로그인Kerajaan Bunisora memiliki tradisi aneh dalam menilai kedewasaan.
Di mana setiap putra atau putri raja yang telah menginjak usia cukup akan melakukan perjalanan panjang menuju kuil agung yang berada di puncak gunung Lawu.
Tugas mereka adalah menanam bunga teratai, andai bunga itu tumbuh dengan baik, maka mereka akan dinyatakan dewasa dan akan mendapatkan kediaman serta Kaputren sendiri seperti halnya putri Ardani.
“Apa Dinda yakin akan melakukan upacara kedewasaan di musim ini? Bukankah putri bungsu kita baru saja akan dibunuh orang?” raja Balwa mengerutkan kening.
“Kanda terlalu membesar-besarkan. Bukankah putri kita sudah mengakui bahwa waktu itu dia hanya tersesat,” jawab permaisuri.
“Bukan begitu, aku hanya khawatir akan keselamatannya saja. Kuil Agung berada sangat jauh dari sini, membutuhkan waktu 7 hari perjalanan untuk mencapainya, aku tidak ingin putri-putri kita mendapatkan masalah,” ungkap raja Balwa.
“Sudahlah Kanda, ini demi mereka juga, bukankah dengan upacara kedewasaan ini ketiga putri kita akan belajar mandiri. Dengan begitu mereka akan memiliki kediamannya masing-masing,” permaisuri terus membujuk suaminya.
Dari semua putri di kerajaan Bunisora hanya tersisa 3 putri saja yang belum melakukan upacara tersebut. Di mana putri Ardani sang anak sulung telah lebih dulu melakukannya 3 tahun yang lalu.
Selama ini Raja Balwa belum menggelar upacara kedewasaan karena menunggu putri Anandya mencapai usia cukup, dan sekarang usianya telah genap 17 tahun. Sehingga kerajaan dipandang perlu segera menggelar upacara tersebut.
Terlebih usia kedua putri yang lain telah mencapai 19 tahun, membuat permaisuri selalu gelisah setiap waktu.
Bukan tanpa alasan permaisuri selalu gelisah, di mana keluarga kerajaan yang belum melakukan upacara kedewasaan tidak berhak mendapatkan takhta dan kekuasaan peninggalan orang tuanya.
Mereka juga tidak berhak menikah dan memiliki keturunan, sehingga permaisuri terus mendesak agar raja segera menggelar upacara tersebut.
Raja dan permaisuri terus berdebat di dalam kamarnya, raja tidak ingin melakukan upacara tahun ini karena khawatir akan keselamatan putri Anandya.
Namun karena desakan permaisuri, dia tidak dapat berbuat banyak.
“Baiklah, baiklah. Minggu depan kita akan menggelar upacara kedewasaan, tetapi kali ini putri kita tidak akan berkuda sendiri,” kata raja Balwa sedikit kesal.
“Maksud kanda?” tanya permaisuri cepat.
Dia terlihat mengerutkan kening tidak mengerti di mana dalam tradisi upacara kedewasaan, tidak diperkenankan ada rombongan pengawal atau siapa pun, setiap putri harus berjuang sendiri mencapai Kuil Agung dengan kudanya masing-masing.
“Upacara kali ini harus menggunakan kereta yang dikendalikan oleh seorang kusir, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada putri-putri kita,” jelas raja Balwa.
“Ini …? Bukankah itu akan melanggar tradisi kanda?” permaisuri kembali bertanya.
“Tentu saja tidak, minggu depan wilayah kita sudah masuk musim salju, dalam tradisi nenek moyang, setiap upacara yang di gelar pada musim salju boleh menggunakan seorang penunggang handal,” jawab raja Balwa menerangkan, membuat permaisuri menjadi lebih tenang.
Perbincangan pun berakhir dengan senyum senang permaisuri, sehingga raja dapat bernafas lega.
Esok hari, raja kembali menemui patih agar mencarikannya seorang pengawal sakti untuk menjadi kusir ketiga putrinya.
