ホーム / Fantasi / Sang Kusir / Bab 23 Perterungan Final

共有

Bab 23 Perterungan Final

作者: Pujangga
last update 公開日: 2026-07-29 19:20:56

Pertarungan demi pertarungan berjalan begitu singkat.

Ternyata setelah menyaksikan aksi Mahendra dan Arakenda, semua peserta langsung mengeluarkan jurus tertinggi mereka untuk mengakhiri pertarungan.

Setiap peserta sama-sama berusaha ingin memukau penonton sehingga mereka tidak lagi membuang waktu dengan saling mempelajari kelemahan masing-masing.

Terlebih hampir seluruh jurus dari berbagai perguruan pernah digunakan pada pertandingan pertama, membuat pertarungan yang biasa tidak lagi menarik untuk disimak.

Dari 14 peserta, kini hanya tersisa 6 peserta yang masuk ke babak final.

Mereka antara lain Mahenda dari perguruan Pedang Badai, Masudev dari perguruan Singa Kumbang, Jantaka dari perguruan Sayap Dewa, Waruna dari perguruan Mata Budha, Lintih Kemangi dari perguruan Awan Suci, dan terakhir adalah Ariani dari padepokan Melati Sakti.

Ke 6 peserta itu akan kembali bertarung satu lawan satu sampai menyisakan 3 pemenang terakhir.

Dan pertarungan pertama jatuh pada Waruna melawan Masudev.

Keduanya mulai saling menyerang dengan senjata masing-masing.

Trang! Trang! Trang!

Suara benturan senjata sangat nyaring terdengar ke telinga penonton. Bunga api terus memercik di atas arena menciptakan pemandangan indah yang paling ditunggu oleh mereka.

Masudev menebaskan goloknya mengincar leher lawan, tetapi Waruna bisa menebak arah serangannya.

Traang! Golok dan pedang kembali berbenturan.

“Cakaran Singa!” teriak Masudev, tangan kirinya mengayun menuju dada Waruna.

“Cih! Merepotkan,” umpat Waruna, mundur dua langkah menghindari cakaran lawan.

Setelah itu Waruna mengayunkan pedang lurus ke depan, “Pedang Ilusi!” seru Waruna.

3 pedang cahaya tercipta meluncur ke arah Masudev, membuat dia mau tidak mau harus menangkis dan menghindar.

Dua pedang cahaya berhasil di tangkis menggunakan golok, sementara satu lagi dia hindari dengan melompat ke arah samping.

Tetapi naas, Waruna sudah berada di sana, “Terima ini!” pemuda itu menebas punggung Masudev, membuat dia harus kembali melompat berusaha melindungi titik vital.

Masudev mengerang mendapatkan luka lebar di punggungnya, darah segar mengalir membasahi pakaian berwarna kuning.

“Bangsat! Ternyata serangan tadi hanya pengalihan saja,” umpat Masudev geram.

Namun Waruna tidak membalasnya, dia hanya menyeringai kecil sebelum kembali menyerang.

Harusnya Masudev sadar, bahwa perguruan Mata Budha memang sangat ahli dalam ilusi.

Dia terlalu terbawa suasana hingga melupakan sesuatu yang penting, yaitu kemampuan tersembunyi lawan.

Masudev segera mengalirkan tenaga dalam pada punggungnya untuk menghentikan pendarahan.

Tetapi baru saja setengah jalan, Waruna sudah kembali berada di depannya.

“Sial!” gumam Masudev, “Auman Singa Ku …!” Masudev langsung diam mematung melihat sosok makhluk besar yang menyeramkan.

“Ti-ti—tidak, menjauh dariku! Lepaskan! Aaaaaa …,” Masudev terjatuh tidak sadarkan diri.

“Lagi-lagi jurus itu,” gumam patih Taruma Jati.

Jurus ilusi Mata Budha memang sangat mengerikan, belum ada satu pun peserta yang mampu menandinginya.

Sayang Jantaka tidak pernah bertemu Waruna karena putaran pertandingan dipilih secara acak menggunakan undian.

Andai dihadapi oleh Jantaka, ilusi Mata Budha kemungkinan akan dapat dipatahkan. Patih Taruma Jati sangat percaya itu, tetapi apa boleh buat, semua pertarungan berada di luar jalur kehendaknya.

“Pemenangnya adalah Waruna, dia akan mendapatkan 1000 koin emas dari pihak kerajaan,” seru patih Taruma Jati mengumumkan.

Semua penonton bersorak ria memanggil nama Waruna, dari awal memang mereka yakin bahwa Warunalah yang akan keluar menjadi pemenang.

Pertarungan kedua adalah Jantaka melawan Mahendra, kedua pendekar muda itu langsung melompat ke atas arena.

