Mag-log inKerajaan Bunisora merupakan kerajaan kecil yang berada di daratan besar bernama Antareja.
Dari permaisurinya, raja memiliki 4 orang putri bernama Ardani Sora, Damayanti Sora, Kanaya Citra Sora, dan terakhir yang paling muda bernama Anandya Dewi Sora.
Dialah gadis yang sekarang ada di hadapan Arga, bunga mekar kerajaan Bunisora yang terkenal karena kecantikannya.
“Bangunlah, itu tidak masalah, terimakasih telah menyelamatkan aku,” ucap Putri Anandya.
“Ta-ta—tapi gusti putri,” Arga bingung entah harus menjelaskannya dari mana, dia memang tidak mengenal semua putri kerajaan karena mereka sangat tertutup dan dijaga ketat oleh para punggawa.
Arga pernah bertemu putri Anandya saat dulu dia masih bersama Aki Begawan, jika tidak salah, usia putri Anandya kala itu baru menginjak 13 tahun, sementara Arga waktu itu telah berusia 16 tahun.
Arga adalah pemuda tampan, namun karena penampilannya yang selalu dekil, maka ketampanan pemuda itu tidak pernah tampak. Terlebih setelah Aki Begawan meninggal, Arga mengalami kehidupan yang keras membuat ketampanannya semakin redup.
“Sudah kukatakan itu tidak masalah,” ungkap putri Anandya, dia perlahan bangkit sembari merapihkan pakaiannya, sementara Arga masih bersujud tidak berani menampakan wajah.
“Sekarang antarkan aku pulang ke kerajaan!” pinta putri Anandya.
“Ta-ta—tapi gusti putri,” Arga masih mengucapkan kata itu.
“Apa lagi, sudah kubilang bangunlah, itu tidak masalah, cepat bangun dan antarkan aku ke kerajaan,” suara putri Anandya sedikit meninggi.
“Ha-hamba tidak bisa putri, hamba harus mengambil rumput dahulu untuk para kuda, jika tidak, maka hamba akan dihukum berat oleh kepala pengurus kuda kerajaan,” jelas Arga.
“Aku tidak peduli, menolak perintahku maka hukuman gantung yang akan kau terima, apa kau menger ….,” putri Anandya tiba-tiba mematung, “Tunggu dulu, apa kau pengurus kuda istana?” tanya putri Anandya.
“Be-be—benar gusti putri, hamba Arga, pengurus kuda kerajaan,” jawab Arga terbata.
Membayangkan hukuman gantung, tubuh Arga tentu saja langsung bergetar.
“Aku ingat sekarang, kaukah itu yang dulu selalu bersama kakek prabu?” tanya putri Anandya, kali ini nada suaranya telah kembali lembut seperti biasa.
“Be-be—benar gusti putri, itu aku,” jawab Arga.
Putri Anandya menatap sosok Arga lekat sebelum akhirnya menarik nafas panjang dan berkata, “Baiklah, karena kau adalah teman kakek prabu, maka aku akan menunggumu mengambil rumput, setelah itu antarkan aku pulang.”
Tentu saja Arga terkejut, tanpa sadar dia telah mengangkat wajahnya menatap mata putri Anandya.
“Ka-kau! Berani menatap mataku apa kau ingin dihukum pancung?” bentak putri Anandya.
Ucapannya seperti marah kepada Arga, tetapi wajahnya menggambarkan hal yang lain.
Putri Anandya seketika merona merah dan langsung menunduk, sementara Arga kembali bersujud dengan jantung berdebar.
Bukan berdebar karena terpesona, tetapi berdebar karena tidak ingin mendapatkan hukuman pancung.
“Ma-ma—maaf, gusti putri, lagi-lagi hamba telah lancang kepada anda,” ungkap Arga terbata.
“Lupakanlah! Segera cari rumputmu, aku tidak mau menunggu sampai malam di sini,” kata putri Anandya menyilangkan tangan, kemudian dia berbalik membelakangi Arga.
“Te-terima kasih tuan putri,” ucap Arga senang, tapi suaranya tetap terbata.
Arga memberanikan diri mengintip putri Anandya dari celah rambut panjang miliknnya yang terurai.