Setiap putri akan mendapat satu kusir berbeda, karena upacara tidak boleh menunggangi kuda yang sama.
“Baik baginda, aku akan mencari pendekar terbaik di kerajaan kita,” ucap patih Taruma Jati.
“Terlebih untuk putri Anandya, carikan dia kusir handal yang lebih sakti dari yang lain, kau pasti mengerti maksudku, Taruma?” tambah raja.
“Tentu baginda, aku sangat mengerti. Maaf telik sandi kita belum menemukan pelaku penyerangan sang putri,” jawab patih Taruma Jati.
“Itu tidak masalah, aku sangat yakin penjahatnya pasti sangat ahli dalam bertindak. Mereka tentu akan sulit kita lacak, tapi teruslah berusaha,” ujar sang raja.
“Sendiko baginda,” patih Taruma Jati berlutut menganggukkan kepala.
Dua hari kemudian, Arga mendengar berita bahwa kerajaan tengah mengadakan sayembara mencari kusir kuda untuk sang putri.
Tetapi dia tidak bisa mengikuti sayembara tersebut karena bukan seorang pendekar.
Seperti biasa, Arga saat ini sedang berada di padang rumput di tengah hutan angker yang jauh dari kerajaan.
“Oak, oak, aok?” tanya si kuda dekil sembari terus mengunyah rumput.
“Hahaha, aku tidak bisa Liwa, kita tidak akan masuk kriteria sayembara tersebut,” jawab Arga, “sudahlah, jangan berharap lebih. Pekerjaan kita memang seperti ini, jadi jalani saja tanpa harus mengeluh,” tambah Arga sembari terus mengumpulkan rumput terbaik untuk para kuda.
Sebenarnya jauh di dalam hati Arga sangat ini mengikuti sayembara tersebut, di mana di sana akan diuji kemampuan berkuda seseorang.
Sebagai pengurus kuda yang sudah lama berkecimpung dan hidup bersama mereka.
Tentu saja Arga memiliki keahlian berkuda lebih dari siapa pun, tetapi dalam sayembara tersebut juga akan di uji tingkat kanuragan kependekaran, sehingga Arga tidak bisa mengikutinya.
“Oak, oak,” ungkap Liwa.
“Aku juga khawatir akan keselamatan putri Anandya, tapi apa yang bisa kita perbuat?” ucap Arga.
Arga saat ini hanya bisa berharap semoga putri Anandya mendapatkan kusir yang kuat sebagai pengawalnya.
Dia tahu perjalanan menuju gunung Lawu adalah perjalanan panjang, terlebih jalanan menuju ke sana akan melewati beberapa hutan angker penuh siluman.
Keahlian berkuda dalam melarikan diri sangat berperan penting pada upacara tersebut, Arga yakin pihak kerajaan tidak mungkin bertindak gegabah.
Arga terus mengumpulkan rumput, dia tidak sadar bahwa setiap hari dalam empat tahun ini selalu ada sepasang mata yang mengawasi dirinya jauh di kegelapan hutan.
Sepasang mata tua itu tidak pernah menampakkan diri kepada Arga, namun dari tatapannya, dia terlihat sangat peduli terhadap pemuda itu.
Hutan Bugang adalah satu-satunya hutan terlarang di kerajaan Bunisora.
Selain kelebatannya dapat menyesatkan, di sana juga terdapat banyak siluman yang kerap membunuh siapa pun yang masuk ke dalamnya.
Tidak ada manusia yang berani ke sana, hanya Arga yang setiap hari berlalu lalang mengambil rumput di hutan itu.
Bagi Arga, hutan Bugang sudah seperti rumahnya sendiri, meski terkenal angker, Arga tidak pernah menemukan satu pun siluman di sana.
Dia tidak sadar bahwa jauh di dalam tubuhnya terdapat suatu kekuatan yang paling ditakuti oleh para siluman, sehingga setiap Arga masuk ke hutan Bugang, semua siluman yang ada di sana akan langsung berlarian tunggang langgang tidak berani menampakkan diri.