“Aku sangat yakin, pertarungan mereka pasti seru,” ungkap salah satu penonton.

“Hahaha, tentu saja, baik Jantaka maupun Mahendra, keduanya sama-sama kuat,” ujar penonton di dekatnya.

“Ah, tetap saja semua pertarungan ini tidak menarik,” ungkap lelaki berpenampilan asing.

“Kau …! Apa maksudmu?” tanya penonton yang lain.

“Pertarungan akan menarik jika ada yang tewas, cih! Sayembara ini sangat membosankan,” jawabnya dingin.

Mendengar itu semua penonton yang berada di dekatnya seketika bergeser sedikit menjauh.

Tidak ada yang mengenal lelaki itu di mana saat kemarin, dia tidak pernah terlihat.

“Tinggalkan dia, sepertinya orang itu pendatang baru,” seru salah satu penonton.

Tetapi lelaki berpenampilan asing tidak peduli, dia hanya menyeringai saja sebagai tanggapan seruan tersebut.

Banyak dari penonton yang mengira pertarungan ini akan berjalan seru, tetapi saat mereka sedang asyik berbincang, patih Taruma Jati sudah mengumumkan hasil pertandingan.

“Pemenangnya adalah Jantaka, dia berhak mendapatkan 1000 koin emas dari pihak kerajaan!”

“A-apa yang …?”

“Ka-kapan dimulainya?”

“Ti-tidak mungkin!”

Semua penonton membelalakkan mata mendapati Mahendra telah terbaring lemah di atas arena, sementara Jantaka sedang berdiri seraya menyarungkan pedangnya.

Prok! Prok! Prok!

Raja Balwa sampai bertepuk tangan memuji kekuatan Jantaka.

Tidak disangka, saat baru saja pertandingan dimulai, Jantaka langsung menghilang dari pandangan, dia tiba-tiba muncul kembali di belakang Mahendra dengan pedang sudah terhunus menembus dada lawan.

Beruntung Jantaka melakukannya secara hati-hati sehingga tidak mengenai organ dalam lawannya, membuat Mahendra hanya pingsan akibat terkejut.

Tidak hanya raja Balwa, tetapi lelaki asing yang tadi menjadi penonton pun sampai membelalakkan mata memandangi Jantaka dengan rasa tidak percaya.

“Pemuda itu! dia tidak boleh dibiarkan hidup, sial! Ternyata kerajaan ini terdapat banyak pendekar berbakat,” umpat sang lelaki asing kesal.

Waruna di bangku peserta berdecak dongko.l terhadap Jantaka, sudah sedari awal dia penasaran dengan kekuatan pemuda itu, namun sampai sayembara selesai, keduanya tidak pernah bertemu.

“Hebat! Selamat atas kemenangannya Jantaka,” ungkap Ariani berjalan menghampirinya.

“Hahaha, aku tidak sehebat dirimu, berjuanglah! Kau juga harus menang,” ujar Jantaka. Kemudian dia turun dari atas panggung menuju bangku peserta.

“Apa yang? Haiss! Kita terlambat Liwa,” Arga baru tiba di atas bukit tempat kemarin dia menonton.

“Oak, aok?” tanya Liwa.

“Sepertinya Jantaka menang,” jawab Arga.

“Oak, oak?” Liwa kembali bertanya, dia ingin tahu apa semua pertandingan telah selesai.

“Sekarang pertarungan terakhir antara Ariani dan gadis dari perguruan Awan Suci,” jawab Arga.

“Oak,” pinta Liwa.

Kuda dekil itu ingin melihat pertarungan Ariani dari dekat, jadi dia meminta Arga supaya kembali ke alun-alun.

“Apa kau bercanda? Bagaimana jika kita di usir Liwa?” tanya Arga.

“Oak, aok,” ujar Liwa. Dia mengatakan jika nanti mereka diusir, maka Arga bisa kembali ke atas bukit.

“Baiklah, baiklah, ayo kita turun ke sana,” Arga menarik nafas panjang.

Selanjutnya dia naik ke atas punggung Liwa, membuat kuda dekil itu langsung melesat menuju sudut alun-alun tempat di mana mereka pertama kali menyaksikan sayembara.

Tetapi baru saja Liwa menuruni bukit, Arga mendengar seseorang yang sedang berbicara tidak jauh dari sana.

“Berhenti Liwa!” pinta Arga.

“Oak, Oa …”

“Diamlah! aku mendengar sesuatu,” Arga membekap mulut Liwa supaya tidak berisik, kemudian dia turun dari punggung kuda itu mengendap menghampiri sumber suara.

“Senopati Rajo! Sedang apa dia di sini?” gumam Arga di dalam hati.

 **

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status