Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 7 Tradisi Kerajaan

Share

Bab 7 Tradisi Kerajaan

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-16 20:09:15

Kerajaan Bunisora memiliki tradisi aneh dalam menilai kedewasaan.

Di mana setiap putra atau putri raja yang telah menginjak usia cukup akan melakukan perjalanan panjang menuju kuil agung yang berada di puncak gunung Lawu.

Tugas mereka adalah menanam bunga teratai, andai bunga itu tumbuh dengan baik, maka mereka akan dinyatakan dewasa dan akan mendapatkan kediaman serta Kaputren sendiri seperti halnya putri Ardani.

“Apa Dinda yakin akan melakukan upacara kedewasaan di musim ini? Bukankah putri bungsu kita baru saja akan dibunuh orang?” raja Balwa mengerutkan kening.

“Kanda terlalu membesar-besarkan. Bukankah putri kita sudah mengakui bahwa waktu itu dia hanya tersesat,” jawab permaisuri.

“Bukan begitu, aku hanya khawatir akan keselamatannya saja. Kuil Agung berada sangat jauh dari sini, membutuhkan waktu 7 hari perjalanan untuk mencapainya, aku tidak ingin putri-putri kita mendapatkan masalah,” ungkap raja Balwa.

“Sudahlah Kanda, ini demi mereka juga, bukankah dengan upacara kedewasaan ini ketiga putri kita akan belajar mandiri. Dengan begitu mereka akan memiliki kediamannya masing-masing,” permaisuri terus membujuk suaminya.

Dari semua putri di kerajaan Bunisora hanya tersisa 3 putri saja yang belum melakukan upacara tersebut. Di mana putri Ardani sang anak sulung telah lebih dulu melakukannya 3 tahun yang lalu.

Selama ini Raja Balwa belum menggelar upacara kedewasaan karena menunggu putri Anandya mencapai usia cukup, dan sekarang usianya telah genap 17 tahun. Sehingga kerajaan dipandang perlu segera menggelar upacara tersebut.

Terlebih usia kedua putri yang lain telah mencapai 19 tahun, membuat permaisuri selalu gelisah setiap waktu.

Bukan tanpa alasan permaisuri selalu gelisah, di mana keluarga kerajaan yang belum melakukan upacara kedewasaan tidak berhak mendapatkan takhta dan kekuasaan peninggalan orang tuanya.

Mereka juga tidak berhak menikah dan memiliki keturunan, sehingga permaisuri terus mendesak agar raja segera menggelar upacara tersebut.

Raja dan permaisuri terus berdebat di dalam kamarnya, raja tidak ingin melakukan upacara tahun ini karena khawatir akan keselamatan putri Anandya.

Namun karena desakan permaisuri, dia tidak dapat berbuat banyak.

“Baiklah, baiklah. Minggu depan kita akan menggelar upacara kedewasaan, tetapi kali ini putri kita tidak akan berkuda sendiri,” kata raja Balwa sedikit kesal.

“Maksud kanda?” tanya permaisuri cepat.

Dia terlihat mengerutkan kening tidak mengerti di mana dalam tradisi upacara kedewasaan, tidak diperkenankan ada rombongan pengawal atau siapa pun, setiap putri harus berjuang sendiri mencapai Kuil Agung dengan kudanya masing-masing.

“Upacara kali ini harus menggunakan kereta yang dikendalikan oleh seorang kusir, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada putri-putri kita,” jelas raja Balwa.

“Ini …? Bukankah itu akan melanggar tradisi kanda?” permaisuri kembali bertanya.

“Tentu saja tidak, minggu depan wilayah kita sudah masuk musim salju, dalam tradisi nenek moyang, setiap upacara yang di gelar pada musim salju boleh menggunakan seorang penunggang handal,” jawab raja Balwa menerangkan, membuat permaisuri menjadi lebih tenang.

Perbincangan pun berakhir dengan senyum senang permaisuri, sehingga raja dapat bernafas lega.

Esok hari, raja kembali menemui patih agar mencarikannya seorang pengawal sakti untuk menjadi kusir ketiga putrinya.

Setiap putri akan mendapat satu kusir berbeda, karena upacara tidak boleh menunggangi kuda yang sama.

“Baik baginda, aku akan mencari pendekar terbaik di kerajaan kita,” ucap patih Taruma Jati.

“Terlebih untuk putri Anandya, carikan dia kusir handal yang lebih sakti dari yang lain, kau pasti mengerti maksudku, Taruma?” tambah raja.

“Tentu baginda, aku sangat mengerti. Maaf telik sandi kita belum menemukan pelaku penyerangan sang putri,” jawab patih Taruma Jati.

“Itu tidak masalah, aku sangat yakin penjahatnya pasti sangat ahli dalam bertindak. Mereka tentu akan sulit kita lacak, tapi teruslah berusaha,” ujar sang raja.

“Sendiko baginda,” patih Taruma Jati berlutut menganggukkan kepala.

Dua hari kemudian, Arga mendengar berita bahwa kerajaan tengah mengadakan sayembara mencari kusir kuda untuk sang putri.

Tetapi dia tidak bisa mengikuti sayembara tersebut karena bukan seorang pendekar.

Seperti biasa, Arga saat ini sedang berada di padang rumput di tengah hutan angker yang jauh dari kerajaan.

“Oak, oak, aok?” tanya si kuda dekil sembari terus mengunyah rumput.

“Hahaha, aku tidak bisa Liwa, kita tidak akan masuk kriteria sayembara tersebut,” jawab Arga, “sudahlah, jangan berharap lebih. Pekerjaan kita memang seperti ini, jadi jalani saja tanpa harus mengeluh,” tambah Arga sembari terus mengumpulkan rumput terbaik untuk para kuda.