Melihat sang putri membalikan badan, Arga baru berani mengangkat wajahnya dan berdiri.
Dia segera berlari ke dalam hutan dengan perasaan campur aduk, antara senang, takut dan bimbang.
Sang putri yang mendengar Arga berlari meninggalkannya langsung berbalik terkejut.
“Heii! Mau kemana kau …?” putri Anandya tidak bisa melanjutkan pertanyaannya karena sosok Arga telah terlalu jauh, “Cih! Sial, mengapa semua orang selalu saja meninggalkanku,” keluh putri Anandya.
Melihat Arga berlari menuju hutan, dia mengira Arga sengaja meninggalkannya di tepi sungai.
Membuat putri Anandya menitikan air mata karena takut, sang putri langsung menjatuhkan kaki berlutut menangis meratapi nasib.
Ada rasa menyesal karena telah membentak Arga, sang putri berpikir Arga marah dan sengaja membiarkannya sendiri di hutan untuk mati dimakan binatang buas.
Tapi tidak lama, Arga kembali dengan membawa banyak kayu bakar di pundaknya.
Mendapati putri Anandya sedang menangis, Arga dengan ragu mendekat dan bertanya.
“A-a—apa gusti putri tidak apa-apa?”
Mendengar itu tangis putri Anandya berhenti seketika, ada perasaan senang di hatinya, namun dia tidak mungkin mengungkapkannya kepada Arga.
“Dasar tidak tahu malu, dari mana saja kau?” bentak sang putri sangat marah.
“A-a—anu gusti putri, saya mengambil kayu bakar untuk membuat perapian, anda pasti kedinginan karena seluruh pakaian anda basah,” jawab Arga sopan.
Mendapati kenyataan yang salah, putri Anandya tidak lagi bisa berkata-kata, dia hanya bisa mengangguk seraya menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal.
Selesai menyalakan api, Arga lantas membiarkan putri Anandya beristirahat di sana, sementara dia pergi mengambil rumput.
Di tepi padang rumput, si kuda kumal masih tergeletak tidak bisa berdiri karena tertimpa gerobak, dia mengumpat panjang pendek karena Arga sangat lama menolongnya.
“Hahaha, maaf Liwa, aku harus menolong tuan putri terlebih dahulu,” ungkap Arga.
Kemudian dia menjelaskan semuanya kepada Liwa sembari menyabit rumput, keduanya terus berceloteh hingga tidak terasa gerobak lusuh telah penuh dengan rumput.
Bertahun-tahun bekerja sebagai pencari pakan kuda, membuat pekerjaan itu sudah menjadi keahliannya sehingga Arga tidak membutuhkan waktu lama dalam melakukannya.
Selesai dengan mengumpulkan rumput, Arga segera menjemput putri Anandya di tepi sungai.
“Gu-gusti putri, ayo kita pulang,” seru Arga sembari menunduk.
“Dasar lambat! kau membuat aku bosan menunggu, tarik tanganku, aku tidak bisa naik sendiri,” ketus putri Anandya.
Tetapi di dalam hatinya dia sangat senang mendapati Arga telah selesai.
Berada jauh dari kerajaan membuat dia sangat bahagia, tidak pernah putri Anandya sedamai ini.
Meski Arga baginya adalah orang asing, tapi entah mengapa dia merasa nyaman dengannya.
“Ma-ma—maaf gusti putri, mari!” ucap Arga sopan, dia masih menunduk tidak berani melihat wajah gadis itu.
Dengan parasaan ragu Arga menyodorkan tangannya ke arah putri Anandya yang langsung disambar cepat oleh gadis itu.
Setelah berhasil mencapai bukit, putri Anandya segera di ajak berjalan menuju gerobak rumput.
Sang Putri naik pada gerobak Liwa dan duduk di samping Arga.
“Ma—maaf gusti putri, sa-saya hanya memiliki ini untuk membawa anda,” ungkap Arga merasa bersalah.
“Dari tadi kau terus saja minta maaf, apa hanya itu yang bisa kau katakan? Dasar pemuda tidak berguna,” ketus putri Anandya.
“Ma-ma—maafkan saya,” kembali Arga meminta maaf.