“Sepertinya ini sudah cukup. Ayo Liwa, kita pulang,” seru Arga senang.
“Oak, aok?” tanya kuda kumal.
“Hahaha, besok saja kita mainnya, aku tidak bisa lama di sini karena harus membersihkan kotoran para temanmu di kandang,” jawab Arga.
“Oak,” ucap Liwa mengerti.
Arga segera naik ke atas gerobak lusuh, dalam sekali hentakkan tali kekang, Liwa langsung melesat menerobos kelebatan hutan menuju kerajaan Bunisora.
**
“Dia tewas terkena anak panah beracun,” gumam Arga lirih di dalam hati.Setelah memastikan kondisi perempuan tersebut, Arga kemudian kembali menghampiri Julman dan Sulastri.“Ibu kalian benar-benar sedang sakit, sebaiknya ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat dengan tenang,” ungkap Arga.Arga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tidak tega melihat kondisi Julman dan Sulastri masih sangat kecil.“Apakah ibu akan sembuh kak? Benarkan, kak?” Sulastri bertanya dengan semangat.Mendapati itu Arga segera memalingkan wajah karena setetes air matanya terjatuh tidak mampu dibendung lagi.“Ibu Sulastri pasti akan sehat,” jawab Arga lirih.“Hore!” sang gadis kecil kembali melompat riang.Begitu juga dengan Julman, mereka berpelukan melompat-lompat kegirangan.Arga kemudian membawa mereka keluar kamar.“Bagaimana?” tanya putri Anandya.Arga tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia menggeleng dengan air mata menggenang menunjukkan kesedihan.Jantaka langsung menunduk mengerti apa yang
“Itu kediamanku, kak Arga, aku ingin memperkenalkan kakak kepada ibu, mohon mampirlah,” pinta Julman.“Maaf adik kecil, kakak-kakak ini sedang dalam perjalanan menjalankan misi, jadi kami tidak bisa mampir,” ungkap putri Anandya menjawab pertanyaan Julman.Dia mengatakan itu karena dalam upacara kedewasaan tidak boleh singgah ke sembarang tempat sesuka hati, menyelesaikan upacara adalah tujuan utama.Mendengar itu Julman tentu saja sedih, padahal dia ingin mempertemukan teman satu-satunya yang telah menolong dia pada sang ibu.“Tidak apa Julman, kakak akan mampir,” potong Arga membuat Julman melompat senang.“Benarkah, benarkah?” anak kecil itu bertanya cepat.“Benar, bukankah ibumu tengah sakit?” Arga balik bertanya.“Benar kak Arga,” jawab Julman Lirih.“Baiklah, ayo pulang,” kata Arga sembari mengangkat bangkai rusa ke pundaknya.“Arga!” seru putri Anandya sedikit berbisik.“Ada apa tuan putri?” jawab Arga.“Dirimu tidak bisa berbuat seenaknya! Kita sedang dalam perjalanan menjalan
“Ma-ma—maaf tuan putri, semalam anda yang …,” Plak!Arga terkena tamparan keras dari putri Anandya, membuat Jantaka melebarkan mata menyaksikannya.Tidak bisa menjelaskan apa-apa, Arga hanya dapat tertunduk lemas menerima kemarahan gadis itu.“Jangan mentang-mentang telah beberapa kali menyelamatkanku kau bisa berbuat se-enaknya, dasar pemuda cabul!” teriak putri Anandya.“Maaf tuan putri, itu bukan kesalahan Arga, semalam Anda sendiri yang memeluknya dan bahkan anda tidur di atas tubuh Arga tanpa bisa di lepaskan,” jelas Jantaka tidak tega melihat temannya terus dimaki.“Kau juga sama saja tuan pendekar! Mana mungkin aku …,” teriakan putri Anandya terhenti saat samar-samar mengingat kejadian semalam.Bersamaan dengan itu wajahnya langsung memucat merasa malu karena telah menampar Arga.“Apa yang aku lakukan?” gumam putri Anandya di dalam hati.Beberapa kali dia mengumpati dirinya sendiri karena telah tega menampar orang yang menolongnya.Gadis itu kini masih menunduk tidak berani men