Sebenarnya jauh di dalam hati Arga sangat ini mengikuti sayembara tersebut, di mana di sana akan diuji kemampuan berkuda seseorang.

Sebagai pengurus kuda yang sudah lama berkecimpung dan hidup bersama mereka.

Tentu saja Arga memiliki keahlian berkuda lebih dari siapa pun, tetapi dalam sayembara tersebut juga akan di uji tingkat kanuragan kependekaran, sehingga Arga tidak bisa mengikutinya.

“Oak, oak,” ungkap Liwa.

“Aku juga khawatir akan keselamatan putri Anandya, tapi apa yang bisa kita perbuat?” ucap Arga.

Arga saat ini hanya bisa berharap semoga putri Anandya mendapatkan kusir yang kuat sebagai pengawalnya.

Dia tahu perjalanan menuju gunung Lawu adalah perjalanan panjang, terlebih jalanan menuju ke sana akan melewati beberapa hutan angker penuh siluman.

Keahlian berkuda dalam melarikan diri sangat berperan penting pada upacara tersebut, Arga yakin pihak kerajaan tidak mungkin bertindak gegabah.

Arga terus mengumpulkan rumput, dia tidak sadar bahwa setiap hari dalam empat tahun ini selalu ada sepasang mata yang mengawasi dirinya jauh di kegelapan hutan.

Sepasang mata tua itu tidak pernah menampakkan diri kepada Arga, namun dari tatapannya, dia terlihat sangat peduli terhadap pemuda itu.

Hutan Bugang adalah satu-satunya hutan terlarang di kerajaan Bunisora.

Selain kelebatannya dapat menyesatkan, di sana juga terdapat banyak siluman yang kerap membunuh siapa pun yang masuk ke dalamnya.

Tidak ada manusia yang berani ke sana, hanya Arga yang setiap hari berlalu lalang mengambil rumput di hutan itu.

Bagi Arga, hutan Bugang sudah seperti rumahnya sendiri, meski terkenal angker, Arga tidak pernah menemukan satu pun siluman di sana.

Dia tidak sadar bahwa jauh di dalam tubuhnya terdapat suatu kekuatan yang paling ditakuti oleh para siluman, sehingga setiap Arga masuk ke hutan Bugang, semua siluman yang ada di sana akan langsung berlarian tunggang langgang tidak berani menampakkan diri.

“Sepertinya ini sudah cukup. Ayo Liwa, kita pulang,” seru Arga senang.

“Oak, aok?” tanya kuda kumal.

“Hahaha, besok saja kita mainnya, aku tidak bisa lama di sini karena harus membersihkan kotoran para temanmu di kandang,” jawab Arga.

“Oak,” ucap Liwa mengerti.

Arga segera naik ke atas gerobak lusuh, dalam sekali hentakkan tali kekang, Liwa langsung melesat menerobos kelebatan hutan menuju kerajaan Bunisora.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 145 Hutan Kematian

    “Ini …?” Arga terkejut mendapati tubuhnya tidak bisa berdiri.Bukan karena luka atau tulang Arga pernah patah, tetapi sama seperti di bukit terlarang, di sana terdapat suatu energi yang menarik tubuh Arga hingga terasa sangat berat.“Ini bahkan jauh lebih berat ratusan kali lipat dari energi bukit terlarang,” gumam Arga.Beberapa kali Arga mencoba bangkit, tetapi selalu saja gagal, dia kembali terjatuh dan terjatuh lagi, sampai pada akhirnya, Arga memilih pasrah berbaring di lantai ranting.“Tempat macam apa ini? Mengapa tekanan di sini begitu sangat berat,” gumam Arga.Selanjutnya dia memandangi wajah Mutiara Sendayu yang amat teramat cantik, Arga tersenyum sembari menggeleng.Pemuda itu tidak menyangka akan terjebak di tempat seperti ini bersama gadis yang pernah merepotkannya.Kemudian dia teringat janjinya kepada Karnia saat gadis itu akan meninggal, membuat Arga segera kembali bangkit.Dia tidak bisa menyerah pada alam, janji adalah janji, sesuatu yang harus Arga penuhi.“Benar!

  • Sang Kusir   Bab 144 Zufu

    Di atas sebuah pohon setinggi 300 meter terdapat sebuah gubuk kayu yang cukup besar.Dinding dan atapnya terbuat dari kulit pohon yang sangat lebar, semetara lantainya terbentuk dari tumpukan ranting kering.Arga dan Mutiara Sendayu dibaringkan secara berdampingan, sementara seluruh tubuh mereka dibalut dengan tanah liat hingga menyerupai kepongpong.Tidak jauh dari tempat mereka, seorang pria tampan bertelinga runcing tengah asyik menyantap daging tikus mentah dari hasil buruannya.Ternyata Arga dan Mutiara Sendayu dibawa ke sana untuk diobati, tetapi entah mengapa cara mereka dibawa dan diobati sungguh sangat aneh.Setelah selesai menyantap daging tikus mentah, sang pria tampan lantas menghampiri tubuh Arga dan Mutiara Sendayu.“Siapa kalian? Mengapa bisa sampai ke tempat seperti ini?” gumam pria tampan.Beberapa kali dia mengerutkan kening merasa heran memikirkan Arga dan Mutiara Sendayu.Selama ribuan tahun, tidak pernah ada satupun manusia yang bisa mencapai tempat ini.Hutan kem

  • Sang Kusir   Bab 143 Kekalahan Telak

    Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam

  • Sang Kusir   Bab 142 Bantuan Binatang Siluman

    “Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter

  • Sang Kusir   Bab 141 Arga Vs Petinggi Walet Darah bagian 2

    “Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah

  • Sang Kusir   Bab 140 Taktik Cerdik

    “Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status