Selanjutnya Arga membawa putri Anandya pulang menuju kerajaan Bunisora.
Ada banyak hal yang ingin Arga tanyakan kepada gadis itu, namun dia tidak berani mengungkapkannya.
“Aneh, mengapa gusti putri Anandya berada di sungai seorang diri? Bukankah seharusnya dia di kawal oleh banyak punggawa,” Arga bermonolog.
Arga pikir ini janggal, tidak sepatutnya putri Anandya berada di tengah hutan, terlebih hutan itu terkenal angker.
Arga menerka-nerka kemungkinan Putri Anandya Sora telah dicelakai orang lain, atau mungkin ada pihak keluarga raja yang menginginkan kematiannya. Beruntung saja Arga sedang berada di sana, andai tidak, maka nyawa Putri Anandya pasti sudah tiada.
Arga amat marah, kasihan atas apa yang Putri Anandya Sora alami. Terlebih ia sudah berjanji pada mendiang Aki Begawan untuk selalu melindungi keluarga Raja. Namun apa yang mau dikata, menjaga diri sendiri pun Arga nyatanya tidak mampu.
**
“Siapa dia? apa putra mahkota Lingga Hiang juga merupakan alkemis?” tanya raja Evandaru pada putri Elenio.“Dia Argadanta Niskala Candra, putra tunggal dari Maha Prabu Niskala Jayanata. Kedatangannya memang sebuah kejutan, ayah. Dia memiliki begitu banyak harta dan mampu membunuh 8000 kesatria pasukan aliansi,” tutur putri Elenio membeberkan semua tentang Arga pada ayah-nya.“Kabar tentang kesaktian orang-orang Benua Utara memang bukan isapan jempol belaka,” gumam raja Evandaru.“Lantas mengapa dirimu tidak bisa membaca pikirannya?” tanya raja Evandaru kemudian.“Entahlah, mungkin karena energi batin tuan Arga terlalu besar. Kita tidak tahu entah sesakti apa dia sebenarnya,” jawab putri Elenio.“Jangan lepaskan dia, ayah akan sangat senang jika pemuda itu tertarik padamu,” pinta raja Evandaru.Tentu saja putri Elenio langsung merona mendengar itu di mana sedari awal, dia memang sudah menaruh hati kepada Arga.Mendapati ayahnya juga tertarik, putri Elenio seperti mendapatkan dukungan p
Pertemuan keluarga kerajaan masih tetap berlangsung di mana raja Evandaru belum menemukan jalan keluar untuk bisa menyelesaikan pertikaian.Harapan satu-satunya sekarang adalah Arga mau membantu mereka, namun sampai saat ini Arga belum memberikan jawaban.“Bagaimana tuan Arga?” tanya raja Evandaru menegaskan.“Jika perang ini berakhir dengan kemenangan, aku menginginkan kerajaan Balkan menghapus sistem kasta dan memperbolehkan masyarakat kecil tinggal di kota raja,” ungkap Arga.“Raja yang besar bukan dia yang memiliki kekuatan dan harta tidak terbatas, tetapi mereka yang mampu membangun negeri untuk kesejahteraan rakyat tanpa harus memiliki kesenjangan,” sambung Arga.“Kaya boleh, tetapi sikap saling menghargai dan peduli sesama wajib ditanamkan kerena itu akan mampu membangun kekuasaan yang kokoh dan tidak terkalahkan,” jelas Arga.Antonio membuka mulutnya lebar tidak percaya Arga berani mengungkapkan semua itu di depan penguasa Balkan.Sementara Mutiara Sendayu hanya mengerutkan ke
“Apa maksudmu putriku?” tanya raja Evandaru mengerutkan kening.Tidak hanya raja, tetapi semua pembesar kerajaanpun sama-sama mengerutkan kening tidak mengerti dengan ucapan Elenio.Arga memang sorang pahlawan dan kesaktria sakti, tetapi urusan strategi perang, raja Evandaru tidak yakin terhadapnya.Tetapi putri Elenio segera menghampiri raja dan membisikan sesuatu yang membuat mulut ayahnya terbuka lebar.“A—apa kau yakin dengan itu putriku?” tanya raja Evandaru terbata.“Benar ayah,” jawab putri Elenio pelan.“Begitu rupanya, berarti kita benar-benar kedatangan tamu agung,” raja Evandaru tersenyum lebar.Lady Geffie juga tidak melepaskan pandangan terhadap Arga, dia yakin Arga bukanlah pemuda seperti yang terlihat.Hatinya mengatakan Arga adalah orang besar yang sengaja bersembunyi dibalik kesederhanaan.Terlepas dari hatinya yang selalu bergetar terhadapnya, Lady Geffie sangat berharap Arga dapat membantu keluarganya yang kini sedang di sekap.Gadis itu sudah tidak peduli lagi deng
