Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

Share

Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-08-09 19:22:27

Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.

Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.

Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.

“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.

Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.

“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”

Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.

“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.

“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.

Karena tidak mengerti dengan kitab yang dibacanya, Arga lanjut beranjak melihat kitab yang lain.

“Jurus pedang arus kebalikan?” ucap Arga membaca sampul kitab kedua.

“Hahaha, kitab kedua ini malah semakin aneh,” Arga tertawa sendiri.

Ada sekitar 10 kitab di sana, selebihnya hanya tumpukan koin emas yang menggunung.

“Kitab langit?” Arga membaca sampul buku ketiga, “Ini sepertinya ilmu meringankan tubuh,” gumam Arga.

“Tameng dewa perang?” Arga terpaku membaca kitab ke 4, dari semua kitab, buku itulah yang paling menarik perhatiannya karena memiliki sampul lusuh berwarna merah tua.

“Ini sepertinya merupakan jurus bertahan,” gumam Arga sembari masih memegang kitab tersebut, dia sangat penasaran ingin mengetahui isinya.

Namun ketika dibuka, di dalam kitab itu tidak terdapat tulisan apa-apa selain lembaran kertas kosong yang tampak buram termakan usia.

“Hahaha, rupanya orang yang menyimpan barang-barang ini adalah pelawak,” Arga tertawa terbahak-bahak merasa tertipu oleh penampilan kitab tersebut.

Berbeda dengan kitab ilmu kanuragan pada umumnya yang selalu memuat semua jurus kanuragan dalam satu buku, kitab-kitab di sana terbagi ke dalam 10 buku.

Terdiri dari jurus menyerang, bertahan, menghindar, bergerak, segel dan banyak lagi yang lainnya, termasuk ilmu pedang dan pukulan.

Tetapi anehnya, sebagian kitab tersebut hanya berupa kertas kosong saja yang tidak terdapat aksara apa-apa.

Sementara sebagian lain memuat informasi yang membingungkan membuat Arga tidak tertarik lagi membacanya.

“Oak, oak!” seru Liwa dari ruangan lain di dalam Goa.

“Ada apa Liwa? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Arga.

“Oak,” teriak Liwa meminta Arga datang ke sana.

Ternyata Liwa menemukan ruangan lain yang tersembunyi, ruangan itu belum bisa dibuka karena tertutupi pintu batu berukuran besar.

Selain terlihat kokoh, pintu batu tersebut juga dipenuhi simbol aneh berupa segel yang tidak bisa Arga baca, sehingga keduanya bingung entah bagaimana cara membukanya.

“Oak, oak?” tanya Liwa.

“Entahlah, Goa ini mungkin milik seseorang Liwa, sebaiknya kita tinggalkan saja, tidak baik memasuki wilayah orang lain tanpa ijin,” jawab Arga.

“Oak,” sergah Liwa.

Dia bersikeras bahwa dirinyalah yang menemukan Goa tersebut, maka dengan begitu, semua yang ada di sana adalah miliknya, ucap Liwa.

“Dasar kuda nakal, bagaimana kalau di sini terdapat jebakan? Ayo keluar,” ajak Arga.

Mendengar itu, Liwa segera berbalik dan melangkah seperti akan meninggalkan ruangan, membuat Arga merasa tenang dan mengikutinya dari belakang.

Tetapi setelah beberapa saat, Liwa kembali berbalik kemudian berlari sekuat tenaga menghantam pintu batu menggunakan dua kakinya.

“Celaka, dasar kuda tidak bisa diatur,” Arga terkejut karena akibat hantaman kaki Liwa, ruangan Goa tiba-tiba saja bergetar hebat seperti akan runtuh.

Kerikil kecil di langit-langi Goa mulai berjatuhan di sertai debu dan angin kencang, membuat Arga segera merunduk melindungi kepalanya supaya tidak tertimpa.

Guncangan terjadi cukup lama tetapi Goa yang ditempati Arga tidak runtuh, sehingga pemuda itu dapat bernafas.

Setelah guncangan selesai, Arga segera memanggil Liwa untuk memastikan keberadaannya.

“Liwa! Liwa! Sial, semua debu ini menghalangi pandanganku,” umpat Arga.

Karena tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya, Arga lantas memberanikan diri berjalan menembus asap debu menuju pintu batu yang menutupi ruang rahasia.

Setelah berhasil tiba di sana, mata Arga tiba-tiba terbelalak tidak percaya mendapati pintu batu besar yang tadi kokoh kini hancur menjadi serpihan, menampilkan ruangan besar yang terlihat gelap gulita.

Arga kembali memanggil Liwa, tetapi kuda putih miliknya tetap tidak menjawab, sampai ketika Arga masuk lebih dalam, dia menemukan Liwa sedang berdiri mematung memandangi sebuah jasad manusia yang sudah tinggal kerangka tulang.

Jasad itu terlihat mengenakan pakaian putih tengah duduk bersila di atas sebuah kursi Giok berwarna biru sangat indah.

Arga tertohok melihatnya, berdecak kagum karena jasad tersebut tidak hancur termakan usia.

“Oak, Oak,” seru Liwa.

“Kau sudah berbuat bodoh Liwa, bagaimana jika Goa ini hancur dan kau terluka atau  bahkan terbunuh?” bentak Arga khawatir.

“Oak, oak,” Liwa meminta maaf.

Arga merasa bingung karena sejak wujudnya berubah, Liwa seperti memiliki perangai aneh yang tidak dia mengerti.

“Oak, Oak,” ujar Liwa meminta Arga mendekat.

“Apa yang kau temukan Liwa? Aku sudah melihatnya dan itu adalah jasad manusia,” jawab Arga ketus.

“Oak,” seru Liwa.

“Baiklah, baiklah,” Arga berjalan mendekat.

Bersama Liwa, dia menghampiri ke depan jasad manusia tersebut, melihatnya lebih dekat seperti akan memastikan sesuatu.

“Oak, Oak,” pinta Liwa.

“Apa kau bercanda? Mengapa aku harus bersujud di depan jasad ini? Bukankah ini hanya berupa tulang saja,” sergah Arga.

“Oak,” ungkap Liwa.

“Aku mengerti harus menghormati orang mati, tetapi tidak perlu juga dengan bersujud,” kata Arga.

“Oak,” Liwa tetap meminta Arga bersujud.

Tidak ingin berdebat panjang, Arga pun menuruti keinginan Liwa supaya bisa segera keluar dari dalam goa.

Dia bersujud di depan jasad tersebut dengan perasaan kesal.

“Oak,” ungkap Liwa.

“Apa! Lagi? Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Arga bersuara keras.

“Oak,” jawab Liwa, dia mengatakan hanya ingin Arga bersujud sebanyak tiga kali.

“Dasar kuda aneh, baiklah! Tetapi setelah ini kuminta kita segera pergi meninggalkan Goa,” ucap Arga.

“Oak,” Liwa setuju.

Selanjutnya Arga kembali bersujud sebanyak dua kali, tetapi saat sujud terakhir, kepalanya terasa sangat berat membuatnya tidak bisa diangkat.

“Apa yang …?” ucapan Arga terhenti karena tubuhnya tiba-tiba lemas dan langsung tidak sadarkan diri.

Kesadarannya ternyata ditarik oleh sesuatu yang membawanya memasuki dunia lain.

Sebuah dunia asing yang semua lantainya terbuat dari awan putih sangat lembut membuat Arga mematung tidak percaya.

“Hahaha, kau sepertinya memang bukan manusia biasa anak muda, sayang ingatanmu ternyata terkena segel jurus seseorang.”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status