Malam di hutan kabut sangat lah dingin terlebih saat ini sedang musim bersalju membuat udara di sana dapat membekukan siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak terkecuali pohon, ranting bahkan bebatuan pun ikut membeku terlapisi es, sementara dedaunan di atas pohon tertimbun butiran salju.hutan itu juga senantiasa di tutupi kabut tipis setiap waktu sehingga jarak pandang di sana sangat terbatas.Meski telah mengenakan selimut, tubuh putri Anandya menggigil di atas kereta, dia mengalami hipotermia berat akibat suhu yang terlalu ekstrem.Sementara Arga saat itu tengah membuat perapian di bawah pohon berukuran besar.“Apa sudah selesai Arga? Cepatlah! Tubuh tuan putri semakin memprihatinkan,” teriak Jantaka di atas kereta panik.Wajah putri Anandya memang telah memucat, bibir merahnya memutih serta terdapat banyak retakan.Jantaka terus mengalirkan energi tenaga dalam tetapi entah mengapa di tubuh sang putri energi itu seakan tidak berguna.“Sebentar lagi!” teriak Arga terburu-buru.“Sia
“Sama-sama, kau tidak usah sungkan,” jawab Arga sembari berlalu menuju tempat Liwa.Begitu pun dengan Jantaka, dia berlari menuju kereta kuda.Tetapi ketika pemuda itu akan naik ke atas kereta, tiba-tiba saja dirinya ingat bagaimana cara Arga bisa ke sana? Dan apa tujuannya? Bukankah tadi dia bilang hari ini baru saja dari kerajaan?Dipenuhi berbagai pertanyaan di kepalanya membuat Jantaka langsung kembali berbalik ke arah Arga.“Ar …? Ke mana dia?” gumam Jantaka heran mendapati Arga dan kuda putih sudah lenyap dari pandangan.“Dirimu mencari siapa teman?” tanya Arga yang tiba-tiba sudah berada di dekat kereta, sehingga Jantaka kembali membalikkan badan.“Bagaimana? Ah … sial, kau memang aneh layaknya hantu yang gentayangan,” umpat Jantaka tidak mengerti.Arga baginya memang sebuah misteri, selain sosoknya yang penuh tanda tanya, tingkat kanuragan pemuda itu juga berubah-ubah.Pertama Jantaka bertemu dengannya, Arga masih belum memiliki kanuragan sehingga dia menganggapnya hanya manus
Saat pria bungkuk melepaskan serangan energi golok hantu, Arga waktu itu tidak memiliki pilihan lain untuk menghindar selain mengeluarkan jurus pedang kebalikan tahap ke 2.Meski belum sempurna dan akan melukai dirinya sendiri, Arga tetap melakukannya karena terdesak keadaan.“Jurus pedang kebalikan tahap 2, pertukaran gelombang!” teriak Arga.Dia menyilangkan sarung tangan dewa perang sembari melesat ke depan menyambut serangan lawan.Membuat sinar energi merah dengan telak menghantamnya.Tetapi aneh sinar merah tersebut tidak beraksi apa -apa sehingga Arga masih berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun.Namun sesaat kemudian, terdengar teriakan melengking dari pria bungkuk yang hendak meregang nyawa.Aaaaaaa! Tidak mungkin! Bagaima …. Buum!Tubuh pria bungkuk meledak menjadi serpihan tanpa tahu siapa yang menyerangnya.“Aku berhasil menguasainya,” gumam Arga senang.Tetapi beberapa tarikan nafas berikutnya, Ukhuk! Arga memuntahkan darah segar terkena luka dalam karena memaksakan jur