“Siapa kau anak muda? Beraninya datang ke istanaku tanpa izin,” bentak raja Evandaru.Hampir 500 pasukan kesatria sudah siap bertarung mengepung Arga dan Mutiara Sendayu di mana sepasang muda-mudi itu masuk istana kerajaan tanpa permisi.Para bangsawan yang di bawa Rhobinson memang sama melarikan diri ke wilayah istana. Tetapi mereka belum tiba karena dihadang pasukan penjaga gerbang membuat sosok Arga dan Mutiara Sendayu tidak ada yang mengenali.“Cepat katakan! Atau pasukanku akan membinasakanmu di sini,” kembali raja Evandaru berteriak.Arga dari tadi tidak menjawab karena sedang mengamati situasi, dia khawatir masih ada pengkhianat di dalam istana yang akan membocorkan situasi istana kepada aliran bangsawan bergelar.Setelah yakin yang berada di sana adalah orang-orang kepercayaan raja Evandaru, dia segera mengibaskan tangannya membuat putri Elenio dan yang lain seketika muncul di hadapan semua orang.500 pasukan kesatria serentak mundur terkejut bukan buatan, sementara raja Evand
“Di mana ini? Apa kita tiba-tiba berpindah ke sebuah hutan?” Duke Ega panik karena mendapat dirinya tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap.Arga memang sengaja membawa mereka ke sisi lain dunia dimensi gelang pusaka kerena tidak ingin siapa pun mengetahui letak penyimpanan harta miliknya.Setelah berhasil mengamankan orang-orang penting, pemuda itu segera mengirimkan pesan suara.“Kalian sekarang sedang berada di dunia dimensi milikku, tetap tenang di sana karena ini tidak akan lama. Antonio, gunakan pedangmu untuk penerangan,”“Tuan Arga?” gumam Antonio.Sring!Untuk pertama kalinya Antonio mencabut pedang tersebut di mana sedari tadi, dirinya tidak menggunakannya karena Antonio tidak suka bertarung.Lelaki kerdil itu hanya mengandalkan perlindungan Mutiara Sendayu tanpa sekalipun menghadapi musuh.“Anda?” seru Duke Ega terkejut mendapati Antonio ada bersamanya.“Benar tuan, aku adalah bawahan dari tuan Arga,” jawab Antonio sopan.“Apa yang terjadi dengan kita?” tanya Lady Eleni
Hampir 200 penyihir serentak merapalkan mantera menyerang Arga dengan energi sihirnya.Cahaya jingga berlesatan dari berbagai sisi dengan kecepatan tinggi mengincar tubuh Arga berniat membunuhnya.“Hahaha, trik yang sama tidak akan berguna padaku,” Arga tertawa kecil.“Hasrat perang tahap 6, jirah dewa perang!” teriaknya lantang.Energi biru seketika menyeruak membentuk baju perang sangat indah membuat mata semua orang terpana melihatnya.Tidak hanya para kesatria yang sedang bertarung saja, tetapi semua pembesar bangsawan bergelar juga ikut terpana menyaksikan Arga.Apa yang dilakukannya sungguh ajaib layaknya seorang dewa sehingga mereka mulai bertanya-tanya siapa Arga sebenarnya.Setiap cahaya jingga dari energi sihir mengenai tubuh Arga, cahaya itu akan langsung terpental kesembarang arah mengenai beberapa kesatria musuh hingga mereka tewas dalam waktu singkat.“Pusaka macam apa yang dipakainya? Itu sungguh indah sekali,” ungkap Durori melebarkan mata.“Aku harus mendapatkan pusak







