bisa bermain lebih dulu karena aku harus menonton sayembara,” seru Arga.
**
Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda
Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,
Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h
Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b
Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b
Siang yang awalnya meriah seketika berubah mencekam dalam sekejap.Aura siluman tiba-tiba muncul entah dari mana membawa kengerian yang belum pernah dirasakan sebelumnya.Tidak hanya di dalam lapang pacuan, tetapi semua penduduk yang menonton pun turut ikut merasakannya.“Kalian, bantu patih Taruma hentikan kuda itu!” seru raja Balwa panik.Tidak hanya memberi perintah, dia juga ikut turun ke lapangan pacuan untuk menyelamatkan putrinya.Sementara permaisuri Sri Nanda sudah sedari tadi menangis tidak ingin putrinya terjadi sesuatu yang buruk.“Hahaha, kali ini kau akan benar-benar mati putri kecil,” putri Ardani tertawa bahagia jauh di dalam hati.Kereta yang ditumpangi oleh Jantaka dan putri Anandya terus melaju bahkan bertambah cepat.Kali ini kecepatannya telah setara dengan ilmu meringankan tubuh pendekar awal tanding.Debu tanah seketika tercipta dari hempasan roda kereta, membumbung menghalangi pandangan.Sementara patih Taruma Jati dan 100 orang Punggawa masih berdiri di depan







